
Alea memejamkan kedua mata. Kenapa Evans selalu berada di kepalanya.
Alea duduk di kursi kayu yang berada di balkon kamarnya.
Dia menatap sejenak langit malam. Dalam keheningan, bayangan Evans selalu terekam jelas.
Alea masih teringat bagaimana tatapan membunuh itu dilayangkan padanya. Bahkan pria itu tidak ragu sedikitpun menembakinya tanpa ampun.
“Ya, Tuhan. Kenapa terus ada dia,” batin Alea seraya memejamkan kedua matanya.
Alea ingin semua ingatan tentang Evans dan bayangan menakutkan itu menghilang.
Dia tidak mau lagi mengingat Evans dan Evans lagi.
Akhirnya, Alea memutuskan masuk ketika tubuhnya dingin. Wanita itu pun memberikan tubuhnya sembari memeluk erat tubuhnya sendiri.
Terasa sulit, itu memang. Tetapi, dia memaksakan untuk memejamkan kedua matanya meski kegelapan membawa wajahnya kembali dari hadapan—
Evans Colliettie.
‘Seharusnya kamu tidak usah repot membuang waktumu untuk mencariku keberadaanku, Ev.
‘Sama sekali aku ini tidak ada harganya dan aku pun tidak akan membongkar semuanya. Aku hanya ingin hidup tenang,’ batin Alea dalam hati.
Meski begitu, tetap saja Alea begitu yakin kalau Evans akan selalu mengejarnya.
Dia yakin kalau Evans akan mengirim Mika untuk melenyapkannya sebagai hukuman telah berani menentangnya.
Setelah semua itu terjadi dan berakhir, maka semuanya akan kembali seperti semula.
Evan akan tetap menjadi orang yang sama, The Black Rose sang penguasa dunia gelap yang tidak bisa disentuh sekalipun dengan kehangatan karena sejatinya pria itu sudah sejak kecil membekukan hatinya dan mungkin semua itu akan dibawa sampai pria itu mati.
Seminggu sudah Alea dan Bryan berada di Dagona, San Marino.
Keduanya hidup bak orang normal lainnya tanpa ada ketakutan, tanpa ada ancaman dan tentunya tidak ada bayang-bayang akan kejaran sang Mafia penguasa Italia, Evans Colliettie, sekalipun ya, Alea dan Bryan harus tetap waspada.
Evans terlalu cerdik begitu juga Bryan yang terlalu licik. Pria itu bisa menyewa beberapa orang untuk menjadi sekutunya dan menyuruhnya untuk menjaga rumahnya dengan ketat.
“Bry…”
“Hm, ya. Hone?”
Bisakah Alea memarahi Bryan dengan panggilan itu?
Hh—sepertinya selama seminggu ini meskipun Alea tidak suka dengan panggilan itu. Tetapi, dia hanya bisa diam dan menerimanya.
“Sebenarnya siapa orang-orang itu?” tanya Alea seraya menunjuk dengan dagunya.
Kemana dia pergi bersama dengan Bryan, Alea melihat beberapa orang berpenampilan santai selalu mengikutinya.
Alea sudah lama curiga dan juga penasaran dengan siapa orang yang berada di balik Bryan sebenarnya.
Tidak mungkin dalam sekejap mata Bryan punya banyak uang dan juga punya banyak kenalan karena seingat Alea, dia tidak punya siapa-siapa selain Berta dan juga Antony.
“Ah, dia orang-orang yang aku bayar, Hone,” kata Bryan, santai seraya menggenggam erat tangan Alea.
Bryan dan Alea tengah menikmati berjalan bersisian menyusuri malam di kota Dagona setelah keduanya selesai makan malam di salah satu restoran.
Jujurnya, risih selalu di panggil Hone dan juga sikap manis Bryan yang membuatnya tidak suka. Alea sama sekali tidak punya hati sedikitpun untuk pria itu.
“Sebenarnya siapa yang sudah membantumu sejauh ini, Bry?
“Aku yakin bila kamu tidak punya orang yang membantumu, kita tidak bisa lolos dengan mudah seperti ini dari Evans?”
