Mafia And Me

Mafia And Me
Apa Kau Masih Perawan?



‘Terima kasih Tuhan kau sudah membangunkanku kembali dari tidur malamku. Aku masih bersyukur melihat pagi yang cerah ini, meski saat ini aku masih berada di penjara,’ lirih Alea.


Alea mengulum senyum dengan membentangkan kedua tanganya, setelah melangkahkan kakinya keluar ruanganya. Menghirup udara yang segar di depan sana dengan mata terpejam dan senyuman manis menyambut pagi.


Senyumanya yang manis dengan aksinya tersebut di depan pintu itu, tak menyadari Alea. Jika ada sepasang mati yang tidak sengaja melihatnya dari atas sana.


'Semangat Ale,' lirihnya berjalan menuju dapur untuk menyiapkan semua sarapan para wanita jalang Tuannya.


Alea pun menyiapkan sesuai dengan pesanan mereka ingin bersarapan dengan apa hari ini kelima wanita itu, memang sangat menyebalkan kadang hingga pukul dua belas malam Alea belum bisa tidur, karena harus mengurusi salah satu wanita jalang Tuannya.


Lelah sangat, namun harus bagaimana lagi?


“Ale! Setelah selesai sarapan dan mengantarkan sarapan pada wanita jalang itu kau di pinta Tuan untuk membereskan kamar bermain Tuan,” ucap Mika duduk menyantap sarapan yang berada di mejanya.


“Baiklah!”


Alea memutar kembali badanya ke arah Mika.


“Ohh iyah apa ular itu masih ada di dalam sana?”


"Saya tidak tahu karena belum memeriksanya. Tapi jika masih ada, aku akan menyuruh Romeo untuk membawanya ke kandanganya. Duduklah dan sarapan terlebih dulu isi perutmu sebelum kau mengisi perut mereka, karena kau terlihat lelah mengurus mereka?” ujar Mika dibenarkan oleh Alea, mereka memang sangat melelahkan dan menjengkelkan.


“Oh ya Ale. Aku penasaran dari kemarin aku sering lihat kamu suka bersujud memakai pakain tertutup semua. Kau sedang melakukan apa?” tanya Mika menyantap sandwich buatan Jonathan yang sangat lezat.


Alea tersenyum senang menatap Mika yang akhir-akhir ini terlihat banyak bicara kepadanya.


Wanita cantik yang dingin, apa aslinya ia seperti ini? gumam Alea.


Mika di depannya heran melihat Alea yang melamun menatap dirinya.


“Ale…”


“Hmm…Aku sedang beribadah pakain tertutup itu namanya mukena,” ucap Alea sedikit menjelaskan pada Mika.


“Kau musilim?”


Alea mengangguk pelan memakan sarapanya bersama dengan Mika. Wanita yang terlihat dingin dan tak peduli serta irit bicara ini ternyata aslinya seperti ini.


Ale bersyukur bisa mengenal Mika dan yang lain di sini Alea merasa tidak kesepian di tempat yang asing ini.


"Pantas selama di sini kamu hanya makan kue, bread susu saja atau sayuran. Saya tidak melihat kamu memakan daging kecuali ayam. Kalo begitu nanti aku akan meminta Bryan memisahkan makan halal untukmu,” sela Berta mendengarkan pembicaraan kedua wanita yang tengah asik makan.


"Terima kasih Berta, tetapi tidak usah aku sudah terbiasa memakan makanan yang ada,” jawab Alea tersenyum.


"Tidak Ale, meski kau menolak aku akan menyiapkan daging untukmu dan tenang saja kita tidak masak daging manusia kok,” sela Bryan yang kini ikut duduk di samping Alea.


Alea tak bisa berkata apa-apa lagi ia hanya bisa menjawab dengan senyum manisnya. Betapa ia sangat bersyukur masih ada orang-orang yang saat ini sudah baik dan peduli kepadanya, merekalah saat ini keluarga Alea di penjara ini.


'Ya Tuhan terima kasih meski aku terkurung di penjara yang menakutkan ini, tetapi masih ada orang-orang yang tulus menyangiku, dan membuatku merasa menghargai hidupku yang entah sampai kapan ini,' batin Alea.


***


Alea membuka puntu bercat merah, sebuah ruangan yang dikatakan sebagai ruangan bermain Tuannya bersama dengan para wanitanya.


Ruangan yang serba merah dengan rajang berukuran king size berseprai merah dan sofa berwarna merah.


Alea melihat Anabell, ular kesayangan Tuan yang masih setia di tempat tidur sebelah sana. Ia tak ingin mendekat karena ia tak ingin memuntahkan kembali apa yang baru saja ia makan.


Alea mulai untuk membersihkan namun langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu benda yang asing ia lihat dan entah apa fungsinya.


