
Flashback on.
“Kenapa orang itu masih mengejar kita? Kau masih mempunya masalah denganya lagi hm?”
Gina terlihat bingung kedua matanya tak lepas dari kaca sepion mobil William melirik ke belakang dan entah ia harus berkata apa.
“A-aku…”
“Jawab Gina. Apa kau masih mempunyai masalah lagi dengan pria tua bangka itu hah? Apa kau selama ini tak membayar hutang-hutangmu seperti apa yang aku katakan kepadamu?” tanya William penuh amarah.
Bagaimana William tak marah kali ini melihat dua mobil hitam pekat mengikuti dirinya sejak keluar dari apartemen. Ia tahu jika mobil itu pasti mengikutinya karena dirinya bersama wanita jalang sialan ini.
Gina bergeming merutuki kebodohanya sendiri, mencoba tenang namun tak bisa. Kedua bola matanya selalu melirik ke kaca sepion untuk memastikan jika dugaan dia tak benar, namun kenyataan kedua mobil itu selalu mengikuti dirinya.
“Kau tak membayarnya Gina?” cecar William melirik ke samping dengan dirinya masih terfokus kedepan.
Gina terlihat panik itu yang membuat William tahu, jika wanita itu pasti melupakan semua hutang-hutangnya. “Aku lupa untuk membayarnya Will,” gumam Gina.
“Baiklah kau bayar sekarang pada mereka, agar kita aman dan tak diikuti lagi,” tegas William.
Gina panik setengah frustrasi mendengar ucapan William.
“Bayar pake apa hah?” tanya Gina menatap William.
William terkesiap, menginjak rem mendadak dengan tatapan gusar pada wanita jalang di sampingnya, ia tak peduli dengan tubuh Gina yang hampir mencium dasbor, yang William inginkan saat ini dirinya aman.
“Kau gila mengerem mendadak seperti ini hah?” pekik Gina.
William mendengus kesal namun tatapan gusar itu masih terlihat.
“Kau yang gila, kau kemanakan uangmu hah, bahkan jumlah uangmu sangat banyak dan kenapa kau bodoh tak membayarkan hutang-hutangmu pada pria tua Bangka itu?” teriak William sedikit membentak Gina.
“A-aku…uangku habis berjudi dan aku kalah,” lirih Gina terdengar oleh William yang mana pria bermata biru itu terlihat marah. Wajahnya yang garang ingin sekali dirinya menghajar orang di sampingnya, jika orang itu pria pasti William sudah menghabisinya saat ini juga, namun ia wanita dan…membuat William malas.
“Maafkan aku Will,” lirih Gina.
“Persetan denganmu Gina. Kau harus urus semua orang-orang itu dan jangan bawa-bawa aku, karena aku tak tahu menahu masalah hutangmu dan aku tak pernah memakan uangmu itu,” desis William.
“Will, tolong aku…berikan aku pinjaman uang untuk membayarnya aku janji akan membayar hutangku,” pinta Gina membujuk William.
William menghela napas panjang, melihat wanita sialan di depanya.
“Aku lagi gak ada uang Gina, semua orangku di tahan belum lagi semua barang-barangku dirampas begitu saja oleh anak buah Collietie dan aku sedang rugi besar saat ini,” pekik William mengusap wajahnya gusar.
“Terus aku bagaimana Will?” tanya Gina.
Tuk tuk tuk…
“Selesaikanlah masalahmu sendiri,” desis William.
***
Gina dan William berada di salah satu ruangan, tangan dan kaki mereka terikat kuat dengan penjagaan sepenjuru ruangan. William meruntuki kesialnya kali ini yang mana ia harus ikut tangkap akan masalah yang ia tak berbuat. Untuk mencoba meloloskan diri pun rasanya impossibel melihat di sekelilingnya yang mana banyak penjagaan yang menatap tajam ke arahnya.
Bragh!!!
Suara gebragan meja terdengar menggema membuat kedua orang yang duduk di lantai dingin pun ikut terkejut. Pria paru baya dengan perawakan tubuh yang besar menatap tajam pada wanita di depanya. Terlihat tatapan membunuh pada wanita di samping pria.
“Kau seperti wanita ular sayang, kelicikan dirimu dan kecerdasanmu yang selalu bisa berhasil lari dari anak buahku.”
Pria tua itu menghampiri Gina mencengkram dagunya keras dengan sorotan mata yang tajam. “Hutangmu sudah banyak. Kau mau membayar dengan apa hah? Tubuhmu?”
“Jika Tuan menginginkannya saya bersedia,” gumamnya.
“Cih, Wanita jalang. Sayangnya tubuhmu tak menarik untukku. Aku tahu kau wanita jalang yang mana tubuhmu ini kotor akan banyak sentuh pria di luaran sana, sayangnya bukan. Seandainya saja kau masih perawan tubuhmu itu pasti bisa berguna menembus semua hutangmu yang puluhan milyar itu!”
