Mafia And Me

Mafia And Me
WAKTU KU SUDAH DEKAT!



Esok Nya


Di pagi yang cerah ini Ria terlihat baru bangun dan langsung beranjak turun kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Selang beberapa menit kemudian Ria keluar dari kamar mandi dan langsung melangkah menuju lemari pakaian dan langsung mengenakan daster bumil.


" Er.. bangun lah, nanti kamu telat ke rumah Tuan Evans." Ria membangunkan Erdo.


" Hitam... iya.." Erdo langsung terbangun terduduk menatap Ria.


' Ternyata cuma mimpi doank tadi, aku bahkan melihat wajah Ria sekarang.' Batin Erdo.


Tadi itu memang Erdo bermimpi bahwa ia akan kehilangan Ria, namun saat mendengar suara Ria yang membangunkan nya sehingga Erdo pun kembali tenang.


" Ternyata aku masih dapat melihat mu Ri." Gumam Erdo seraya menyentuh kepala Ria dengan lembut.


" Er... segeralah mandi!" Seru Ria.


" Baik," Erdo pun langsung memasuki kamar mandi.


****


" Aku berangkat." Ucap Erdo pada Ria yang kini telah berdiri di depan pintu rumah.


" Iya Er... hati hatilah." Balas Ria sambil tersenyum manis.


" Anak Papa, Papa pergi dulu ya." Ucap Erdo pada calon bayi mereka.


" Iya Papa..." Ria menirukan suara bak seorang anak kecil.


" Aku pergi Ri, jangan kemana mana. Tenanglah di dalam rumah,"pesan Erdo seraya mengecup kening Ria dengan lembut.


Tidak tahu mengapa entah kenapa perasaan Erdo seakan tidak tenang dan ia merasakan bahkan ada sesuatu hal yang terjadi. Tapi Erdo berusaha mengusir pikiran bodohnya itu.


" Da..." Erdo langsung melajukan mobil.


" Da..." Ria melambaikan tangan nya.


' Entah mengapa aku berperasaan aneh seperti ini, aku seakan ingin menangis sekencang mungkin tapi tidak bisa. Aku merasa bahwa ini terkahir kalinya aku melihat Er.. lagi! apakah ini tanda tanda hari kelahiran bayi ku.' Batin Ria.


Namun Ria pun berusaha kembali tenang kemudian masuk ke dalam rumah.


******


Siang Hari


Kediaman keluarga kecil Evans


" Anak Mommy makin aktif ya." Ucap Anyer pada Tuan kecil Edward.


Ya, sekarang usia Edward sudah mencapai enam bulan, semakin membuat Tuan kecil itu aktif. Bahkan sekarang ia sudah telungkup dan sudah bisa duduk meski di umurnya yang masih setengah tahun.


" Anak Mommy makin tampan saja... uchhh.." Anyer mencubit lembut pipi gembul baby Edward.


" Sayang.. kita main yok ke rumah aunty Ria." Ucap Anyer lagi karena ia sudah lumayan bosan dan akan pergi bermain ke rumah Erdo dan Ria.


" Halo Ri,"~Anyer.


" *Apa Nyer?"~Ria


" Aku sama Tuan kecil bisa kan main ke rumah?"~Anyer


" Bisa donk, aku rindu banget malah sama Tuan kecil Edward."~ Ria


" Okey, kalau gitu kami akan otw ya."~Anyer


" Ok!"~Ria*


" Ayo sayang kita ke rumah aunty Ria." Anyer langsung menggendong si kecil dan melangkah turun ke bawah.


****


" Hallo RI...." Anyer baru masuk ke dalam rumah Ria.


" Ri...." Anyer tampak bingung karena tidak ada sahutan.


" Tolong......" Suara asisten yang berteriak-teriak.


" Ada apa itu?" Dengan cekatan Anyer pun langsung berlari seribu langkah untungnya ia membawa bi Tere bersamanya untuk menggendong Tuan kecil Edward.


" Ria...." Anyer menutup mulutnya tak percaya, seketika mata nya berkaca kaca.


" Nyonya, ayo kita bawa Nyonya Ria ke RS." Ucap asisten Ria karena Ria tampak sudah kesakitan sekali.


" Bi Tere, ayo panggilkan pak Ren kesini." Ucap Anyer pada bi Tere, dengan segera no Tere pun langsung memanggil pak Ren.


" Ayo Pak, angkat kan Ria." Titah Anyer pada Pak Ren. Pak Ren mengangguk dan langsung menggendong Ria tapi memasukan ke dalam mobil sopir pribadi Ria.


