
Alea membeku di depanya dan bergumam di dalam hatinya.
‘Apa sekarang giliranku? Hari kematianku di tangan sang devil?’
Setelah Evans menghabisi semua musuh-musuhnya tanpa ampun dan tanpa belas kasih.
Kini pria itu mengarahkan tatapan bengisnya ke arah Alea yang terlihat begitu ketakutan di hadapannya.
Salah sendiri, dia itu percaya pada Bryan dengan semua janji manisnya.
Ternyata Bryan mempunyai tujuan untuk memanfaatkannya membalas dendamnya dan menjadikan dia umpan untuk menjebak Evans.
Wajar bukan bila Evans terlihat marah besar?
Seharusnya Evans tidak perlu repot datang ke sini hingga berakhir mendapatkan luka-luka di tubuhnya.
Tidak hanya luka tembak saja yang pria itu dapatkan, tetapi luka tikam dan juga pukulan yang terlihat menyakitkan yang membuat semua tubuhnya berdarah.
Alea hanya bisa mengatupkan bibirnya seraya menatap Evans dengan linangan air mata. Dia sedih melihat keadaan Evans saat ini.
Evans berjalan sempoyongan dan mendekat Alea. Dia berdiri tidak jauh di depannya masih dengan memegang senjata api di tangannya.
Alea menengadahkan kepalanya ke atas agar ia bisa melihat wajah Evans lebih jelas lagi. Evans terlihat murka dan juga sangat menakutkan yang saat ini Alea biasa tangakp di wajah Evans Collietttie.
Bola mata Alea membulat seiringi pria itu mengarahkan senjatanya tepat di kepalanya.
Alea bergumam lagi di dalam hatinya. ‘Apa kini sudah waktunya? Giliranku mati?’
Alea tidak tahan melihat bola mata yang memerah nampak begitu dingin. Dia memilih untuk menundukan pandangannya seraya memejamkan kedua matanya.
“Aku minta maaf padamu, Ev.”
Alea menarik nafas sejenak. “Untuk semua yang telah aku lakukan padamu.”
Alea membasahi bibirnya yang kering. “Aku mengakui kalau aku banyak salah padamu.”
Alea kembali menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan tanpa mampu dia menatap sang devil yang tengah murka.
Sekali lagi, Alea pasrah. “Aku hanya bisa mendoakanmu. Semoga kamu selalu bahagia di suatu hari nanti,” kata Alea, pelan.
Dia sudah pasrah bila akhirnya inilah kematinya berada di tangan Evans Colliettie.
Dor!
Dor!
Dor!
Tak!
Tak!
Tak!
Suara tembakan itu dan juga suara besi yang terbuka membuat Alea menahan nafasnya. Kedua tangan dan kaki merasa panas, namun dia tidak merasakan apapun sakit tertembus timah panas.
Alea merasakan tubuhnya baik-baik saja, sama sekali tidak. Namun, bunyi besi yang mengikat kedua tangan dan kaki terasa longgar.
Dia langsung menoleh untuk memastikan dan di lihatnya ke samping kanan dan kirinya. Bola matanya melebar begitu pun juga bibirnya yang menganga ketika melihat kedua tangan dan kakinya kini terlepas dari rantai besi yang di hubungkan ke dinding.
Alea mengangkat wajahnya dan menatap bingung di mana pria itu masih berdiri mematung di depannya.
Pria itu mengeryit, kesakitan dan Alea diam tidak mengalihkan pandangannya.
Tatapan sendunya di matanya membuat Alea lagi hanya bisa diam dan diam. Entah dia harus berkata apa pada Evans.
Pria itu kembali melangkahkan kakinya maju mendekat. Dia menjatuhkan senjata apinya begitu saja.
Kedua kakinya menekuk bergantian sampai Alea di buat tercengang ketika Evans bersimpuh di depannya.
Sungguh, Alea tidak mengerti apa yang dilakukan pria itu. Namun meski bingung akan apa yang dilakukan Evans. Rasanya Alea ingin sekali, menghapus pilu dan juga darah di wajahnya.
Tetapi, Alea menahanya mati-matian. Alea hanya diam tanpa ada satu kata pun yang keluar diringi tak lepas kedua matanya menatap Evans di depanya.
Pria itu perlahan menutup matanya, menudukan kepalanya ke bawah hingga ujung kepalanya menyentuh bahu Alea dan rambutnya menggelitik ujung bahunya.
“Aku sudah tidak sanggup menahanya kembali,” lirih Evans.
