
“Mereka ada kini berada di San Marino, Tuan.”
Mika melapor dari hasil pencarian kepergian dua orang tersebut.
Pria itu hanya diam, lalu menghembuskan nafas perlahan. seperti bisa sikap dan wajahnya sama sekali tidak ada perubahan, dingin dan dan datar.
Dengan duduknya yang terlihat santai di ruang kerjanya, Evans siang hari dengan terik cuaca di Napoli yang menyengat.
Pria itu menenggak vodka tanpa henti sembari memegangi foto-foto yang berserakan di atas mejanya.
Foto yang entah sengaja dikirim oleh seseorang entah untuk apa tujuannya.
Dari deretan foto yang berada di atas mejanya, memperlihatkan wajah Alea dari berbagai sudut yang terlihat tersenyum bahagia dan juga tertawa lepas bersama dengan Bryan.
“Maaf, Tuan. Apa anda baik-baik saja?”
Pertanyaan Mika membuat kesadaran Evans kembali. Pria itu mengangkat wajahnya dengan menunjukkan ekspresi, bengis.
“Apa maksudmu, hm?”
Sejenak, kedua matanya mengalihkan pandangannya dari foto wanita bodoh itu yang tersenyum dan tertawa yang sedang dipegangnya.
“Ck! Menjijikan.”
Evans hela nafas kembali dengan pergerakan dada yang ikut turun serentak.
“Kenapa pria brengsek itu mengirimkan semua sampah ini padaku?
“Apa dia sedang memamerkan kebahagiannya setelah lepas dari cengkeraman, hm?” desis Evans.
“Sungguh bodoh!”
“Maaf, Tuan. Saya rasa anda keliru, di sini!”
Bola mata Evans menatap penuh pada orang kepercayaan itu.
“Maksud foto tersebut bukan untuk hal itu. Tetapi, untuk hal yang lain!”
Pria itu kembali meletakan gelasnya seraya mendengus pelan tak lama dia kembali menatap Mika.
“Apa maksudmu?” Kening Evans mengernyit.
“Apa Bryan pikir aku akan cemburu, semacam itukah?”
Mika hanya diam, berdiri di depan. Tak lepas kedua matanya pandangi tuan nya yang tertawa keras.
Gerakan Evans yang berdiri seraya mengumpulkan semua foto yang berserakan di mejanya itu membuat, Mika hanya bisa menghela nafasnya, lagi.
Pria itu kembali menolak mati-matian sesuatu di dalam hatinya.
“Semua foti ini tidak bisa mempengaruhiku sama sekali. Tidak seperti yang pria itu kira!”
Evans menarik sudut bibirnya ke samping, dia merasa tidak ada satupun hal yang bisa mempengaruhi dirinya.
“Apa si brengsek ini masih beranggapan kalau aku ini mencintai wanita bodoh itu?”
Evans menunjukan foto Alea yang berada di tangannya.
“CK! Tidak!”
“Si brengsek itu hanya ingin membuatku marah dengan semua foto tersebut hingga akhirnya aku datang sendiri kesana untuk menyelamatkan wanita bodoh itu lalu menukarkan dengan kebebasannya?”
Evans tersenyum lebar lalu berdecak lidah.
“Ck! Cara yang klasik sekali! Sungguh bodoh bila si brengsek itu berpikir seperti itu.”
“Aku sama sekali tidak akan terpancing dengan semua rencana dia dan Alea—”
Evans menghembuskan nafas dengan menggerakan gelas vodkanya. “Sama sekali tidak berharga untukku!”
Kemudian, pria itu berdiri saling berhadapan dengan orang kepercayaan dengan sorot mata penuh amarah.
Dikeluarkannya pemantik lalu semua foto yang dia pegang begitu saja dia bakar tepat di depan Mika.
Gumpalan asap merah itu dengan cepat melahap semua foto tersebut dan jatuh ke lantai.
“Aku tegaskan di sini. Alea bukan siapa-siapaku!”
