
“Akhirnya aku sampai di Napoli,” ucap Alea yang diiringi senyuman.
Alea yang berada diatas private jet pun menangkap sosok Evans yang sudah lebih dulu turun dan masuk ke dalam mobil, sementara dia sendiri kesulitan untuk menuruni anak tangga.
“Bantu dia,” kata Mika pada salah satu anak buahnya.
Pria bertubuh besar itu pun menggendong Alea agar lekas turun di mana Mika sudah lebih dulu menuruni anak tangga dan masuk ke dalam mobil kedua.
“Terima kasih,” ucap Alea pada salah satu pria besar itu setelah membantunya sampai dia duduk di kursi belakang mobil ke dua bersama Mika.
Heranya, sekalipun mereka bersisian tetapi baik Mika dan Alea sama-sama bungkam sampai sepanjang perjalanan menuju mansion Evans Colliettie.
“Bukanya beberapa jam kebelakang kau begitu senang dengan kebebasanmu hmm? Kau akan pulang ke Singapore bertemu dengan keluargamu?
"Dan tadi kau pun begitu banyak bicara dan bersikeras ingin ikut kami ke Napoli, sebenarnya apa rencanamu, Alea?”
Mika pada akhirnya bersuara di keheningan keduanya di dalam mobil. Sejak diamnya dia sepanjang perjalanan di udara, kini Mika bisa mengungkapkan kegusaran.
“Aku tidak habis pikir padamu, Alea. Kenapa dengan bodohnya kau menukarkan kebebasanmu untuk orang lain? Padahal orang itu hendak membunuhmu?
"Apa segitu bodohnya dirimu, hah? Mengorbankan dirimu sendiri untuk orang lain?” seru Mika lagi seraya menatap wanita bodoh yang hanya diam.
Alea menoleh lalu pandangi Mika. “Mungkin menurut pikiranmu dan juga pikiran Evans aku seperti itu. Bodoh.
"Mau mengorbankan diriku sendiri untuk mereka. Aku bukan kalian yang tak pernah merasa berdosa ketika membunuh orang.
“Ini pertama kali aku membunuh orang yang tidak lain temanku sendiri.” Alea mengangkat kedua tangannya dan menatap telapak tangannya.
“Aku merasa amat bersalah. Dosaku tidak akan pernah diampuni sekalipun aku mati pun karena tiga wanita di ujung sana tentunya menderita karena aku.”
“Ck! Sok belaga jadi pahlawan kau, Alea!”
“Terserah, apa yang kamu katakan padaku, Mika. Aku masih punya hati nurani, aku bukan orang seperti kalian yang banyak membunuh orang tanpa rasa bersalah apa lagi menyesal.
“Aku lebih baik membusuk di mansion Evans Colliettie dari pada aku hidup diluar sana pun tidak akan pernah bahagia karena kesalahanku ini akan menghantui ku.
"Aku membunuh tulang punggung keluarga mereka,” ucap Alea menjelaskan.
Mika menatap tajam. Perkataan Alea bak sindiran keras untuk dirinya. Dia memang kejam sama seperti Evans Colliettie. Tidak ada hati nurani yang di katakan Alea, tidak ada kata menyesal setelah membunuh banyak orang.
Seharusnya Mika dan Evanslah punya rasa menyesal karena kedua tangannya mereka banyak di lumuri oleh darah dari orang yang tak berdosa. Entah berapa ratus orang atau ribu orang yang mati di tangannya.
Alea memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela kaca.
“Kau akan menderita lebih dari yang sebelumnya di Mansion Alea. Seumur hidup kau akan terpenjara di dalam neraka The Black Rose.”
“Aku tahu itu, Mika. Aku tahu konsekuensi yang harus aku tanggung.”
Alea menoleh padangi wanita cantik tersebut, lalu tersenyum manis pada Mika.
“Aku cukup diam akan takdir akan membawaku kemana. Aku hanya bisa pasrah karena itu sudah jadi pilihanku.”
Empat mobil yang membawa mereka pun akhirnya sampai di mansion Colliettie.
Melihat Evans yang sudah lebih dulu sampai dan turun. Alea bergegas keluar dari dalam mobil dan setengah berlari mengejar pria tersebut.
“Tunggu, Evans…” panggil Alea…
“Tunggu sebentar. Aku ingin bicara denganmu,” kata Alea seraya menyusul langkah Evans yang sudah berada di mansion utama.
Pria itu mendengus jengah. Pandangannya menatap anak buahnya seraya kode agar mereka pergi meninggalkan tempat tersebut.
Evans bersedekap seraya menunggu wanita bodoh itu yang berjalan tergopoh.
“Ada apa, hmm?”
Alea mengatur napas sejenak. “Sepertinya ada hal penting yang ingin kau bicarakan padaku?”
“Oh. Ya, tentu ada, Evans.”
Alea tersenyum lembut, tetapi Evans benci dengan senyuman itu.
