Mafia And Me

Mafia And Me
Seandainya



“Hai, Luc.”


Alea menyapa Lucas yang baru saja turun dari dalam mobil dan menghampirinya.


Alea nampak menarik napas pelan. Seminggu sudah kejadian itu berlalu yang diiringi kematian Juliana yang menyedihkan dan juga, terbongkarnya, LUKA.


Anehnya, pria itu mendadak pergi begitu saja yang entah kemana bersama dengan kaki tangannya yang cantik yang sama berhati dingin.


Evans seolah menjauh, seperti kejadian waktu lalu.


 “Hai. Are you, ok?”


“Ya,” jawab Alea pendek seraya menarik napas kembali. Lucas membuka pintu mobil sampingnya untuk Alea masuk.


“Terima kasih Lucas,” ucap Alea seraya masuk kedalam mobil SUV.


Entah kenapa Alea kini jadi sering memikirkan Evans.


 Apalagi kepergian pria itu yang sudah seminggu ini membuatnya tidak tenang. Alea tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri kali ini.


Terakhir kali iblis itu terlihat sangat menyedihkan.


Alea tak tenang dan selalu heranya selalu mencemaskan pria itu sekalipun dia tahu kalau pria itu bukan orang yang harus dicemaskan.


 “Apa kamu ada masalah?”


“Hmm?” jawab Alea dengan berdehem.


“Sejak tadi aku lihat kamu terus melamun, Alea.”


Ya, dia akui melamun. Itu semua karena Alea terlalu berlebihan ingin tahu dengan keadan pria dingin yang sudah membuka secara tidak langsung kesedihan yang selama ini ditutupi rapat-rapat.


Dia tahu kalau ini berat bagi pria itu memendam semua kesakitan yang dalam dan membuat Evans berubah total.


 Apa mungkin sebenarnya pria dingin itu tidak seseram apa yang ditampakkan?


 “Astaga, Alea…”


“Ya, Luc. Ada apa? Kamu mau tanya apa sih,” omel Alea menatap Lucas.


“Kamu lagi pms ya Al, sampai kamu marah-marah kayak gini.”


“Sudahlah nggak usah dibahas. Cepet jalan saja, aku banyak kerjaan juga,” ujar Alea seraya mendengus pelan.


Yang ingin Alea lakukan ini saat ini yaitu berteriak sekencang-kencangnya. Dia ingin otaknya ini tidak terus memikirkan devil itu.


Tak perlu harus di mencemaskan berlebihan, karena pria itu tidak akan mudah mati.


Mati mengenaskan walau hanya sebuah luka yang baru terbuka, itu mustahil bukan?


“Ya Tuhan, seandainya kesakitan itu tidak datang menghampirinya. Evans akan hidup seperti manusia normal di luar sana bukan?


“Dia akan menjadi sosok pribadi yang baik. Hidup bahagia bersama dengan seorang yang dia cintai.


“Tidak seperti sekarang ini yang menjadi pembunuh berdarah dingin tak punya belas kasih,” gumam Alea dalam hati.


“Bila hatinya terluka, kenapa dia harus menghilang lagi seperti yang sudah pernah pria itu lakukan sebelumnya?” batin Alea seraya menarik napas dalam.


Sorot mata indah yang penuh luka begitu saja mampir kembali ingatannya.


Ternyata seperti inilah seorang Evans Colliettie begitu merasakan hatinya.


Ternyata mengungkapkan luka itu, pria itu membutuhkan pengorbanan yang besar di mana semua orang tentunya ingin melupakannya. Melupakan hal yang paling sakit di dalam hidupnya.


“Kamu ini yah, bukannya berterima kasih sudah menjemputku. Eh, tapi malah mengomel. Dasar wanita!” gerutu Lucas masih.


Alea menarik napas pelan, lalu menoleh ke samping. “Ya. Aku lupa, terima kasih Lucas sudi menjemputku,” ucap Alea.


