
Evans duduk di single sofa yang terdapat di sebuah kamar pribadinya.
Ia menghadapa ke balkon kamarnya dengan membelakangi pintu kamarnya. Ia memandang langit di luar sana dan menikmati sunset di kota Madrid yang akan menggelap.
Kepalanya berdenyut nyeri dengan begitu banyak pertanyaan yang memadati isi kepalanya akan Wanita Bodoh itu namun hati dan pikirannya selalu bertolak.
Semakin sebuah jarak jauh diantara mereka nanti itu akan terlihat bagus untuk keduannya. Hingga Evans akan merasa tenang dan tidak merasakan perasaan yang asing ini tumbuh di dalam hatinya.
Sebelum itu terjadi, seharusnya dulu Evans tidak menolong dan menyemalatkan wanita bodoh itu kalau bukan karena sebuah kalung yang Alberto katakan tidak berharga, meski rasa benci pada benda itu masih saja terasa. Tetapi ia tidak bisa kehilangan kalung yang saat ini sudah kembali ke tempatnnya berada.
"Baiklah, sudah waktunya aku melepaskannya dan membiarkan Alberto mengurus wanita bodoh itu dan tentunya Abraham akan menemani wanita itu hingga terbangun sadar dan kembali ke negarannya," batin Evans.
“Tuan…”
“Hmmm.”
“Mobil anda sudah siap dan pesawat sudah menunggu.”
“Baiklah…kita kembali ke Napoli. Kau urus wanita itu jangan sampai Abraham tidak memulangkan wanita bodoh itu!” perintahnya.
“Baik Tuan.”
Evans berdiri dan berjalan keluar menuju mobil yang sudah siap menunggungnya, dengan sedikit menoleh ke arah pintu berwarna coklat kamar di mana Ale di dalam sana dengan helaan lirih lalu Evans kembali menuruni anak tangga dan menuju pintu mobil yang sudah terbuka—lebar.
Mika membungkukan tubuhnya setelah mobil yang membawa Evans pergi begitu saja meninggalkan rumah.
Alberto dan Abraham di dalam sanapun kembali keluar dengan Mika yang baru saja mengetahui Ale sudah tersadar ia pun mendekati Ale yang sudah duduk di kursi roda. Sesuai amanat, Ale akan dibawa pulang ke negaranya dengan abrahamlah yang akan mendampi Ale hingga kembali dengan selamat ke negaranya, itu perintah dari Alberto.
Abraham mendorong kursi roda yang di duduki Ale dengan Mika di belakang sana membawa tas milik Alea bersamaan dengan Alberto di depan sana sudah memasuki mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan rumah itu menyisakan Abraham dan juga Mika yang akan sama-sama menju bandara.
Di dalam mobil itu. Ale duduk bersama di kursi belakang dengan Mika dan Abraham di depan bersama dengan supir, sekilas melirik sebuah tas miliknya. Ale bergumam sendiri di dalam hatinya.
“Aku akan kembali, dan aku akan menemui makam ibuku terlebih dulu. Aku sangat merindukanya. Tunggu Ale di sana bu. Ale sangat merindukan ibu,” gumanya dalam hati.
“Ini tiketmu dan ini tasmu, kau kali ini bebas dari neraka The Black Rose, Alea.”
“Terima kasih Mika,” ucap Ale tersenyum dengan mengambil tasnya dan tiketnya berserta ponsel yang Mika berikan kepadanya.
“Aku senang bisa mengenal dirimu Alea,” ujar Mika kembali yang membuat Ale terkejut mendengarkannya dan juga tersanjung.
“Aku pun senang bisa mengenal dirimu Mikaela.”
“Aku harap kau di sana tidak akan melakukan tindakan bodoh kembali,” ucap Mika selanjutnya yang keduanya sama-sama tersenyum manis.
“Bolehkan aku memelukmu Mika untuk yang terakhir kali?” pinta Ale yang jelas Mika tidak ingin.
Bayangkan saja seorang Raider sepertinya menatap Ale dengan rasa tidak rela wanita bodoh seperti Ale pergi begitu saja. Mika sudah merasa menemukan keluarga pada sorang wanita yang dia anggap bodoh seperti Alea.
Tanpa seizin Mika, Ale memeluk erat wanita cantik seperti Mika dengan menengadakan kepalanya menatap Mika dengan senyum ciri khas Alea.