Alea tak tahu ada sebuah brogol, tali, cambuk dan banyak lagi benda-benda aneh, yang tentu Alea tak mengentahuinya.


Mika masuk ke dalam ruangan itu, melihat kelakuan Alea memungut ****** dengan ujung gagang sapu dengan menutup rapat hidungnya dengan mulutnya yang sudah mengluarkan suara, uwek-uwek.


Mika tertawa melihat tingkah lakunya yang sangat aneh. Sudah lama sepertinya dia tidak pernah tertawa lepas seperti ini.


Hanya wanita yang dianggap bodoh itu membuat dirinya bisa tersenyum dan tertawa seperti ini.


"Apa sejijik itu kamu pada ****** bekas Tuanmu, hmm?" sindir Mika dengan senyum mengejek.


Alea bergeridik geli. "Seumur-umur aku baru melihat ****** apa lagi ini bekas…uwek…” Mika terkekeh melihat tingkah polos Alea.


"Ehh bagi jalangnya Tuan itu ini sangat menyenangkan, bahkan mereka rela menelannya hangat-hangat,” sindir Mika kembali.


"Hgg"


Alea memegang perutnya yang tak bisa di ajak kompromi dan mudah sekali untuk muntah apa lagi melihat Annabel yang masih berada di ranjangnya itu, membuat Ale memuntahkan kembali isi perutnya dalam kantong pelastik yang Alea pegang.


Bak menjadi bahan lelucon Mika, yang selalu berhasil membuat Alea memuntah lagi dengan Mika yang tak henti tertawa kecil melihat tingkah bodohnya Alea.


Mika memberikan air mineral yang tersedia di lemari pendingin dengan tisu dan menyuruh orang untuk membawa Anabell kembali ke kandanganya. Wajahnya yang sudah pucat Mika takut Alea kembali pingsan seperti kemari-kemarin.


"Kamu ini sekarang sudah bisa jahil yah! Kasian dia sampe keluar semua sarapanya."


Wanita paru baya itu memukul wanita dingin itu dengan wajah yang terlihat kesal.


"Kau tidak apahkan?" tanya Berta mengusap punggung Alea.


"Aku tidak apah Berta."


"Sepertinya kamu masih perawan yah? Dan belum tersentuh orang lain?" selidik Mika.


Karna bagi yang sudah pernah bercinta mungkin hal seperti ini sudah biasa bukan?


Mereka tak akan jijik dan menikmatinya tidak seperti Alea wanita polos di depanya ini yang melihat saja baru pertama kali.


"Entaah Mik. Aku pun tidak tau! Karna aku pernah di jual dan di sekap tidak sadar karna obat tidur selama dua hari mungkin pria itu sudah melakukanya, aku pun tidak yakin!” ujar Alea.


"Apa saat dua hari kamu di sekap. Apa kau merasa sakit di bagian bawahmu?” tanya Mika begitu penasaran dengan wanita yang Tuannya bawa.


"Enttah! Aku tidak kepikir ke arah sana karena hanya rasa takut yang menyelimuti otakku saat itu. Karna dari penjahat itu aku berhasil meloloskan diri dan berakhir di sini di mansion Tuannmu,” desis Alea.


Mika tak mengetahui pasti kenapa Ale dibawa ke sini oleh Tuannya. Walau Evans selalu mengatakan ia mempunyai urusan dengan wanita itu.


Tetapi melihat tingkahnya yang lugu dan polos membuatnya ragu dengan kata urusan.


Urusan apa sebenarnya yang dimaksud Tuannya, lirih Mika dengan tingkah laku Tuannya yang terlihat aneh.


"Sebenarnya apa yang Tuanmu lakukan semalam bersama cambuk2 ini? Terus ini apa? Hubunganya membawa Annabell untuk apa?" tanya Alea penasaran karena ia sama sekali tidak mengerti akan hal-hal yang baru saja ia lihat.


Mika tertawa kecil dengan senyuman simpulnya mentap gadis polos di depanya.


"Kau tanya kan saja sendiri pada Tuannmu. Atau kau mau merasakanya agar kamu hafal semua permainan Tuanmu juga? supaya kau tahu Tuan membawa Anabell untuk apa. Coba saja untuk menghilangkan rasa penasaranmu,” ujar Mika.


Alea di depannya menjulurkan lidahnya terlihat kesal mendengarkan jawaban Mika akan dirinya yang begitu penasaran.


“Sialan kau Mik, aku tidak mau!” ucap Alea tegas meninggalkan ruangan itu.


“Jika kau masih perawan, Tuan sayang melewatkanmu Alea…” pekik Mika terkekeh di depan pintu ruangan itu.


Bersambung...