
“Apa kau sudah mengurus wanita bodoh itu?”
Baru saja pria itu tiba, hal yang ditanyakan adalah Alea.
“Sudah, Tuan,” jawab Mika seraya mengikuti langkah Evans menuju salah satu ruangan.
“Saya sudah mengurungnya di dalam ruangan anda.”
“Good, Mika. Kau dan anak buah yang lain jaga ruangan ku jangan sampai wanita itu keluar dari ruanganku apapun yang terjadi.
“Apa kau paham?” tanya Evans seperti biasa dengan garis wajah yang tegas.
“Baik, Tuan. Saya pamit,” ujar Mika berlalu pergi meninggalkan Evans yang berjalan dengan pengawal yang lain, sedangkan dia dengan dan pengawal lainya berbalik arah berjalan menuju ruangan tuannya.
Lucas sibuk menyambut para tamu undangan begitu pun Leo yang sibuk berbincang hangat dengan beberapa koleganya yang turut diundang di pesta kecil Lucas.
Pria bermata coklat itu izin undur diri ketika melihat Marvio berdiri bersama seseorang. Ia heran karena pangeran itu tidak datang dengan Alea.
“Kamu sendiri datang ke sini?”
Leo menatap sejenak ke samping kanan dan kiri bahkan dia melihat sekitar mengedarkan kedua matanya untuk mencari keberadaan Alea.
“Kemana saja kamu, kenapa baru datang ke sini?”
Leo masih mencari keberadaan Alea di penjuru ruangan yang sudah dapat ini.
Tetapi, sekali lagi kedua matanya tidak menemukan keberadaan Alea.
“Alea mana?” tanya Leo lagi.
“Loh, Mar. Alea mana?”
Massimo ikut menghampiri dan langsung menyela pembicaraan Leo yang sama-sama bertanya tentang Alea.
Sejak, pria itu datang. sang pangeran selalu bersama dengan Alea.
“Tadi Mika menghampiri aku sama Alea, katanya Alea di panggil sama Evans suruh menghadap ke ruangannya,” jawab Marvio, santai.
Ya, semoga saja bukan jebakan.
“Hah? Evans manggil Alea?” seru Leo seraya menatap sahabatnya.
“Apa kamu tidak salah bicara Mar?” sahut Massimo.
“Tentu tidak. Tadi Mika benar-benar datang dan meminta Alea untuk ke ruangan Evans.”
“Begitu? Lalu siapa pria yang sejak tadi aku lihat berdiri di sana dengan rekan bisnisnya?” tunjuk Leo tepat pada Evans yang nampak serius berbicara dengan salah satu investor asing.
Bola mata Marvio mendelik. “Sejak kapan pria itu ada di sana?” seru Marvio terkejut.
“Sudah sejak tadi,” jawab Leo dengan helaan napas panjang.
“Sial! Aku di kibuli oleh wanita dingin itu,” umpat Marvio.
Massimo mendesah pelan. “Aku sebaiknya ke ruangan Evans,” ucap Leo yang diikuti oleh Marvio.
“Aku ikut Leo…”
“Kamu di sini saja, Mar dan tahan Evans agar tidak menghalangi kita. Aku akan menjemput Alea.
“Tolong jangan buat Evans curiga.”
Masimo mengangguk paham seraya menatap kepergian Leo dan Marvio yang akan menjemput Alea.
Pria itu sejenak menarik napas panjang lalu mencari keberadaan saudaranya. Jauh dari tempat dia berdiri, Massimo pandangi saudaranya. Pikirannya begitu saja penuh dengan banyak pertanyaan perihal Evans dan Alea.
“Sebegitu bencinya kamu pada Alea Van, sampai kamu tidak suka kalau Alea berada di acara yang sama seperti ini?” batin Massimo tak lepas menatap saudaranya yang nampak santai.
“Buka pintunya!” seru Leo memerintahkan pada Mika yang berjaga tepat di ruangan kerja Evans.
“Maaf, Tuan. Saya hanya diperintahkan agar Alea tidak ada di acara itu?
“Sebaiknya anda bisa paham dengan keputusan Tuan Evans yang tidak suka di bantah!”
Leo berdecak lidah dengan berkacak pinggang.
“Bukalah. Aku yang akan bertanggung jawab pada tuanmu bila dia marah.”
Leo selangkah maju mendekat. Mika menghadapang dengan beberapa anak buahnya yang sudah siap menghunuskan senjata apinya ke depan.
“Buka Mika…” seru Leo keras.
“Tidak! Maafkan saya.”