Mika menghela nafas panjang, kedua matanya tertuju pada kobaran api dengan sorot mata Evans menatapnya tajam.
Dia tahu kalau Evans tengah menolak mati-matian akan hatinya yang sudah berbeda semenjak kedatangan Alea.
Tetapi, masih saja pria itu mengelaknya.
“Baiklah kalau begitu. Apa rencana Tuan selanjutnya?”
Dia sudah malas membahas masalah foto yang menyangkut Alea. Dia sudah tahu kalau Evans sudah menyadari hal itu, tetapi ego nya masih saja tetap tinggi.
Tidak mengakui, MUNAFIK!
Evans kembali mengambil gelasnya dan meminum vodka dan berjalan membelakangi Mika.
“Rencana kita, tetap pada semua, Mika. Kau sendiri yang akan pergi ke sana bersama dengan anak buahmu.
“Laporkan semua yang terjadi di sana.”
Ada nada yang terjeda, pria itu kembali menarik nafasnya lalu kembali menenggak minuman itu lagi.
“Jika kau berhasil menangkap mereka. Bunuh saja! Dan bila mereka berhasil melarikan diri lagi.”
Rahang Evans mengetat. “Kali ini aku tidak akan membiarkan mereka, LOLOS!”
“Saya pastikan Bryan dan anak buahnya. Termasuk Alea tidak akan lolos lagi dari kejaran kita!”
“Good!”
“Cari tahu siapa yang sudah membantu si brengsek itu hingga memberikan semua pengawalan padanya.
“Aku yakin pria brengsek itu tidak mungkin bisa melakukannya seorang diri bila tidak ada dalang dibalik semua ini!”
“Baik, Tuan. Saya akan mencarinya. Saya permisi,” ucap Mika undur diri.
Setelah Evans memberikan perintah pada Mika. Pria itu menatap lurus ke depan dengan gigi yang bergemeretak.
Hingga genggaman pada gelasnya pun terlihat cukup kuat.
Evans merasakan sesuatu yang panas pada dadanya. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya.
Tapi, pria itu seperti biasa menanggapinya dan mengabaikan semuanya dengan menenggak hingga tandas minuman keras tersebut.
Dagona, San Marino.
Seperti memiliki sebuah insting yang peka, kedua kakinya itu entah mengapa membawa dirinya hingga sampai ke Dagona.
Sendirian, tanpa ada anak buahnya yang tahu bila dia berada di sini.
Bahkan, Mika sekalipun yang diutus untuk menangkap Bryan dan Alea pun tidak mengetahui dengan keberadaanya yang sudah berada di rumah besar di puncak bukit dengan pengawal yang cukup banyak.
Dia tidak tahu apa sebenarnya tujuannya melakukan hal ini. Tapi, ketika saat mendapatkan akan sehatnya kembali. Evans tersadar sudah berdiri begitu dekat di mana wanita itu berada.
Alea berada di depannya. Kini dia berada di sebuah persimpangan yang membuatnya harus memilih.
Akal sehatnya atau perasanya yang tidak menentu saat ini yang entah sejak kapan muncul di dalam dirinya. Akhirnya, setelah dia perang batin dan seperti inilah dia sebenarnya. Evans terlihat seperti pria lemah.
Dia hanya terdiam di antara persimpangan. Ketika mengetahui bila Mika sudah dekat, mendadak tubuhnya yang sudah berbalik pada pintu balkon.
Dia tertunduk lemah. Betapa menyedihkannya bukan dirinya yang tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya saat ini.
Evans bergeming di balik pintu kaca balkon. Kedua matanya terpaku pada sosok wanita yang berada di dalam selimut. Wanita itu terlihat begitu gelisah sekalipun itu di dalam tidurnya.
Kakinya saja pun bahkan tahu di mana wanita itu berada, padahal dia baru saja mencari kamarnya. Kebetulan sekali entah atau memang sudah takdir ketika memanjat balkon tersebut ternyata adalah kamar di mana Alea, tertidur.
