
Erick meremas pinggang Alea dengan eranga yang terlihat tertahan, Alea yang terkejut pun hanya tersenyum memperlihatkan gigi putihnya.
“Kau begitu cantik jalangku,” bisik Erick di telinga Alea dan menatap Erick dengan kedua tangan Alea memegang wajah pria mempersona di depanya.
“Terima kasih Tuan,” gumamnya tersenyuman menggoda.
Erick membungkam kembali bibir merah meronanya seolah wanita di depanya begitu berbeda.
Alea membalas panggutan Erick untuk menjalankan perannnya dengan sesekali Alea mencuri padang pada pria di seberang sana yang menatapnya tajam di sela ciumannya.
Bibir tipis milik Erik perlahan turun ke bawah menciumi leher jenjang Alea dengan gariah akan tubuh indah yang dimiliki Alea.
Sedikit meremas bagian favoritenya dan menjatuhkan bibirnya ke bawah dua gunung kembar yang menjulang. Ercik menghirup aroma tubuh Alea yang sungguh memabukan dirinya. Di tenggelamkan wajahnya tepat di dada ranum Alea.
Alea menahan suaranya agar ia tidak mendesah, ia wanita normal yang pastinya gairhanya pun mencuat. Tetapi kenapa harus bersama dengan orang yang berbahaya seperti Erick Bruno?
Apa ia harus menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati oleh Erick Bruno?
“Aku ingin tubuhmu ini honey, menarilah di atasku dan menghangatkanku di setiap malam, my bicth,” gumam Erick kembali membungkam bibir Alea.
‘Damn! Sungguh kau menjadikan aku seperti *****, The Black Rose! Demi rencanamu itu dan lagu ini benar-benar seperti diriku malam ini, ’ lirih Alea membalas panggutan pria di depanya tak kalah brutal.
‘Aku akan menjual tubuhku malam ini untuk kalungmu itu!” lirih Alea mencuri padang lagi pada pria di depan sana yang tengah mencengkram pinggiran pembatas dengan erat.
Sorot matanya yang tajam menguhunus seraya ingin menguliti pria yang tengah asik berciuman di depan matanya. Kedua mata Evans dan Alea pun masih bersitatap dengan kedua manik matanya saling bertemu.
Evans hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat, meski kedua matanya masih menatap dengan tajam. Namun Alea di bawah sana, membuang muka seketika masih terus di tatap dengan tatapan membunuh oleh Evans Colliettie.
"Apa maksudmu sebenarnya Evans? Kenapa kau menatapku dengan tatapan menakutkan itu. Aku sungguh tidak mengerti akan iblis sepertimu. Tetapi, bukannya seperti ini yang kau inginkan? Menjadikan aku bicth untuk rencanamu?" batin Alea.
“Apa kau Alea?”
“Hmm?”
Alea tersentak dari lamunanya dengan membulatkan kedua mata, meremas pinggang Erick penuh tanda tanya. Namun Alea kembali membulatkan kedua matanya sebagai jawaban meski Alea kini bingung dan heran pada Erick Bruno.
Dari mana pria itu tahu namanya?
Bahkan dirinya sudah menghayati perannya sebagai wanita jalang namun kenapa pria itu mengenalinya.
“Apa Evans Colliettie bersamamu, hmm?”
Pertanyaan selanjutnya membuat Alea paham. Apa yang sebenarnya terjadi akan Erick menanyakan prihal Evans?
“Iya,” bisik Alea begitu dekat dengan telinga Erick sembari menatap Evans yang menyimpitkan mata di atas sana.
“Bagus. Ikutlah denganku Alea.”
Erick menatapnya dengan senyuman misterius, memeluk pinggang ramping Alea dan membawannya pergi dari kebisingan di dalam club malam.
Alea mengikuti dengan diam ke mana pria itu akan membawanya, meski dalam hatinya ia merasa takut.
Apa Erick akan mengajaknya bercinta? Menikmati tubuhnya ini?
Alea menatap tubuhnya dengan mendesah karena ia belum siap. Apa Erick Bruno akan membunuhnya?
Alea kembali takut, ia menghela napas untuk mengatasi ketakutanya dan melirikan ke samping dan sekilas melihat ke arah Evans yang sedang memperhatikan kepergiananya dan menghilang di salah satu pintu tidak jauh dari panggung.
Alea bergumam di dalam hatinya seraya berpikir. Mungkin kali ini bukan hanya Evans saja yang berniat untuk menjebak seorang Erick Bruno untuk mendapatkan kalung miliknya.
Namun sepertinya Ercik Bruno pun sebalinya menjebak seorang Evans Colliettie untuk keluar dari Kingdomnya dengan tujuan yang masih samar.
Alea tidak tahu tujan apa Ercik Bruno menjebak seorang mafia terkejam seantero Italia itu.
