
Setelah Berta sudah berlalu pergi dari sel penjara. Kini keduannya terdiam kembali dengan helaan napas.
Alea pandangi Bryan, rasa penasarannya kini kembali mencuat dan ingin ingin kembali bertanya pada pria itu. Meski Alea sedikit ragu-ragu pada Bryana yang kemungikin tidak akan menceritakan akan Evans Colliettie.
Tetapi ia akan di hantui oleh rasa penasaranya itu, jika tidak kunjung mendapatkan apa yang ia inginkan. Alea masih penasaran akan sosok Evans Colliettie yang begitu kejam.
Pastinya anda yang mendasari kenapa pria itu berubah menjadi seperti itu, dingin, menakutkan dan pastinya tidak punya hati nurani.
“Bryan."
“Iyah Alea!”
“Bryan. Apa dulu Tuanmu pernah berpacaran?” tanya Alea.
“Kau menghinanya?”
“Astaga Bryan, kau selalu menyelut emosiku saja kalo menjawab. Apa aku terlihat sedang menghinanya? Tentu tidak Bryan. Aku hanya bertanya kepadamu?”
Bryan menghela lirih. “Apa menurutmu Tuanmu itu pernah berpacaran?” tanya Bryan kembali.
Bukanya menjawab namun Bryan berbalik bertanya, itu salah satu yang Alea kesal pada Bryan.
Padahal sejak tadi keduanya tampak akur dan kali ini keduanya sudah seperti tikus dan kuncing kembali.
“Kenapa kau balik bertanya kepadaku Bryan? Mana aku tahu kehidupan devil seperti Tuanmu itu hah? Yang jelas-jelas kau pasti mengetahuinya karena kau sudah lama tinggal di sini!”
“Kau pikir saja sendiri!” gumam Bryan membuang muka, malas menanggapi pertanyaan Alea.
“Bryan…”
Alea merajuk menggoyang-goyangkan lengan Bryan untuk menjawab pertanyaanya.
“Kau ini bodoh Alea?! Jika Tuan pernah berpacaran mungkin setidaknya dia mempunyai hati dan tidak sedingin bongkahan es. Mungkin pria itu tidak akan dijuluki mafia kejam seantero Italia jika pernah merasakan jatuh cinta.”
“Jika Tuanmu pernah memiliki perasan cinta, mungkin tidak akan kejam sampai saat ini Alea dan kenyataanya Tuan tidak pernah jatuh cinta kepada wanita manapun, siapapun apa lagi berpacaran.”
Alea memiringkan kepalanya seraya berpikir.
“Apa jangan-jangan Tuanmu itu gay lagi?” tanya Alea semakin ngawur dan membuat Bryan yang membelakanginya jadi menghadap dan saling bertatap muka dengan wanita yang benar-benar bodoh menurut Bryan, dan membuat Bryan darah tinggi akan sikap Alea.
Bryan mengetatkan giginya, ia sangat kesal. “Jika Tuanmu gay tidak mungkin mempunyai wanita jalang di mansionya sendiri Alea?!”
Bryan mengutarakan dengan nada tinggi dan keras pada Alea yang sungguh menyulut emosinya.
“Mungkin saja semua itu hanya sebuah alibi,” desah Alea menggedikan bahunya dan semakin membuat Bryan benar-benar kesal.
Bryan menghela dan bergumam di dalam hatinya,
“Ya Tuhan, kenapa wanita ini begitu bodoh dan amat menyebalkan sekali, jika tidak mengingat manusia di depanya ini bukan wanita, sudah pasti aku akan mengajak berantem lebih baik dari pada menguras emosiku.”
“Dengar Alea Anjanie. Tuan tidak pernah jatuh cinta keada siapapun, kepada wanita manapun apa lagi berpacaran!” tegas Bryan.
Alea mengangguk-angguk mendengar semua penjelasan dari Bryan.
‘Apa segelap itukah kehidupan Evans Colliettie semasa hidupnya? Hidup sendiri tampa cinta? Kasih sayang? Bahkan pria itu terlihat menyedihkan,’ lirih Alea.
“Tuan hanya mencintai dirinya sendiri dan pekerjaanya. Cinta bagi Evans Colliettie itu hanya omong kosong. Bahkan hasratnya bisa dipenuhi oleh kelima wanita jalang itu tampa cinta!” gumam Bryan.
Alea hanya mengangguk setuju di depan Bryan.
