
"Terus bagiaman dengan jarimu yang terluka itu hm?” Evans berjongkok mencengkram dagu Alea.
“Aku hanya memetik satu tangkai tidak merusak hingga seperti itu Tu-tuan."
“Hanya satu, hmm?”
Alea mengangguk dengan kedua mata basah.
Dihempaskanya kembali tubuh kurus itu hingga Alea tersungkur kembali. Di tatapnya wajah devil di depannya itu dengan ekspresi wajah yang begitu menakutkan.
Wajahnya memerah seperti kobaran api yang menyala.
Alea setengah bangkit, namun ia tidak sangka Evans dengan sigap mendaratkan sebelah kakinya yang beralas sepatu pantopelnya itu menderat di tubuhnya, perlahan namun menekan tubuhnya dan terasa berat.
“Bagiaman itu bukan kamu, hmm? Jika bukti semua mengarah padamu?” tanya Evans dengan smirik devil menatap ingin membunuhnya.
Evans menekan kakinya dengan keras hingga terasa berat di dada Alea, melupakan jika dirinya adalah perempuan yang tidak pantas di perlakukan seperti ini.
Alea menggeleng pilu, tatapan nanar menatap Evans.
“Tidak Tuan, tidak mungkin aku merusak mawar hitam itu, aku hanya memetik satu tangkai saja Tuan.”
"Aku bersumpah Tuan. Aku tidak merusaknya seperti itu!” derai air mata Ale yang sudah membasahi pipinya.
Namun mana mungkin Devil seperti Evans tersentuh akan tangisannya apa lagi membuat devil itu luluh.
Injakan ini?
Alea memohon kali ini pada Evans untuk percaya padanya, jika ia tidak melakukanya. Namun sayang, Evans sudah meletakan senjatanya tapat di kepala Alea setelah ia berusaha bangkit ketika sepatu berat itu turun dari tubuhnya.
“Kau adalah kesalahanku. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Kau sudah merusak mawar hitam kesayanganku dan kau pantas mati!” ucap Evans, menarik kuncian pistolnya hingga terdengar bunyi klik dan tepat menghunuskan tepat di kepala Alea.
“Tidak ada ampun bagi orang yang sudah merusak tanaman kesayangku, mawar hitam itu lebih berharga dari nyawamu!”
“Pergilah ke neraka menyusul kekasihmu dan juga selingkuhanya!”
Dorrr!!
“Arrrghhhh,” teriak banyak orang yang berada di sana.
Ketika satu peluru terlepas dengan bunyi yang cukup nyaring, membuat semua orang yang berada di depan sana menjerit kencang termasuk para peliharaan Evans Colliettie yang memejamkan matanya.
Berta yang hendak menghampiri Tuannya itu langsung di peluk oleh Antony untuk tidak ikut campur.
“Tu….Tunggu!” pekik suara di seberang sana, mendengar satu tembakan yang terlepas begitu saja.
Seseorang itu langsung berlari kencang hingga melihat di depan sana akan Alea yang ternyata tidak apa-apa.
Wanita malang itu menutup kedua matanya rapat-rapat dengan kedua tanganya menutup kedua telinganya.
“Dia tidak bersalah Tuan,” sela Bryan yang datang dengan nafas yang tersenggal-senggal karena ia baru hadir setelah urusan bahan-bahan makanan telah ia selesaikan.
Kali ini Alea masih beruntung, peluru itu hanya mengarah ke rerumputan, untuk membuat Alea ketakutan dan mengakui kesalahan yang tidak pernah ia lakukan.
"Dan Aku saksinya! Alea hanya memetik satu tangkai saja Tuan.”
Bugg!!!
Satu pukulan tepat mengarah di wajah Bryan, pukulan yang cukup keras pria itu membuat pria itu tersungkur di sebelah Alea.
“Kau sudah lancang Bryan! Dan kau juga yang sudah mengelabui orang-orangku hah?” pekik Evans keras di depan wajah Bryan.
“Bukannya Mika sudah memperingati tak ada yang pergi ke tebing itu selain perintahku, hah?” Evans murka menatap keduanya.
“Tolong Tuan, sayalah yang salah di sini, karena saya telah memintanya untuk mengantarkan ke tempat itu,” jelas Alea.
Evans mengacungkan senjatanya tepat di wajah Alea yang duduk di rerumputan.
"Kau sudah macam-macam denganku, hah? Apa kau tak sayang nyawamu? Kau ingin mati sekarang juga?”
Evans membuka kunci pistolnya, hanya sekali tekan maka peluru itu sudah menembus kepalanya.
"Tunggu—Tuan. Kau jangan kau menuduh Alea yang tidak-tidak cari dulu pelakunya, baru kau membunuhnya jika ia memang bersalah,” ujar Bryan yang di tatap tajam oleh Mika dan Antony di belakang sana.
Keduan perempuan itu ingin Bryan diam dan tidak kena masalah, tatapi anak bodoh itu masih membela Alea yang jelas-jelas saat ini telah tersudutkan di sini.
