Mafia And Me

Mafia And Me
Penghalang



“Apa kamu pikir kami semua di sini bisa disentuh oleh Tuan Evans?”


Pertanyaan Ruby membuat si lawan bicara yang tadinya hanya diam kini menatap wanita cantik itu dengan tatapan bingung.


“Bukannya kalian wanita penghangat ranjangnya? Mana mungkin kalian tidak di sentuh secara langsung oleh Tuan?” balik Alea bertanya.


Entahlah Alea tidak mengerti kemana arah pembicaraan Ruby. Wanita cantik itu tersenyum, dan itu adalah senyuman pertama yang Alea lihat selama dia berada di mansion Evans.


Wanita cantik berambut panjang itu berikan gelengan pelan.


“Tidak semua disentuh tuan, Alea. Dari lima wanita, tuan hanya menyentuh dua dari kami selebihnya—”


Ruby nampak menghela nafas sejenak, wanita itu kembali tersenyum.


“Tuan bukan bercintta yang seperti kita bayangkan, disentuh dengan lembut dan sikap yang romantis. Tidak sama sekali. Melanikan tuan menumpahkan amarahnya pada kita.”


Bingung, ya. Alea masih memandang bingung pada wanita cantik berambut pirang itu.


“Aku tidak mengerti, Ruby.”


“Apa kau pernah masuk ke dalam ruang bermain dan melihat peralatan main di sana?”


Alea mengatupkan bibirnya dengan mata yang mendelik.


“Jadi—”


Ruby mengangguk. “Tuan lebih suka bermain dan menyiksa mereka.


"Menurut seseorang dia pun mengakui kalau tuan tidak pernah bercintta dengannya melainkan memainkan mereka di tempat itu dan aku pun melihat tubuh wanita sombong itu yang penuh dengan bekas pecutan.”


‘Yang Ruby maksud wanita sombong itu Carla kan?’ batin Alea.


“Tuan itu begitu pemilih, Alea. Jangan salah, itu! Seorang Evans Colliettie tidak akan memasukan ularnya pada siapapun apalagi pada wanita sombong itu.”


Alea nampak menghela napas berat, sungguh dia tidak ingin mendengarkan percintaan Evans dengan para wanitanya.


Sama sekali tidak, dia pun tidak ada sedikitpun hati iri atau cemburu karena bagi Alea, hatinya masih ada Mike Shander.


“Huh, entahlah Ruby. Sejujurnya aku sama sekali tidak tertarik dengan pembicaraan ini dan aku pun tidak ingin tahu.”


“Kau perlu tahu Alea agar kamu bisa memahami hati kita. Oke, kalau kau merasa aneh dengan sikapku yang pendiam dan jarang sekali mengobrol pada siapapun. Tetapi, kali ini aku ingin bercerita padamu,” ungkap Ruby.


“Ya, sedikitnya aku pun paham akan apa yang kamu ceritakan ini, Ruby. Kamulah salah satu dari dua orang yang pernah disentuh oleh tuanmu bukan?” tebak Alea.


Wanita berambut pirang itu tersenyum lebar sementara Alea tahu sepertinya wanita itu cemburu padanya. Padahal di sini, sama sekali dia dan Evans tidak ada hubungan apapun.


‘Astaga, mereka tidak tahu kalau aku di bawa ke Madrid itu hanya untuk mengambil kalung itu. Apa mereka tidak melihat tubuhnya penuh luka?


"Tidak ada seorang Evans Colliettie mengajak pelayan mansionnya untuk holiday apa lagi honeymoon seperti apa yang mereka bayangkan. Tidak sama sekali, mereka salah paham sampai membabi buta memukulku,’ gumam Alea di dalam hati.


“Sebenarnya maksudmu apa menceritakan ini padaku. Setahuku kamu pun sama tidak suka dengan keberadaanku di sini.


“Aku tegaskan sekali lagi padamu, Ruby. Kalau aku sama sekali tidak peduli dengan kisah percintaan kalian dengan tuan. Tidak sama sekali!” ucap Alea diiringi gelengan pelan.


Ruby tersenyum tipis dengan mata menatap penuh pada Alea.


“Sudah aku katakan kalau aku ingin kamu tahu bagaimana perasaan kami saja sebagai peliharaan tuan.”


Ruby menarik napas sejenak. “Alea. Kami berlima punya ambisi masing-masing. Entah bagaimana pendapatmu nanti ketika mendengarkan ceritaku.


"Mau kamu tertawa keras dan mentertawakan ambisi kamu. Aku tidak peduli.”


“Tujuan kami selama ini adalah untuk memenangkan hati tuan Evans sekaligus gelar Nyonya Colliettie. Kami tengah berusaha sekalipun pria itu tidak mencintai kami.”


Alea mencoba mendengarkan cerita yang ingin disampaikan wanita itu.


