
Alea di depan sana berdiri dengan mendengus kesal kepada Evans.
“Kenapa kau tidak menggunakan wanita jalangmu untuk menjadi umpanmu itu? Kenapa harus aku?”
Evans menyandarkan sebelah sikunya di pinggiran sofa, terlihat santai. “Tentu saja tidak! Karena kau yang harus melakukan itu semua.”
Alea menyilangkan kedua lenganya di dadanya, sejak tadi devil itu terus menatap dirinya lekat. Alea merasa risih akan tatapan Evans itu karena saat ini Alea benar-benar butuh penjelasan lebih dan jelas akan maksud Evans akan rencana dan tujuanya kali ini yang menjadikan dirinya umpan.
“Sebenarnya apa rencanamu Evans?”
Evans masih tersenyum menatap Alea. Bahkan kali ini wanita bodoh itu sudah bisa mengucap namanya. “Aku baru kali ini mendengar kau memanggil namaku?” ucap Evans tersenyum simpul.
“Katakanlah dan jangan mengalihkan pertanyaanku!”
Evans bangkit dari duduknya, berdiri tegak tepat di depan Alea. “Kau ingin tahu rencanaku?” tanya Evans yang dianggukan Alea di depanya.
“Kau harus mengambil kalungku! Kau yang menghilangkanya jadi kau juga yang harus membantuku untuk mengambilnya kembali.”
“Haah," seru Alea menatap Evans tidak percaya.
Ia sudah berpenampilan seperti wanita jalang seperti ini dengan tujuan menjadi umpan dan menggoda kucing yang Evans maksud semua itu untuk kalungnya. Tidak percaya! Alea mengelak.
“Jadi ini semua hanya untuk kalungmu itu?”
Evans mengangguk, “Aku harus mendapatkannya kembali! bagaimapun caranya,” desis Evans.
“Bagaimana kau bisa tahu kalung itu dan…“
Alea menjeda kata-katanya dan terdiam menatap Evans dengan satu pemahaman. “Apa akhirnya Ryander menghubungi?”
“Kalian sama-sama menyusahkanku. Karena kalung itu sudah tidak ada lagi temanmu yang bodoh itu.”
“Apa?”
“Ada seseorang yang sudah merampasnya dan mengambil kalungku. Dan seseorang itu pria yang mana aku tidak pernah berhadapan dengan pria yang dimaksud oleh temanmu itu, karena kami tidak ada urusan. Tetapi aku tahu pria itu berbahaya dan juga menurut orangku, pria itu pencinta wanita dan kau…”
Evans menujuk akan penampilan Alea yang akhirnya dipaham olehnya kenapa ia harus berpenampilan seperti wanita jalang.
“Kau harus bisa menarik perhatianya, menggodanya di antara banyak wanita yang menginginkan pria tersebut.”
“Kau menjadikan aku umpan kepada pria berbahaya itu? Bagimana jika aku?”
“Dibunuh? Mati? Bahkan nyawamu saja aku tidak peduli! Bukanya aku pernah mengatakan kepadamu, jika kalung itu sangat berharga dari nyawamu sekalipun?” sela Evans cepat membuat Alea di depan sana tercengang sekaligus paham.
“Bersiap-siaplah, karena temanmu itu mengatakan jika Erick Bruno mengadakan private party di salah satu club malam di Madrid dan inilah kesempatan kita untuk mengambilnya.”
Alea terdiam, berusaha mencerna semua perkataan Evans. Ada banyak pertanyaan bertebaran di kepalanya, namun Alea terbingung akan menanyakan yang mana terlebih dulu.
“Jadi kau tidak menghancurkan ponselku?”
Evans menggeleng dan berkata, “Mikalah yang menyimpannya.”
“Apa Ryander tidak menanyakanku?”
Evans terdiam sesaat, memiringkan kepalanya dan berdecak, “Dia hanya memintaku untuk membebaskanmu jika kalungku bisa kembali.”
Alea mengangguk setuju. “Aku pun menginginkan hal yang sama. Kau tidak bisa terus mengurungku di neraka yang kau buat seperti itu. Jika aku berhasil menggodanya dan aku bisa mengambil kalungmu kembali, maka kau berjanji untuk membebaskanku,” pinta Alea.
Evans menghampiri Alea tidak menjawab permintaanya. Ia mendekatinya hingga berdiri menjulang di depan Alea.
