
“Buka bajumu,” pinta Evans.
“Hah?” jawab Alea dengan mata terbelalak.
“Untuk apa, Tuan?”
Evans mencondongkan tubuhnya, sementara Alea di depannya mundur hingga punggungnya mendesak pada pintu mobil.
“Kau buka atau aku yang akan membuka baju dengan paksa, hm?” ucap Evans dengan nada tinggi, sorotan matanya tajam.
Alea diam, pandangi Evans, dia bingung pada devil di sampingnya ini.
“Sekarang Alea!” tegasnya.
Alea pasrah mengikuti keinginan Evans. Dengan malu-malu Alea menyibakan bajunya perlahan, sementara Evans langsung melihat perut Alea yang tidak terluka sedikitpun. Tidak ada bekas luka tembakan dan bekas pun kini sudah tidak ada.
Evans hela napas dan bergumam di dalam dirinya sendiri, mungkin saja hanya tendangan kecil yang para tikus kecil itu menerpa wanita bodoh ini sehingga kesakitan.
“Apa luka tembak waktu itu sudah sembuh, hmm?”
“Apa kamu tidak melihatnya sendiri? Tidak ada bekas sama sekali bukan? Aku tidak apa.”
Alea kembali menutup perutnya dan sedikit merapikan pakaiannya kembali.
Di depan sana Mika dan Lucas masih menunggu dengan kepala penuh tanda tanya.
“Kenapa mobil tuan tidak maju-maju?” Lucas bertanya pada Mika, tetapi wanita itu malah membalasnya dengan kendikan bahu.
Dia masih mengingat kejadian beberapa detik lalu akan sikap Evans. Mika masih mengingat jelas kalau semua itu sangat mustahil.
Evans menghidupkan mesin mobilnya lalu mengemudikan mobil tersebut hingga melewati di depannya di mana Lucas dan Mika berada. Melihat mobil Evans yang sudah melanju, Lucas pun mengikutinya.
Masalah perampok yang menyerang Mika dan Alea, sudah diurus langsung oleh Lucas yang menyuruh anak buah Mika untuk membereskan semua kekacauan yang terjadi beberapa menit tadi.
Sepanjang perjalan menuju pabrik keduanya terdiam. Namun, sesekali Evans menoleh ke samping dan melihat Alea masih memegangi perutnya.
Lelaki itu bingung akan wanita bodoh di sampingnya, dalam diamnya seraya mengemudi Evans berpikir sebenarnya apa yang di sembunyikan oleh wanita itu hingga dia melihat Alea mengedit seolah menahan sakit.
Apa itu bekas tendangan atau apa?
Decitan suara rem membuat tubuh Alea reflek tersungkur ke depan. Evans menginterupsi Lucas untuk lebih dulu ke pabrik dan meninggalkan dia dengan Alea tanpa pengawal.
“Kenapa berhenti?”
“Bukalah bajumu aku ingin memastikan kembali!”
“Bukannya kamu sudah melihatnya?”
Evans mendengus kasar. “Ya. Aku memang melihatnya, tapi aku melihatmu sejak tadi memegangi perut. Kau menyembunyikan sesuatu bukan hah?”
Alea mengernyit bingung. ‘Tumben dia sok peduli padaku, bukannya ini pun ulahnya?
“Tidak ada,” jawab Alea, pura-pura menutupi semuanya. Dia tidak ingin dikatakan lemah oleh sang devil itu.
Tak percaya dengan perkataan Alea, Evans pun tanpa seizin sang empu langsung menyibakan kaos polos yang Alea kenakan. Memang tidak ada darah, tetapi memar di sebelah kanan perut Alea.
Alea meremas tangan Evans yang memegangi perutnya. “Apa kamu membawa obat penahan sakit?” tanya Evans.
Raut wajah Evans terlihat panik, sang empu yang ditanya hanya diam dengan mata yang tak lepas pandangi Evans.
Ini suatu perhatian langka yang tak pernah Alea dapatkan dari mafia kejam itu. Biasanya, Evans menyiksanya perlahan. Tetapi, ini…
“Ada di meja kerjaku. Di kantor.”
Evans kembali melanjutkan perjalanan setelah mendengus kesal. Ah, dia memang wanita bodoh. Tak lama mobil Evans pun kembali berhenti, pria itu keluar dari dalam mobilnya dan menuju suatu tempat.