Terdengar begitu pelan mungkin hanya Alea yang bisa mendengarkan bisikan itu.
“A—apa?” ucap Alea terbata-bata.
“Maksudmu, Ev?”
Bolehkah Alea tidak percaya dengan semua di depannya ini?
Bagaimana seseorang yang mempunyai martabat juga harga diri yang tinggi seperti Evans Colliettie, Mafia kejam Seantero Italia menundukan kepalanya di hadapanya. Sungguh tidak pantas bukan?
“A-apa maksudmu Evans?” tanya Alea kembali. Dia tidak mengerti akan ucapan pria itu.
“Kita akan segera menikah.”
Sontak mulut Alea menganga, lebar. Kedua matanya mendelik menatap pria yang tertunduk itu dengan ekspresi bingung.
“Kamu akan menjadi istriku. Nyonya Colliettie satu-satunya."
‘Segera menikah? Dengannya?’ batin Alea.
Deguan jantunganya sangat cepat berdetak.
Entah kini Alea berpijak di dunia khayalan atau dunia nyata. Sungguh sesuatu ini seperti di alam mimpinya.
“Ta-tapi. Ev—”
“Tidak ada tapi-tapian, Lea!” suara itu terdengar lembut namun juga tidak bisa dibantah.
“Jika kau menolakku—” ada nada ancaman yang Alea bisa tangkap.
“Aku akan membunuh semua penghuni mansionku tanpa terkecuali dan termasuk—Mika.”
Alea ternganga. Maksudnya?
“Agar kamu merasa kasihan padaku yang hidup sendirian dan kesepian.”
Alea menatap Evans tak berkedip. “Aku ingin kamu menjadi istriku, Lea.”
“Ka-mu—"
Alea masih bingung dengan semua perkataan Evans.
“Ya!”
Evans berikan anggukan, mantap. “Aku mengancamu. Jika itu satu-satunya agar kamu mau bersedia menikah denganku dengan suka rela mau menjadi istriku. Aku tidak main-main, Lea.”
Alea menarik nafas dalam-dalam. “Bila hal itu bisa membuatmu selalu berada disisiku. Maka aku tidak akan pernah ragu melakukannya.”
“Apa kamu sudah gila, Ev?” tanya Alea.
Bukan memberikan jawaban namun wanita itu justru mengatainya. Beginilah kalau sang devil yang kaku dan tidak tahu mengenal cinta.
‘Ya Tuhan apa pria itu melamarku?’ batinnya.
‘Bila benar. Lamaran macam apa ini?’ Alea menatap manik mata indah Evans.
‘Astaga. Terdengar begitu indah bila diutarakan oleh seorang mafia kejam seperti Evans Colliettie yang menakutkan,’ batinya.
“Ya, aku gila dan itu karenamu, Lea!”
Alea mengerjapkan matanya lagi. Entah kenapa udara mendadak menghilang. Dia butuh oksigen untuk memenuhi paru-paru dan juga otaknya untuk menyerap perkataan pria di depannya.
“Aku tidak bisa menahan lebih lama lagi, Lea.”
“Menahan apa?”
“Menahan keinginanku yang kuat untuk menjadikan kamu miliki sepenuhnya.
“Kamu begitu mengganggu pikiraku sampai rasanya aku hampir gila dibuatnya. Kamu tidak tahu bukan, Lea?”
Alea mengatupkan bibirnya, mengulangi kembali semua yang sudah terjadi bersama dengan Evans.
Sejak kapan Evans merasa terganggu dengan kehadirinya. Kehadiran sosok wanita bodoh?
Ada satu pikiran yang begitu saja tercetus. Bila Alea menerima lamaran seorang The Black Rose, dia tidak tahu akan kiash cintanya ke depan bagaimana.
Menjadi seorang istri dari Evans Colliettie yang tidak bisa mendekati kata damai dan tenang, karena kehidupan Evans yang keras, gelap dan juga menakutkan.
Tapi, bila Alea di suruh menjauh dan menolak semua keinginan pria itu. Entah kenapa rasanya—
Alea tidak rela.
“Apa kamu tidak jadi membunuhku seperti niatmu tadi?” tanya Alea, masih bingung dengan semua ini.
Ah, Evans memang tidak salah menjuluki Lea nya dengan nama wanita bodoh. Wanita itu sama sekali tidak menyimak dan mencerna perkataanya sejak tadi.
“Kamu ini memang wanita bodoh, Lea. Namun, juga lucu!”
