Mafia And Me

Mafia And Me
ENDRA DAN KEY SATU SERVER, DAN KABAR BAHAGIA



" Hiksss...hiks..." Key menangis di depan makam Sara dan Pradma.


" Ibu... Ayah... mengapa kalian tega ninggalin Key sendirian? Key hidup sama siapa sekarang? Key nngak punya siapa siapa lagi hikss...hiks... Ayah sama Ibu jahat ke Key! apa jadinya hidup Key nanti nya? hiks...hiks...kalian bahkan tidak meminta maaf pada kak Anyer, andai kalian tidak memilih ego kalian, pasti kalian tidak akan berada di tempat ini, hiks...hiks...hiks.. Key harus hiduo dengan siapa?Ayah... Ibu... hiks...hiks... semoga kalian tenang di alam sana hiks..hiks.." Key hanya bisa pasrah dan mengungkapkan semua nya.


Tidak tau jalan hidup selanjutnya, dan tidak tau apa yang akan terjadi di masa depan selanjutnya, bahkan ia tidak tau harus apa sekarang ini.


" Nak, jangan bersedih lagi ya! ayo ikut dengan tante!" Iras membantu Key berdiri.


" Tidak Tan! Key ingin sendiri dulu, tante dengan Om pergilah deluan, lagi Key juga tidak punya tempat tinggal dan sandaran hidup lagi,hidup Key benar benar hampa!" Balas Key dengan lirih.


" Baiklah, tapi jangan berlama lama ya nak! nanti kamu sakit, tante dan om deluan ya, soal nya kakak kamu sedang di rumah sakit!"


Key hanya mengangguk saja.


" Biar Endra yang temani dia Mom, Mommy dan Daddy pergilah!" Ucap Endra yang juga ikut ke pemakaman Sara dan Pradma.


" Jaga dia ya nak, jangan sampai kamu lepas kendali dari dia, dia sangat terpuruk sekarang ini!" Ucap Iras.


" Kami titip dia Boy!" Pram menimpali.


" Mommy dan Daddy tenang saja, selama akal sehat ku masih bekerja, semua akan aman aman saja!" Ucapan terkonyol.


" Ckk!! dasar kamu ya!' Cletuk Iras.


" Ya sudah, Daddy dan Mommy pergi!" Pram dan Iras pun berlalu pergi meninggalkan mereka.


" Endra, jaga in dia ya, kami berdua pergi deluan!" Ucap Erdo yang juga masih berada ke pemakaman.


" Ckk!! ya sudah kalian semua pergi! bawa juga tu cewek, dari tadi mesra mesraan aja, dekat dekatan, huf... apa lah saya saya yang jombol ini!" Ucap Endra asal.


" Hahahah... Jomblo kali!" Ria terkekeh.


" Hmmm iya iya! ingat ya kak, jangan php in bang Erdo lagi, kasihan kalau nanti cintanya putus tengah jalan lagi!" Ejek Endra pada Erdo.


" Kami pergi!" Erdo jadi malu dan langsung menarik tangan Ria untuk segera meninggalkan Endra dan juga Key.


Dan kini hanya tinggal mereka berdua saja yang berada di pemakaman, Endra bingung mau melakukan apa, masa ia dia harus menangis nngak jelas, dan ia pun hanya menyaksikan Key saja yang sedari tadi terus menangis.


" Hiks... Ayah... Ibu..." Key terus menangis.


"Woy... loh nngak bosan apa nangis terus?" Endra tidak tau nama Key, hingga sebutan barusan yang ia ucapkan.


Key menoleh ke arah Endra dengan menatap nya dalam." Aku nngak maksa kamu buat jagain aku disini, kalau kamu merasa bosan, kamu pergi saja pulang menyusul tante Iras dan juga Om Pram dan yang lain. Maaf jika tangisan ku menganggu ketenangan mu dan mengusik hidup mu, aku minta maaf, jadi kamu bisa pergi sekarang juga, tidak ada juga artinya kamu disini, karena semua nya tetap saja, aku tidak mempunyai siapa siapa lagi, aku hidup sebatang kara sekarang ini, kecuali hanya kak Anyer, itu pun hanyalah kakak tiri ku, aku tidak punya keluarga lagi, dan aku tidak ingin membebani pikiran kak Anyer, aku terlalu jahat untuk dia yang berhati malaikat, mungkin setelah ini aku akan memikirkan kelanjutan hidup ku." Ucap Key dengan berderai air mata.