Bahkan, dia tanpa kesulitan sedikitpun membuka pintu balkon yang terkunci, masuk begitu saja dan kembali mendekatinya.
Wanita bodoh itu semakin bergerak gelisah, tanpa berpikir dan kembali mengabaikan akal sehatnya, tubuhnya sudah berada dekat wanita itu bahkan Evans mendekap membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
Nyaman dan tenang itu yang Evans rasakan hingga dia mengeratkan pelukanya dan membawanya ke dalam pelukan hangat. Pelukan yang pernah terlepas sesaat.
Rasanya, dia tidak ingin melepaskan wanita yang berada di dalam pelukannya. Anehnya, dia sudah memeluknya erat. Namun, kenapa wanita itu terus gelisah di dalam tidurnya.
Evans melebarkan kedua matanya, keringat membasahi wajahnya. Sebelum tangannya terulur, dengan reflex tangannya menggantung di udara ketika dia mendengarkan bibirnya yang tak henti bergumam pelan yang entah apa, dia tidak mendengarkannya.
Evans kembali mengulurkan tangannya untuk menyapu keringat di wajahnya. Belum juga, sempat menyentuh.
Gumaman itu semakin terasa terdengar membuat tangannya kembali menggantung di udara.
“Please, tidak, Ev…. Aku mohon.” Kepala wanita itu menggeleng, Alea berbicara di dalam tidurnya.
“Aku mohon. Ampuni, aku. Jangan bunuh aku, Ev.”
Evans terkesiap, begitu terkejutnya hingga wajahnya nampak syok ketika mendengarkan perkataan Alea.
Rasanya, sakit yang teramat menyakitkan di dalam tubuhnya ketika mengetahui begitu takutnya wanita ini hingga dibawah ke alam mimpi.
Sosoknya, seolah menyerupai iblis yang akan mencabut nyawanya.
“Sebelum kamu membunuhku, bisakah untuk terakhir kalinya aku meminta padamu, Ev?”
Keringat Alea semakin basah terasa, tubuhnya pun bergerak gelisah. Nafas wanita itu pun terlihat cepat.
“Izinkan aku melihat keluargaku, kakak angkatku dan juga sahabatku. Please, Ev untuk yang terakhir kali ini saja, aku mohon,” rancu Alea.
Air matanya mengalir begitu saja tanpa permisi membuat Evans langsung membenci dirinya sendiri.
Sesak dan sakit hatinya ketika dia mengabaikan wanita itu ketika bertemu Alea di rumah sakit.
Padahal jauh di dalam sana, dia amat bersyukur melihat keadaan wanita itu baik-baik saja setelah racun itu berada di tubuhnya.
Ketika mendengarkan ajakan sang pangeran dan juga perhatian sang pangeran pada pelayannya, membuat dia pada akhirnya mengatakan kalimat yang penuh ancaman demi akan sehatnya, sekalipun bayangan ketakutan kehilangan begitu menyesakan dadanya dan itu adalah sesuatu yang belum dan tidak pernah dia rasakan selama ini.
Sebenarnya ada apa dengan dirinya kali ini?
Bahkan banyak orang yang telah dibunuh demi menjaga eksistensinya. Di dunia siapa yang lemah maka akan kalah begitu saja.
Tetapi, dia juga tidak segan melakukan bila orang-orang memulai lebih dulu—membuatnya marah dan juga kecurangan di sini.
Siapapun orang yang sudah menghianatinya, pembalasan nya adalah kematian.
Tetapi, meski dia terkenal dengan Mafia kejam, Devil dari Italia. Namun kenapa rasanya dia tidak mau kalau Alea menganggapnya bak iblis yang menakutkan?
Sekalipun ya, Evans mengakui kalau semua itu sudah terlambat. Dia sendirilah yang sering menyakiti dan menakuti wanita itu dengan banyaknya ancaman?
