Mafia And Me

Mafia And Me
Aku Ada Dipihakmu!



“Morning Lucas,” sapa Alea ketika berpapasan.


“Morning,” jawab Lucas pendek seraya berjalan begitu saja meninggalkan Alea.


Mulut Alea menganga ketika melihat sikap Lucas yang tidak bisanya. Alea mendengus pelan seraya pandangi Lucas.


“Ada apa dengan Lucas? Apa Lucas sakit hati dengan perkataanku kemarin?” gumam Alea dalam hati.


“Ya, Tuhan. Kenapa pria itu seperti wanita mudah tersinggung, kalau Lucas tidak merasa melakukannya kenapa juga harus marah?”


Alea pandangi punggung Lucas yang kini masuk ke dalam ruangannya.


“Dasar pria-pria aneh. Tidak tuannya sekarang pria itu pun ikut aneh juga.


"Harusnya Lucas tidak marah bukan kalau dia tidak berbuat marah? Kenapa juga harus bersikap dingin seperti itu,” decak Alea, cukup di dalam hati saja.


Alea berjalan mendekati meja kerjanya, dia menghempaskan pantattnya dan kembali teringat dengan sikap Lucas.


“Ya, sudahlah sebaiknya aku meminta maaf pada pria itu setelah makan siang nanti,” ucapnya dengan menarik nafas berat.


Seperti inilah keseharian dari hari senin sampai hari sabtu dia akan bekerja di pabrik tua membantu Lucas setelah di menjadi pelayan pribadi Evans.


By the way, Evans masih sama anehnya. Sepagi tadi pun devil itu tidak menunjukan wajahnya sekalipun Alea tahu Evans berada di dalam kamarnya. Aneh bukan?


Tapi, bagi Alea ini suatu keberuntungan karena dia tidak harus repot-repot mengurus bayi besar yang segala sesuatunya selalu minta di layani secara khusus dan hal itu bisa meyakinkan Ruby dengan dugaanya yang menuduhnya tengah ikut berkompetisi dengan wanita peliharaan lainya.


“Oke, kembali bekerja lah Alea,” ucapnya pada dirinya sendiri.


Baru saja Alea menekan tombol power lalu membuka dokumen yang harus diperiksa, gebrakan tangan di punggung Alea membuat wanita itu tersentak kaget.


“Astaga, Tuan….” seru Alea seraya memegang dadanya dimana jantungnya berdetak cepat.


“Yaelah, Alea. Baru saja kayak gitu sudah kagetnya lebih kayak lihat hantu.”


Seseorang itu dengan santainya menarik kursi lalu duduk di samping wanita yang tengah mengatur deru nafasnya. “Ya, anda hantunya yang kini mulai bergentayangan!” decak Alea dengan dengusan.


“Bisakah kalau adan datang tidak seperti ini? Bagaimana kalau aku terkena serangan jantung kalau setiap anda datang selalu mengejutkanku.”


Lemas sudah Alea seraya pandangi pria satu itu. “Bukannya jantungmu sudah terlatih dengan iblis itu, hmm?”


Alea diam tidak menjawab. “Ada apa anda kesini, Tuan Massimo. Lucas ada di dalam ruangannya,” kata Alea seraya mengalihkan pembicaraan.


Kesalnya, pria itu tidak meminta maaf, tetapi pria berwajah seperti orang turki dengan kulit yang sawo matang dengan mata brow nya itu justru cengengesan di depannya.


Padahal keluarga Evans Colliettie dominan seperti Leo yang punya kulit putih gading, tetapi ini….


“Tolong jangan panggil aku Tuan Massimo, Alea. Astaga, aku ini masih 31 tahun usiaku dan usai Evans itu tidak jauh beda.


"Kami hanya beda empat tahun. Jadi, yah kamu tolong jangan di samakan dengan tuamu itu. Cukup kamu panggil aku Massimo saja,” ucap Massimo.


Alea mendengus pelan. “Ya, ya, ya. Terus anda datang kesini mau apa?”


Kening Alea mengernyit dalam, lalu berpikir keras. Massimo pria yang cenderung diam dan terkesan tidak peduli.


Perkataanya itu cocok bukan ketika mereka bertemu dan saling berkenalan kalau pria itu datang ke sini tanpa tujuan.


“Kamu meragukanku?”


“Ya. Tentu.”


Massimo menarik napas pelan yang diiringi tawa.


“Kamu bisa percaya denganku, Alea. Aku ada di pihakmu sekalipun aku tidak bisa melakukan hal lebih.”


Kernyitan Alea semakin dalam menatap Massimo.


“Bila kamu ingin mencari siapa dalangnya. Ayo, aku bantu kamu. Tapi bila kamu memintaku untuk kabur dari sini. Aku tidak bisa menentang saudaraku sendiri.”


Alea diam menatap. “Tidak hanya aku saja yang akan Evans bunuh, tetapi yang lain pun akan kena imbasnya.


"Percayalah, melarikan diri dari cengkeraman Evans Colliettie itu lebih menakutkan dari apa yang kamu pikirkan Alea. Lebih baik menurut keinginan dia agar kamu selamat,” ungkap Massimo panjang lebar.


Alea bersedekap setelah menutup dokumennya. “Dia saudaramu. Tidak mungkin dia membunuhmu.”


“Ya, kamu benar itu. Tetapi, kamu tidak pernah tahu kalau pria itu bisa membunuh saudaranya sendiri!”


“Katakanlah padaku. Siapa yang menyuruhmu Massimo. Aku yakin ada orang lain yang memintamu bukan?” mata Alea menatap tajam seraya menilai pria berjambang tipis tersebut.


Massimo tertawa pelan, benar kata seseorang yang mengatakan sesuatu tentang Alea.


Wanita ini di hadapannya ini pandai membaca gerak gerik seseorang. Lalu yang jadi pertanyaan kenapa dia tidak bisa membaca gerak gerik seorang Evan Colletiie?


“Kamu sungguh cerdik Alea. Aku kagum padamu.”


‘Alea itu orangnya pandai. Tolong jangan meremehkan wanita itu sekalipun pembawaanya tenang dan juga sikap pedulinya begitu tinggi pada teman-temannya.’


“Tidak ada orang yang menyuruhku Alea. Sudahlah lupakan. Kenapa tadi kamu melamun, hmm?”


“Aku ingin dengar jawabmu Massimo, bisakah kamu jujur padaku?”


Massimo menarik napas pelan lalu berikan senyuman pada Alea.


 “Ya. seseorang memintaku untuk menjagamu.”


Bola mata Alea mendelik dengan dada berdebar.


 “Siapa dia, Massimo?”


Ada yang bisa tebak siapa orang dibalik massimo? Yang tahu cung, tulis di kolom komentar, hehehe...