
“Ahhhhh…” Desah lembut yang keluar dari bibir merah itu, mengulum suara yang memicu gairah.
Gerakan tubuhnya yang menari pelan di atas pria yang mengerang menikmati malam yang dingin dengan tubuh penuh peluh.
Tangan kekar yang menangkup di dada ranum pun meremas, dan suara erangan keduanya terdengar lembut di tengah hujan rintik di negeri singa.
Gairah yang tadinya seolah menggembu-gebu tetapi seketika sirna melihat sang lawan dengan raut wajah yang berbeda. Ada sesuatu yang sedang dipaksa membuat gairah itu tiba-tiba menghilang.
“Kau tak seperti biasanya honey?” lirih pria di bawahnya.
Pria itu menikmati setiap gerakan wanita yang sedang menghangatkanya saat ini.
“Aku tidak ingin membahas yang lain honey. pPlease jangan membuat moodku hancur dan menyudahinya, tampa milikmu keluar!”
“Bagaiaman akan keluar, jika melihat raut wajahmu seperti itu? Bergairah pun rasanya seperti sirna!”
Wanita itu mendengus pelan, turun dari tubuh kekar si pria. Moodnya sudah hancur kali ini. Benar-benar tidak menginginkan bercinta kembali.
Wanita itu duduk di tepi ranjang memunggungi si pria.
“Ceritakanlah jika kau sedang ada masalah honey?”
Pria itu duduk di ranjangnya, menatap punggung wanita itu yang tidak memakai sehalai kain pun. Ia perlahan menghampiri, memeluk punggung wanita yang dicintainya.
“Sahabat macam apa aku ini, Harry?” ucapnya memegang tangan Harry yang merangkulnya.
“Kau sudah berusaha mencarinya Jessie, tidak perlu kau menyalahkan dirimu sendiri!”
Harry sudah tahu jika yang sedang dibicarakan itu adalah sahabat baiknya, Alea.
Wanita cantik yang sudah setahun menjalani hubungan pun sudah hafal akan sikap Jessie yang seperti ini.
Mungkin ada satu tekanan yang Harry lihat dari wajah Jessie saat ini, yang lebih tepatnya lagi karena wanita sudah mendapatkan amanat untuk menjaga, Alea.
“Apa masih belum ada kabar sedikitpun akan keberadaan Alea dari orang-orangmu?”
Jessie menggeleng pelan. “Tidak ada! Orang-orangku masih belum menemukan keberadaan Ale saat ini dan yang terakhir yah itu, sewaktu kita menjemput Ale di bandara dengan menunggu seharian di sana!”
“Apa sudah menghubungi Tiara atau Ryander kembali?”
“Tiara pun sama mencarinya di sana dan sialnya Mike Shander pun kini menghilang semenjak peristiwa itu, bagaiman ini hon?”
Harry memeluk tubuh kecilnya dari depan, menenangkan kekasihnya itu yang pasti sedang ketakutkan akan Jeon yang selalu menanyakan keberadaan adik kesayanganya.
Jeon amat menyayangi Alea dan tidak mau Alea kenapa-napa dan Jessielah yang di tugaskan oleh Jeon untuk menjaga Alea, hingga pria Korea itu memberikan Jessie pekerjaan, jabatan di perusahanyaa, kemewahan dan kehidupan Jessie yang selalu gelamor.
“Tiara bilang jika dirinya dan Ryander melihat Alea masuk ke dalam Bandara.
"Apa lagi Tiara masih bertukar pesan di medsosnya jika Alea sedang menunggu di gate untuk kepulanganya ke sini. Apa benar Alea di culik oleh mafia itu?” lirih Jessie terdengar oleh Harry yang sedang memeluknya.
Hari menggendong tubuh Jessie dan membaringkannya di ranjang untuk lebih leluasa mengobrol di atas ranjangnya. Karena Harry tidak tahu akan permasalah Alea yang secara detailnya.
“Aku takut Alea kenapa-napa Harry. Aku takut Jeon marah karena aku tidak bisa menjaga Alea, kau tahu Jeon sangat menyanyangi Alea?”
Harry mengangguk paham. “Aku akan meminta Ryander untuk mencari Alea di sana. Orang itu pasti bisa menemukan Alea?!"
Jessie menghela bahkan Ryander saat ini sulit untuk di hubungi, dan entah kemana perginya pria bayaran itu.
“Ryander sulit di hubungi Harry, mungkin saja pria player itu sedang menghabiskan waktunya bersama dengan wanita jalang di sana?”
Harry mendesah pelan, membenarkan ucapan kekasihnya itu. Pria itu pasti tengah sibuk bersama dengan wanita jalangnya.
“Kau pindahlah kemari dan tinggal di sini. Jika itu menjadi bebanmu saat ini. Karena semua fasilitas yang kau miliki adalah milik Jeon,” ungkap Harry.
Hari tahu semua yang di miliki Jessie adalah fasilitas dari Jeon untuk menemani Alea dan memperkerjakan Jessie di kantornya.
“Aku akan meninggalkanya honey, tetapi aku pun harus bertanggung jawab kepada amanat yang sudah Jeon titipkan kepadaku, dan aku tidak ingin pergi begitu saja.
"Seandainya waktu itu aku ikut bersama dengan Alea, mungkin tidak akan seperti ini!” hela Jessie.
“Dan firasatku benar, mimpi itu pun menjadi kenyataan Harry.”