Bryan berikan senyuman manis pada Alea. “Apa orang yang kamu kenal itu sama seperti Evans berada di dunia kegelapan dan juga dunia hitam?”
“Ah, akhirnya kamu penasaran juga, Al.”
“Aku selalu penasaran, Bry. Apa kamu bisa menjelaskan padaku?” pinta Alea.
“Hm, tentunya aku akan menjelaskan padamu. Oh, ya.
“Bersiaplah, besok kita akan pergi dari sini dan meninggalkan Dagona menuju suatu tempat yang sangat jauh sekali dari Italia. Apa kamu senang?” Bryan mencoba mengalihkan pembicaraan Alea.
“Kita akan meninggalkan Italia untuk selama-lamanya, Al.”
Alea mendengus pelan. “Kamu mengalihkan pembicaraan, Bry? Bukannya sudah waktunya kamu menjelaskan semua ini?”
Bryan menarik lengan Alea agar lebih dekat lagi dengan tubuhnya.
“Ya, Al.”
Bryan menjeda sejenak, Alea menatap serius ingin tahu dengan apa yang sebenarnya pria itu sembunyikan.
“Tentunya selama ini ada.”
Bryan menoleh sejenak. “Dia seorang kenalan lama ayahku yang begitu baik selama ini padaku.
“Dia mengawasiku sekalipun sudah beberapa kali dia memintaku untuk bertemu. Dia menawarkan bantuan padaku bila aku ingin memberontak dari Evans Colliettie.”
Bryan menggenggam erat tangan Alea.
“Dan aku kini menggunakan kesempatan itu untuk bisa pergi bersama denganmu.”
“Kenalan ayahmu? Maksudmu Antony?” tanya Alea, bingung.
Bryan mendengus pelan, pria itu diam tidak menjawab.
“Bry, apa kamu bisa menceritakan padaku. Sebenarnya apa yang sudah terjadi antara kamu dan Evans?”
Bryan berhenti melangkah, lalu berikan senyuman tipis.
“Sesuatu menyakitkan tentunya Al yang sudah lama terjadi antara aku dan pria kejam itu!”
“Aku tahu, ini bukan masalah Lusi adikmu itu bukan?”
Bryan kembali berikan senyuman seraya mengusap rambut Alea.
“Hm, kamu pandai juga.”
Bryan kembali mengajak Alea melanjutkan jalannya.
“Apa kamu ingin tahu, Alea. Aku terlahir dan besar di dalam lingkaran dunia hitam di negara ini.”
Alea berhenti melangkah dan menatap Bryan.
“Ssstt…. Lain kali aku akan menceritakan padamu, Alea. Tapi, tidak sekarang,” sela Bryan cepat.
“Jadi selama ini kamu memendam dendam padanya?” tanya Alea lagi, dengan rasa penasaran yang tinggi.
Bryan menoleh, lalu berikan anggukan pelan.
“Ya. Aku sangat membencinya dan aku senang melihat pria itu menderita. Maaf, aku tidak bisa menceritakan nya hari ini. Tapi, aku janji akan menceritakan padamu, nanti.”
Bryan mengusap punggung tangan Alea.
“Yang lebih pastinya, aku sudah tidak punya siapapun lagi di dunia, Al.
“Yang aku punya dan yang aku perjuangkan kali ini hanya diriku sendiri dan juga—kamu.”
“Jadi, sekarang kamu akan membalas dendam?” tanya Alea lagi.
Sayangnya, rasa ingin tahunya pada Bryan begitu besar. Namun, pria itu tak kunjung menjawabnya.
Pria itu hanya menatap dalam dia membuat Alea mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan pria itu.
‘Sepertinya aku salah. Aku seolah memberi jalan pada Bryan untuk membalas dendamnya pada Evans,’ batin Alea.
Alea tersentak kaget, Bryan menarik tubuhnya hingga tubuhnya bertabrakan dengan bidang dadanya.
“Sssttt… simpanlah rasa penasaranmu, Al. Saat ini, aku hanya ingin focus.
“Aku ingin keluar dari belenggu Evans Colliettie dan bisa hidup bebas bersama seseorang yang aku cintai.”