Ketika Evans akan bangun dan pergi, tubuhnya membeku. Tangan kecil itu melingkar di tubuhnya.
Wanita itu memeluknya seolah dirinya bantal guling.
Evans tersenyum lebar sekalipun wanita itu tidak tahu, tetapi betapa terkejutnya ketika dia menoleh ke samping di mana wajah Alea begitu dekat di pandang. Evans tanpa sadar bergumam di dalam hatinya.
‘Cantik.’
Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka. Wanita itu terkejut menatap dirinya yang begitu dekat.
“Kamu tidak bisa pergi dariku, Lea….”
Wanita bergerak mundur seolah terkejut adanya dirinya di depannya dengan jarak begitu dekat.
Wanita itu pun kembali memejamkan kedua matanya dan berkata kalau semua yang baru saja dilihat hanya sugesti.
Wanita itu terus berkata kalau semua ini adalah mimpi bertemu dengannya, sekalipun ya kenyataanya Alea benar-benar bertemu dengannya.
Tak ingin membuat Alea terkejut, dengan gerak cepat dia bangun dari atas tempat tidur dan berdiri di balik pintu balkon.
Evans masih di sana, menunggu reaksi wanita itu yang membuka kedua matanya.
Kini dengan kesadaran penuh, Alea menatapnya begitu juga dirinya yang sejak tadi tidak lepas memandangi Alea.
Dadanya terasa sesak saat melihat ekspresi Alea yang ketakutan melihatnya.
Dia hanya diam membeku dengan kedua tangan yang terkepal erat.
“Lea.”
Tanpa sadar bibirnya pun menggumamkan namanya. Lea nya berlari dan berseru histeris, ketika pintu terbuka datanglah Bryan di depannya.
Entah apa perasaan ini, namun dia lekas berbalik badan dan loncat dari balkon kamar Alea sekalipun dia sempat berhadapan dengan anak buah Bryan yang memergokinya.
Tapi, bagi Evans membunuh orang itu mudah, dengan cepat mungkin dia kembali pergi dari tempat tersebut.
Suara tembakan terdengar keras, Evans yakin keberadaan Mika sudah berada di pekarangan rumah ini.
Tanpa sadar, dia berlari tanpa arah menjauh dari rumah itu dan menjauh dari Mika.
Kedua kakinya melangkah sejauh mungkin dari tempat tersebut. Akal sehatnya kini kembali dia mencoba mati-matian mengembalikan apapun sampai akhirnya dia bersembunyi di salah satu balkon di salah satu bangunan.
Evans memejamkan kedua matanya yang diiringi menarik napas panjang. Dia berusaha keras untuk tidak kalah pada perasaanya.
Entah berapa lama dia berdiri bak patung di sana. Evans menunggu laporan dari Mika sembari mematikan panca indranya akan bayangan wajah ketakutan itu.
Namun, ketika kembali membuka mata. Evans melihat ada sebuah helikopter yang melewat tidak jauh dari tempatnya. Jauh di depan sana, tubuhmu langsung membeku.
Dia melihat Lea. Wanita itu berada di dalam helikopter tersebut. Tanpa sadar ketika dia menatap lurus, manik mata sapphire itu pun sama. Sama-sama menatapnya.
Evans termangu, tanpa sekalipun memutuskan kontak mata mereka hingga pada akhirnya helikopter itu membawa wanita itu semakin menjauh dan tak lama—menghilang.
Wanita itu kini sudah pergi lagi, menjauh entah ke mana.
‘Seharusnya sejak tadi kau menculiknya, Evans. Lalu membawa wanita itu pulang.’
Hembusan nafasnya terasa berat. Ya, kini hanya sisa penyesalan yang tertinggal di dadanya dan itu—sakit.
“Hhhh…. Sial! Sial!” umpat Evans keras.
“Kenapa kau jadi selemah ini, Evans karena hanya seorang wanita?!”