
Seminggu kemudian......
" Hans, Hansel sudah siapkah? biar Mommy antar sampai sekolah." Ucap Lea seraya merapikan dasi Hansel yang sedikit miring.
" Sudah donk Mom, Hans sudah siap untuk segera berangkat." Girang Hansel.
" Heheheh, begitu semangat nya ya Hans. Ya sudah ayo kita pergi," Lea membawa Hansel melangkah keluar. Melihat Hansel yang penuh semangat untuk belajar membuat Lea semakin semangat untuk bekerja.
" Mommy, waktu hari kamis kemarin Hans dapat hadiah loh Mom dari Ibu Guru." Kata Hansel setelah mereka masuk kedalam taxi.
" Hadiah? memangnya Hansel menang lomba apa kok dapat hadiah?" Tanya Lea sedikit bingung.
"Iya Mom, waktu itu adalah lomba buat mainan yang terkeren dari kotak kotak plastik. Trus Hans bentuk seperti pistol yang waktu itu di taman bermain. Makanya Hans menang jadi dapat hadiah deh hehehe. Hans hebat kan Mom?" Mata Hansel tampak berbinar bahagia.
Pistol? Hansel mampu membentuk pistol dari mainan plastik. Apa itu sebuah kebetulan atau memang keahlian.
" Iya, Hans memang sangat hebat sekali, Mommy bangga sama Hansel." Puji Lea agar Hansel semakin semangat.
" Makasih Mom, Hans juga bangga punya Mommy." Balas Hansel bahagia. Mendengar itu Lea langsung mengecup kening Hansel dengan penuh kasih sayang.
" Isi hadiahnya apa Hans?"
" Sorry ya Mom, Hans lupa kasih tahu Mommy. Hadiahnya itu pistol mainan Mom, tapi seperti benar benaran pistol pada umumnya. Tapi Hans jarang mainkan Mom, soalnya Hans pengen ngerasain pegang yang aslinya." Jawab Hansel dengan jujur.
' Deg!' Lea seperti tersambar petir seketika mendengar kata kata Hansel untuk memiliki benda berbahaya itu.
" Hans, Mommy sudah pernah bilang kan ke Hansel kalau benda itu berbahaya jika beneran. Jadi Hansel jangan focus kesitu ya nak, Hansel harusnya focus belajar dan menuntut ilmu setinggi mungkin ok."
" Iya Mom,"
' Semakin hari Hansel semakin mempunyai pengetahuan yang sangat dalam dan luas. Bahkan impianya hanya ingin memiliki pistol yang nyata, apa ini adalah sangkutannya dengan Ayah kandung Hansel sebenarnya? jika itu benar, lantas siapa sebenarnya Pria brengsek itu?!' Batin Lea.
Ia juga semakin sering disuguhi dengan pertanyaan dan kenyataan yang sering ia saksikan pada diri Hansel. Bahkan Hansel sering sekali mengunci pintu kamar entah apa yang ia lakukan. Hal itu semakin menambah keraguan dan kecemasan dalam benak Lea.
' Harapan ku hanya satu, jika pun kelak Hansel bertemu dengan Ayah kandung nya setidaknya Hansel bisa memilih untuk bersama ku Ibu kandungnya.' Bisik hati Lea sedikit sedih.
___
" Ibu, Ibu adalah orangtua Hansel kan?" Tanya seorang Guru kepada Lea karena Lea baru saja mengantar Hansel kedalam kelas.
" I,,iya Bu. Ada apa ya?" sahut Lea keheranan.
" Bisa ikut saya ke ruangan saya sebentar?"
" Baik!"
Setibanya di ruangan Ibu guru itu, Lea duduk di hadapan Fita, seenggaknya Lea bisa mengenali namanya dari name tag yang ada di pakaian Ibu Fita.
" Ada apa ya Bu? apa anak saya pernah berbuat kesalahan atau bertengkar dengan temannya?" Tanya Lea ragu.
Ibu Fita tersenyum kepada Lea seraya menggeleng. " Tidak Bu, bahkan anak Ibu adalah murid yang sangat baik disekolah. Setiap hari dia selalu mengerjakan tugas sendirian tanpa mencontek punya temannya sedikit pun." Kata nya.
" Lalu?"
