Mafia And Me

Mafia And Me
Sadar Diri!



“Sa-saya ingin meminta tolong pada a-anda!”


Evans menarik napas panjang seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Entah, apa mau wanita bodoh itu minta darinya, lagi.


“Saya ingin Tuan, menyampaikan pada Tuan Leo kalau saya tidak bisa datang ke acara pesta pertunangannya.”


Padahal ruangan kerja Evans itu begitu luas dan besar, tetapi kenapa terasa begitu hening bahkan sang empu yang diajak bicara sama sekali tidak meresponya.


Alea mencoba menarik napas dalam-dalam untuk mencoba meredakan gemuruh di dadanya yang akan meledak. Bayangan malam itu, menyesakan dadanya.


Rasa ketakutan di malam sunyi yang diciptakan Evans begitu memberikan efek yang dahsyat padanya, sampai dia ingin mengontrol dan membuka mata pun kesulitan.


Ketika Alea berperang dengan ketakutannya, dengan serentak dia mengangkat pandangannya.


Sialnya, kedua matanya menangkap manik hijau keemasan itu tak lepas menghunuskan kedua matanya.


“Kau berbicara denganku, hmm?”


Alea menelan salivanya dalam-dalam. “Tataplah wajahku ketika kau bicara denganku!”


Kedua mata Alea di sentakan untuk menatap sang devil yang rupawan. “Ulangi lagi perkataanmu tadi!” pinta Evans membuat satu alis Alea terangkat.


“Ayo, katakan padaku apa yang barusan kamu katakan.”


Evans menopang dagu dengan duduk menyilangkan satu kakinya ke samping dan bertumpu pada kaki kirinya, pria itu terlihat angkuh.


“Ternyata kau cepat sadar diri. Kau itu tidak pantas berada di acara pesta mewah yang dibuat oleh saudaraku sendiri. Harusnya sejak awal kamu menolaknya bukan?”


Alea menatap dengan tatapan sendu. “Katakan lagi. Aku ingin mendengarkannya.”


“Ehm…”


Alea menarik napas dalam-dalam. “Saya ingin Tuan, menyampaikan pada Tuan Leo kalau saya tidak bisa datang ke acara pesta pertunangannya,” ulang Alea, lagi.


“Permintaanmu diterima!” jawab Evans cepat.


“Kamu memutuskan hal yang paling baik, Alea. Kau harusnya sadar diri. Jadi jangan mempermalukan dirimu sendiri karena pesta itu bukan tempatmu.


“Kau bukan cinderella di kisah dongeng. Pelayan sepertimu tidaklah cocok mendatangi acara mewah keluargaku.”


“Kau hanya pelayan, Alea. Camkan itu!”


Alea menahan tangisannya, sekalipun kedua matanya sudah basah akan lisan Evans yang begitu tajam menyentuh hatinya.


Dia tahu kalau dia pelayan di sini. Tapi, apa harus Evans mengingatkan dirinya dengan perkataan yang tajam itu?


Alea menarik napas dalam-dalam seraya menghembuskan perlahan.


“Ya, Tuan. Anda benar, seharusnya saya sejak awal sadar sadar siapa saya di sini.


“Saya bukan cinderela yang punya impian terlalu tinggi. Terima kasih anda sudah mengingatkan saya. SEMUANYA!”


Evans menarik sudut bibirnya ke samping. “Baguslah kalau kamu paham!”


Evans kembali menyesap winenya. “Dan aku sangat yakin kalau Leo tidak akan peduli kau datang atau tidak di acaranya sekalipun aku dengar saudaraku itu sudah memberikanmu gaun bukan?”


“Ya. Dan kini gaun cantik itu hancur entah oleh siapa.”


Evans menaikan sebelah alisnya menatap Alea. “Oh ya. Jika begitu lupakanlah pesta itu. Kau memang benar tidak layak berada di sana!”


Alea kembali menundukan pandangannya, dengan perasaan sedih.


“Ya, Tuan.”


Evans bangkit dari duduknya. Pria itu berdiri lalu berjalan mendekati Alea. Diraihnya dagu terbelah itu dengan jari telunjuknya untuk memaksa wanita itu untuk menatapnya.


Evans tersenyum miring. “Kau harus ingat Alea Anjanie.


“Aku tidak pernah nyaman bila pelayan sepertimu berada di satu acara mewah denganku sekalipun kau memakai gaun cantik dan mewah. Tapi—”


Kilatan mata indah itu membuat Alea menahan nafas.


 “Tidak akan membuat pelayan seperti kau bak ratu semalam!”


“Jadi buang semua impian mu itu!”


Alea diam menahan air matanya menatap Evans. Pria itu pun menghempaskan dan berbalik pergi meninggalkannya yang mematung. Air matanya pun merebak, Alea menangis tersedu-sedu.


