Mafia And Me

Mafia And Me
Hal Yang Tak Masuk Akal!



“Maaf, aku belum memperkenalkan diri waktu itu. Mumpung belum basi mengingat ini pertemuan kita yang ketiga kalinya. Tidak salahnya bukan kalau aku memperkenalkan diri?”


“Aku Massimo.”


Alea menjabat uluran tangan pria tersebut.


“Alea.”


“Nama yang cantik, mengingatkan aku pada seseorang teman yang meminta—“


“Kau ada di sini Massimo?” sela Lucas.


Pria itu mendekat dan menghampiri dua orang tersebut.


“Ya. Aku sengaja datang kesini untuk bertemu dengan wanita cantik ini.”


“Kalau kamu mencari Evans, dia tidak ada di sini.”


“Haish, aku tahu itu. Aku datang ke sini pun karena pria itu memintaku untuk mengawasinya.


“Katanya, dia pergi ke pabrik dengan salah satu anak buahnya. Sungguh merepotkan sekali,” gerutu Masimo yang dianggukan Lucas paham.


Tadi pun Evans menghubunginya dan menanyakan wanita cantik berwajah pucat itu.


Hari libur yang membosankan, Alea ingin sekali membunuh waktunya dengan bekerja dan bekerja agar dia bisa melupakan kejadian malam itu,


meski sudah seminggu berlalu tetap saja rasa takut itu masih tersisa, belum lagi bayangan wajah menakutkan itu membuat Alea menghindar dari Evans.


“Nona Alea…”


Alea langsung menoleh ke belakang. “Kenapa ada di sini?”


“Tolong jangan panggil aku dengan embel-embel Nona. Saya bukan Nona kamu. Saya hanya seorang pelayan sama seperti yang lainya. Paham?!”


Pria muda yang tak lain Bobby tersenyum lalu menatap langit yang begitu terang dengan cuaca panas yang begitu menyengat. “Apa yang anda lakukan di sini?”


“Apa kamu tidak melihat kalau aku sedang menanam kembali mawar hitam yang entah siapa perusaknya?”


“Ya, saya tahu. Tapi kenapa anda ada di sini?”


Alea mendengus pelan. “Saya yang mau.”


“Baiklah, sebaiknya anda lekas pergi dari sini. Menurut informasi kalau tuan dalam perjalanan pulang ke mansion. Takutnya beliau melihat dan anda kena marah lagi.”


Alea mengangguk paham. Siap tidak siap akan bertemu dengan Evans, Alea pun membawa perlataan bertaninya di mana Bobby masih berdiri di depannya.


“Nona…” panggil Bobby lagi.


“Astaga. Tolong jangan panggil aku Nona. Alea saja, Bobby!” hardik Alea tidak suka.


“Tidak apa. Anda mau suka atau tidak. Saya akan tetap memanggil anda dengan panggilan tersebut.


Alea mendengus. “Saya ingin mengucapkan terima kasih Nona sudah menolongku waktu itu.”


Alea menatap pria muda tersebut. “Kamu tidak harus berterima kasih kepadaku Bobby.


“Mungkin saja waktu malam hanya sebuah keberuntunganmu saja dan juga hanya kebetulan tuan mau mendengar rengekan dan permohonanku.


“Tuhan masih mengizinkan kamu menghirup udara dan melihat dunia ini,” ujar Alea.


Bobby menghela kembali pandangi Alea di depanya. “Apa nona tahu. Di mansion ini tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan seorang Evans Colliettie?


"Pria itu bisa membunuh bawahannya seperti saya sewaktu malam itu? tidak peduli saya sama sekali tidak bersalah?”


“Apa lagi hanya sebuah rengekkan dari seorang pelayan?!”


“Sudah lama ini tuan kehilangan kemurahan hatinya. Anda pasti tidak tahu, sudah berapa banyak nyawa yang mati di mansion ini karena kemurkaan nya.”


Alea menelan salivanya dalam-dalam. Kenapa Bobby harus mengingatkan dengan kejamnya iblis itu?


Mengingat hal itu, Alea kembali teringat di ruangan kapel bawah tanah.


“Aku tahu itu Bobby. Tuan Evans memang menakutkan.”


“Ya, sangat menakutkan dan akan sangat bagus lagi bila seseorang dengan kepribadian seperti anda menyeimbangi Tuan Evans, mengembalikan sisi kemanusiawinya lagi dan menjaganya dengan cinta.”


Alea menganga sekaligus terkejut akan ucapan Boby. “Apa maksudmu Bobby?”


“Ya, mungkin bila tuan jatuh cinta pada anda maka tidak ada lagi kekejaman pada diri pria itu.”


“Awal pun saya juga berpikir seperti itu, tapi kejadian akhir-akhir ini mengubah pada pandangan saya pada keseluruhan…”


Alea mencoba menembak arah pembicaraan Bobby yang membingungkan.