" Begini Bu, dari beberapa orang Guru disekolah ini semuanya menyukai Hansel. Dan kata Kepala sekolah Hansel diterima di sekolah ini dengan beasiswa yang diberikan karena prestasi Hansel yang sangat tidak terduga oleh para guru guru." Jelas Ibu Fita dengan ramah.
Lea sungguh terkejut akan hal itu, dia benar benar bahagia sekali, sangat bahagia.
" Benarkah Bu?"
" Iya Bu, dan saya harap Ibu bersedia menandatangani surat pernyataan bahwasanya anak Ibu telah meraih prestasi dan beasiswa di sekolah ini." Ucap Fita seraya menyerahkan secarbik kertas dengan pena.
" Terimakasih Bu." Lea berjabat tangan dengan Ibu Fita.
" Sama sama Bu, semoga Hansel tetap pada prestasi nya ya Bu."
" Amin,,, itu pasti Bu, pasti!"
" Ayo Bu," Ibu Fita melangkah lebih dulu meninggalkan ruangan tersebut.
' Ya Tuhan, terima kasih banyak. Aku percaya pasti semuanya ini sudah engkau rencanakan.' Batin Lea.
__________
Disisi Lain....
" Tuan, kami sudah menemukan beberapa informasi terbaru." Orang orang Edward menyerahkan satu map berwarna hitam kepada Edward.
Sejenak Edward pun mengahlihkan perhatian nya dari pistol yang ia rakit. Ia membaca dengan teliti tanpa terkecuali.
" Jelaskan dengan baik!" Tegas Edward.
" Yang memasuki kawasan Tuan hanya dua orang saja. Dia adalah seorang wanita dengan seorang anaknya. Masih dititik itu yang mampu kami dapatkan Tuan, jejak selanjutnya akan kami selidiki lebih lanjut lagi." Jelas orang itu.
" Teruskan penyelidikan kalian sampai benar benar bisa melihat langsung wanita itu."
" Lalu bagaimana dengan penyedilikan mengenai kejadian lima tahun yang lalu?" Tanya Edward.
" Maaf Tuan, kami tidak bisa menemukan gadis itu lagi. Waktu itu kami California dan sudah bertanya dengan pemilik Bar itu siapa yang memasuki kamar Vip sewaktu bersama dengan Tuan tetapi dia tidak tahu. Kami bahkan sudah sampai mengancam Manager Bar itu, namun tetap saja mereka juga tidak tahu siapa yang bersama anda malam itu. Apakah ada sedikit tanda tanda yang Tuan ingat saat bersama dengan wanita itu?atau tanda tanda apa yang sedikit terkesan untuk dijadikan sebagai cara terkuat dan termudah untuk menemukan wanita itu. Coba Tuan ingat ingat kembali."
Edward terkesiap, mengacu kembali ingatannya pada kejadian lima tahun yang silam. Mengingat apa saja yang ia lakukan pada gadis itu, kepala Edward menjadi sedikit sakit untuk mengingat itu. Namun sebisa mungkin ia terus memacu kembali ingatan nya tetapi tak kunjung ia ingat lagi.
" Saya tidak bisa memacu kembali kejadian itu." Kata Edward putus asa.
" Lalu bagaimana lagi caranya kita lakukan Tuan?" Orang orang Edward juga menjadi putus asa. Pupus sudah semua teknik mereka untuk menemukan gadis itu.
Edward kembali terdiam berusaha untuk terus mengingat ngingat, sampai tiba tiba ia mengingat sesuatu.
" Liontin! ya liontin! kalung dengan liontin perak dibawahnya berbentuk hati. Iya, itu yang dapat saya ingat," ucap Edward tiba tiba.
" Baiklah tuan, setidaknya ada pentujuk baru."
" Iya,"
Orang orang Edward pun melangkah pergi untuk menyelidiki lebih dalam lagi semuanya itu.
"Eder," panggil Edward.
" Iya Tuan,," Eder menyahut seraya melangkah mendekat pada Edward.
" Tidak jadi!" kata Edward sehingga membuat Eder berdengus kesal.
' Siapa sebenarnya gadis waktu itu? argggg!! aku sangat bodoh, aku pikir dia adalah gadis murahan ternyata dia masih perawan bahkan bercak darahnya masih terlihat jelas di sprei putih itu.' Batin Edward merasa bersalah.
****
Like komen dan vote
SALAM ^^