Leo dengan cepat mengambil senjata apinya yang disimpan dibalik pinggang dan menghunuskan tepat di wajah Mika.
“Buka atau kepalamu akan berlubang!”
Mika menarik nafas pelan. “Silahkan lakukanlah, Tuan.”
“Ck!” decak Leo seraya mendorong wanita itu agar tidak menghalangi jalannya.
Mika tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain mencegah anak buahnya yang akan menembak sepupu tuannya.
Benar saja, pintu itu pun didobrak Leo dan dibantu oleh Marvio hingga keduanya berhasil menemukan Alea yang duduk dengan menatap bingung pada dua orang di depannya.
“Kamu tidak apa kan Alea?”
“Aku baik-baik saja, Leo.” Leo merangkul Alea dan membawanya keluar dari dalam ruangan Evans.
“Ayo kita pergi dari sini,” ajak Leo bersama-sama keluar dari dalam ruangan Evans.
Pria itu tidak punya hak mengurung Alea di dalam ruangannya sendiri sedangkan pria itu bersenang-senang di pesta kecil yang dibuatnya.
“Tunggu, Tuan. Kita mau kemana,” tanya Alea menghentikan langkahnya.
“Kita ke aula. Kamu harus ikut berpesta di sana, semua ini juga berkat kerja keras kamu dan Lucas bukan?”
“Tapi—”
Leo menarik Alea dan meminta wanita itu untuk mengikut langkahnya.
“Tidak ada tapi-tapian, sekalipun Evans adalah tuanmu dan kamu pelayan di sana, dia tidak ada hak untuk mengurungmu, Alea.”
“Ya, itu benar. Tapi lebih baik saya tidak hadir di acara itu.
“Tidak apa karena aku tidak mau jadi masalah lagi dengan saudaranya. Saya akan menunggunya di ruangannya saja.”
“Come on Alea…”
“Saudara anda itu tidak suka saya berada di pesta yang sama, jadi tolong hargai keinginan dan juga keputusannya.
“Saya benar-benar tidak apa-apa.”
Leo menggenggam erat tangan Alea. “Tidak seharusnya Evans membatasi semua kegiatanmu Alea.
“Pabrik tua ini kembali bangkit pun itu karena berkatmu. Acuhkan saja nanti bila kamu bertemu dengannya, ayo.”
Leo membujuk. Lebih tepatnya memaksa Alea untuk ikut bersamanya ke aula, dengan terpaksa Alea pun mengikuti permainan Leo dan Marvio, lagi.
“Apa kamu tahu, Alea.”
Alea menoleh seraya keduanya berjalan.
“Evans sudah berada di pesta itu beberapa menit yang lalu lebih tepatnya ketika Mika memintamu untuk ke ruangannya.”
Leo menjeda sejenak untuk menarik napas.
“Aku tidak tahu kenapa sebegitu bencinya saudaraku padamu sampai kamu tidak diizinkan untuk hadir di acara itu.”
Alea diam ikut menarik napas panjang, sebelumnya dia memang sudah tahu kalau Evans memang tidak suka akan satu acara bersama dengan pelayan sepertinya.
Dia pun sadar diri dengan posisinya, tetapi yang tidak sadar diri kalau dia hanya seorang tahanan di mansion Evans terus membuat pria itu marah dengan setiap bentuk permainannya, seperti sekarang ini.
Ketika tiga orang itu tiba di depan Aula, anak buah Leo pun membukakan pintu besar berwarna coklat itu untuk ketiganya masuk.
Leo lebih dulu masuk menuruni anak tangga untuk bergabung dengan tamu yang lainya, sementara Alea bersama dengan Marvio.
Ya, pria itu kembali berperan layaknya sepasang kekasih di mana banyak pasang mata yang langsung tertuju menatap sang pangeran yang menggenggam erat tangan seorang wanita biasa dan sederhana.
Banyak kaum hawa dibuat iri oleh Alea yang hanya seorang staf biasa, karena wanita itu paling beruntung yang bisa dekat dan digenggam erat oleh sang pangeran Marvio Robertus.
Alea menarik nafas pelan, sudah ditatap banyak wanita yang tidak suka. Kini sepasang manik mata indah hijau keemasan itu pun turut menatapnya tajam.
Alea menurunkan pandangannya, lalu menghela pelan dan berusaha meredam degupan jantung yang berpacu cepat.
“Dia tidak suka melihatku ada di acara ini,” batin Alea.
Dia gugup, ketika masuk dan bergabung dengan yang lain. Namun, pasrah secara bersamaan. Marvio mengenalkan satu persatu teman-temannya.