“Malam itu, saya melihat nona mengikuti Tuan Evans yang mabuk ke kapel.”


Alea terbelalak mendengarnya. Jadi ada seseorang yang melihatnya.


 “Malam itu merupakan malam paling hening yang setiap tahun terjadi di mansion.


"Tuan membiarkan mansionnya tanpa ada penjaga meski sama sekali tidak ada yang menyadarinya.


“Hari yang selalu ditandai dengan kedatangan Taun Leo dan juga Tuan Gabril hari dimana mendiang nyonya Julieta meninggal.”


Bobby memalingkan wajahnya ke samping dan menutup mata sambil berucap lirih.


”Seharusnya, Nona sudah tidak bernyawa saat ini karena mengikuti Tuan malam itu sampai masuk ke kapel.”


Ucapan Bobby seketika menghantamnya dengan bayangan skenario yang seharusnya terjadi.


Tubuhnya sudah pasti akan tergeletak bersimbah darah di ruangan bawah tanah kapel bawah tersebut.


Meski dia berhasil melihat seperti apa wujud dari mendiang nyonya Julieta yang ternyata sangat cantik, itu itu tanpa disengaja.


“Saya ketakutan setengah mati. Saya bahkan berniat menyusul untuk menyelamatkan nona dari Tuan Evans tidak peduli kalau saya yang mati. Tapi—"


Tapi, dia masih hidup. Alea masih bernafas meski Evans memberinya rasa takut sebelum pria itu meninggalkannya begitu saja lalu menghilang selama seminggu ini.


"Alea.”


“Saya permisi dulu nona…”


Bryan menghampiri Alea yang berada di taman terlarang itu. Sejenak, pria itu menatap heran dengan keberadan Boby bersama dengan Alea.


“Ada apa dia menemuimu Alea?”


Alea menghela nafas dalam. “Dia hanya memberitahu bahwa Tuan Evans akan segera kembali dan memintaku tidak berada di taman ini.”


“Iyah Alea kau tidak seharusnya di taman ini. Tuan, tidak suka, ayo pergilah dari sini.


 “Aku sudah membuatkan makanan yang lezat untukmu.”


Keesokan paginya setelah kejadian di kapel itu, Evans memang sama sekali tidak terlihat.


Mendadak melakukan perjalan bisnis ke Negara lain dan tidak bisa dipastikan kapan akan pria dingin itu kembali pulang.


Jejak merah itu tentunya setelah pria itu pergi. Perasaan aneh perlahan merambat dalam hati Alea.


 Kepergian Evans seperti bentuk usaha melarikan diri. Tapi, Evans Colliettie tidak seharusnya melakukan hal itu karena Alea lah yang seharusnya kabur ketakutan setengah mati bila bertemu dengan pria dingin itu.


Di sisi lain, kepergian Evans seperti memberinya waktu untuk menenangkan diri. Alea tidak tahu bagaimana harus bersikap di depan pria itu.


Seminggu ini Alea memilih untuk menyibukan dirinya dengan bekerja bersama dengan Lucas dan juga Massimo yang ternyata masih saudara Evans.


Sedikitnya masalah pabrik tua, Alea kini punya barang bukti akan siapa orang yang dibalik ingin membuat pabrik itu bangkrut.


Dua bulan kurang ini, setidaknya keadaan pabrik membaik dan keuangan pun cukup aman karena Alea sendirilah yang menghandle semua itu.


Itu suatu usaha Alea untuk menjauhkan bayangan malam itu meskipun tidak benar-benar bisa menghilangkanya.


Tatapan bengis dan kalut di mata Evans tidak bisa pergi begitu saja dari pikiranya.


Hatinya begitu terenyuh melihat kesakitan yang terpampang di wajah yang biasanya menampilkan tidak takut akan apapun sekalipun nyawa taruhannya. Tetapi malam itu berbeda.


Evans terlihat tidak berdaya. Alea terus saja membuka apa yang sebenarnya terjadi padanya sampai dibayangi kesakitan yang berusaha keras disimpan di dalam dirinya.


Apa hanya karena dia tidak bisa terima ibunya memiliki anak selain dirinya dan menganggap itu sebuah penghianatan yang tidak bisa dimaafkan?


Alea berpikir, dia sudah bisa menahan rasa takutnya ketika akhirnya berhadapan kembali dengan Evans Colliettie di ruangan makan pribadinya.


Nyatanya salah, tubuhnya bergetar hebat walau hanya menjaga semangkuk sup di tangannya agar tidak terjatuh ke lantai ketika menghidangkanya pada Evans tanpa menatap pria itu sama sekali.


Prank!


Yuk, kasih thor koment yang banyak, like yang banyak dan juga hadiah sekebon. Kalau komentnya banyak Thor tambahin bab lagi deh, hehehe….