
“Bukanya pacarmu berselingkuh dengan wanita yang di buang oleh Tuan ke tebing itu? Bukanya pacarmu sudah mati Alea? Dan apa yang aku dengar apa benar?
"Jika selingkuhan kekasihmu itu menjualmu kepada seorang mafia dan berakhir kau berada di sini di neraka ini?” terang Bryan menyulutkan emosi Alea tinggi.
Nafasnya sudah memburu di depan sana siap memangsa Bryan yang sudah terang terangan mengajak berkelahi.
“Bryan…” pekiknya.
Bryan terkekeh dan masih bisa mengelus dada, karena untungnya ia di pisahkan tidak satu sel penjara bersama dengan Alea.
Jika tidak Bryan tidak tahu bagaimana nasibnya jika disatukan bersama dengan Alea, pasti wajah tampanya berubah lebam akan aksi Alea yang saat ini selalu liar padanya.
Bryan terkekeh melihat wajah Alea yang memerah di depanya. Wanita yang dulunya pendiam namun kali ini Bryan melihat wanita itu di depanya tampak beda. Apa ini sebenarnya sifat Alea?
Alea membuang muka dengan bibirnya sedikit mengerecut akan sindiran pedas dari Bryan di seberang sana. Duduk di depan tiang besi menatap ke depan saat pintu besi yang menjadi satu-satunya jalan keluar bagi mereka terbuka lebar.
Dan tidak lama munculah sosok Evans di sana menuruni anak tangga dengan di bayangi oleh wanita cantik dingin yang tidak lain, Mika.
Prok...Prok...prok…
Evans bertepuk tangan menuruni anak tangga melihat dan tentunya mendengar ucapan mereka.
“Wahh. Kelihatanya kalian begitu menikmati waktu bersantai di sini, bahkan kau tampak begitu semangat dan melupakan jika kau sedang di kurung di sel bawah tanah atas tindakanmu itu?!” decaknya seraya mendekat dan berhenti di depan sel mereka.
Alea berdiri dengan cemas diikuti oleh Bryan. “Merasa dunia hanya miliki berdua, hmm.” Evans membuang nafas kasar menatap Alea lekat.
“Dan aku lihat kau sangat senang tinggal di sel ini lama-lama.”
“Apa kau sudah menemukan pelakunya?” tanya Bryan mengalihkan pembicaraan mereka.
“Tolong bebaskan kami!” pinta Bryan yang diacuhkan oleh Evans.
Evans beralih memandangi Alea yang berdiri diam. bergerak mendekati hingga mereka bisa saling memandangi ke manik mata masing-masing yang hanya dipisahkan oleh tiang besi.
“Tersangkanya saat ini masih Alea.”
Alea menelan salivanya dalam-dalam di depan dengan menatap wajah Evans.
“Cepat atau lambat, aku pasti akan mengetahuinya siapa pelaku yang sudah merusak tamanku.”
“Bukan dia!“ ujar Bryan.
“Berati itu kau?” sela Evans cepat.
Bryan terdiam sesaat lalu melihat Evans di depannya yang menyilangkan lenganya di dada.
“Kau tidak bisa menunduh kami seperti itu! Kami benar-benar tidak melakukannya."
“Bukanya bukti itu cukup kuat. Kau mematikan cctv bukan?”
Bryan menggeleng kepala.
“Aku tidak mematikan cctv dan aku pun tidak melakukan apa yang sudah kau tuduhkan kepada aku dan juga Alea!”
Bryan mengelak, karena ia benar-benar tidak mematikan cctv dan tuduhan lain seperti apa yang Evans tuduhkan kepadanya.
Evans menghunuskan tatapannya pada Bryan.
“Jika bukan kau siapa? Orang lain? Dan bukanya jelas-jelas kau yang mengindap-indap di malam itu untuk mengantarkan wanita bodoh ke tebing?
"Membantunya ke tempat yang sudah aku larang. Siapa yang tahu jika salah satu dari kalian kembali tampa saling mengetahui dan menghancurkan temanku. Kalian berdua sama-sama memiliki motif bukan? Karena dendam.”
“Jika aku dendam, sudah aku racuni kau sejak dulu, kenapa juga membalas dendam kepadamu hanya dengan merusak tamanmu itu!” desisnya.
Alea maju melawan rasa takutnya akan Evans, nafsu yang menggebu sejak kemarin-kemarin untuk melawan Evans seketika hilang begitu saja ketika sudah berhadapan langsung dengan orangnya, dasar Alea!
Kali ini Alea akan mencoba melawan rasa takut itu kepada Evans.
“Aku akan buktikan kalau kami tidak merusaknya. Karena setelah dari tebing kami kembali secara bersamaan tidak seperti apa yang sudah kau katakan tadi, karena itu tidak benar."
