Mafia And Me

Mafia And Me
Kenangan Itu



"Kau anak kesayangaku Evans Colliettie, kau malaikat kecilku,” ucap Julieta mencium pipi, kening dan juga hidung mancung anak kesayangnya.


Evans memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Semua kenangan itu seketika muncul begitu saja masuk ke dalam kepalanya hingga semua bayang-bayang wanita yan ia cintai muncul dan memutar kenangan indah sewaktu dirinya kecil bersama dengan ibunya, Julieta Colliettie.


Semua itu dari Ale. Ale yang sudah membuat kenangan itu datang mengingatkanya. Wanita yang sama cantiknya, yang selalu Ale peluk dan cium itu yang tidak lain adalah ibu Alea, yang mengusik kehidupan Evans Colliettie di masa lalu.


Ya, Evans kecil dulu sempat merasakan kebahagian bersama dengan ibu tercintanya. Ibu yang Evans lambangkan sebagai malaikat bersayap yang selalu membuat dirinya bahagia dan selalu melindungi dirinya yang tiba-tiba sirna dan pergi untuk selamanya di tangan ayah kandungnya, Alberto Colliettie.


Shiittt!!! Umpat Evans seraya memegani kepalanya pergi meninggalkan kamar di mana Ale berada di sana. Dengan emosinya yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi, ia membutukan perlampiasan.


“Kenapa kau mengingatkan semua kenangan itu! kengan buruk hidupku!”


***


Pria paru baya yang tidak lain Abraham, memasuki sebuah rumah yang tidak begitu besar seperti sebuah mansion. Pria yang datang sendiri tanpa ada pengawal pun datang menemui The Black Rose yang terkenal kejam itu dengan tangan kosong tanpa pengawal-pengawalnya.


Abraham yang ditemani oleh Mika menuju ruangan kerjanya pun tampak keduanya diam, meski keduanya kenal dan sama-sama kaki tangan keluarga Colliettie sekaligus, bahkan keduanya sama-sama orang kepercayaan yang tidak pernah berhianat sekalipun.


“Ada apa kau ingin menemuiku, Albraham.”


“Beginikah cara kau menyambutku, Evans?!”


Evans menarik sudut bibirnya ke samping dan berdecak. “Cihh!!!...Kau minta aku menyambutmu seperti apa hmm? Lekaslah kau bicara ada hal penting apa yang kau ingin bicarakan kepadaku. aku tidak mempunyai banyak waktu!”


Abraham mendengsu jengah. Ayah dan anaknya begitu sama-sama sikapnya. Menyebalkan. Abraham melihat Mika yang masih berada di ruangan itu pun akhirnya Evans paham dan menyuruh kaki tanganya itu pergi dari ruanganya.


“Sesuatu keinginan yang sebenarnya tidak aku inginkan. Apa kau akan mengabulkanya?” Evans tersenyum mengejek. Sudah ia duga akan sesuatu hal yang penting itu yang tidak lain Alberto meminta sesuatu kepadanya.


Pria yang sudah berumur lebih dari lima puluh tahun, tubuhnya atletis dan kekar itu masih terlihat segar dengan wajah yang tampan meski umurnya setengah abad. Pria itu duduk di kursi tepat di depan ranjang kecil dengan memagangi tangan kecil itu yang masih terpasang selang infus.


Sesekali mengusap tangan kecil itu dengan lembut dengan kedua matanya yang menatap lekat wanita yang masih belum sadarkan diri di atas sana. Wanita bodoh dan lemah yang selalu Evans katakan kepadanya, mampu membuat hati seorang pria tua itu tersentuh dan mengingatkan akan seseorang yang membuat dirinya menyesali seumur hidupnya itu.


“Kenapa Tuan bersikeras ingin sekali bertemu dengangnya?” tanya Abraham yang jelas heran. Tidak pernah pria di depan sana mempunyai sifat selembut ini kepada wanita selain mendiang istrinya, Julieta.


Pria yang tidak lain Alberto Colliettie itu menghela napas panjang. Duduk dengan seraya mengusap rambut wanita di depanya dengan sebelah tanganya dan satu tanganya menggenggam tangan kecil itu.


“Aku melihat sisi Julietta pada wanita ini. Wanita yang terlihat bodoh dan lemah namun juga pemberani, seperti mendiang istriku. Wanita baik-baik sepertinya sangat menyangkan—“ ucap Alberto terdiam sejenak kembali menatap Abraham di depan sana.


“Mintalah kepada devil si The Black Rose itu untuk membebaskan wanita ini. Aku tidak ingin wanita ini menderita meski aku berharap banyak kepada wanita ini—“


Abraham menghampiri Alberto di samping ranjang itu. “Devil si The Black Rose itu adalah anakmu sendiri Alberto,” desis Abraham.


“I know,” jawab Alberto, dengan menghela.


“Dia sama sepertimu—sama sama kejam.”