“Semua itu tergantung kau menggodanya malam ini, hingga membuahkan hasil.”
Evans memajukan kepalanya, hingga Alea mundur ke belakang. “Sayang.” Senyuman miring yang ditunjukan oleh Evans terlihat menggoda setelah Evans membisikan panggilang sayang yang keluar dari bibir Evans membuat bulu kuduk Alea merinding mendengarnya.
“Tapi kau harus berjanji terlebih dahulu kepadaku, bebaskan aku jika kalungmu itu sudah kembali.”
Evans tidak menjawab, melipat lenganya di dada dengan tatapan angkuhnya. “Pastikan saja kau menggodanya dengan maksimal mungkin dan dapatkanlah perhatiaanya dan satu lagi jangan kau menghindari cumbuaanya atau ajakanya karena itu akan membuat dia curiga kepadamu.”
"Meskipun pria itu mengajakku bercinta?" Evans mengangguk pelan.
Alea mengepalkan tanganya erat, dengan sorotan matanya tajam. Sekaan membenarkan jika dirinyalah memang wanita bayaran untuk menggoda pria sampat terjerat, hingga harus merelakan tubuhnya hanya untuk sebuah kalung itu.
“Mudah bukan tugasmu malam ini? Biar sisanya aku dan Mika yang akan membereskanya.”
Ingin sekali Alea menjitak kepala devil itu atau bahkan membenturkan kepada Evans ke tembok agar amnesia dan bisa lupa akan kekejamnya.
“Apa aku punya pilihan?”
“Tidak," Sela Evans cepat.
Alea berdecak, kesal. Menghela napas dengan wajah yang pasrah dengan melihat wanita cantik itu masuk ke kamarnya dengan membawa paperbag hitam yang entah apa isinya di dalamnya.
Alea langsung menatap tajam wanita cantik itu yang tak lain Mika, namun tatapan kesal Alea sama sekali tidak dipedulikan oleh Mika dan memberikan paper bag itu kepada Evans dan berlalu pergi.
“Ini akan menyempurnakan penampilanmu malam ini.”
Alea menyimpitkan mata, memperhatikan benda di tangan Evans dan ia baru menyadari isi dari paper bag yang Mika bawa saat Evans sudah berada di depanya, membuat Alea di depanya terbelalak dengan keningnya berkerut menatap beda yang Evans pegang.
“Pakai!”
“Tidak!”
“Pakai!”
“Aku tidak mau, kenapa kau begitu memaksa…”
“Jika kau tidak memakainya sekarang juga aku yang akan mengenakainya pada kulit mulusmu itu.”
Alea pasrah lagi lagi devil itu selalu menekan dan memaksanya, Alea hanya bisa terdiam dan tidak membatah akan intonasi tinggi Evans membuatnya bungkam.
Alea terpaksa mengambil stocking hitam itu dengan kesal. Evans mundur beberapa langkah ke belakang dengan memasukan kedua tangan kesaku celananya, mendorong kursi meja rias di sampingnya dengan kaki ke depan Alea.
“Pakai sekarang!!”
“Dasar pemaksa!” desis Alea berani.
“Kau benar menyebalkan!”
“Apa kau baru menyadarinya? Karena aku tidak ingin di bantah,” balas Evans dengan seringaian.
Alea menatap tajam seraya meletakan kakinya di atas kursi dan mulai memakai stockingnya di bawah tatapan Evans yang tidak teralihkan.
“Kenapa begitu berharganya kalung itu untukmu? Kalung salip yang terdapat ukiran nama seseorang di sana,” tanya Alea menoleh ke samping Evans.
“Aku yakin kau tidak percaya akan adanya Tuhan karena tabiatmu sama sekali tidak menujukan kau seorang beragama!”
“Rasa ingin tahu itu bisa membunuhmu, Alea.” Evans mengingatkan kembali ucapanya dulu.
“Setidaknya kau beri aku alasan agar rasa ingin tahuku ini tidak melebar seperti rumus matematika. Kenapa hanya sebuah kalung itu kau harus melakukan ini semua."
“Sebaiknya tutup mulutmu!” desis Evan, memperingatkan.
Alea mencebikan bibirnya bersamaan dengan dirinya yang selesai memakai stockingnya. Evans masih berdiri dengan mengelus dagunya memadanginya keseluruhan penampilan Alea.
“Masih kurang sesuatu, belum tampak perfect,” gumamnya.