“Tetapi posisi tinggi itulah yang jadi impian kami semua disini Alea.


"Siapa yang menang, tentunya akan menjadi penguasa dan semua wanita peliharaan tuan akan diusir atau dibunuh bila nanti salah satu dari kita berhasil menjadi Nyonya Colliettie.


“Ya, kamu benar Alea. Kita di sini memang tengah berkompetisi untuk mendapatkan hati pria itu sekalipun kamu diperlakukan tidak baik.


"Dikurung di sangkar emas dan sekalinya kami keluarkan hanya untuk disiksa atau dinikmati tubuhnya tanpa ada kata cinta apalagi pujian. Tidak ada.


“Setelah pria itu puas, dia akan pergi begitu saja tanpa ada satupun kalimat yang diucapkan. Jangankan memikirkan hati kami, memikirkan tubuh kami yang terluka akibat permainannya pun tidak sama sekali.”


“Kamu bisa menolaknya bila kamu tidak mau,” sela Alea.


Ruby menghela nafas pelan. “Kami tidak punya pilihan untuk menolak, Alea. Itu sudah jadi tugas kita di sini.”


Ruby bangun dari duduknya dan memandangi ruangan kecil kamar Alea.


“Percintaan tuan memang begitu kasar dan menyakitkan. Tapi, kita harus menerima. Apa kamu ingin tahu bagaimana tatapan pria itu ketika bercinta?”


Alea terdiam sejenak. Apa perlu dia tahu?


“Tatapannya dingin yang selalu kita lihat ketika sedang bersama.”


Ruby membayangkan sejenak bagaimana tatapan Evans padanya sedangkan di ranjang itu Alea kembali hela napas dengan pikiran yang penuh tanya pada wanita cantik berambut pirang itu.


Apa Ruby jatuh cinta pada Evans hingga apapun yang dilakukan oleh pria itu, sekalipun hati dan tubuhnya sakit  wanita itu diam dan menerima perlakuan buruk Evans.


“Aku pun ingin kamu tahu kenapa Carla sampai murka padamu?”


Alea tertarik dari lamunan dan pandangi Ruby, lagi.


“Kami menginginkan gelar Nyonya Colliettie, Alea. Terutama Carla. Jadi kamu sudah tahu bukan, keberadaanmu di sini jelas mengganggu kami!”


Bola mata Alea mendelik sempurna yang diiringi pandangi Ruby. Bila Alea boleh meminta, dia pun tidak ingin berada di dalam neraka Evans Colliettie.


“Carla sangat benci padamu Alea, karena dia tahu kamu akan merusak rencananya. Carla ingin gelar itu, sekalipun kita tahu dia sering menunjukkan sikapnya yang semena-mena dan tidak baik pada kami.


"Dia tidak terima dengan kedatanganmu, sekalipun kami disini mencoba diam dan memahami alasan Tuan Evans yang membawamu ke mansionnya.”


Alea menghela napas panjang yang entah keberapa kalinya. “Kenapa kalian berpikir begitu padaku? Aku sama sekali bukan penghalang kalian sedang berlomba ingin menjadi Nyonya di sini. Tidak sama sekali, Ruby.


“Bila aku tidak bernasib sial yang berkepanjangan seperti sekarang ini, mungkin aku tidak akan ada di sini, Ruby.”


“Aku melakukan kesalahan di sini hingga aku terpaksa ikut dengan tuanmu. Kamu tahu bukan Evans Colliettie seorang devil yang menakutkan itu tidak bisa dibantah.”


Alea mencoba meyakinkan Ruby dengan apa yang wanita itu pikirkan akan dirinya.


“Tolonglah, pahami aku. Aku tidak ada hati pada siapapun apalagi pada tuanmu itu.


"Aku di sini hanya menghabiskan sisa umurku dengan mengabdi padanya sama sekali aku tidak ingin bersaing dengan kalian yang tengah merebutkan gelar Nyonya Colliettie.


"Tidak Ruby. Jangan bawa aku yang tidak tahu apa-apa di sini. Aku bukan penghalang kalian.”


Ruby berikan anggukan pelan seraya berdiri. Wanita cantik itu berikan senyuman pada Alea. Lalu memberikan dua butir obat dan juga segelas air minum.


“Minumlah obatmu. Lekas sembuh Alea,” ucap Ruby seolah mengakhiri ceritanya.


Sudah cukup dia bercerita pada Alea meski sepertinya dia sulit memberitahukan pada pelayan itu.


“Ya, terima kasih, Ruby.”


Ruby lagi lagi memberikan anggukan sebagai jawaban. “Aku akan kembali ke kamarku. Jadi Istirahatlah.”


“Tunggu Ruby…”


“Ya…”


Wanita itu berbalik badan ketika berdiri diambang pintu. Ruby masih berikan senyuman pada Alea yang entah apa maksudnya.


“Apa tuan yang membawaku kemari?”