Endra hanya bisa diam mendengar penuturan kata dari Key, ia seperti merasakan apa yang Key rasakan, rasanya mereka seperti satu server.


" Aku gak bakal pergi! karena aku juga tau bagimana rasanya kehilangan sosok Ayah dan juga Ibu, aku sudah mengalami itu sebelum kau mengalami nya, bahkan nasib ku lebih buruk,aku harus menerima kenyataan pahit saat aku masih duduk dj bangku SD, dan kau pikir aku tidak ingin mati saat itu juga? kita satu takdir dan aku lebih tau bagaimana rasanya, kamu beruntung setelah kamu besar baru kamu merasakan hal seperti ini, sedangkan aku? jadi jangan terlalu berkecil hati!" Balas Endra.


" Kamu berbohong! jelas tante Iras dan om Pram adalah orang tuamu, mengapa kamu berkata seperti itu?"


" Ckk!! kamu tidak akan mengerti, Mommy dan Daddy itu memang orang tuaku, tapi aku hanyalah anak angkat mereka, aku hanyalah anak dari adik Daddy, Daddy itu adalah abang papa ku, tapi suatu hari papa dan mamaku kecelakaan hingga tewas di tempat, mulai saat itu lah aku mengganggap Daddy dan Momny menjadi orang tua ku sampai saat ini, aku berusaha bangkit dari kesedihan hingga sampai saat ini aku pun bisa melalui semua nya!" Endra seakan curhat pada Key.


" Kamu masih beruntung, sedangakan aku tidak ada siapa siapa lagi!"


"Jangan berkata seperti itu, mbak Anyer akan menerima mu, jadi lebih baik kita pergi sekarang!"


" Layak tidak layak, seseorang mempunyai kesempatan dalam hidup nya!"


Key diam saja dan menuruti kemauan Endra.


***


Di rumah sakit


Anyer baru sadar dari pingsan nya, dengan sigap Evans langsung membantu sang istri untuk menyadarkan kepala nya.


" Kamu baik baik saja sayang?"Evans tampak khawatir sekali.


" Aku baik baik saja Hubby!"


" Syukurlah!"


" Ayah... ayah dimana?" Anyer kembali mengingat sang Ayah.


" Tenaglah sayang, Ayah dan ibu tirimu telah di makam kan, jadi kamu tidak perlu panik lagi ok!" Evans menenangkan Anyer.


" Tapi....."


" Sttsssss!!! diam lah!"


" Ceklek...." Dokter kembali masuk ke dalam ruang Anyer.


" Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Evans ketika ia dan Anyer duduk di depan dokter tersebut.


Dokter itu tampak tersenyum seraya melirik Evans dan Anyer bergantian. " Selamat ya Nona, anda sedang mengandung!" Seru Dokter itu.


Anyer seakan tidak percaya, dan begitu juga dengan Evans.


" Benarkah Dok?" Anyer masih tak percaya.


" Benar Nona Scrith, anda sedang mengadung Nona, usia kandungan anda masih sangat muda,masih berusia satu minggu tiga hari Nona, dan sangat rentan keguguran, jadi saya saran kan agar tidak terlalu banyak befikir, dan jangan terlalu sering bekerja, selalu rutin makan buah dan makanan bergizi lain nya!" Pesan Dokter itu.


Senyum kebahagiaan pun mengembang dengan sempurna di wajah Evans.


" Akhirnya!" Evans langsung mengecup pipi Anyer kiri dan kanan, kening Anyer, dan terakhir bibir Anyer, dan hal itu membuat Anyer menjadi malu karena Evans, apalagi mereka masih di depan Dokter, namun Dokter itu seakan tidak melihat nya dan mengahlikan pandangan nya.


" Hmmm!" Evans berdehem dan terlihat santai.


" Selamat ya tuan Evans!" Ucap Dokter itu yang kembali menatap mereka berdua.


" Hmm! siapkan resep obat untuk istri saya, ingat jangan sampai salah buat, kalau sampai terjadi, saya pastikan kamu tidak ada lagi di muka bumi ini!" Ancam Evans yang terlihat santai dan langsung berjalan keluar bersama Anyer.


" Terimakasih ya dok!" Ucap Anyer di sela langkah nya sebelum mereka meninggalkan ruangan tersebut.


***


Like, komen, dan Vote


SALAM ^^