Pria yang sudah lama menjadi karyawan biasa di salah satu perusahan Jeon pun mengetahui akan kekasihnya yang selalu bermimpi buruk tentang sahabatnya itu.
Bahkan rahasia sekecil apapun dalam wanita sexy itu Harry mengetahui semuanya.
“Sttt sudahlah sayang, jangan kau mengatakan hal itu lagi. Semuanya udah terjadi dan sudah menjadi takdir untuk Alea.
"Sebaiknya kita berdoa dan berusaha kembali untuk menemukan Alea, kau tidak boleh menyerah honey,” ucap Harry mencium kening Jessie.
“Aku sangat takut dengan keadaan Alea saat ini, Herry. Aku takut Alea di sana dalam bahaya,” Jessie mengeratkan pelukanya.
Di dalam kehidupan Jessie saat ini, hanya Herry dan Alea lah orang yang selalu mengerti akan dirinya dan juga tentang kehidupannya itu.
“Kalau begitu maka berdoalah honey, semoga Alea di luar sana selalu di lindungi oleh Tuhan. Alea wanita baik-baik pasti Tuhan akan melindunginya," gumam Harry.
“Amin, terima kasih honey.”
Jeon calling…
"Kau yakin tidak akan melanjutkan kembali percintaan kita yang gagal ini?” tanya Harry menggoda Jessie menatap ke bawah dengan mengangkat sebelah alisnya.
Jeon calling…
Jessie menengadahkan kepalanya ke atas menatap Harry dengan tersenyum.
“Hmm…apa kau masih bergairah?”
Jeon is calling...
“Masihlah. Aku ingin mengagahimu honey bersiaplah?” ucap Harry bangkit dari tidurnya langsung menindihi tubuh ramping Jessie.
Wajah tampanya yang ditumbuhi jambang menggelitik wajah dan leher Jessie membuat wanita itu menggeliat geli akan bulu-bulu kekasihnya.
“Herry…geli…lepaskan…” teriak Jessie tertawa mengabaikan panggilan telpone dari Jeon yang sudah beberapa kali menghubunginya.
***
Di seberang sana, pria bermata sipit dengan wajah asli Koreanya mengumpat kesal di dalam ruanganya, karena seseorang wanita sudah beberapa hari ini tidak menerima panggilanya.
Apa wanita itu sengaja mengabaikan panggilan telponenya? Entah Jeon tidak mengerti akan wanita jalang itu saat ini.
Wajah oppa-oppa Korea milik Jeon yang tampan hilang sekejap dengan raut wajah garangnya yang tengah duduk di kursi kebesarannya, menatap layar ponselnya dengan mencoba menghubungi wanita itu kembali.
Kedua sahabat dekatnya melirik sejenak ke arah Jeon yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya, membuat kedua pria itu penasaran.
“Ada apa dengan mu? Sepertinya ada hal yang serius?” tanya Christian melihat Jeon menyadarkan tubuhnya pada kursi kebesaranya.
Pria sipit itu terlihat menghela dengan tangan kanannya memijat pelan keningnya.
“Wanita jalang itu tidak mengangkat panggilanku sudah dua minggu ini!” gumamnya.
Jika Jeon sudah mengatakan wanita jalang, Christian sudah tahu jika yang dimaksud oleh Jeon adalah Jessie sahabat dekat Alea.
“Ada masalah seriuskah?”
Jeon mengangguk di depan sana, mengangkat tanganya ke udara mengisyaratkan untuk berhenti berbicara sejenak.
Jeon menerima panggilan telpone masuk dari seseorang.
“Iyah hallo, bagaimana?”
Jeon mendengar suara di seberang sana yang sedang memberikan laporan dari orang kepercayaanya yang meminta untuk mencari Alea di negeri singa, karena sudah hampir dua bulan ini Alea tidak mengaktifkan ponselnya, tidak biasa.
Semua laporan dari orang kepercayaannya membuat Jeon terkejut akan kabar yang baru ia dengar.
Suara gebrakan meja yang terdengar keras mampu memecahkan keheningan di ruangannya membuat dua pria di depan sana yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya pun di buat terkejut.
“Ada apa?”
“Wanita jalang brengsek,” umpat Jeon.
“Ada apa Jeon?” tanya sahabatnya kembali.
“Wanita jalang itu mengetahui tetapi diam. Cih…sahabat macam apa dia? Membiarkan sahabatnya pergi tampa ada yang menemani kepergianya dan Mike...”
Jeon terhenti mengingat temanya itu yang sudah lama tidak berkomunikasi. Dadanya rasanya seperti mendidih mendengar akan adiknya yang hilang dan Mike tidak mengabari jika Alea datang ke London.
“Apa maksudmu?” tanya Jecky tak mengerti.
“Alea menghilang setalah dua minggu di London, dan kesalnya ini semua gara-gara Mike Shander!”
“Mike Shander?” Christian menyepitkan kedua matanya.
“Alea berpacaran dengan Mike Shander, partner kerjaku dari London, dan pria itu sama menghilang dan Alea pun entah nasibnya bagaimana?
"Karena menurut orang ku adikku di jual oleh selingkuhan Mike kepada mafia London bernama Santhos!”
“Haahhh” pekik kedua pria itu.
“Alea di jual?” Jecky terbelalak.
“Santhos? Mafia London?” gumam Christian.
“Ya, Santhos mafia London. Apa saudaramu bisa membantuku?”
Bersambung...