“Bryan…”
Bryan mendengus kesal, apa lagi coba yang masih membuat Alea semakin penasaran kepada The Black Rose.
“Apa lagi Alea?!” tanya Bryan lirih.
“Apa Tuan Evans benar-benar tidak mempunyai keluarga lagi selain tuan Alberto? Misalnya saudara?”
Bryan menoleh. “Kau tertarik dengan kehidupan pribadinya? Rasa penasaranmu cukup tinggi dan bernyali Alea!"
“Aku hanya ingin tahu kenapa dia bisa menjadi seperti itu, tidak punya hati. Apa setiap pimpinan mafia di luaran sana begitu kejam dan tidak memiliki belas kasihan?"
Bryan terkekeh. “Kau hanya bertemu dengan Evans Colliettie, Alea! Masih banyak yang lebih kejam darinya di luar sana tapi jarang ada yang setampan dia.
"Aku pernah bertemu dengan beberapa orang sepertinya kebanyakan mafia di luaran sana hanya menang kekuasanya meski wujud mereka sangat memuakkan, tua, berperut buncit dengan banyak wanita di sampingnya.
"Tapi siapa yang peduli, terutama bagi para wanita. Jika memenangkan hatinya kau akan menjadi segalanya. Meski banyak juga yang tidak peduli akan tampang yang memuakan.”
“Pasti semua itu ada alasanya bukan?”
Bryan terdiam sesaat.
“Ya. Selalu ada alasanya yang mendasari seseorang mengambil pilihan hidupnya yang gelap, kejam, tidak mempunyai belas kasih.
"Aku percaya Tuan Evans hanya belum menemukan wanita yang tepat saja?” gumam Bryan mengingat tentang Evans Colliettie, karena dulu mereka tumbuh bersama walau tidak dekat, tetapi Bryan masih ingat dengan pria menyedihkan tersebut.
“Aku harap dia segera menemukan wanita agar lebih jinak lagi.”
Alea menghela. “Semoga. Laki laki itu begitu dingin dan berhati-hati.”
Alea membayangkan sosok devil di dalam pikiranya.
“Apa dia pernah dikecewakan?” tanya Alea menatap Bryan di depanya, keduanya saling mereda emosi.
“Aku mendengar perkataan Romeo tentang wanita bernama Julieta.”
“Ceritakan saja. Karena aku akan menyimpanya sendiri. Aku ingin tahu seperti apa Tuanmu itu sebenarnya."
Bryan menghembuskan nafas dalam, menatap Alea lekat untuk bercerita,
“Tuan Evans anak tunggal. murni keturunan Colliettie yang akan mewarisi kerajaan orang tuanya. Jangan ditanya bisnis mereka baik yang legal maupun yang illegal tidak terhitung, kekayaan yang mereka miliki hingga menjadikan mereka keluarga yang disegani di Italia.
"Namun, kehidupan keluarga mereka berantakan sejak ibunya mengakui memiliki anak lain yang dia sembunyikan dan berharap bisa membawanya kemari menjadi adik bagi Evans.
"Tuan Alberto tentu sangat murka dan mengusir Nyonya Julieta pergi dari mansion ini, lalu mengasuh Tuan Evans dengan caranya sendiri.
"Suatu hari nyonya Julieta datang membawa anak laki-laki itu ke dalam mansion ini dan mengenalkan kepada Tuan Evans adik laki-laki yang beda beberapa tahun dengan Tuan Evans.
"Tetapi Tuan Evans tidak merespon, hanya menatap dengan sorotan mata kebencian itu terlihat begitu jelas, yang mana di hari itu pula hari kematian Nyonya Julieta.
"Tuan Alberto menembak istrinya sendiri di depan tuan Evans dan anak laki-laki itu karena amat kecewa kepada istrinya yang berakhir saling tembak menembak. Orang kepercayaan Tuan Alberto sekaligus teman terbaiknya yang sudah berhianat menembak Tuan Alberto yang mana berakhir di tangan Tuan Evans.”
“Maksudmu Bryan? Berakhir di tangan Tuan Evans?” Alea bingung.
“Tuan Evans menembak orang kepercayaan Tuan Alberto, Philips Laugardia dan juga adik tirinya, meski yang aku dengar adik tirinya itu berhasil diselamatkan dan juga Tuan Alberto yang berhasil di selamatkan pula, dan kepergian tuan Alberto dari mansion ini membuat tuan Evans menjadi penerus keluarganya.”