“Apa Tuanmu sudah kembali?” tanya Ale penasaran kepada Mika.
“Sudah tepatnya kita akan pergi meninggalkan Madrid bersama-sama, kau ke Singapore dan kami ke Napoli.”
“Apa sudah berangkat pesawatnya?”
Mika melepaskan tangan Alea yang masih melingkar di tanganya. “Kenapa kau begitu ingin tahu hmm? Apa kau masih betah tinggal di nerakanya?” decak Mika.
Ale masih mengulum senyuman di wajahnya. “Setidaknya aku ingin mengucapkan terima kasih karena Tuanmu itu sudah membebaskanku,” gumamnya.
“Katakan sendiri saja nanti bila bertemu denganya,” ujar Mika yang dia anggukan oleh Ale.
Mobil yang membawa Mika dan juga Ale tiba di landasan pesawat dengan bergegas Ale turun dari mobil yang membawanya seketika melihat Evans yang tengah berjalan menghampiri private jatnya.
“Tuann…tunggu Tuan…” pekik Ale setengah berlari menghampiri Evans yang di depan sana dikawal oleh beberapa anak buahnya.
Evans menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya melihat wanita bodoh itu tengah berlari ke arahnya.
“Ada apa?” tanya Evans di depan seketika Ale sudah berada di depannya dengan nafas tersengal-sengal dan sedikit membungkukan tubuhnya karena lelah dan menahan sakit di sekitar perutnya, Seharusnya Ale tidak usah berlari menghampiri Evans hanya untuk mengucapkan kata terima kasih.
“Terima kasih kau sudah menepati janjimu yang akan membebaskanku. Tetapi—“ Ale terdiam di depan sana dengan mencoba menarik nafas dalam-dalam.
“Iyah aku tahu, dan terima kasih akan hal itu…tetapi apa kau akan membebaskan Bryan yang masih kau tahan di sel penjaramu?”
Evans berdecak menatap Ale dengan mengibaskan coat yang ia kenakan itu.
“Apa kau akan menukar kebebasanmu untuk seorang anak pelayan itu hmm?” tanya Evans menatap tajam. Ale menggerakan kedua tanganya di udara bukan seperti itu yang ia inginkan.
“Bukan seperti itu Evans. Aku hanya ingin kau membebaskanya Evans tanpa melukainya.”
“Kau tidak usah mencemaskan orang lain Alea. Mau aku bunuh sekali pun kau tidak bisa ikut campur dalam masalah ini.
"Dia orangku dan aku berhak atas semua yang berada di mansionku. Apa aku masih betah tinggal di nerakaku hah? Dan menukar semua kebebasanmu itu!” desah Evans membuat Ale di depan sana seperti tertarik, karena wanita seperti Ale selalu mementingkan teman-temanya, tidak mementingkan dirinya yang selalu di manfaatkan oleh teman-temannya.
Ale bergeming di depan sana seolah berpikir keras akan bagaimana nasib Bryan.
“Pesawatmu berada di sana, maka lekas kau pergi dan temuilah ibumu di makam sana. Bukanya kau sangat merindukan ibumu bukan?”
Ale mengangguk dan pergi perlahan dari Evans hingga langkah kakinya menuju pesawat di sebelah sana dengan berpapasan dengan Mika yang tersenyum manis berjalan pergi menuju privat jat milik Evans.
Ale membuka ponselnya dan melihat foto dirinya dan juga mendiam ibunya, dan bergumam.
“Benar, seharusnya aku tidak selalu mementingkan teman aku harus kembali dan menata hidupku kembal.”
'Ryader. Alea, maafkanlah aku. Maafkanlah kali ini aku yang sudah menghinatimu. Aku sengaja melakukan rencana ini untuk membalas dendamku kepada Mike Shander yang sudah melakukan perbuatan yang tidak terpuji.
'Mike kekasihmu itu sudah memperkosa kekasihku, dan seketika aku mendapatkan infomasi yang sebenarnya. Aku teringat akan sebuah kalung yang kau titipkan kepadaku, milik The Black Rose.
