Mafia And Me

Mafia And Me
Kegusaran Mika!



Sebelumnya….


“Apa rasa ini rencana ini tidak baik, Tuan.”


Mika mencoba mengingatkan pada tuannya agar tidak membuat rencana seperti ini.


Evans masih dengan kegiatannya menandatangani semua berkas penting yang diberikan oleh Mika tanpa pusing menjawab perkataan Mika perihal rencananya yang akan menjebak tikus itu keluar dengan sendirinya.


“Saya hanya mencemaskan kondisi Tuan saat ini!”


Evans menghela nafas berat, pria itu butuh beberapa menit untuk menjawab akan kegusaran yang ingin disampaikan kaki tangan kepercayaan itu.


Kedua tangan dan matanya masih saya asik dengan berkas penting yang harus segera selesai sebelum Evans keluar setelah makan malam.


“Jangan berkata yang tidak masuk akal, Mika. Saya baik-baik saja!”


“Maafkan saya, Tuan. Tapi yang saya maksud ini bukan kondisi fisik Tuan karena saya tahu Tuan dalam keadaan baik-baik saja. Tapi, ini kondisi hati anda!”


Evans mengernyit diiringi menghentikan kegiatannya yang tengah menandatangani beberapa surat penting.


Pria itu mengangkat pandangannya lalu menghunuskan tatapan nyalang pada Mika. Evans seolah tidak terima dengan apa yang baru saja dilontarkan secara frontal oleh orang kepercayaan.


Wanita cantik bertangan dingin itu pun pandangi tuannya penuh yakin, dia ingin tau jawaban dari kegusaran selama ini.


Mika sudah menyadari kalau sikap Evans kini berubah. Seseorang yang sama-sama pernah mengalami kesakitan di dalam hidupnya.


Dia seolah paham akan perasaan ketika tidak diinginkan oleh orang yang dicintainya juga dipercayainya sepenuh hati.


Keduanya berjuang bersama-sama untuk menyembuhkan diri dari luka yang begitu dalam meski kesakitannya ini selalu dibawa sampai mati.


Evans memalingkan wajahnya dengan helaan napas berat seraya menyilangkan kedua tangannya di dada dan menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


“Bukannya kau sudah paham dengan tujuanku sejak awal, Mika?”


Evans kembali menarik napas lagi. “Bukannya aku sengaja membiarkan wanita bodoh itu dekat denganku. Menjadikan dia sebagai pelayan pribadiku?


Mika berdiri dengan tegap, lalu berikan anggukan pelan.


“Aku di sini hanya memanfaatkanya, Mika! Wanita bodoh itu secara tidak langsung bisa memancing wanita bermuka dua itu keluar dari sangkar emasnya—bertindak karena kecemburuannya.”


“Kita hanya menunggu rencana sesuai rencana saja.”


“Ya. saya paham itu, Tuan. Tapi, saya melihat keberadaanya menimbulkan sesuatu hal yang lain pada, Tuan.


"Anda kini terlihat seperti sudah jatuh dan lebih dalam lagi. Sekalipun bibir selalu mengelak, tetapi lain dengan hati anda!”


“Ck! Hati?!”


Evans tersenyum miring. “Kau tidak benar. Tidak ada cinta di dalam hatiku. Persetan dengan cinta, Mika!” seru Evans seraya menuangkan wine pada gelas tingginya.


“Maaf bila saya lancang pada anda, Tuan. Saya hanya ingin mengungkapkan kegusaran saja di sini.”


Evans dengan santai menyesap wine itu perlahan seraya menikmati anggur merah yang membuat dirinya tenang.


“Apa anda masih ingat kejadian tiga tahun yang lalu. Seorang gadis muda yang menjadi pelayan anda yang menggantikan keluarganya. Bahkan gadis itu tidak sengaja mendekati kapel itu—”


“Gadis itu hanya berdiri. Hanya berdiri, Tuan—”


“Memandangi kapel tersebut dan anda langsung menembaknya mati.”


Rahang Evans mengetat. “Sedangkan wanita bodoh itu telah melihat jelas mendiang ibu anda.


"Nyonya Julieta, dan anda hanya membiarkan begitu saja.”


Evans menatap nyalang pada kaki tangannya. “Bahkan anda sendiri telah membawa wanita bodoh itu ke tempat ruangan pribadi almarhum ibu anda, tempat di mana tidak ada satu orang pun yang berani datang ke tempat itu.”


Sudah beberapa fakta lain yang Mika tangkap dari perubahan sikap Evans yang besar ini. Tetapi, pria itu tidak sadar.


Evans teringat tentunya, apalagi ketika Alea berada di suatu tempat yang tidak ada satu pelayan pun yang tahu dan masuk.


Tepat di mana sudah sangat lama dia tutupi rapat-rapat, kini begitu saja wanita itu membuat amarahnya menjalar bagaikan kobaran api yang sulit dipadamkan sekalipun hatinya beku dan dingin setelah kematian ibunya, Julieta.


Dan bodohnya, Evans tidak ada niat sama sekali untuk membunuh Alea dimana pria itu selalu membawa senjata api kemanapun dia pergi.


Evans menarik nafasnya pelan. “Aku tidak membunuhnya karena wanita bodoh itu masih bisa dimanfaatkan Mika.


"Aku butuh umpan yang cantik pastinya, bukannya kau tahu kalau di dalam mansionku ini begitu banyak orang yang menyimpan dendam padaku sampai menginginkan kepalaku?”


Evans lagi, tersenyum miring. “Ck! semua orang bersikap baik di depanku, tetapi aslinya bertahun-tahun orang itu diam-diam menyusun rencana dan menungguku lengah!”


Evans bangun dari duduknya dengan helaan nafas panjang.


“Apa anda yakin, Tuan?”


“Apa kau kini meragukanku, Mika? Aku sendiri saja pun tahu akan apa yang aku lakukan ini. Jadi, tidak usah kau mencemaskan aku berlebihan akan hal itu.


"Ck! persetan semua itu, Mika. Bila semua sudah selesai. Maka kau singkirkan wanita bodoh itu dari hadapanku selamanya, bila perlu kau boleh bunuh dia!” tegas Evans.


“Baik, Tuan!”


“Oh ya, Mika.”


Mika kembali berbalik badan. “Satu hal lagi. Jangan biarkan wanita bodoh itu pergi ke pesta Leo! Pelayan seperti dia tidaklah pantas berada di acara mewah seperti itu. Aku tidak ingin wanita bodoh itu bertemu dengan keluargaku.”


“Baik, Tuan.”


Evans menghela nafas pelan.


“Satu lagi.”


Mika berdiri tega seraya menunggu tugas yang diberikan oleh tuannya.


“Kau awasi Massimo. Cari tahu siapa dibalik saudaraku yang begitu mencurigakan mengunjungi pabrik dan bertemu dengan Alea. Aku yakin ada seseorang yang menyuruhnya.”


“Kalau masalah Alea, saya yakin dia tidak akan datang ke acara pesta itu.”


“Oh ya? Kenapa kau bisa sekayin itu?”


Jangan lupa coment, like dan hadiahnya ya sekebon buat thor. Terima kasih semuanya...