Mafia And Me

Mafia And Me
Kemurkaan Carla



Katakana saja Alea tidak tahu diri, wanita itu bukan bersikap semestinya pada Mafia kejam itu. Tetapi, Alea banyak minta dan itu membuat Evans jengah menghadapi Alea.


Alea dikembalikan ke tempat semula, tidak dipenjarakan seperti Bryan di sel bawah tanah bersama dengan hewan peliharaannya. Alea pun kembali pada tugasnya seperti biasa.


“Aku harus kembali dengan tugasku,” gumam Alea.


Tidak ada kompensasi lagi. Alea sadar itu. Sekalipun dia baru saja tiba dengan keadaan yang masih butuh istirahat untuk memulihkan kondisinya.


Tetapi, tidak seperti yang kau bayangkan. Dia harus kembali bekerja dan mengabaikan luka di tubuhnya.


“Astaga. Alea…” seru Berta menatap senang.


Akhirnya, wanita malang itu kembali dari perjalanan yang cukup lama Evans membawanya.


Alea memeluk Berta. “Berta. Aku merindukanmu.”


“Aku bersyukur kamu kembali lagi Alea.” Alea mengurai pelukannya dengan bibir yang mengulas senyum.


“Ya. aku kembali, tapi maafkanlah aku yang tidak bisa menolong Bryan di penjara.”


Berta mengajak Alea untuk duduk. “Tidak apa. Aku yakin dia di bawah sana paham kok.


"Makanlah sebelum kamu kembali bekerja,” ucap Berta seraya memberikan beberapa roti dan juga susu hangat kesukaan Alea.


“Welcome back, Alea,” ucap Antonya dan anggukan Joe. Kedua pria itu pun turut senang melihat Alea kembali dengan keadaan sehat.


“Kamu harus banyak makan. Paham. Jangan lupa dengan obatmu.”


Berta sudah tahu kalau Alea pulang ke mansion membawa luka di tubuhnya. Meski begitu, dia akan mengingatkan wanita malang itu.


“Terima kasih, Berta,” ucap Alea diiringi senyuman.


Meski dia kembali ke neraka The Black Rose, setidaknya disini masih ada orang yang peduli padanya.


“Terima kasih semuanya,” ucap Alea pada Antony dan juga Joe.


“Hai. Kau tidak perlu berterima kasih pada kamu. Alea. Kita di sini sama-sama pelayan dan kita sudah menganggapmu seperti saudara kami sendiri,” jawab Joe yang dianggukan Antony dan Berta.


Sekalipun mereka terpenjara seumur hidup di mansion Evans. Sekalipun mereka hanya seorang pelayan, mereka sudah seperti saudara di sini.


“Habiskan makananmu. Biar aku yang menyiapkan troli sarapan pagi untuk kelima wanita itu.”


“Aku sudah selesai.”


“Tapi rotimu masih belum habis. Habiskanlah dan minum obatmu.”


Alea mengangguk pelan. Dia menatap orang-orang di sekitar.


Alea mendorong troli tersebut dan berjalan menuju pavilion tengah.


“Selamat pagi semua...” sapa Alea pada ketiga wanita yang duduk manis.


Dua dari wanita yang duduk itu pun sontak terkejut dan dua lainnya yang masih berada di atas pun ikut terkejut dengan suara dan juga kedatangan Alea.


“Saya sudah siapkan sarapan pagi untuk kalian,” ucap Alea seraya mendorong troli dan metata semua sarapan paginya di meja makan.


Dia sudah tahu dan paham dengan ekspresi mereka. Alea tahu kelima wanita itu memang tidak suka dia berada di mansion ini.


“Kau—datang lagi?” seru Carla.


Carla dengan cepat menuruni anak tangga. Wajahnya terlihat memerah, wanita itu tidak suka dengan adanya Alea di sini.


“Kenapa kau kembali lagi ke sini hah? Bukannya tuan Evans sudah membuangmu dari mansion ini?”


Alea diam seperti biasanya, tidak pusing-pusing menjawab ocehan Carla.


“Jadi tuan Evans sudah kembali?” pekik Ariana di atas sana.


Wajahnya senang, karena Evans kembali ke mansion setelah lama pria itu pergi meninggalkan mansion.


“Kau dibawa kemana sama tuan, hah?” seru Juliana seraya menghampiri Alea.


Dalam hitungan detik, keempat wanita itu pun sudah berada di samping Alea. Tubuh kurus itu dikelilingi keempat wanita jallang Evans.