“Apaa? Puluhan milyar, kau?” tanya William terkesiap melirik wanita jalang yang amat mensialkan kehidupanya kali ini.
“Saya janji akan membayarnya Tuan. Saya janji dan tak akan kabur dari tuan Santhos,” ucapnya dengan bersimpuh di depan kaki pria tua bangka.
“Kau akan membayarnya dengan apa jalang?” teriak William yang tahu sesen pun pasti wanita jalang itu tak punya, karena kegilaan judinya yang membuat dirinya ikut terseret dalam masalah Gina.
“Diam kau Will,” bentak Gina membulatkan matanya.
“Tuan ingin aku membayar dengan apa, uang atau wanita cantik yang masih perawan?” tanya Gina memberanikan diri membuat tawaran kepada pria tua Bangka.
Gina tahu, pria tua Bangka itu terkenal dengan banyak koleksi wanita cantik di mansionnya apa lagi rumah bordir yang terkenal di kota London ini yang mana pria tua itu pemiliknya.
“Baiklah, kita buat perjanjian kali ini. Jika kau bisa membawakan wanita cantik dan masih perawan aku akan menganggap semua hutang-hutangmu lunas dan aku akan memberikan kau uang satu milyar. Tetapi jika kau mencoba menipuku apa lagi mencoba kabur dariku. Jangan harap kau akan hidup tenang di dunia ini, menderita atau mati di tanganku hm?” bisik Santhos mafia keji di kota London ini.
Gina dan William akhirnya di bebaskan dengan syarat perjanjian yang sudah disepakati antara Gina dan Santhos dengan langkahnya menuju arah mobilnya William masih medumbel pada Gina yang berjalan tenang seperti tanpa ada beban.
Sebenarnya rencana apa yang kali ini Gina lakukan untuk membayar hutan-hutangnya itu.
“Kau tahu siapa Santhos itu hah?”
“Sudahlah Will. Aku tahu siapa Santhos Beck itu siapa. Ia mafia keji di sini dan sialnya aku harus berurusan dengan pria tua Bangka seperti itu. Kau tak usah khawatir karena aku sudah tahu siapa yang harus aku jual kali ini pada Santhos,” gumanya melirik dengan senyuman devilnya.
***
Dentuman music yang dimainkan oleh dj pun terdengar cukup keras di telinga dengan music beat yang menghentak mampu membuat semua pengunjung di dalam sana mengikuti alunan musiknya. Ruang dansa di depannya pun penuh dengan para wanita dan lelaki berdansa di sana.
Ale wanita polos yang mana dirinya baru pertama kali ketempat seperti ini, ia merasa pusing akan lampu kelap kelip dan dengungan suara keras yang menyakitkan telinganya. Maklum Ale anak rumahan yang mana kantor, café dan rumah yang selalu ia datangi tak pernah ke tempat seperti ini.
“Kau lihat wanita lugu dan polos di meja sana? Ia yang akan menjadi milikmu Tuan Santhos dia masih perawan aku bisa menjaminya, dan serahkan uang yang sudah kau janjikan kepadaku?” tunjuk Gina pada pria tua di sampingnya. Namun Santhos tak sebodoh itu yang bisa di tipu oleh wanita ular di depanya ini, ia tahu kelicikan wanita di depanya.
“Kau bawa ke ruanganku, maka uangmu pun akan lekas di tangan dan lekaslah karena aku sudah tak sabar ingin bermain dengan permainan baruku,” gumam Santhos menatap penuh damba pada wanita yang diberikan oleh Gina.
'Dasar tua bangka,' lirih Gina.
“Haii Ale, akhirnya kita bertemu lagi dan kita akan dobel date juga kali ini, mana Mike?” tanya pria bertama biru yang tentu mengenal wanita secantik Ale yang mana mereka pernah bertemu dengannya, William.
“Mike masih di jalan aku sedang menunggunya.”
“Ohh…” lirih William tersenyum pada Ale dengan pikiran yang sudah menebak jadi Ale yang akan Gina jual.
'Dasar licik, wanita itu tak tahu menahu akan hutang-hutang Gina dan urusan perselingkuhan Gina dengan Mike kenapa harus Ale yang menjadi korbanya lagi saat ini,' gumam Wiliiam menatap Ale penuh iba.
“Hai lama yah?” tanya Gina membawa beberapa botol minum yang ia letakan di atas mejanya lalu duduk di pangkuan William mencium bibir William penuh nafsu. Ale yang berada di depanya pun melihatnya dengan jijik akan ciuman ganas keduanya.
Hello Ale ini London semua orang bebas melakukan hal seperti itu, tak seperti di Negara kelahiranmu yang mana hal itu menjadi tabu dan di permasalahkan atas ketidak sopanan dan melanggar norma.
