Mafia And Me

Mafia And Me
Tidak Punya Perasaan!



“Huuh, sudah tidak aneh lagi,” batin Alea di dalam hati.


Setelah kejadian itu, Alea pulang ke mansion Evans berikut juga dengan Mika. Melihat Mika yang kembali pada settingan pabrik, Alea paham.


Tidak hanya Mika, Evans pun sama. Kedua orang yang sama itu kembali pada semula. Tak ingin pusing memikirkan kedua orang tersebut yang sehari ini aneh, Alea lebih memilih masuk ke dalam kamarnya dengan membawa barang belanjaan.


Tugasnya sebagai pelayan pribadi Evans belum selesai, setelah lelah seharian dan juga tubuh yang sakit karena berkelahi Alea pun harus menyiapkan kebutuhan mandi tuannya itu dan tak lupa pakain tidur yang akan di kenaikan oleh pria itu setiap harinya.


“Aku siapkan air hangatnya untuk di mandi, keburu masuk belum di siapkan nanti marah, lagi,” kata Alea dalam hati.


Evans kini sudah terbisa apapun itu minta di layani dengan sangat baik, termasuk semua kain yang menempel di tubuh pria itu pun harus Alea lah yang menyiapkannya.


“Tuan,” gumam Alea tersentak kaget.


Melihat raut wajah Evans yang tidak bisa, Alea menundukan pandangannya bersamaan keduanya sama-sama pergi di tempat tersebut. Evans masuk ke dalam kamar mandi sementara Alea masuk ke dalam kamar untuk menyimpan pakain tidur Evans di atas ranjang.


“Lebih baik diam. Anggaplah kebaikan mereka berdua itu sebagai mimpi yang tidak akan datang lagi,” batin Alea.


Dia berjalan menuju walk in closet dan mengambil pakaian milik Evans. Devil itu sudah terbiasa minta dilayani dengan sangat baik, hingga semua kain yang menempel di tubuh pria itu, Alea lah yang menyiapkannya.


Beberapa menit kemudian, Alea kembali ke dapur dan mengambil troli yang sudah disiapkan oleh Joe untuk makan malam tuannya.


“Terima kasih atas kebaikan anda hari ini memberikan saya untuk berbelanja.” Alea memberikan kartu hitam tersebut di samping meja makan di mana pria itu tengah menyantap makan malam.


Evans masih sama, wajahnya begitu terlihat dingin dan juga datar. Pria itu sama sekali menoleh apalagi menjawab perkataan tersebut.


Merasa, diabaikan Alea memutuskan untuk berdiri di sampingnya sampai acara makan malam Evans selesai dan memang itulah pekerjaanya.


Wanita itu cukup meremas kedua tangannya, sekalipun ingin sekali dia menggaruk punggungnya yang gatal. Bisakah Evans sehari ini memberikan dirinya istirahat karena setiap harinya dia bekerja sampai jam dua belas malam.


 “Jangan pernah bermimpi kalau aku mudah dikendalikan olehmu Alea. Kejadian kemarin itu hanya sebentuk imbalan karena aku tidak mau kamu mati sia-sia dan sebelum membantu Lucas dan mengembalikan pabrikku. Aku tahu kemampuanmu.”


“Dan satu hal lagi.” Evans mengangkat pandangannya lalu menatap Alea. “Jangan punya persepsi yang tidak-tidak padaku karena aku sama sekali tidak punya perasaan apapun pada k—”


“Saya sudah tahu Tuan. Jadi anda tidak harus ingatkan dan ulangi lagi!” sela Alea cepat.


Alea mundur selangkah dan membiarkan pria itu untuk menyantap makan malamnya. Alea hanya menundukan wajahnya menunggu sampai benar-benar Evans pergi dari meja bundar tersebut.


Rasa lelah seharian ini ditambah dengan tubuh yang begitu sakit habis berkelahi pun diabaikan oleh Alea, dia harus kuat mengabdi sebagai pelayan pribadi Evans Colliettie.


Waktu tak terasa, tiga minggu sudah Alea menjadi pelayan pribadi Evans Colliettie. Seperti yang pria itu katakana, kemana dia pergi Alea harus ikut dan ada. Apa yang diperintahkan oleh tuannya itu harus dilaksanakan tak peduli bagaimana keras nya Alea berpikir akan sikap Evans.


Ternyata sikap diamnya, keras, acuh, kejam dan juga dingin hingga menakutkan itu hanya sebuah perisai saja.


Selama tiga minggu dia tahu, pria yang tidak gentar akan kematian itu ternyata lebih takut bila hatinya menderita seperti kejadian waktu itu. Sikap Evans yang langka itu, pria itu kembali mengeraskan hatinya agar tidak bisa disentuh oleh siapapun.