Alea bergeming, kedua matanya menatap Bryan. Terlihat jelas tekad Bryan yang tersembunyi di balik tatapannya itu.
“Aku ingin—”
“Aaahhh—” jerit Alea keras.
Belum selesai Bryan berbicara, pria itu dengan cepat mendekapnya, memeluknya dengan erat.
Sebelah tangan Bryan melindungi Alea dan satu tangannya dengan sigap menghunuskan senjata apinya yang selama ini selalu dibawa di belakang pinggang.
Bryan dengan sigap menghunuskan senjatanya pada pepohonan tidak jauh dimata mereka berdiri.
Alea mengerjap kedua matanya lambat, dia terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat.
Sejak kapan, pria lemah seperti Bryan kini memegang senjata dan juga awas.
Meski beberapa bulan di dalam The Kingdom The Black Rose, Alea tahu bagaimana pria itu, tetapi kini…
Alea sama sekali tidak mengenal lagi pria itu…
“Keluar kau—” seru Bryan.
Seseorang dari balik pohon pun keluar, betapa terkejutnya ketika dia melihat siapa wujud seseorang yang kini menampakan wujudnya.
“Kau…” desis Bryan.
“Bo—by,” ucap Alea terbata-bata.
Alea melihat pria berpakaian serba hitam dengan jubah panjang. Pria itu berikan senyuman manis padanya.
“Nona Alea…” ucap Bobby membungkukan memberi hormat.
“Syukurlah jika anda baik-baik saja.”
“Kau lolos dari Evans?” tanya Bryan tak percaya.
“Apa kamu terluka, Boby?” balik Alea bertanya.
Dipandanginya pria di depannya, Bobby nampak baik-baik saja.
“Saya seperti yang anda lihat, Nona. Saya baik-baik saja.”
“Bagaimana kamu bisa keluar dari mansion, tuan?” tanya Alea bingung, bukannya mansion Evans dijaga dengan ketat?
“Saya bisa keluar dari mansion Tuan Evans karena saya menyelinap di truk sayuran yang setiap minggu sekali datang.
“Saya tidak sengaja ingin melarikan diri jauh agar tidak ketahuan anak buah, tuan.”
Bobby tersenyum lebar. “Saya tidak percaya kalau saya bisa bertemu lagi dengan Nona Alea.”
“Ck! mustahil sekali. Aku yakin ada orang yang memberitahukan padamu bukan?”
“Hm? Tidak ada!”
“Tidak mungkin semua ini kebetulan,” kata Bryan tidak percaya pada pengakuan Bobby.
“Menjauhlah dari kami dan anggaplah kamu tidak mengenal kami. Aku nggak mau ada orang lain yang ikut dengan kami karena kami akan pergi jauh.”
Bola mata Bobby membulat. “Benarkah? Bolehkah saya ikut?”
“Ck! Kau tetap di sini saja. Aku tidak ingin membawa orang lain cukup hanya aku dan Alea yang akan pergi meninggalkan Italia.”
“Bry, nggak boleh kayak gitu,” kata Alea diringi gelengan.
“Ck! Persetan dengan pria itu, Alea. Aku sama sekali tidak peduli dengan orang lain.
“Terlebih lagi dia adalah salah satu anak buah Evans. Sekalipun dia pernah membantu kita, tetapi kau tidak ingin ada dia bersama kami.
Bobby mendekat, memandangi Alea lekat. “Saya tidak peduli dengan apapun pendapat anda, Bryan.
“Mulai, sekarang ini, saya akan tetap berada di sini Nona Alea. Saya sudah berjanji akan melindunginya.”
“Saya sama sepertimu tidak suka melihat seorang malaikat seperti nona Alea berada di dunia yang gelap dan kejam."
“Kamu terlalu berlebihan Boby. Aku tidak suka,” balas Alea.
“Anda selalu rendah hati, Nona. Saya akan ikut kemana Noan Alea pergi, saya akan melindunginya,” tegas Bobby, membuat Alea menatap Bryan dalam diam.
“Bry…” Alea menatap Bryan yang mentetakan rahangnya.
“Bolehkan Bobby ikut dengan kita?”
“Tidak, Alea!”