“Right! Aku menyadari itu. Karena dia keturunanku, keturunan satu-satunya dan pewaris Colliettie. Meski aku tidak dianggap ada dan mati olehnya.”


Abraham mengerti. “Kau tidak usah mencemaskan wanita itu, Evans sudah memberitahu kepadaku. Ia akan membebaskan wanita itu dan memulangkannya ke negaranya.”


“Good.”


Dengan perlahan tangan kecil itu bergerak bersamaan dengan kedua matanya yang sedikit membuka, dengan lekas dokter bayaran yang khusus menangani Alea pun berlari ke kamar itu untuk memeriksa keadaanya.


Kedua matanya terbuka lebar-lebar dan Ale melihat di sekeliling ruangan itu dengan tiga orang yang sudah berdiri menatapnya. “Keadaanya membaik Tuan,” ucap dokter dan tidak lama berlalu pergi.


“Maaf, anda siapa?” tanya Ale, memberanikan diri.


Alberto meletakan gelas itu ken akas, kembali menatap Ale yang jelas wanita itu terbingung akan dirinya. “Perkenalkan nama saya, Alberto Colliettie dan ia orangku, Abraham.”


Ale terbelalak di depan sana menatap tak percaya. Pria paru baya di depanya adalah ayah kandung dari The Black Rose, Alberto Colliettie tentu Ale pernah mendengarnya.


Bisa melihat dan menatap Mafia kejam seperti Alberto sungguh langka baginya, meski Ale tahu pria itu terlihat berbeda dengan anaknya, meski pria tua yang sudah setengah abad itu masih telihat tampan dan benar, Evans mewarisi semua yang melekat di diri Alberto.


Ale membungkukan tubuhnya meski menekan perutnya yang masih terasa perih. “Tuan, maafkan saya jika saya tidak sopan,” ucap Ale yang dihadiahi senyuman pria tua di depanya.


“Tidak apa nak. Saya datang ke sini hanya ingin memastikan keadaanmu, dan syukur kau sudah sadarkan diri saat ini,” ucap Alberto terlihat bernapas lega.


“Kenapa tendengar seperti Tuan sangat mencemaskan saya? Saya hanya seorang pelayan di mansion anak anda Tuan.”


Kedua pria di depanya terkekeh karena sudah tahu Ale seorang pelayan. “Aku tahu itu Alea. Aku kemari hanya ingin mengucapkan terima kasih kau sudah menolon anakku, Evans Colliettie,” ucap Alberto mendekatkan tubuhnya dekat dan berbisik di telinga Alea.


“The Black Rose yang kejam itu, sangat menyesali telah berhutang nyawa kepadamu,” gumam Alberto dengan senyum simpulnya. Memposisikan kembali duduknya dengan tegap di depannya.


“Itu hanya kebetulan saja Tuan.”


“Ya, kebetulan entah takdir seorang The Black Rose seperti itu. Namun amat disayangkan kau akan terbebas dari cengkraman The Black Rose kali ini.” Ale termangu di depan sana.


“Maksud Tuan…”


“The Black Rose membebaskanmu, kau akan kembali ke negaramu. Sungguh amat disayangkan bukan kau tidak berada di mansionku itu lagi,” ucap Alberto yang membuat Ale mengeryitkan keningnya.


“Maaf maksud Tuan?!”


Kedua pria itu terkekeh. Rupanya benar akan panggilan Evans kepada Ale, wanita bodoh. Wanita itu benar-benar lambat berpikir.


“Kau akan mengerti dengan maksudku Alea. Senang bertemu denganmu,” ujar Alberto mengusap lembut punggung tangannya dengan senyuman hangat yang Alberto lengkungkan kepadanya.


**


Evans duduk di kursi ruangan sebuah ruangan seperti ruangan kerja menhadap ke depan dengan membelakangi pintu itu dengan dirinya yang tengah memandangi langit di luar sana menatap sunset di kota Madrid yang akan segera menggelap. Dengan banyak pertanyaan dan juga ucapan yang ingin ia lontarkan dari hatinya saat ini, namun bibirnya seolah enggan membukanya.


Semakin jauh jarak mereka, Mungkin itu akan terlihat bagus untuk keduanya. Evans akan merasakan lebih tenang tidak ada wanita bodoh itu dan seharunya sejak awal ia tidak pernah menyelamatkan wanita itu jika karena bukan kalung milkinya.


Rasa bencinya mengakar tapi dia tidak bisa kehilangan kalung yang sekarang sudah kembali ke tempat di mana seharunya berada.


Dan wanita bodoh seperti Alea itu saat ini berada dengan Alberto dan juga Abraham yang akan mengurus Alea ketika wanita itu sadar.


“Tuan…”


“Hmmm.”


“Mobil anda sudah siap dan pesawat sudah menunggu.”


“Baiklah…kita kembali ke Napoli. Kau urus wanita itu jangan sampai Abraham tidak memulangkan wanita bodoh itu,” perintahnya.


“Baik Tuan…”