“Apa lagi sih!!” Alea makin kesal akan Evans yang sejak tadi masih betah memandanginya, memaksanya dan menekannya.
Tangan kekar itu menarik lenganya membawa tubuh kecil itu kemeja rias dengan menghempasakan benda apa saja di meja itu dengan tangannya hingga berjatuhan ke lantai. Evans mendesak punggung belakang Alea ke pinggiran meja dan menghimpitnya.
“Kenapa kau begitu cerewet sekali,” decak Evans, kesal. Wanita itu ternyata memilki banyak mulut hingga sejak tadi tidak berhenti berkata dan bertanya kepadanya, membuatnya pusing akan ocehan wanita bodoh di hadapannya ini.
“Aku akan tegaskan satu hal kepadamu. Malam ini, tugasmu hanya menggoda pria bernama Erick Bruno. Entah bagaimana caranya kau harus bisa menggoda—menjerat pria itu, mengikutinya kemanapun.
"Dan saat ia lengah aku akan mengambil kalungku meski aku harus membunuhnya jika semua itu mendesak dan diperlukan dan satu hal lagi kau kembali bersamaku. Kau tidak boleh sekalipun berpikir untuk melarikan diri dariku.”
“Untuk apa lagi kau akan menahanku jika kau sudah mendapatkan kalung itu?”
Evans memajukan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Alea terkesiap diam dengan jantungnya berdetak cepat.
“Kau kembali bersamaku. Urusan kebebasaanmu akan kita selesaikan setelah kita kembali ke Napoli dan jangan pernah sedikit pun kau berhianat kepadaku, karena aku akan mengejarmu jika urusan kita belum selesai.
"Aku tidak peduli apa yang terjadi denganmu, kau terluka atau sekalipun kau mati. Aku akan tetap membawamu ke Napoli biar aku sendiri yang akan membuang mayatmu ke tebing itu dan itu akan inpas bagiku!”
Alea tercengang akan perkataan Evans ia berbalik menatap mata Evans. Devil itu benar-benar mengerikan bahkan jika dirinya matipun devil itu akan membawanya pulang dan membuangnya sendiri ke tebing mansionya.
“Jika aku tidak mau, bagaimana?”
Evans tersenyum miring, memeluk pinggang rampingnya dengan satu tangan lalu merapatkan tubuh kecil itu ketubuhnya dengan berbisik lirih di telinganya penuh penekanan membuat Alea melebarkan matanya mendengar semua yang di katakan Evans.
Ia tersenyum kemenangan menatap wajah Alea, mundur dengan perlahan membiarkan Alea mencernan kata-katanya.
“Aku tidak main-main Alea. Jika kau berani menghiantiku dan melarikan diri itu semuanya salahmu. Bisakah kau hidup tenang di luaran sana setelah melakukan itu?”
“Kau ini…“ Alea menahan amarahnya dengan sorotan mata tajam menatap Evans.
"Kau Benar-benar iblis, Evans!”
“Aku begitu tersanjung akan ucapanmu. I am Devil," ucapnya dengan seringainnya.
"Satu hal lagi sebagai pelengkap dan membuatmu menjadi sempurna.”
Evans kembali menarik lengan Alea dengan wajah Alea yang terbelalak ketika Evans menyusupkan telapak tanganya di balik gaunnya, menyelusuri pahanya dengan sentuhan lembut hingga membukakanya sampai ketas.
Ia membuka ujung stocking yang ketat tanpa memutuskan tatapan mata mereka yang masih bersitatap membuat Alea meremas pundak Evans karena merasa geli akan tangan Evans yang menyelusuri pahanya bahkan Devil itu masih bisa tersenyum tampan kepadanya.
Senyuman itu terlihat mengerikan bagi Alea yang bisa membuat wanita manapun menjadi gila karena menginginkan devil seperti Evans.
Evans mengangkat pahanya hingga menekuk lutut Alea, memasukan sesuatu di sela stocking hitam ketatnya membuah Alea menoleh ke bawah.
“Kau menyusupkan senjata di tubuhku?” Evans mengangguk.
“Semuanya sudah sempurna,” ucap Evans dengan santai yang dibalas dengan tatapan Alea yang terlihat syok.
“Kau benar-benar Devil.”
"Yes, I am devil."
Bersambung...
“Lakukan semua yang sudah kita bahas tadi Alea, bila perlu kau harus menari telanjang di sana?”
“What??”