Lucas mendengus pelan. “Sudah telat. Ya, sudah ah, kita berangkat saja,” kata Lucas seraya menghidupkan mesin mobilnya.


Lucas dengan reflex menurunkan kaca mobilnya.


“Ada apa?”


“Saya ingin bicara dengan Nona Alea.”


Sang empu langsung menoleh, lalu menengadahkan kepalanya ke atas pandangi pria bertubuh besar di depannya.


“Saya Alea. Anda siapa?”


“Saya aspri, Tuan Leo. Beliau meminta saya untuk menjemput anda, Nona.”


“Jemput?” seru Lucas bersamaan dengan Alea.


Dua orang itu saling bersitatap yang menunjukkan ekspresi bingung. Lucas langsung turun dari dalam mobil begitu juga Alea.


“Leo?” ulang Lucas.


Pria itu berikan anggukan pelan, membenarkan. “Tuan Leo ingin bicara dengan anda,” kata Aspri atau asisten pribadi Leo.


Lucas dan Leo saling berbicara di panggilan tersebut. Pria itu memang berharap Alea datang di pestanya.


“Orang-orang itu benar suruhan Leo. Dia meminta kamu untuk datang ke Roma.”


Alea terdiam seraya berpikir. Dia, dilemma. Satu sisi Alea ingin sekali pergi ke pesta itu melepaskan penat.


Namun, sisi lainya dia takut Evans akan lebih murka karena dia pergi ke pesta Leo tanpa seizinnya.


Evans tidak sudi ada satu acara dengan pelayan sepertinya.


“Berdebat dengan Devil itu melelahkan jiwa dan pikiranku,” batin Alea.


“Tunggu apa lagi, hm? Pergilah,” ucap Lucas.


Alea menggeleng pelan. “Aku tidak mau tuan akan semakin murka padaku karena aku melanggar peraturannya, Luc.


“Dia sudah mengatakan padaku, dia tidak akan mengizinkan aku untuk pergi ke pesta itu.”


“Ya, karena pria itu tidak ingin kamu kabur dari cengkeraman. Kamu ini wanita pandai dan juga cerdik. Itulah yang ditakutkan pria itu.”


Alea mendengus pelan, lagi lagi kabur. “Aku nggak bisa katakana saja. Aku masih ingin hidup.”


“Aku paham. Tapi, sekalipun Evans tidak akan memberikan izin padamu untuk ke pesta itu.


“Leo meminta asprinya dan anak buahnya untuk menculikmu—membawa paksa kamu bila kamu tidak mau ikut,” ungkap Lucas sama persisi yang dibicarakan oleh Leo.


Alea membuang napas berat. “Ikutlah dari bersama dia, kamu tidak mau juga bukan ada pertumpahan darah lagi disini.”


 Lucas menunjukkan dengan dagunya beberapa anak buah Leo yang kini datang dan mengelilingi para anak buah Evans yang telah siap.


Alea memutar bola matanya kesal. “Aku akan menghubungi Evans dan bicara perihal ini.


“Ingat pesanku, jangan melarikan diri karena aku menaruhkan kepalaku di sini pada devil itu,” kata Lucas mengingatkan.


Tentunya, mengizinkan Alea pergi dari cengkeraman sang iblis itu bukan hal mudah.


Tentunya ada nyawa nya sebagai jaminan bila wanita yang entah siapanya itu melarikan diri.


“Pria itu bisa membunuh siapapun, Alea. Sekalipun keluarga dekatnya.”


Akhirnya Alea pasrah dan ikut bersama dengan aspri Leo ke Roma. Sepanjang perjalanan tentunya rasanya campur aduk.


Alea dilanda kecemasan, takut dan juga rasa ingin bertemu dengan pria itu.


Sudah pasti bila Evans tahu dia pergi, Lucas lah yang akan mendapatkan hukuman karena sudah membiarkannya pergi dengan orang suruhan Leo.


‘Pria itu akan datang juga bukan ke pesta itu?’