Mafia And Me

Mafia And Me
Menuduh!



“Astaga, kemana wanita itu,” gumam Marvio seraya mencari keberadaan Alea.


Di dalam aula yang cukup luas, Marvio tidak menemukan keberadaan wanita cantik itu.


“Apa Alea kembali di kurung oleh Evans?” batin Marvio.


Kedua matanya pandangi Evans yang tengah berdiri bersama Massimo. Dari kedua mata yang ia tangkap, Evans sepertinya terlihat marah.


“Ini sudah satu jam wanita itu izin ke toilet masa iya dia pingsan di sana,” gerutu Marvio lagi.


Dadanya naik turun seraya pria itu menarik nafas, dipandanginya kembali pria dingin sang penguasa Italia.


 “Kenapa pria itu begitu benci sekali pada Alea? Apa setidak mau ini pria itu tidak mau satu acara dengan pelayan pribadinya


“sampai-sampai tidak mengizinkan Alea berada di acara ini dan kembali mengurungnya?” batin Marvio menduga tak kunjung datangnya Alea ke aula ini dipastikan anak buah Evans kembali mengurung Alea.


“Evans tidak beres, Leo harus tahu,” katanya lagi di dalam hati seraya berjalan mendekati Leo di mana ia melihat Evans dan Massimo baru saja keluar dari dalam aula.


“Ada apa?” tanya Leo seraya berbisik.


 Di sampingnya ada tiga orang pria rekan bisnisnya yang turut diundang di acara pesta kecil ini.


“Alea tidak kembali lagi ke aula setelah dia pamit padaku ke toilet.”


Leo mengernyit. “Evans pasti mengurung Alea lagi,” bisik Marvio, pelan.


“Baiklah, ayo kita cari Alea.”


Leo berpamitan pada tiga rekannya dan berlalu pergi meninggalkan acara bersama dengan Marvio untuk mencari keberadaan Alea.


 Kedua pria itu yakin kalau menghilangnya Alea tentunya ulah Evans.


“Kamu sudah cari Alea di ruangan nya? Barangkali saja dia kembali bekerja?” tanya Leo pada Marvio.


“Anak buahku sudah mencarinya dan Alea tidak kembali ke dalam ruangannya,” jawab Marvio seraya menyusuri Lorong.


Sementara di sebuah tempat, Evans nampak murka dengan kebohongan saudaranya.


Kedua pria itu sejak tadi adu tatap dan juga ada mulut karena Massimo belum mengakui siapa orang dibalik saudaranya yang selama ini bertingkah mencurigakan.


“Kau tidak akan jujur padaku, Mas? Katakana siapa orang yang sudah menyuruhmu!”


“Astaga. Aku sudah berapa kali mengatakan padamu. TIDAK ADA! Apa aku harus mengulanginya lagi?” seru Massimo dengan tagas.


Ya, kalau dia tidak tegas dan terlihat mencurigakan, bukan dia saja yang akan kena dampaknya tetapi Massimo yakin seseorang di ujung sana pun akan terancam mati bila Evans mengetahuinya.


“Ck! Apa kau akan menutupi siapa orang itu hah? Berlaga bodoh!”


Evans berdiri tepat di depan Massimo dengan tangan berkacak pinggang.


“Aku tahu kau bukan tipe orang yang suka datang ke tempat kumuh seperti ini! Apa lagi kedatanganmu itu hanya untuk mendekati wanita itu!”


Evans menatap saudaranya dengan tatapan murka.


“Apa kau akan menentangku dan berencana akan membawa wanita itu secara diam-diam hah?”


Massimo tersenyum miring sama-sama bersitatap dengan saudaranya. Kemampuan Evans memang tidak bisa diragukan lagi kalau sejak awal pria itu sudah mencium gerak geriknya selama ini.


Tapi sekali lagi, Massimo harus tetap pura-pura bodoh demi keselamatan bersama.


Biar Evans yang mengetahuinya sendiri siapa seseorang dibelakangnya.


 “Jadi kamu masih mencurigaiku lagi, Van?”


Masimo berusaha tetap tenang sekalipun dia tidak bisa tenang berhadapan dengan Evans Colliettie, sekalipun ya pria itu saudaranya.