“Jangan menangis Alea. Sudah, kamu jangan lemah seperti ini,” kata hati Alea menenangkan.


“Sudahlah lupakan pesta itu, Alea,” kata hatinya lagi.


Alea berikan anggukan pelan diiringi menghapus air matanya dengan kasar.


Alea pandangi devil itu yang kini sudah menjauh dari hadapannya. Perkataan Evans yang tajam itu tentunya membuat dadanya sakit.


“Pasti ada alasanya bukan kenapa pria itu sampai detik ini masih mempertahankanku sekalipun aku tidak diinginkan?”


“Alea…”


“Astaga, Bryan!” seru Alea.


Bryan cengengesan. “Dari tadi aku perhatiin kamu melamun terus. Ngelamunin papan hm?”


Alea membuang napas pelan sementara Bryan berjalan mendekat. “Kenapa dengan wajahmu?”


“Emangnya kenapa wajahku?”


“Kamu kelihatan habis nangis, Alea.”


Bryan meraih dagu belah Alea lalu menariknya agar wanita itu mau menatapnya.


“Apa kamu ada masalah, hmm?”


“Aku tidak apa, Bryan,” jawab Alea bohong seraya mengeringkan dua tangannya yang basah.


Alea tidak mau pria itu tahu kalau dia tengah bersedih. Ya, Alea sedih karena gaun cantik itu rusak.


“Kamu bohong kan?”


“Apa kamu sudah mengambil stok makanan di gudang?” tanya Alea mengalihkan pembicaraan.


“Itu sudah semua. Oh, ya. Apa kau tahu, Tuan keluar setelah makan malam tadi.”


Alea mengangguk pelan, Evans memang keluar dan entah kemana pria itu pergi malam-malam seperti ini.


Bryan menghampiri Alea dan ikut membantu mengeringkan peralatan makan. “Ada apa denganmu hmm?”


Sebenarnya tak usah ditanya kenapa pun, Bryan tahu apa yang membuat wanita ini jadi diam dan tidak seperti biasanya.


“Aku tidak apa-apa, Bryan.” Bryan bertopang dagu seraya menatap Alea di sampingnya.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa ada yang salah?”


“Apa kamu bisa berdansa, Alea?”


“Berdansa?” jawab Alea. Namun, jawaban itu seolah jawaban yang susah. Alea terlihat berpikir keras yang Bryan lihat.


 “Apa wajahmu yang cemberut ini ada kaitannya dengan pesta tunangan Tuan Leo?”


Bola mata Alea membulat seketika, lalu sekian detiknya kembali dengan ekspresi ceria. Alea tidak ingin Bryan selalu ada di saat dia sedih.


“Berdansalah denganku, Alea.”


“Apa kamu sedang menghiburku dengan bualanmu, Bry?”


“Aku tidak sedang membual, Alea.”


Alea memutar bola matanya, duduk menopang dagu nya. “Aku tidak mau berdansa. Apalagi denganmu,” ujar Alea.


Mungkin, membual dengan Bryan membuat suasana hatinya tidak sesakit tadi. Pria muda itu meruncingkan bibirnya.


“Astaga, memangnya ada apa denganku. Kenapa kamu tidak mau berdansa denganku, hmm?”


“Tidak ada alasan karena aku memang tidak mau berdansa.”


Bryan bangun dari duduknya seraya berjongkok dengan satu tangan yang terjulur. Pria muda itu meminta Alea berdansa bersamanya.


“Maukah kamu berdansa denganku, Alea?”


Alea tertawa pelan. “Apa-apan si sih Bry.”


Bryan mengerlingkan matanya seraya kode meminta Alea menjabat tangannya. Alea menolak dengan gelengan pelan.


Tapi, bukan Bryan kalau tidak menariknya secara paksa untuk berdansa bersama.


“Aw… Bryan….” Ucap Alea pelan seraya memukul pundak pria muda itu. Tubuh kecilnya hampir saja jatuh dalam pelukan Bryan.


Pria itu pun tersenyum hangat. “Kamu pemaksa tau nggak!”


Bryan terkekeh menatap gemas pada Alea. “Karena aku tidak suka ditolak!”


“Aku ingin berdansa denganmu, Alea.” Alea tersenyum seraya mengikuti satu tangannya yang digenggam Bryan.


“Bayangkan saja kalau kita berdua ada di acara pesta mewah Tuan Leo,” ucap Bryan diiringi senyuman.


Alea menaikan satu alisnya menatap pria muda yang melingkarkan satu lengannya di pinggangnya.


“Kenapa kamu berkata seperti itu?”


“Karena kutahu gaun cantikmu hancur kan?”