“Di umur yang masih kecil Tuanmu itu sudah membunuh orang? Dan dia menembak selingkuhan ibunya dan juga adik tirinya?” Alea jelas kaget.
“Dia?”
“Benar-benar devil."
Bryan mengangguk, membenarkan. Jangankan kepada Lussie yang bukan sedarah, yang sedarah pun devil itu berani membunuh adik tirinya yang jelas sedarah dengannya.
"Begitulah yang aku lihat sewaktu kecil dan mendengar. Dan saudara tirinya entah bagaiman kabarnyanya setelah tuan Evans tembak. Tuan Evans juga tidak peduli.”
Bryan menghela napas setelah menceritakan semuanya.
“Benar-benar kisah keluarga yang tragis memang.”
Alea terhenyak mendengarnya. Bisa mengerti rasa kecewa yang di dapat Evans akibat keluarganya sendiri dan seharusnya Ayah yang menjadi panutan hidupnya itu bukan menemani memberikan kasih sayang, malah meninggalkanya sendiri di mansion ini.
‘Dan cerita yang sebenarnya adalah bukan mendiang ibunya yang dibunuh oleh Philips Laugardia, namun Tuan Albertolah yang membunuh mendiang istrinya dan Evans yang tidak terima membunuh Philips dan juga adik tirinya meski berhasil diselamatkan, Ya Tuhan keluarga ini benar-benar menakutkan,’ batin Alea.
“Dia menakutkan bukan?” tanya Bryan setelah mereka terdiam.
“Ya. Dia memang menakutkan tapi…”
Alea menatap tiang-tiang besi yang berada di sekelilingnya. “Dia pasti menanggung sesuatu yang berat dalam hatinya selama ini, yang mana membuat pria itu tidak memiliki belas kasih."
“Kau peduli kepadanya?"
"Hmmm?"
Alea menghela napas menatap Bryan kembali dengan tawa kecil yang keluar dari bibirnya.
"Tentu tidak!"
"Kau harus hati-hati denganya.” Ada nada peringatan yang samar dari kalimat yang Bryan utarakan.
“Jangan sampai tertipu wajah tampannya.”
Alea tersenyum tipis. “Aku bukan Juliana atau Carla dan bukan juga Ariana, aku bukan peliharan Tuanmu yang begitu memujanya Tuannya. Jadi tenanglah!”
Bryan mengangguk namun masih penasaran kepada Alea.
“Apa Kau sudah puas dan paham dengan semua rasa penasaranmu kepada Tuan Evans?
"Atau jangan-jangan rasa penasaranmu akan kehidupan pribadi Tuan Evans karena sebenarnya kau sedang jatuh cinta kepada Tuanmu sendiri hah?” sindir Bryan menatap wajah Alea yang terkejut akan kata-kata yang di lontarkan Bryan kepada Alea dan tentunya wanita di depanya itu menolak keras.
“Astaga Bryan. Aku masih punya kekasih di luar sana dan aku masih mencintainya. Tidak mungkin aku mencintai Tuanmu yang jahat dan kejam itu, bahkan Tuanmu itu sangat terkenal kekejamanya seantero Italy. Apa itu tidak menakutkan buatku hah?”
Bryan menjawab dengan intonasi keras di depan Alea yang sudah terlihat marah karena perkataanya.
“Bukannya pacarmu berselingkuh dengan wanita yang di buang oleh Tuanmu ke tebing itu? Bukanya pacarmu sudah mati Alea?
"Dan apa yang aku dengar apa benar? Jika selingkuhan kekasihmu itu menjualmu kepada seorang mafia dan berakhir kau berada di sini di neraka ini?” terang Bryan menyulutkan emosi Alea tinggi.
Nafasnya sudah memburu di depan sana siap memangsa Bryan yang sudah terang terangan mengajak berkelahi.
“Bryan…” pekiknya.
Bryan terkekeh dan masih bisa mengelus dada, karena untungnya ia dipisahkan sel penjara bersama dengan Alea.
Jika tidak Bryan tidak tahu bagaimana nasibnya jika disatukan bersama dengan Alea, pasti wajah tampanya berubah lebam akan aksi Alea yang saat ini selalu liar kepadanya.
Bryan terkekeh melihat wajah Alea yang memerah di depanya. Wanita yang dulunya pendiam namun kali ini Bryan melihat wanita itu di depanya tampak beda. Apa ini sebenarnya sifat Alea?
Bersambung...
“Merasa dunia hanya miliki berdua, hmm?"