
“Katakan Alea—” jerit Carla keras seraya menarik rambut panjang Alea. sampai kepalanya Alea terbentur pada pagar pembatas.
“Apa yang kalian lakukan di sana bersama dengan tuan? Apa di sana kau pun menghangatkan ranjangnya pula hah? Katakanlah!”
“Ahhh… Sakit—“
Alea sudah tidak bisa menahan rasa sakit ini. Luka bekas operasi di kepalanya masih berdenyut nyeri, belum lagi cengkraman di lehernya sudah merembes cairan merah di tangan Carla, sekalipun tangannya terdapat darah tetapi begitu saja diabaikan oleh wanita itu.
Para peliharan Evans kini tengah murka padanya, membodong pertanyaan demi pertanyaan yang tidak ingin dia jawab.
Apa mereka tidak tahu sekali dia keluar dengan Tuannya, luka inilah yang dia bawa ke mansion setelah Evans membawanya ke Madrid.
“Lepaskan tanganmu, Carla,” pinta Alea lemah.
Dia butuh obat Pereda nyerinya, karena denyutan di kepalanya sudah tidak bisa dielakan lagi, bekas sayatan di lehernya pun sudah tidak di rasa lagi. Alea tersiksa.
“Aku tidak akan melepaskan kamu. Tidak akan pernah. Bila tuan tidak meninggalkanmu dan membuangmu di sana, biarkan aku yang akan membunuhmu di sini.”
“Aku tidak ingin ada saingan lagi selain keempat wanita itu. Kau tahu bukan, hanya akulah Nyonya Colliettie di sini!”
“Please, ini sakit, Car…”
“Sekalipun kau menangi darah dan bersujud di kakiku. Aku tidak akan melepaskan kamu.”
Plak!
Carla menampar pipi Alea, tidak hanya satu kali, tetapi berulang kali wanita itu menamparnya.
Cengkeram di lehernya pun tak kunjung lepas ketika wanita itu membabi buta melampiaskan rasa sakit hatinya karena Alea dibawa Evans ke Madrid.
Tidak hanya tamparan saja yang mendarat di wajah Alea. Rambut panjang Alea di tarik kencang, tubuh kurusnya berulang kali terjatuh.
Namun, Carla dengan sigap menarik nya kembali dan masih terus melampiaskan amarahnya.
Pandangan Alea mengabur, jangan ditanya lagi bagaimana tubuh Alea sekarang ini. Penuh darah. Sungguh luar biasa sakit yang tengah dirasakan.
“Mati kau jallang! Aku sudi punya saingan sepertimu. Munafik!” amuk Carla.
“Kau tidak pantas di sini. Pergilah ke neraka!” seru Carla keras seraya menendang tubuh Alea yang terkapar di lantai.
Tendangan itu mengenai luka di perutnya bekas tembakan.
Alea hanya diam dengan air mata yang berderai. Dia tidak tahu kalau Carla akan semurkan ini. Salah satu peliharaan Evans, lebih buas dari ular kesayangan tuannya itu.
“Tolong hentikan Carla…” minta Alea, seraya memegangi perutnya yang kesakitan.
Julia dan Kelly menarik Carla agar tidak terus menyiksa Alea.
Nafas Alea memburu seraya dia bangun dari sisa tenaga yang dimilikinya. Alea mencoba bangkit dan berdiri. Dia berjalan sempoyongan menuruni anak tangga satu persatu.
Keempat wanita di atas sana tertawa keras, tentunya penampilan Alea sangatlah mengesankan dan juga menyedihkan. Alea tidak sanggup berjalan lagi, rasa nyeri itu sudah menyebar keseluruh tubuhnya.
Bola mata Alea membulat saat Carla menendangnya, sebelum pegangan tangannya terlepas dan jatuh berguling di anak tangga seperti yang dibayangkan.
Namun, seruan keras itu menangkap lebih dulu tubuh yang simbah darah. Bila tidak, entah bagaimana nasib Alea terguling dan terbakar di lantai. Mungkin dia akan mati seperti apa yang Carla ucapkan dan inginkan.
“Apa yang kalian lakukan, brengsek?”
Alea yang masih setengah sadar pun menatap seseorang yang menangkap tubuhnya. Suara itu, bagi Alea tidak asing sekalipun dia tidak percaya.
Itu, suara Evans Colliettie yang menggelegar keras di ruangan tersebut. Tidak hanya Alea yang tidak percaya akan Evans yang datang menolongnya.