“Bagus jika begitu, buktikanlah.”
“Ternyata aku salah mengurungmu saling berdampingan seperti ini. Apa aku harus mengurungmu kembali bersama dengan anak-anakku?”
Evans menawarkan kembali melihat wanita itu tampak sehat berada di dalam sana.
“Percumah kau selamatkan aku dari kandang anak-anakmu itu jika kaulah yang menyelamatkanku dari ketakutanku kepada ular!”
Evans menahan tawa, karena Alea sudah mengetahui jika dirinyalah yang menyelamatkanya, dan pastinya pria bodoh itu yang sudah menceritakannya semua.
“Karena aku masih belum puas bermain-main denganmu Alea!.”
“Jika seperti itu percumah. Yang akhirnya kau menolongku dan membunuhku secara perlahan-lahan! Jika kau memasukanku kembali ke sana?
"Jika mati pelahan-lahan yang kau inginkan dariku, Kenapa kau tidak sekalian memasukanku ke kandang anacondamu agar aku cepat mati! Jadi kau tak harus repot-repot membantuku kembali untuk sembuh,” ucap Alea dengan nada tinggi.
"Idemu bagus rupanya, akan aku pikirkan ide mu itu! Tapi aku kemari bukan untuk itu, kau harus ikut denganku dan melakukan susuatu untukku.
"Jika kau tidak bisa dan tidak berhasil sesuai keinginanku, maka aku akan mengabulkan idemu itu,” ucap Evans menyungingkan sudut bibirnya.
Alea mengeryit. Benar-banar devil, “Aku harus Melakukan apa?”
“Sebenarnya apa yang kau rencankan?” desis Bryan yang diabaikan Evans, memberikan tanda pada Mika untuk membuka pintu sel dan menarik Alea keluar dalam selnya.
Evans mengambil alih, mencengkram dagu Alea hingga jarak keduanya kini begitu dekat denganya. Manik mata hijau keemasan yang indah itu menatap Alea dengan lekat.
Alea merasa dadanya sesak, saat aroma tubuh maskulin Evans dan aroma mint pada bibir Evans, membuat Alea tidak berdaya dan tidak bisa Alea hindari, begitu seperti mantra dan membuatnya hanyut akan devil di depannya.
'Sadarlah Alea, jangan tertipu daya dengan wajah tampan sialan itu,' lirihnya.
“Bukan tugas yang sulut untukmu Alea, Berlagaklah layaknya seperti wanita jalang yang sexy dan menggoda pasti mudah untukmu melakukanya bukan?” Evans menyeringai.
“Sekalipun dia seorang pembunuh bayaran, dia tetap lelaki yang butuh wanita cantik di sampingnya apa lagi jika menghangatkanya dan aku yakin kau bisa melakukan itu.”
Evans memandangi keseluruhan penampilan Alea yang begitu berantakan dan kotor.
Alea bergeming menatap Evans di depanya.
“Pertama-tama kau harus dirubah lebih bicthy seperti Carla yang selalu menggodaku setiap ada kesempatan dengan tubuhnya, gerakanya dan pakaianya yang sexy…” Evans berbisik di telinga Alea.
“Tanpa mengenakan apapun di dalam gaunnya.”
Alea tercengang mendengar apa yang baru saja di lontarkan oleh Evans, begitu juga Bryan yang mengenggam tihang besi itu dengan kuat.
“Apa kau akan menjualku? Menjadikan aku wanita jalang?” tanya Alea tercengang akan kata-kata Evans yang menginginkan dirinya berubah seperti bicth.
“Aku sudah kaya, uangku banyak. Kenapa aku harus menjualmu demi uang? Cih sungguh memalukan jika seorang The Black Rose menjual wanita!"
“Lalu apa?”
“Bukanya aku sudah mengatakan kepadamu, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku sekalipun itu kau harus menjadi wanita jalang!”
Alea tidak berkutik kembali dengan kedua matanya masih menatap Evans di depannya saat Evans mulai menyeretnya pergi dari ruangan bawah tanahnya.
"Ya Tuhan, kapan semua ini akan berakhir? Aku benar-benar takut dijadikan wanita jalang oleh The Black Rose untuk tujuannya, yang entah apa yang sebenarnya Evans rencankan kepadaku,’ lirih Alea dengan padangan kosong menatap kedepan ketika cengkram tangan itu terasa erat.
Bersambung...
Kira-kira rencana Evans pada Alea apa yah?
Seruin dong koment dan likenya. Kalau banyak nanti aku tambah lagi deh babnya, dua bab lagi cukup yah, jadi tiga sehari ini. Hehehe...
Terima kasih banyak semuanya.