“Kurung keduanya jangan kasih mereka makan selama mereka belum mengakuinya dan masukan wanita itu bersama dengan anak-anakku, mungkin keempat anak-anakku sedikit ingin bermain-main dengannya!"
Alea terbelalak mendengarkan apa yang baru saja Evans perintahkan mengurung dirinya bersama dengan keempat anak-anaknya?
Itu tidak mungkin!
"Aku mohon Tuan jangan—jangan kurung aku bersama dengan ularmu itu, aku mohon Tuan.”
Alea memegang erat kaki kanan Evans memintanya untuk mencabut perkataanya.
Evans bergeming, melepaskan pegangan Alea dengan cara menghempaskan tubuh wanita itu begitu saja. Evans benar-benar tidak mempunyai hati, pria itu begitu menakutkan.
“Bawa mereka!” titah Evans yang di anggukan oleh para pengawalnya.
Alea berteriak memohon kepada Evans dengan tangisan histerisnya dibawa paksa oleh orang-orang Evans menuju ruangan bawah tanah.
"Aku mohon jangan—aku mohon jangan simpan aku di sini!!!" teriak Alea meronta-ronta ketika dua pria itu tetap membawanya dengan paksa.
Tubuh Alea dilemparkan begitu saja oleh kedua orang bertubuh besar itu di dekat ular-ular yang sedang berada di sampingnya.
Ia berdiri di pintu kandang ular pyton, meronta-ronta meminta di keluarkan namun tak ada yang menanggapinya.
Evans turun ke bawah menyakisakan Alea yang menangis histeris ketika ular itu mendekatinya.
"Aku mohon Tuan lepaskanlah aku. Tuan aku mohon kau lebih baik membunuhku dari pada kau mengurungku di sini…hikss…hikss…”
Evans lagi-lagi bergeming melihat wajah Alea yang sudah memucat, bahkan wanita itu tengah menahan rasa mual di depan sana, dengan tangisan memohon ampun padanya.
Evans tidak peduli, sama sekali dirinya tidak pedulu. Karena itulah hukuman untuk orang yang sudah berani main-main dengannya.
Evans mendengus lirih dan tatapan membunuh pada wanita malang itu, tidak ada satu kata pun yang pria kejam itu katakan.
Namun pria itu memilih pergi meninggalkan Alea begitu saja bersama dengan ular-ular kesayanganya.
Tangisan tak henti. Alea masih meronta-ronta berteriak dengan menahan mual ingin muntah, melihat betapa dekat dirinya bersama dengan ular-ular yang besar itu yang kini mendatanginya.
Wajahnya pucat pasi seperti mayat di depan sana, ia manahan rasa sakit di perutnya yang mulai terasa perih.
Suara tangisan itu pun terdengar serak walau beberapa kali Bryan yang di kurung di sel dekat raja dan ratu pun berteriak untuk menenangkan Alea di depannya saat ini.
Bryan mengkhawatirkan Alea yang berada di dalam kandang ular itu.
“Ale…kau tak apah?”
Romeo mengindap-indap untuk turun ke ruang bawah tanah dengan kedua tangannya penuh membawa beberapa botol minuman.
Setidaknya hanya ini yang Romeo bisa berikan kepada Alea dan juga Bryan.
Alea berteriak melihat kedatangan Romeo di depan sana, meminta pertolongan Romeo untuk mengeluarkan dirinya dari kandang ular pyton.
“Paman…tolong aku…aku takut paman…uwek…uwekk!!!” pinta Alea, mual.
Alea tidak tahan akan ular di dekatnya yang mana ular-ular itu mendekatnya. Tubuhnya bereaksi, tidak bisa menahan rasa mual itu yang akhirnya Alea memuntahkan cairan bening, hanya air saja yang Alea keluarkan karena sepagi ini Alea belum makan apa-apa.
Romeo menghampiri Alea, mengusap lembut rambut panjangnya agar bisa menangkan Alea ketakutan.
“Kau harus bersikap tenang Ale dan jangan panik mereka tidak akan memakanmu mereka jinak Ale,” ucap Romeo menengkan.
"Aku takut paman...tolong aku!"
"Maafkan aku Ale. Aku tidak bisa menolongmu, dengarkan aku Ale. Kau simpan botol minuman ini dengan baik karena Tuan tidak mengizinkan kami memberi kalian makan,” ucap Romeo memberikan masing-masing dua buah botol air minuman kepada Bryan dan Alea.
"Ale kau paham kan? Maafkan aku Ale, sungguh aku tidak bisa menolongmu. Aku pergi Alea."
Setalah Romeo mengucap kata maaf, pria paru baya itu meninggalkan keduanya karena tidak ada yang di perbolehkan untuk berada di ruang bawah tanah.
"Benar Ale, apa yang di katakan Romee, kamu harus tenang," ucap Bryan di depan sana, namun Alea tak menjawab perkataan Bryan.
"Ale apa kau masih bisa mendengarku?" tanya Bryan dengan nada keras.
"Iyah Bryan!" suara Ale terdengar lemah namun air matanya masih mengalir di pipinya.
Bersambung...