'Lalu apa Gina baik-baik saja setelah apa yang Mike lakukan kepadanya,' lirih Ale menatap wanita sexy di depannya yang terlihat santai dan tak ada beban sepertinya masalah siang itu bagi Gina seperti angin lalu.
“Baiklah kau mau minum apa? Kau suka ini?” tanya William memberikan segelas vodka untuk Ale.
Ale menggoyangkan kedua tanganya untuk menolak, karena ia tak bisa meminum seperti itu. “Tidak Will terima kasih. Aku tunggu Mike saja di sini," jawab Ale melihat keseluruh penjuru ruangan yang pada dan berharap ia Mike akan datang menemuinya.
Gina menyodorkan orange jus pada Ale. Ia tahu jika Ale tak pernah meminum minuman seperti ini, wanita sok suci ini.
“Aku pesan orange jus untukmu, kau sudah menghubungi Mike kembali?" tanya Gina yang mana orange jus yang ia berikan obat tidur, agar ia mudah membawa wanita bodoh itu ke pangkuan Santhos dan tak memperdulikan jika iblis itu akan membunuh dirinya, Mike Shander.
Karena bagi Gina hutang ini akan impas atas perbuatan Mike kepadanya dan juga hutang Gina pada Santhos pun akan lunas jika Gina sudah menyerahkan Ale pada Santhos.
“Terima kasih Gina. Aku sudah Telpone Mike namun tidak diangkat olehnya, ia hanya mengechatku jika ia masih di jalan dan kejebak macet,” ucap Ale terlalu polos.
“Pasti malam minggu di sini memang seperti itu, macet karena banyak orang yang keluar untuk weekend melepas penat usai bekerja,” kata Gina santai meneguk vodka yang ia genggam di tanganya.
Ale mengangguk paham dengan kota besar di sini. Oke sebagai wanita penghangat ranjang Mike ia adalah wanita ular yang licik, sudah jauh-jauh hari Gina merencanakan semua ini mengambil ponsel Mike yang amat mudah baginya dan melancarkan aksinya untuk menjebak kekasihnya untuk sampai di sini.
'Mike tak akan pernah datang wanita bodoh, dan mana ada malam seperti ini jalanan macet hanya karena weekend kau sungguh polos dan bodoh Ale,' lirih Gina melirik tajam pada Ale.
Lelah menunggu Mike yang lama Ale pun meninum orange jus yang ia pegang, dengan sedikit rasa cemas yang melanda dirinya saat ini akan Mike yang belum juga sampai.
Ale meneguk dengan habis orang jus yang ia pegang dengan mengemati sepenjuru ruanganya berharap Mike akan muncul dan mengajaknya untuk keluar dari club ini. Kepala yang terasa berat dengan sedikit pusing Ale pun lalu…
Brug!!
Tubuh Ale tergeletak begitu saja di kursi panjangnya. “Kau menaruh obat tidur kepada Ale honey?” tanya Will tak percaya jika wanita itu benar-benar menjalankan rencana jahatnya.
“Iyah. Mike bisa jahat kepadaku aku pun sama bisa jahat kepadanya. Kita impas saat ini,” decak Gina dengan sebelah tanganya melambai kepada pria di depan sana.
“Terus apa yang akan kau lakukan kepadanya? Gina ia tak salah, ia pun sama korban di sini,” tanya William.
“Kau tak usah ikut campur akan urusanku honey, kau menikmati saja minumanmu aku ada sedikit urusan,” ucap Gina mencium bibir Wiiliam pergi meningglakan William begitu membuat William amat jengah pada Gina.
Terpancar wajah bahagia di wajah Gina selain hutang-hutang lunas ia pun akan mendapatkan uang dari Santhos yang mana pria tua Bangka itu sangat tertarik kepada Ale.
“Itu wanita yang sudah aku janjikan. Aku harap hutangku lunas dan mana upahku?" tanya Gina mengulurkan tangan kananya.
“Kau memang wanita jalang Gina, bawa wanita itu ke ruanganku,” pinta Santhos pada anak buahnya. Salah satu anak buah Santhos membawa koper yang diperintahkan tuanya membuka isi koper yang mana tumpukan dollar yang membuat Gina tersenyum penuh kemenangan.
“Aku harap kau jangan menggangguku lagi Tuan," ucap Gina pada pria tua.
“Baiklah aku tak akan mengganggumu, kita impas sayang. Kau jamin kan wanita itu masih perawan?” tanyanya Santhos menaikan sebelah alisnya menatap wanita jalang itu yang memeriksa semua uang dollar itu asli.
Gina menutup kopernya mengdengus malam akan pertanyaan yang mana sudah ia katakan.
“Kau boleh menagihku jika aku tak memberikan yang masih perawan kepadamu,” ucap Gina pergi dengan senyum kemenangan membawa kopernya keluar dari hadapan Santhos.
Flashback off.
Bersambung...