Ketahuilah pria itu tidak memandang mau dia saudaranya mau keluarganya, bila ada orang yang membuat sang devil itu murka, maka pria itu segan-segan akan membunuhnya tanpa pandang bulu.


“Apa kamu pikir aku sengaja datang ke sini hanya untuk mendekatinya?”


“Ck! Pembohong!” decak Evans menatap sengit saudaranya.


“Selama ini aku datang ke pabrik tua ini semata-mata hanya ingin mencarimu, Van.


“Kamu tidak bisa di temukan di kantormu yang lain, jadi aku ke pabrik ini dan tidak sengaja aku bertemu dengan wanita cantik itu.


“Tidak salahnya bukan kalau aku ingin mengenalnya juga?”


Bila bisa mengelak, dia akan mengelak semua tuduhan yang dilontarkan oleh Evans.


“Tidak usah berbasa-basi, Mas! Kau pun tahu kalau aku tidak mungkin berada di satu kantorku,


 “apalagi di pabrik tahu ini karena ada pekerjaanku yang penting yang harus aku utamakan dari pada semua perusahaan lainya.


“Dan Kau sudah terbiasa menghubungi Mika bila kau ingin bertemu denganku, tapi ini—”


Evans menatap nyalang, dia tahu Massimo bekerjasama dengan seseorang.


Sejak dia mencurigai saudaranya, pria itu kini terlihat rapi sampai dia tidak bisa melacak sendiri siapa dalang dibalik keberadaan Massimo yang sering datang ke pabrik tua nya.


Massimo menarik napas sejenak sebelum melanjutkannya pembicaraanya dengan Evans.


“Apa kamu kurang puas dengan semua yang kamu raih ini, Van? Kamu masih mengerjakan bisnis kotormu itu?” seru Massimo seraya mengalihkan dari pokok pembicaraan.


“Tinggalkan bisnis kotor mu itu karena semua bisnis legal masih banyak.


“Kamu nggak akan jatuh miskin mengingat semua yang kamu miliki itu banyak dan juga bekembang pesat.


“Ya, sekalipun pabrik tua ini yang selalu sakit-sakitan dan terancam terselamatkan.”


Massimo berjalan menghampiri sofa, dia duduk tanpa sang empu mengizinkannya.


“Aku tahu tidak mudah melabuhi seorang Evans Colliettie, anehnya kamu hanya diam saja melihat pabrik tua mu ini dihancurkan oleh orang lain.


“Kamu sudah tahu bukan siapa dalang dan orang yang berkhianat padamu?”


 “Aku tau siapa saja orang yang menghianatiku termasuk kamu!” tunjuk Evans.


Massimo tertawa pelan. “Maka dari itu aku menempatkan wanita itu agar semua orang yang berkhianat padaku akan keluar sendiri.”


“Jadi kau mengumpankan Alea untuk menarik orang-orang itu, Van?”


Massimo menggeleng pelan, tak percaya kalau saudaranya akan setega ini pada Alea.


“Tega sekali kamu melakui wanita tak berdosa untuk menjadi umpan?”


Evans bungkam sekalipun giginya terdengar bergeretak.


 “Benarkan hatimu sudah mati dan tidak bisa diselamatkan, Van?”


Sekali lagi pria itu hanya diam menatap nyalang pada saudaranya.


“Kenapa kamu begitu tega pada Alea, Van?


“Wanita yang kamu benci itu, sudah menyelamatkan pabrikmu ini dengan semua ancaman tikus itu!”


Evans masih diam, tapi ia pun tidak bisa dipungkiri kalau rencana awalnya memang seperti itu.


Dia menempatkan Alea untuk menjadi umpan mereka. Tapi kali, ini….


“Kupikir hatimu sudah menghangat dengan adanya wanita itu?


“Aku sangat senang melihat ketika kamu mencemaskan wanita itu, Van.


“Dari tatapan matamu aku tahu ada sesuatu antara kamu dan Alea, bukan?”


Evans mengepalkan kedua tangannya erat.


 “Van.”