" Ri... sabarlah, kamu yang kuat ya. Kita akan bawa kamu ke RS." Ucap Anyer.


" Bi... Bibi langsung pulang saja ke rumah bawa Tuan kecil, Bibi sama Pak Ren saja. Biar aku sama Ria yang naik mobil ini." Jelas Anyer.


Bi Tere pun langsung masuk ke dalam mobil bersama Pak Ren dan juga Tuan kecil Edward.


" Ri... kamu yang kuat ya." Ucap Anyer pada Ria yang semakin merasakan kesakitan.


" Nyer... tolong telfon Er.." Pinta Ria yang kini menahan kesakitan.


"Iya iya!" Anyer langsung menelfon Erdo.


" *Sekretaris Do, Ria akan segera melahirkan kamu segera ke RS keluarga Scirth saja." ~Anyer.


" Apa? Nona.. anda tidak bercanda kan?"~Erdo.


" Tidak banyak waktu! segera lah datang."


" Tut*..."


" Nyer.. aku mau bilang makasih sama kamu huf... huf.. aku minta maaf ke kamu jika aku ada salah ke kamu. Aku mohon jika nanti anak ku lahir, kamu tolong berikan ia sedikit saja kasih sayang dari seorang Ibu." Ucap Ria.


" Apa maksud ucapan kamu Ri.. " Anyer semakin tak tahan lagi membendung air matanya.


" Aku..." Belum selesai Ria mengucapkan kata-kata nya, tiba tiba ia malah pingsan.


" RIA!!!!!!"


*******


RS Keluarga Scirth


" Maaf Nyonya, ini memang sudah sangat gawat! apa tidak ada sebelum nya pemberitahuan?" Tanya Dokter itu pada Anyer.


" Apa maksud nya Dok?" Anyer tak mengerti.


" Apa suami nya belum datang?" Tanya Dokter lagi.


" Be..."


" Ria....." Erdo tampak ngos ngosan Sekali dan jadi Evans yang berjalan lebih akhir.


" Dimana istri saya Dok?" Tanya Erdo dengan khawatir sekali.


" Begini Tuan, Tuan sudah tahu kan apa yang telah di alami oleh istri anda?" Tanya Dokter.


Setelah mendengar itu, seketika sekujur tubuh Erdo bergetar dan tak berdaya lagi.


" Saya tau Dok." Balas Erdo yang kini tak dapat lagi membendung air matanya.


" Dan semuanya telah menjadi pilihan istri anda Tuan. Maka operasi akan segera di lakukan." Jelas Dokter.


" Ya..." Erdo semakin tak berdaya lagi.


Evans dan Anyer tak mengerti apa maksud ucapan Erdo dan Dokter itu.


" Baiklah, karena waktunya sudah tepat maka operasi akan kami lakukan." Ucap Dokter itu.


Kemudian keluar lah dua orang suster yang mendorong kasur Ria.


" Er...." Ria tersenyum pada Erdo.


" Ri..." Erdo semakin berderai air mata ia menggenggam erat tangan Ria.


" Sudah ku katakan sebelum nya, aku sudah pasrah dan aku telah memilih pilihan terbaik. Ingat janjimu padaku." Balas Ria.


" Ri..." Erdo semakin tak kuasa lagi untuk kuat.


" Anyer... kamu adalah sahabat terbaikku! aku minta maaf padamu, untuk sekarang aku tak akan mampu mengucapkan kebenaran yang terjadi padaku. Tapi kamu akan tahu setelah kamu membaca surat ini." Ria menyerahkan secarbik kertas pada Anyer.


" Apa maksud nya ini Ri? hiks...hiks.." Anyer menerima kertas itu dengan gemetaran.


" Kamu akan mengerti, baca itu setelah aku masuk ke dalam ruang operasi." Ucap Ria sambil tersenyum manis.


" Ria....hiks..hiks..." Anyer langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat.


" Aku tidak punya banyak waktu lagi Nyer.. waktu ku sudah dekat." Ria melepaskan pelukan Anyer dengan lembut.


" Tuan Evans... saya minta maaf jika saya pernah berbuat salah pada Tuan. Saya ingin pergi dengan damai tanpa ada hambatan sedikit pun." Ucap Ria pada Evans.


" Ya..." Evans tak tahu lagi harus menjawab apa.


" Ayo sus.." Titah Ria dan segera Ria pun dibawa masuk ke ruang Operasi.


"RIA!!!!!"


***


like komen dan vote


SALAM^^