
“Wanita gila?” seru Alea.
Pria tampan itu tertawa kecil, kedua matanya menatap gemas pada wanita di sampingnya yang menautkan kedua alisnya.
“Maaf, maksudku wanita gila bernama Veronica. Wanita kelas atas, sosialita terkenal di Roma yang sudah cukup ama ini memburu saudaraku, Evans Colliettie.
“Dia akan memburu saudaraku disaat ada kesempatan.”
Leo mengusap dagunya. “Tapi, anehnya. Saudaraku sendirilah yang sudah melemparkan dirinya sendiri pada wanita gila itu,” ujarnya.
Alea pandangi wajah pria itu yang nampak aneh.
“Wanita itu tidak akan pernah bisa dilepas bila sudah menempel.
“Aku jadi penasaran nanti bila acara pesta ini selesai, bagaimana saudaraku itu akan mengusirnya nanti.
“Aku dengar sih, Veronica ini sulit untuk pergi. Sudahlah, aku pun tidak memusingkan hal itu.
“Entah nantinya bagaimana, tapi sepertinya bila sulit dipisahkan. Bisa jadi bukan kalau mereka pada akhirnya—”
Alea meremas sebelah tangannya, mendadak hatinya resah.
“Bersama, menyusulku,” lanjut Leo.
Leo menatap sejenak ekspresi Alea yang terdiam.
‘Bersama?’ batin Alea seraya menarik napas cepat.
“Mustahil sekali! Pria dingin seperti Evans Colliettie itu akan bersama? Menyusul bertunangan?’ gumam Alea dalam hati.
‘Pria seding Evans dan tidak punya hati itu sudah lebih senang hidupnya sendirian.
‘Pria itu sudah nyaman seperti itu dan harus bersama?’ Lagi lagi Alea mengelak karena dia tahu tabiat seorang Evans Colliettie.
Lima peliharaan di mansonya saja pun hanya diberlakukan untuk mainannya, ya sekalipun hanya ada satu orang yang mencintainya pun bernasib sama diabaikan.
Apa lagi wanita itu?
‘Semua mata wanita begitu memuja seorang Evans Colliettie, tetapi semua itu hanya menjadi objek pelampiasan saja.
‘Secantik apapun wanita itu dan seksi bagaimana wanita bernama Veronica itu.
‘Tetap saja tidak akan bisa memenangkan hati Evans Colliettie yang sudah menjadi baja itu.
‘Pria itu sudah lama hatinya dingin dan tidak bisa disentuh oleh wanita manapun.
‘Bila tetap memaksa, mungkin dia akan bernasib sama dengan wanita lainya sebelumnya. PATAH HATI,’ batin Alea.
Alea menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.
‘Bila wanita itu kuat dengan cintanya, dan ingin Evans menjadi miliknya.
‘Dia harus berusaha sangat keras untuk menjerat iblis itu sampai tidak berdaya,’ sambung Alea dalam hati.”
“Doakan saja yang terbaik untuk tuanmu itu. Aku dan keluargaku tentunya ingin yang terbaik untuk saudaraku yang selalu kesiapan itu,” ungkap Leo.
Alea berikan senyuman tipis. “Aku hanya bisa mengaminkan dan juga ber semoga saudaramu menyusulmu,” jawab Alea, tulus.
“Amin,” jawab Leo langsung.
“Bila nanti kamu bertemu dengan saudaraku di pesta nanti.
“Abaikanlah, anggaplah saja tuanmu itu orang lain dan tamuku juga. Aku pasti yakin dia pun akan bersikap sama seperti itu.”
“Tentunya dia tidak akan menyapaku, bukan? Aku sadar diri kalau ini aku itu pelayan dia,” kata Alea seraya pandangi Leo.
“Lupakan posisimu sejenak di mansion saudaraku untuk malam ini saja. Kamu harus bersikap layaknya wanita bebas, Alea.
“Bila nanti pria itu memarahimu, acuhkan saja. Aku yang akan jadi jaminan nanti setelah kamu pulang ke mansionnya.
“Kamu berhak untuk bersenang-senang di pestaku karena kamu adalah tamu spesialku.”
“Anda selalu berlebihan padaku.”
“Tentu tidak,” jawab Leo kembali mengapit tangan Alea untuk menuju sebuah kamar paling ujung.
“Aku tidak ingin membuat anda dan saudara anda menjadi bersitegang hanya karena pelayan seperti saya.”
“Tidak sama sekali, sudah lah santai saja. Aku selalu bisa mengatasi segala bentuk ancaman dari saudaraku. Tenang saja.”
Tangan Leo turun lalu menggenggam tangan Alea.
“Aku ingin mempertemukanmu dengan seseorang.”
Bola mata Alea mendelik. “Seseorang itu ingin bertemu denganmu.”
“Siapa?”
Leo mengulum senyuman lembut. “Kamu pasti akan tahu siapa,” jawabnya.
Leo membukakan pintu besar tersebut, sejenak kedua mata Alea menelusuri ruangan dimana kini kedua kakinya melangkah.
“Jangan terlalu resah, Alea. Kamu di sini tamuku.
“Kamu akan aman dan tidak ada orang yang akan menghinamu, melukaimu karena tentunya aku akan memperlakukanmu dengan baik. Jadi, nggak usah tegang begitu.”
Degupan jantung Alea berdetak cepat. “Hai,” kata Leo memanggil.
“Nggak usah takut kayak gini. It’s oke.”
“Saya malu karena anda selalu memperlakukan saya berlebihan. Bahkan saudara anda pun sudah memperingati saya kalau saya ini tidak pantas untuk menghadiri pesta mewah keluarganya. Tapi, anda malam—”
“Haish, dasar pria dingin,” gerutu Leo.
Pria itu menggenggam tangan Alea. “Sudah, mulai detik ini jangan pedulikan kata-katanya karena mungkin dia berkata seperti itu karena dia tidak mau melihat pelayan pribadinya berbalut dengan gaun cantik—”
Leo terkekeh menatap Alea yang nampak bingung. “DIa takut terpesona dengan kecantikan kamu di pestaku.”
Alea tertawa pelan. “Mustahil sekali, Tuan. tidak mungkin seorang Evans Colliettie akan terpesona pada pelayan pribadinya.
“Bagaimana make up artis mendandaniku secantik apapun dan gaun cantik nan mewah dan mahal sekalipun yang melekat di tubuhku.
“Tidak akan pernah merubah seorang pelayan seperti ku ini menjadi ratu semalam yang menjerat pria seperti Evans Colliettie si mafia terkejam se-antero Italia,” ungkap Alea panjang lebar seolah menyadarkan Leo tentang dirinya
Leo terkesiap kaget dengan pernyataan Alea. “Hai,” panggilan Leo seraya menatap Alea.
“Dengarkan aku, Alea. Semua perkataanmu itu belum tentu.
“Aku yakin apa dia akan mencintaimu ketika melihat wajah cantikmu ini dengan gaun pilihanku?”
“Ayo kita buktikan,” ajak Leo memberikan semangat penuh pada Alea.
Pria itu pun kembali membawa Alea tepat ke sebuah ruangan depan.
Alea tercengang ketika melihat dua orang di depannya yang duduk dan kini pandangannya berarah padanya.
“Alea?”