Massimo bangun dari duduknya dan berjalan mendekat Evans.


“Sudah saatnya kamu tidak selalu mematikan hatimu. Aku ingin kamu merasakan hidup yang sebenarnya, Van.


“Aku ingin kamu menikah dengan wanita yang kamu cintai, punya banyak keturunan yang akan mewarisi kecerdasan kalian berdua dan tentunya semua kekayaan yang kamu miliki ini.


“Tidak mungkin kan kamu akan selamanya hidup dalam kegelapan?”


“Ck! Kau sama saja dengan pria pembunuh itu,” decak Evans kesal.


Massimo hela nafas panjang, dia tahu siapa yang dimaksud Evans.


“Pria pembunuh itu, ayahmu. Sudah saatnya kamu hidup berdamai dengan Alberto Colliettie, Van.


“Berbaliklah dengannya karena dia sudah mengakui kesalahannya padamu. Ayahmu menyesal.”


Massimo adalah saudara dari ayah Evans, Alberto Colliettie. Ia tahu persis bagaimana kehidupan Evans yang gelap.


Pria yang nampak selalu kuat dan menakutkan ternyata dibalik semua itu dia adalah pria yang menyedihkan hidup seorang diri yang selalu dipeluk kegelapan.


Ketika Evans berusia lima tahun, hingga sampai sekarang ini pria itu memilih menjauh dari saudara-saudaranya ketika kejadian ibunya meninggal, dan hanya Massimo lah saudara yang dekat dengan Evans dan selalu bisa diajak bicara oleh Mafia kejam seantero italia itu.


“Keluarlah kalau kau ingin membahas semua itu. Aku tidak butuh orang lain!” tegasnya.


Massimo menghela. “Kamu masih saja tetap keras kepala bila menyangkut ayahmu!” decak Massimo, sudah tahu bagaimana bencinya pria itu pada ayah kandungnya sendiri.


“Sekarang aku ingin tahu, siapa sebenarnya Alea, Van?”


“Itu bukan urusanmu, Massimo! Diamlah dan uruslah urusanmu sendiri!” decaknya.


“Baiklah. Aku akan pergi dan aku hanya minta tolong jangan sakiti Alea lagi,” ucap Massimo berlalu pergi meninggalkan Evans sendiri di dalam ruangan.


Ketika baru saja menarik pintu ruangan itu, Leo muncul dengan berjalan masuk secara tiba-tiba dengan ekspresi wajah yang nampak marah pada saudaranya.


“Van…” seru Leo begitu saja masuk ke dalam ruangannya.


Evans berbalik badan, lalu menghembuskan nafasnya pelan. “Ada apa lagi?”


“Astaga. Ada apa lagi? Tentunya aku marah sama kamu, Van.


“Kenapa kamu begitu tega mengurung Alea lagi. Apa sebenci ini kamu pada wanita malang itu?”


Massimo yang masih ada diambang pintu pun ikut mendekat.


“Apah? Alea dikurung lagi?” ulang Massimo.


Leo berikan anggukan membenarkan, sedangkan Massimo meraup wajahnya ikut kesal pada saudaranya itu.


“Lepaskanlah dia, Van. Kasihan dia,” pinta Leo.


Wajah Evans merah padam yang diiringi tatapan yang menghunus pada dua saudaranya yang selalu ikut campur padanya.


 “Kamu mengurung Alea lagi, Van?” kini Massimo ikut bertanya, bila pria itu begitu benci kenapa dia mengeluarkan Alea dari mansionnya?


“Kalian menuduhku hah?”


“Ya,” jawab Leo cepat.


“Ck! Untuk apa aku mengurung wanita itu lagi, hah?”


“Barangkali saja kamu begitu benci pada Alea, dan mengurungnya lagi?” timpal Leo.


Evans berkacak pinggang seraya menajamkan tatapannya.


“Jadi kalian berdua menuduhku hah?”


“Kalau bukan kamu lalu siapa lagi hah? Alea nggak ada di mana-mana dan tentunya kamu meminta anak buahmu bukan untuk mengurung Alea lagi seperti apa yang tadi kamu lakukan?”


“Tuan—Alea menghilang!”