Meski demikian, Alea justru bisa melihat celah dengan jelas bayangan rasa kesepian yang terpangpang di matanya.


“Apa kau sedang diet?”


Evans mengiris potongan daging lalu memasukan ke dalam mulutnya, pria itu berbicara tanpa melihat si lawan yang berdiri di sampingnya.


“Tidak!”


“Apa pekerjaanmu begitu berat hingga aku lihat kamu semakin kurus!”


“Anda sungguh sangat perhatian pada pelayan pribadi anda, Tuan.”


Evans menarik sudut bibirnya ke samping, lalu berdecak lidah.


Padahal mantan pelayan pribadinya itu pun berkata, kalau Evans lebih suka melakukan semuanya dengan sendiri. Tapi, kini pria itu bak seperti bayi besar yang harus dilayani semua kebutuhannya.


“Tumben, sudah sebulan lebih ini pria itu lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja dan juga Evans lebih suka berada di pabrik tua. Sebulan lebih ini pria itu tidak menyentuh para wanita peliharaanya,” batin Alea dalam hati.


“Selamat malam, Tuan.”


Evans berikan anggukan pelan, Mika berjalan mendekat. Anak matanya melirik sejenak pada Alea yang berdiri bak patung di samping tuannya, sedikit banyaknya wanita bodoh itu kinit ahu apa saja yang dilakukan oleh seorang Mafia, Evans Colliettie.”


“Ada yang ingin saya laporkan,” kata Mika seraya berdiri di depan Evans.


Mika langsung melaporkan beberapa usaha milik Evans yang tersebar di Italia dan juga negara lain. Baik legal maupun ilegal semua ada di dalamnya, namun yang lebih sering diperhatikan bisnis ilegal yang banyak membutuhkan perhatian khusus karena resikonya tinggi.


“Begitu saja tanpa ada hambatan?”


“Ya, Tuan.”


Evans menarik sudut bibirnya ke samping. “Aku pikir, kita akan mendapatkan kesulitan di perjalanan bila melihat keadaan negara X tersebut yang tengah panas. Tidak aku sangka bisa berjalan semulus ini.”


“Ya, sepertinya begitu. Mereka terlihat sangat membutuhkan barang kita.”


Evans mengangguk pelan, seraya menyesap wine lalu menyodorkan ke samping seraya meminta Alea untuk menuangkan kembali.


Alea mendengus pelan, padahal botol wine itu berada di depan matanya. Tetapi, bayi besar itu kembali manja dan ingin di tuangkan. Entah, kenapa kini mafia itu jadi pemalas dalam waktu satu bulan lebih ini.


Alea mendekat dan menuangkan kembali, mendadak pikirannya teringat sesuatu. Mansion kali ini begitu tenang meski pelaku perusak mawar kesayangan itu belum diketahui. Anehnya, sepertinya pria itu tengah menunggu sesuatu.


 “Apa ada lagi?” tanya Evans pada Mika.


“Tidak ada Tuan,” jawab Mika.


Sebenarnya, dia ingin menanyakan sesuatu hal akan Alea. Tetapi, melihat wanita itu berada di dekat tuannya dia tidak berani dan memilih untuk mengurungkan niatnya.


“Ah ya, Mika—“


Evans memanggil Mika yang hampir sampai pintu, wanita berpakaian serba hitam itu pun berbalik badan.


“Panggilkan Carla, dan suruh wanita ****** itu menungguku di ruangan bermain.”


Alea berkerut di dalam hati, baru saja dia mengatakan heran akan sikap Evans yang sudah lama tidak bermain. Eh, baru saja lidahnya belum kering, akhirnya pria itu tidak bisa menahan nafsunya lebih dari sebulan lebih. Evans kembali menggilai wanita jalangnya.


“Baik, Tuan,” ucap Mika seraya berlalu pergi.


Evans menyandarkan punggungnya seraya menghabiskan sisa wine yang tersisa seraya berpikir sejenak. Saat gelasnya kembali kosong, Alea maju mendekat dan menuangkan.


“Jam dua belas malam—”


Alea terdiam di tempatnya, Evans bangun dari duduknya lalu menatap sejenak wanita itu.


“Siapkan air hangat untuk aku mandi dan jangan lupa winenya. Bila sudah semua siap keluarlah dari dalam sana.”


Alea menganggi paham. Berta pernah bercerita kalau Evans sering berendam tengah malam di pusaran air dingin jika pria itu selesai bermain dengan wanita jallangnya.


“Saya akan laksanakan, Tuan.”


Evans menatap Alea, tatapan itu sama seperti biasanya dingin dan juga hampa. “Kau berguna juga menjadi pelayan pribadiku, Alea. Tetap seperti ini diam dan patuh pada perintahku.”


Alea tidak menjawab, dia hanya dia menatap hingga pria itu benar-benar pergi dari dalam ruang kerjanya.