
+65 987xxxx
‘Aku harap sebuah foto ini akan membuatmu tenang. Dia baik-baik saja’ send Massimo.
“Kau mengirim pesan pada siapa, hah?” seru Evans keras.
Alea tersentak kaget dengan kedatangan Evans yang mendadak. Pria itu berjalan cepat dan menyambar—paksa ponsel saudaranya.
“Kau menghubungi siapa hah?”
Tubuh Alea bergetar hebat, ketika melihat Evans mencengkeram leher Massimo.
Si lawan bukannya melawan namun tertawa pelan seraya melepaskan tangannya memberikan ponselnya.
Evans menghempaskan tubuh kekar Massimo sampai pria itu terjatuh di sofa panjang.
“Cek saja sendiri,” ujar Massimo. Alea cemas, dia takut kalau Evans akan membunuh saudaranya sendiri seperti apa yang tadi dibicarakan.
Tetapi, pria yang dicemaskan hanya tertawa pelan. “Siapa yang menyuruhmu, hah?”
Massimo bersedekap seraya tersenyum lebar. “Tidak ada yang menyuruhku, periksalah bila kamu tidak percaya padaku,” ucap Massimo.
Evans memeriksa ponsel Massimo, dari panggilan telepon, pesan, chat bahkan sampai akun medsos pun semuanya Evans periksa satu persatu. Tidak percaya dengan saudaranya,
Evans pun menghubungi salah satu number di mana terakhir Massimo mengirim pesan.
Ah, tidak hanya menghubungi Evans bahkan menekan tombol video untuk mencari tahu siapa sebenarnya dibalik nama wanita yang tertulis di phonebooknya.
Massimo tertawa pelan. “Sebegitunya kau takut aku menghubungi orang lain, hm?
Massimo bangun dari duduknya diiringi senyuman sinis. “Sebenarnya siapa dia?” tunjuk Massimo dengan dagunya.
“Kenapa kau begitu takut aku menghubungi orang lain?”
“Dia tahananmu, hmm?”
Evans bungkam. “Apa masalahnya sampai kau memenjarakan wanita itu di mansion? Kau masih hutang penjelasaan padaku, Evans!”
Evans menyentakan benda pipih itu tepat di depan dada Massimo. Kedua matanya membulat dengan kilatan tajam.
“Kamu menghubungi Maria?” tanya Massimo diiringi tawa.
Pria itu pun bangun dari duduknya lalu mengambil ponselnya.
“Kau begitu ketakutan sekali, Dude! Kalau orang tahu Alea,” decak Massimo.
“Aku tegaskan padamu, tidak ada yang menyuruhku dan terserah kamu mau percaya atau tidak!”
“Sampai kau terlibat di sini, aku tidak segan-segan membunuh keluargamu, Massimo! Camkan itu!” ancam Evans seraya berlalu pergi dari ruangan kerja Alea.
Alea berseru lega, ketika Evans pergi begitu juga Massimo yang sama ikut menarik napas. “Kamu tidak apa?”
Massimo berikan tawa, lalu menggeleng. “Tenanglah, aku tidak apa-apa.”
Hanya hal kecil tentunya tidak apa-apa, sebelumnya dia sudah menghapus dengan cepat semua nomor dengan kode +65 dan semua akun medsos pun sama. Feeling dia tidak pernah meleset kali ini kalau Evans mencurigainya.
“Ya, sudah aku pamit, Alea. Jaga dirimu baik-baik dan aku akan datang lagi ke sini,” kata Massimo dan tak lama berlalu pergi meninggalkan Alea seorang diri.
Bola mata Alea membulat lebar dengan kedua tangan bergetar. Jatuh sudah air matanya melihat gaun cantik yang akan di kenakan di pesta pertunangan Leo pun kini nampak mengenaskan.
Gaun mewah selembut sutra berwarna itu kini sudah tidak berbentuk lagi.
Padahal ketika Alea pulang gaun itu masih ada di dalam kotaknya dan kini hanya mengambil wine yang diminta Evans, gaun itu sudah mengenaskan.
Alea menyusut air matanya dan berjalan memunguti serpihan gaun cantik itu dengan duduk di lantai.
‘Siapa yang sudah merusak gaunku ini?’
Alea menyeka air matanya lagi. Padahal besar harapannya dia bisa memakai gaun cantik ini dan akan terlihat sempurna di malam pesta nanti.
Tetapi, ini…
Alea memeluk serpihan gaun tersebut dan menangis di sana. Dia berharap bisa hadir di pesta itu.
‘Aku tidak akan pernah lari dari cengkeraman iblis itu sekalipun pria itu mengizinkanku!’
Alea menarik nafas pelan. ‘Aku hanya ini merasakan suasana pesta meriah.
‘Aku ingin melupakan sejenak ketegangan dan ketakutan selama aku berada di neraka Evans Colliettie.’
‘Aku ingin menghirup udara keramaian banyak orang karena selama ada di sini aku merasa sesak.
‘Aku hanya ingin menghibur diriku sendiri dari segala teror dan ancaman kematian banyak orang. Apa semua itu salah?’ batin Alea berkata pada dirinya sendiri.
“Kamu memang tidak seharusnya merasakan sedikit kebahagian Alea!”
“Alea… kamu di sini?”
Berta pandangi wajah Alea dengan mata sembab.
“Hai, kenapa?”
“Tidak apa-apa, Berta.”
Berta menarik nafas pelan. “Tuan memanggilmu. Dia ingin wine lagi.”
Alea menunjukkan botol wine tersebut pada Berta dan tak lama dia langsung berjalan masuk ke dalam ruangan kerja Evans.
“Maafkan saya Tuan, saya lama.”
Evans bergeming dan focus pada makan malamnya. Alea pun bergegas menuangkan wine di mana satu potongan terakhir ikan salmon makan malamnya.
Evans masih tetap sama, devil itu kini irit bicara padanya sekalipun wajahnya sudah tidak asing lagi sudah datar dan dingin sejak mereka bertemu.
“Tuan,” kata Alea pelan.
Evans menyesap wine yang Alea tuangkan sebagai penutup lalu menyusut bibirnya dengan tisu.
Alea pandangi Evans, panggilannya pun bahkan diabaikan. Padahal sudah lama ini dia membuka suara setelah sekian lama dan kini pertama kali Alea dan Evans ada di satu ruangan yang sama.
Alea berhadapan langsung dengan Evans Colliettie setelah kejadian itu.
“Tuan, maaf. Saya ingin bicara,” ucap Alea pelan.
Pria itu langsung menoleh dan berikan Alea tatapan tajam.
“Ehm… ma-maaf bila saya mengganggu anda.”
Alea meremas kedua tangannya seraya menundukan wajahnya. Baru saja ditatap menakutkan itu sudah membuat tubuh Alea bergemetar. Bayangan itu kembali mencuat.
Alea memejamkan kedua matanya sejenak untuk mengusir bayang menakutkan itu.
“Sa-saya ingin meminta tolong pada a-anda!”