“Aku sudah tidak kuat lagi, ini sangat sakit,” rintih Alea menahan rasa sakit yang tidak bisa dielakan lagi.
Kedua tangannya meremas erat shiitt belt denga keringat bercucuran di wajah Alea.
Melihat Evans keluar dari dalam klinik tersebut. Alea buru-buru menghapus keringat dan air matanya yang berjatuhan.
“Minumlah, agar kau baikan.”
“Terima kasih banyak,” ucap Alea seraya menerima pemberian obat tersebut dan lalu meminumnya.
Pukul tujuh malam Alea dan Lucas masih ada di dalam pabrik, setelah Alea merasa baikan dia dan Lucas meninjau proses produksi lalu tak lama kembali ke kantor dan mengerjakan pekerjaanya.
Dari dokumen yang Lucas berikan, banyak sekali keganjilan apalagi ketika melihat laporan keuangan pabrik.
“Aku butuh susu coklat,” ucap Alea seraya bangun dari duduknya dan berjalan menuju pantry.
Di Lorong sebelah kanan, Alea berhenti ketika mendengarkan pembicaraan dua orang yang tengah berdebat.
“Kita akan ketahuan kalau kita adalah pelakunya. Wanita yang dibawa oleh tuan itu sudah yakin bisa memecahkan kecurangan yang kita perbuat.”
Bola mata Alea mendelik, penasaran akan apalagi yang akan mereka katakana dia memutuskan untuk berjalan pelan agar dia bisa lebih mendengarkan lebih jelas lagi.
“Saya sudah katakana. Kau diam saja! Tidak usah panik berlebihan karena itu akan semakin membuat mereka percaya kalau kita adalah pelaku nya!”
“Bagaimana aku tenang, hah? Apa kau tahu kita berurusan dengan siapa? Evans Colliettie. Kita akan mati, dia seorang mafia kejam dan kini kita tengah mengantarkan nyawa kita pada mafia itu!”
Dug!!
Suara kepala Alea yang terjedot membuat kedua orang itu panik.
“Siapa itu?” seru satu pria berdasi kuning.
“Aku tegaskan padamu. Kamu jangan banyak bicara di sini, paham!”
Pria tua berdasi kuning keluar dari dalam ruangan, kedua matanya beredar melihat penjuru ruangan, di sekitarnya tak nampak seseorang siapapun. Tetapi, kenapa hatinya merasa yakin kalau ada orang yang mendengarkan pembicaranya.
Di samping sana, Alea mengatur napas. Hampir saja dia ketahuan mendengarkan pembicaraan dua orang yang entah siapa tersebut.
Perlahan Alea menoleh dan mengintip apa pria itu masih berada di sana. Namun ketika Alea kembali berarah, dia tersentak kaget dengan seruan seseorang yang memergokinya.
“Sedang apa kau di sini, hmm?”
Dengan reflex Alea menarik lengan seseorang tersebut untuk lekas ikut berjongkok dengan satu tangan yang membekap mulut seseorang itu rapat lalu kembali melirik ke arah kanan dan memastikan kembali kalau pria itu sudah masuk ke dalam ruangannya.
“Syukurlah kalau dia sudah masuk,” ucap Alea berseru lega.
Tangan Alea masih di sana, membekap mulut yang entah siapa. Melihat jasnya, Alea yakin kalau pria itu adalah Lucas karena di sini hanya ada dia dan Lucas saja.
Tetapi, ketika dia menoleh ke samping. Bola mata Alea melotot tajam lalu berikan cengiran seraya melepaskan sebelah tangannya.
“Maaf, Tu-Tuan…”
Evans menatap nyalang. “Kenapa hm? Apa kau sudah tidak takut aku bunuh karena kau sudah berani membuatku seperti ini hmm?”
Alea hela nafas pelan. “Astaga. Tadi sore saja anda terlihat begitu baik dan khawatir pada saya. Kenapa mendadak menyeramkan lagi?” omel Alea, kesal.
Tatapan mata Evans yang tajam itu membuat Alea menebak kalau iblisnya mungkin kini tengah bersemayam lagi tubuh pria itu.
“Kalau anda mau bunuh. Bunuhlah, aku pasrah kalau anda yang membunuhnya,” ucap Alea seraya meraih tangan Evans untuk mencekiknya seperti biasa.
Evans hanya diam, dengan kilatan mata yang memandang marah. Tak lama Alea pun pergi meninggalkan Evans yang hanya bisa diam saja tanpa melakukan apa-apa.