Alea mendengus pelan, dengan mata memandangi keempat wanita tersebut. Dia seolah dikeroyok oleh pengagum Evans Colliettie yang terlihat murka padanya.


Hanya satu wanita yang sejak tadi hanya diam dan tidak ikut berkomentar seperti temannya.


Alea pun tidak tahu apa maksud dengan tatapan wanita itu, entah wanita itu senang atau benci dengan kedatangan nya. Dia tidak tahu, Alea tidak bisa menebak ekspresi yang ditunjukan oleh Ruby.


“Sarapanlah. Tidak penting juga dengan yang kalian tanyakan itu,” jawab Alea.


Dia pun bergegas naik ke atas untuk mengambil cucian kotor kelima wanita tersebut untuk di bawa turun. Begitu pun ketiga wanita itu mengikuti Alea dari belakang.


“Aku tidak butuh sarapan. Aku butuh penjelasan darimu. Kemana tuan membawamu Alea!” decak Carla, tidak terima.


Carla mendekat lalu mencengkeram leher Alea yang terdapat perban.


“Jawab saja, kemana kalian berdua pergi selama ini, hm?”


Alea mengernyit menahan nyeri. Luka di lehernya masih belum kering dan kini kembali basah dengan darah yang merembes ke tangan Carla.


“Jawab aku jallang. Kemana tuan membawamu,” seru Carla keras.


Kedua mata Alea meredup seraya menahan sengatan luka di lehernya yang kembali berdenyut nyeri.


Satu tangannya mencoba melepaskan tangan Carla dan satunya lagi berpegangan pada pagar pembatas.


“Jawab aku, jallang!”


“Madrid,” jawab Alea pelan.


“Madrid?” ulang Carla dengan mata yang menyipit.


“Ada urusan apa tuan sampai membawamu ke sana, hah?” teriak Carla, murka. Cengkeraman pun semakin kian erat.


Wanita malang itu masih mencoba melepaskan tangan Carla, tetapi ini tidak mudah. Carla terlihat kesetanan dan cengkeramannya pun begitu kuat.


Alea tidak bisa melawan, Carla sekalipun dia bisa bela diri karena yang dia hadapi adalah wanita yang tengah terbakar api cemburu.


“Jawab aku, brengsek!”


Carla jelas murka mendengarkan wanita bodoh itu dibawa oleh Evans ke Madrid.


Bayangkan saja, kelima wanita yang berada di pavilion ini pun tidak ada yang diajak keluar oleh Evans.


Mereka selalu terkurung di ruangan yang luas ini, mereka hanya cukup di kasih makan dan beberapa pakaian yang mereka inginkan, selebihnya. Tidak ada.


Hanya ingin keluar taman untuk menatap langit pun, tidak pernah mereka dapatkan. Tetapi, wanita ini…


Carla yang sudah menyombongkan diri sebagai Nyonya Colliettie pun pupus ketika mendengarkan hal ini. Meski entah urusan apa, tetap saja Carla iri pada Alea.


“Kau seharusnya ditinggalkan atau dibuang agar kau tidak kembali lagi ke sini, Alea.”


“Harapanku pun begitu, Car.”


Tetapi, kenyataanya tidak. Meski dia sempat beruntung mendapatkan kompensasi. Namun, rasa bersalahnya lah yang pada akhirnya dia kembali kesini.


“Aku mohon Car. Lepaskanlah tanganmu. Ini sakit.”


“Ck! Enak saja kau. Tidak. Aku tidak akan melepaskan tanganmu. Kau dasar srigala berbulu domba, Alea.


"Alih-alih kau tidak menginginkan tuan. Tetapi dibelakang kita kau menggodanya. Dasar jallang!” decak Carla, dengan amarah yang meletup-letup.


“Huuh dasar babu nggak tahu malu. Kalau kamu mau bersaing itu yang sehat dong.”


“Astaga. Kenapa aku jadi bersaing dengan pelayan seperti dia,” ucap Ariana ikut bersuara.


“Kau tahu, Alea. Kita saja yang sudah lama di sini tidak pernah di bawa keluar. Jangankan Madrid, ke depan pintu itu saja untuk melihat matahari pun tidak pernah,” decak Juliana.


“Kami hanya keluar ketika tuan membutuhkan saja. Ke ruangan bermain untuk memenuhi nafsunya saja,” sahut Kelly yang dianggukan kedua wanita tersebut.


“Ada apa tuan membawamu ke sana hah? katakanlah jallang jangan membuatku semakin murka,” kata Carla dengan keras.


“Katakan Alea—”