Tapi, lagi lagi anak matanya menoleh ke samping di mana sepasang mata indah itu menatapnya setajam elang seolah pria itu ingin membunuhnya karena sudah berani membangkang perintah Evans untuk tidak berada di acara yang sama.
“Ya, Tuhan. Kenapa Evans begitu tidak suka dengan keberadaanku di pesta ini.
“Apa sehina itu pelayan sepertiku tidak boleh menghadiri acara yang sama?” gumam Alea dalam hati kembali menatap berani pada pria yang tak lepas menghunuskan tatapannya itu.
“Jangan dipandang terus. Acuhkanlah, Alea. Kita kesana yuk, aku ingin mengenalkan temanku,” ajak Marvio, sebelum pria itu membawa Evans dari jangkauanya.
Dia melirik sejenak bagaimana ekspresi Evans yang begitu bengis padanya.
“Permisi sebentar Tuan,” ucap Evans berjalan mendekati Leo dan juga Massimo.
“Makanan ini enak lho, Al.”
Marvio memberikan piring kecil berisi cemilan pada Alea, namun kembali matanya menatap Evans yang kini berdiri bersama dengan saudara prianya.
Sejujurnya, Alea sudah tidak punya muka lagi bertemu dengan Evans, ketika kejadian kebodohannya semalam.
Tetapi, kenapa dua orang itu begitu yakin dengan harapan kecil yang abu-abu itu?
“Kenapa kau keluarkan dia dari ruanganku, hah?” bisik Evans dengan rahang yang mengetata.
Tak ketinggalan kedua bola matanya yang melirik tajam pada Massimo terutama Leo.
Leo hela nafas panjang. “Ayolah, Dude. Ini acara pesta kecil atas keberhasilan pabrikmu dan juga itu berkat Alea kan?
“Izinkanlah dia berda di sini cuman sebentar kok.”
“Kau—“
Evans menatap nyalang pada saudaranya yang bertingkah sok pemberani itu.
“Selamat datang Mr and Mrs yang sudah berkenan ikut hadir diacara syukuran kecil pabrik kami.”
Di atas panggung kecil, Lucas sudah memberikan sambutan untuk para tamu yang datang untuk lekas memulai acaranya.
Pria muda itu pun lekas berpidato untuk mempersingkat waktunya.
Alea dan Marvio sama-sama menatap dan mendengarkan Lucas berpidato.
“Kenapa kau senang melawanku, Leo!”
“Aku tidak melawanmu, Evans. Aku tidak berani melawan seorang Evans Colliettie.
“Aku hanya ingin kamu punya rasa iba pada wanita malang itu, dia punya hak di sini untuk ikut berpesta tidak dikurung sendirian di ruangan itu!”
“Ck! itu bukan urusanmu, Leo!” decak Evans pergi meninggalkan kedua saudaranya.
“Selamat Nona, Alea. Anda dan Tuan Lucas begitu hebat kembali membangkit kan pabrik tua ini kembali,” kata si pria gemuk berdasi kuning.
“Terima kasih, Tuan Jody.”
Marvio menatap Alea dengan senyuman bangga. “Aku tidak menyangka kalau wanita di sampingku ini selain cantik tetapi dia juga pandai. Kamu hebat Alea.
“Padahal tuamu saja akan menutupnya karena Lucas tidak becus mengurusnya,” decak Marvio kagum.
“Kamu berlebihan, Mar. Oh iya, aku ke toilet sebentar.”
Alea pergi meninggalkan Marvio dimana pria itu masih berdiri dan menatap Lucas berpidato.
Setibanya di dalam toilet, Alea menatap sejenak wajah dan juga penampilannya di depan cermin besar yang memanjang.
Dia menghela napas panjang lalu menghembuskan perlahan.
Disentuhnya dada bagian kiri, degupan jantung memompa lebih cepat dari biasanya dan perasaan pun mendadak tidak enak.
“Aku harus kembali ke tempat itu,” kata Alea seraya mencuci wajahnya.
Namun, ketika Alea kembali menatap cermin. Dia terbelalak ketika melihat seseorang sudah berdiri di belakangnya.
“Hmps…” Alea mendelik, mulutnya dibekap dari arah belakang dengan sapu tangan.
Dia meronta untuk melepaskan tangan pria itu. Tetapi Alea tak sanggup melepaskan diri dari pria itu karena pria itu membekapnya dengan obat bius.
“Bawa wanita ini dan kuruang dia!”
“Baik Tuan.”