“Aku sudah mengikuti permintaanmu. Jadi aku peringatkan padamu Alea Anjanie.
"Posisimu masih tetap sama. Kau harus mengurus semua binatang kesayangan dan kamu harus melayani para wanita murahan itu di dalam sana dan satu hal lagi—”
Evans mencondongkan tubuhnya lalu berbisik.
“Jangan pernah lupa kalau kau akan menghangatkan ranjangku di setiap malamnya, Alea. Kalau tidak—”
Kedua mata Evans menyipit. “Aku hanya ingin bertanya. Apa Bryan akan kamu bebaskan?”
Wajah Evans merah, matanya yang menyipit pun kini menatap Alea tajam.
“Dia tidak bersalah.
“Ck! Sekarang aku mengaturku hmm? Cukup berani ternyata nyalimu, Alea.
"Setelah apa yang kau lakukan, kini kau berlagak seperti angels wing yang mencemaskan seorang anak pelayan, hmm?” seru Evans terdengar menakutkan.
Rahang sang devil sudah sejak tadi mengetat dengan sorot mata yang tajam.
“Aku tidak mencemaskannya. Aku… Aku…”
Pikiran Alea mendadak buyar mau berbicara apa pada Evans bila ditatap tajam seperti itu.
“Akulah yang bersalah karena aku yang memintanya untuk membantunya sampai ke tebing itu, Evans.”
Evans selangkah maju hingga tubuh kekarnya bertuburukan dengan Alea.
“Kenapa kau yakin kalau dia tidak melakukannya, hmm?”
Alea mundur selangkah dengan tubuh yang bergetar.
“Aku yakin kalau dia orang baik.”
Pria itu menarik sudut bibirnya ke samping, matanya menatap mengejek pada wanita bodoh di depannya.
“Kau selalu menganggap semua orang baik. Apa pelajaran waktu itu hingga ini—”
“Aw. Sakit Evans.”
“Masih belum paham juga, hmm? Apa kau tidak paham atau aku perlu membuatmu agar paham, hmm?” ucap Evans dengan gigi bergemeretak marah.
“Semua orang yang mengenalmu itu hanya memanfaatkanmu, Alea.
"Orang yang kau katakana baik dan kau percaya itu selalu mencelakakanmu dan inilah kalau kau terlalu banyak percaya pada orang lain.” Evans menekan luka di perut Alea.
Dia tidak peduli dengan wajah Alea yang meringis kesakitan.
“Ryander melakukan hal ini karena terpaksa, Evans. Semua yang diperbuat pasti ada alasanya,” kata Alea membela diri.
“Aku mengenal, Ryander dan aku yakin bila dia masih hidup pun akan menyesal telah melakukan hal itu padaku.”
“Ck! Bodoh! Dan kau baru mengenal, Bryan.”
“Tapi aku mohon lepaskan Bryan. Dia tidak bersalah.”
Evans melotot, sebelah tangannya menekan lebih keras lagi luka di perut Alea. Dia tidak suka dengan orang yang terlalu berani menentangnya.
“Kau akan menyesal suatu hari nanti bila perkataanku ini salah padamu. Camkan itu!”
Evans mundur selangkah lalu berbalik badan. Devil sepertinya lelah bila harus berbicara panjang lebar pada angels wing yang bodoh itu. Sungguh wanita bodoh itu keras kepala.
“Aku tidak akan membebaskan dia bila aku sudah menemukan pelaku yang sebenarnya. Jadi sebelum aku menemukan pelaku yang merusak black rose.
"Aku tidak akan membebaskannya. Biarkan saja di mati membusuk di sel penjara!” tegas Evans berbalik pergi.
Sungguh menjengkelkan wanita bodoh itu. “Kalau begitu. Tolong izinkan aku bisa menemuinya, Evans.”
“Evans kembali berhenti lalu berbalik badan menatap nyalang.
“Mau apa lagi, hah?”
Evans, heran. Kenapa wanita bodoh seperti Alea itu tidak pernah menyerah dengan keinginannya.
“Sebenarnya apa yang kalian rencanakan padaku, hmm? Apa kalian berdua akan melawanku lagi dan membuatku marah, hah?”
Alea menggeleng cepat. Dengan senyuman lebarnya dia berjalan menghampiri Evans dengan wajah dinginnya.
“Tidak. Aku tidak punya rencana apapun padamu. Aku hanya ingin bertemu dia saja karena aku ingin membuatkan sesuatu untuknya,” kata Alea yang membuat Evans membulatkan kedua matanya sekian detik lalu kembali dengan ekspresi yang sama. Datar dan dingin.
“Kamu diam tandanya kamu mengizinkan aku. Kalau begitu, terima kasih Evans,” ucap Alea kembali melanjutkan langkahnya menuju tempat dimana seharusnya Alea berada.
Wanita bodoh itu tidak menyadari tatapan Evans yang kali ini berbeda. Alea dengan santainya dan juga rencananya yang ingin membuatkan sesuatu untuk Bryan.