Tetapi, para wanita di dalam sana pun sontak kaget. Pikiran mereka pun mendadak penuh tanya akan kedatangan Evans, terutama Mika yang sama ikut terkejut adanya Evans dengan wanita bodoh itu lagi…
Faktanya, Evans Colliettie tidak pernah sekalipun menginjakan kakinya di pavilion peliharanya. Apa lagi, pria itu menolong pelayan seperti Alea.
“Kau sudah sadarkan diri?” seseorang itu bangun dari duduknya.
Dia menghampiri Alea yang baru saja sadar.
Alea berikan anggukan pelan dengan kedua mata yang mengerjap lambat, detik kemudian dia tersentak ketika melihat seseorang itu berada di dalam kamarnya.
“Kamu…”
“Ya, aku Alea. Kamu pasti terkejut.”
Alea kembali mengangguk, dia memang terkejut dengan kedatangan wanita itu. Alea bangun dari posisinya yang terlentang untuk duduk, dan wanita itu ikut membantunya.
“Apa kepalamu sakit?” tanyanya. Melihat Alea memegang kepala tentunya wanita itu kesakitan dimana dia melihat bagaimana Carla memperlakukan wanita malang itu.
Alea diam tak menjawab.
“Kepalamu pasti terluka parah bukan? Apa kamu mengalami sesuatu yang buruk ketika berada di Madrid?” tanyanya lagi.
Sekali lagi Alea hanya diam dan menatap wanita pendiam itu. Dari kelima wanita peliharaan Evans, hanya wanita itu yang datang ke kamarnya dan entah sejak kapan wanita itu berada di sini.
“Aku tidak apa-apa,” jawab Alea.
“Berta membawakanmu makan malam. Kata Berta, pagi itu kamu hanya sarapan roti dan susu saja. Maka, makanlah. Kamu lapar bukan?”
Alea mengambil nampan yang diberikan wanita itu, siapa lagi kalau wanita itu bukanlah Ruby.
Alea menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan sebelum dia makan. Melihat Ruby bersikap baik tidak seperti biasanya yang acuh, membuat Alea bertanya-tanya.
“Maafkan Carla yang sudah keterlaluan menggunakan kekerasan seperti itu padamu. Dia wanita sombong yang berlaga Nyonya Colliettie dan dia sangat membencimu, Alea.”
Bolehkah Alea mengusir Ruby dalam kamarnya?
Alea sudah tidak ingin lagi mendengarkan masalah Evans lagi. “Dia cemburu padamu karena kamu sedikit lebih dekat dengan Evans dibandingkan kami.”
Kedua alis Alea bertautan, kedua matanya yang memandang Ruby pun tak mengerti akan maksud yang dikatakan wanita tersebut.
“Kalian salah. Aku tidak sedekat itu,” hardik Alea dengan helaan napas pelan.
“Kalian adalah wanita yang dipilih tuan untuk berbagi kehangatan dan kalian pun jauh lebih dekat dengan pria itu.”
Alea sudah tidak bernafsu makan lagi. Ruby menarik kursinya dan duduk di depan Alea.
“Kamu pun tidak tahu, Alea. Kami hanya dekat secara fisik tetapi tidak sedekat secara emosional,” ucap Ruby membuat Alea mengernyit bingung.
Wanita cantik itu mengalihkan pandangannya dan menatap pintu kamar Alea.
“Kamu semua yang berada di sini punya sejarah sendiri dan berbeda dengan Tuan Evans.”
“Kami semua mencintai Tuan, meski dia tak pernah menganggap kami. Di mata Tuan, kami hanya sebagai pemuas nafsu dia saja. Tetapi, kita senang walau hanya bertatap muka dengannya.
“Tuan begitu dingin, keras. Tidak mudah bagi kamu membuat dia terpesona pada kami. Mau wajah kita secantik apapun dan berpakaian sexy apapun, pria itu tidak peduli. Tuan tidak pernah tertarik pada kami.”
Alea ikut menarik napas, Ruby bercerita perihal Evans sekalipun Alea tidak peduli.
“Kami di sini berlomba untuk mengambil hatinya. Tetap saja pria itu tidak pernah menunjukkan perasaanya.
"Jadi kamu paham, Alea. Kita hanya dekat secara fisik tetapi bila sudah berada di atas ranjangnya, kita—”
Ruby menatap sejenak Alea. “Kami tidak pernah bisa masuk ke dalam hatinya bahkan pikirannya sekalipun.”
Ada rasa cemburu di hati Ruby pada wanita di depannya. Dia tahu dan paham dengan Evans Colliettie.
“Apa kamu pikir kami semua di sini bisa disentuh oleh Tuan Evans?”