Bahu Evans sedikit terguncang, mungkin. Evans mempertawakan calon istrinya.
“Aku mati-matain berdebat dengan diriku sendiri sejak kamu pergi jauh dari jangkauanku hingga aku mengikuti si brengsek Bryan yang akhirnya aku datang kemari melupakan akal sehatku. Dan kini kamu bertanya seperti itu, hm?”
Alea menelan ludah. “A-aku—"
“Bahkan kamu sempat-sempatnya meminta maaf padaku dan mendoakan untuk kebahagianku tadi,” selanya.
“Kamu membuatku terlihat seperti iblis yang kalah telak di depan malakat sepertimu, Lea! Tetapi memang seperti itu kenyataanya.
"Aku dengan tanganku sendiri mencoba menghilangkan batasan itu. Aku akan tetap menjadi iblis agar tidak ada yang bisa menyentuh my angel dalam pelukanku.”
Alea terisak. Kenapa perkataan Evans yang terdengar begitu indah meski mengerikan. Hanya Evans yang bisa membuatnya terkesan seperti ini.
Dengan perlahan Alea mengangkat kedua tanganya dan membawa kepala Evans kedalam pelukannya.
“Ev—”
Alea menjeda sejenak. “Aku tidak tahu apa aku pantas menjadi istrimu, pendamping hidupumu?
“Entah apa aku bisa bertahan mendampingmu karena aku hanya wanita yang lemah, Ev,” bisik Alea.
Evan memeluk Alea erat hingga menghapus jarak diantara mereka membuat wajah Evans bersembunyi di bahu Alea.
“Apa kamu nanti akan percaya kepadaku? Akan semua yang aku katakan?”
Jantung keduanya seolah berdetak seiriama.
“Setelah apa yang semua terjadi padamu dan ketika aku bertemu dneganmu. Kamu sebenarnya wanita yang kuat, Lea.”
Alea diam. “Kamu tidak perlu mencemaskan semua itu dan apapun itu, karena aku yang akan berdiri menjadi tameng untukmu. Kamu cukup selalu berada disisiku, menemaniku saja!”
Alea memejamkan matanya, ia tidak tahu harus mengambil keputusan apa untuk Evans.
Evans menarik kepalanya mundur. Alea kembali membuka matanya dan bergeming melihat tatapan yang lembut.
Kekejaman dan dinginya wajah itu seketika menghilang. Bahkan wajahnya selalu membuat orang takut yang selama ini menghiasanya pun membuat Alea tercengang ketika menemukan pria itu tersenyum hangat nan mempesona untuk pertama kalinya.
Kedua tangan Evans menagkup wajah Alea dan menatapnya dalam.
“Aku—”
“Evans Colliettie, The Black Rose dari Napoli Italia, menawarkan kesetian padamu sampai mati, Alea Anjanie.”
Alea lebih dari tercengang mendengarkanya. “Penyerahan total seluruh eksitensi hidupku!"
Evans maju dengan mencium kening Alea dengan lembut. Kecupan itu menyentuh sampai ke dasar hati Alea yang paling dalam kemudian memeluknya dengan erat.
Untuk beberapa saat Alea hanya diam, sampai akhirnya memeluk kembali Evans dengan linangan air mata meski kepalanya berdenyut nyeri kembali yang sejak tadi diabaikan.
“Kita akan berjumpa kembali Alea.”
Evans tertawa pelan nan bahagia sekalipun diirnya terluka.
“Kita akan berjumpa lagi Di mana nanti aku melihatmu memakai gaun indah seperti ratu.
“Ratu dari The Black Rose. Mrs Colliettie. Aku akan menunggumu tepat di depan penghulu,” lirih Evans. Pria itu mulai batuk-batuk.
Alea hanya diam tersenyum lembut menatap Evans dengan pandangan Alea yang mulai mengabur.
Tubuh Evans yang memeluk Alea pun mulai goyah. Pertahanya mulai melemah hingga ambruk ke samping membawa Alea bersama dengan sama-sama keduanya tidak sadarkan diri sembari berpelukan.
Namun kali ini Alea merasa hatinya tenang meski tubuhnya kesakitan karena rasa aman yang begitu hangat melingkupinya meski Alea tahu dunianya tidak akan pernah terang.
Sebelum kesadaran keduanya mulai berganti menjadi gelap.
Alea mendengarkan lembutnya suara yang tak pernah dia dengar dari mulut tajam Evans Colliettie.
“Aku mencintaimu, Alea Anjanie.”
TAMAT