'Maafkan aku yang tidak mengembalikan dan datang ke mansion The Black Rose untuk ditukar. Karena aku mempunyai rencana yang mana aku sedang mengincar hadiah yang besar itu demi adikku yang sedang membutuhkan uang cukup besar akan penyakit jantungnya dan mencari donor jantung untuk kesembuhan adikku.
'Aku membutuhkan uang itu yang tidak lain untuk menembus ibuku yang di penjara karena telah mencuri dan tidak lain aku menjadikan kau umpan untuk pengobatan kekasihku yang sudah dua tahun ini berada di rumah sakit jiwa karena perbuatan pria yang kau cintai itu, Mike Shander.
'Ale sekali lagi aku meminta maaf atas semua kesalahanku ini. Aku harap kau akan membaca pesanku ini dan memaafkan aku, Ryander.'
Ale membaca semua pesan dari Ryander. Meski di sini Ale begitu kecewa pada Ryander yang sudah menghinati dirinya dan menjadikan umpan untuk menarik The Black Rose dari Napoli dengan memancing kalung tersebut yang mana nantinya Ryander sendiri yang akan membunuhnya selepas Ryander membunuh The Black Rose dengan imbalan uang yang besar itu, yang tidak lain Ryander lalukan demi keluarganya.
Ale menghela napas panjang, ikut merasakan bersalah kepada Ryander, karena dirinyalah yang sudah menembak mati pria yang Ale sangat percayai akan membebaskanya, namun tetapi Ryanderlah yang sudah berbuat jahat dan menusuk di belakangnya.
Ale tidak ingin menanggung dosa ini dan ingin membalas semua akan tindakannya untuk menembus dosa-dosanya sekali pun Ale akan berjamuran tinggal di neraka.
Ale membalikan tubuhnya menatap ke depan sana, yang mana sebuah private jat milik Evans sudah bergerak dan berjalan hendak lepas landas. Ale melihat di depanya pun bersikeras berlari cepat menuju arah private jat yang di tumpangi oleh Evans mengabaikan luka di tubuhnya agar bisa membuat pesawat itu berhenti dan bertemu Evans langsung
Ini kesempatan untuk dirinya menebus dosa-dosa yang sudah ia lakukan, hidup di luar sana dengan bahagiapun terasa percumah akan bayang-bayangan dosa yang sudah ia lakukan.
“Evans…tunggu…Evans…” teriak Ale berlari ke arah pesat dengan cepat membuat di dalam pesawat itu mengeryit bingung akan pesawat yang di tumpanginya tiba-tiba berhenti dengan melihat beberapa orang di bawah sana tengah menghadang seseorang dan memeganginya dengan erat.
Seseorang kru pesawat itu menghadap Evans dan berbisik sesuatu kepadanya.
Dan pada akhirnya pintu private jat terbuka dengan melihatkan pria di depan sana yang tengah menatapnya dengan heran. Menuruni anak tangga untuk menghampirinya.
Ale dengan tenaga yang tersisa meronta-ronta ingin di lepaskan dari pegangan orang-orang di sana dengan pria itu pun mengerjapkan matanya agar melepaskanya.
“Ada apa kau kali ini kau menghentikanku untuk pergi hah?”
Dengan nafas tersenggal-senggal Ale mendekat Evans dan mengatakan sesuatu yang membuat Evans terkesiap, "Aku ingin menukar kebebasnku?”
“Whatt??” tanya Evans menatap tidak percaya.
“Aku ingin menukar kebebasanku Evans. Semuanya, aku akan mengabdi kepadamu menjadi pelayanmu entah sampai mati sekali pun!”
“Are you crazy hah? Menukarkan kebebasanmu?”
“Yah, kali ini aku ingin menukarnya. Dengan satu permintaan Evans.”
Evans berdecak di depan sana dengan Mika yang melihat ke arah kedua orang di bawah sana. Entah apa yang di lakukan wanita bodoh saat ini pada Tuannya. “Apa permintaanmu hingga kau menukar dengan kebebasanmu itu yang tidak akan datang dua kali Alea. Maka kau pikir dengan baik-baik.”
“Aku tahu itu. Tetapi semua ini aku lakukan ingin menebus dosaku.”
Evans tertawa hambar dengan tatapan tajamnya. “Kau benar-benar wanita bodoh, ternyata. Sebutkalah apa permintaanmu kepadaku hingga kau menukar tiket emas itu."
“Aku….”