Alea menarik napas panjang, dan menghembuskan perlahan.
'Ya Tuhan, sudah malam ini aku berdandan seeprti bicth dan kini kenapa aku sangat sial menjadi umpan bagi kedua pria yang sama-sama berbahaya itu,' batin Alea.
'Apa aku akan mati malam ini, karena kini aku berada dengan kedua pria berbahaya. Di mana aku berdiri di tengah-tengah masalah besar ini, yang di mana tujuan kedua pria itu pasti sama-sama menginginkan kematian.
'Apa hanya untuk mengambil sebuah kalung saja, harus berakhir dengan kematian. Apa malam ini aku mati, seperti apa yang sudah Evans katakan padaku.
'Bagaimanapun keadaanku, baik mati atau hidup dia akan tetap membawaku ke mansionya dan akan membuang mayatku dengan kedua tangannya sendiri ke tebing mansionnya,' gumam Alea kembali, menerka-nerka kejadian yang entah akan bagaimana terjadi nantinya.
Aretha dan Erick kini sudah menjauh dari area club mewah itu, meninggalkan hingar bingar dengan berjalan bersisian menyelusuri lorong panjang yang berpenerangan remang-remang.
Entah kini ia berada di mana, karena sepanjang lorong yang Alea berjalan terlihat begitu sepi dan sangat terbalik dengan keramaian di belakang sana.
Mereka berjalan berisisan sepanjang jalan yang entah Erick akan membawanya ke mana. Dengan tiba-tiba Erick melepaskan pelukan di pingganya tanpa mengatakan apapun.
“Apa ini sebuah jebakan untuk Evans?” tanya Alea memecahkan keheningan di antara mereka yang menyelusuri lorong dengan rasa ingin tahunya.
Padahal ia sudah sering di peringatkan untuk berhati-hati dengan rasa ingin tahunya itu.
Erick tidak menjawab sama sekali bahkan tidak menoleh ke arahnya, tatapan Erick lurus ke depan dengan langkah tegap.
Alea berdecak bingung akan sikap Erick yang sangat berbeda sekali dengan sikapnya beberapa menit lalu, yang seperti pria mesum.
Sudah sangat jelas sekali pria itu memiliki maksud terselubung dengan target utama Evans menggunakan umpan kalung itu yang mampu menarik seorang The Black Rose keluar dari Kingdom.
Alea mengedarkan pandangan ke segalah arah, menoleh ke belakang dengan terkejut saat melihat dua pria berbadan besar tiba-tiba muncul dari balik ruangan mengikutinya di belakang.
“Bagaimana situasinya?” tanya Erick yang mengetahui kehadiran dua orang bertubuh besar berada di belakangnya, dan mengikutinya.
Alea mengerutkan kening, menoleh ke samping Erick yang berjalan bersisian memandangi Erick yang sudah di pastikan kedua pria bertubuh besar itu adalah anak buahnya.
‘Astaga ternyata benar. Semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh Erick yang benar-benar ingin menjebak Evans Colliettie,' batin Alea.
Bagaimana nasibnya nanti jika terjadi baku hantam dan baku tembak?
Apa yang harus ia lakukannya?
'Tapi bagaimana cara memakainya?' batin Alea kembali bergumam.
“Semua terkedali Tuan. The Black Rose hanya membawa beberapa bodyguard yang berjaga di luar, sepertinya belum menyadari situasinya saat ini.”
“Jadi dia masuk sendirian?”
Alea sontak berhenti saat Erick menghentikan langkahnya tepat di depan pintu besar bercat hitam yang tertutup rapat di sudut ruangan dengan ketiganya saling bersitatap dengan raut wajah bingung.
“Tidak. Dia bersama dengan Raider!”
Alea mengerjapkan mata mendengar panggilan itu. Siapa Raider?
“Ohh Raider!” Erick mendengus mengejek.
“ Aku dengar dia seorang wanita cantik yang selalu setia menjadi kaki tanganya Evans Colliettie?” decaknya menatap kedua anak buahnya.
Mikaela. Satu nama itu yang langsung terlintas di kepala Ale. Jadi, julukan Mika itu Raider. Benar-benar seperti julukanya, wanita itu benar-benar seperti prajurit The Black Rose yang selalu setia.
“Benar, Tuan.”
Erick mengambil sesuatu di balik coat hitamnya, mengeluarkan senjata api berwarna hitam yang ukuranya lebih besar dan panjang dari senjata milik Evans yang masih menempel di pahanya. Erick memastikan amunisi di dalamnya terisi penuh.
“Sepertinya dia terlalu percaya diri bisa mengatasiku berdua dengan kaki tanganya itu,” decaknya dengan tersenyum mengejek.
“Kalian bereskan semua anak buah The Black Rose tanpa menimbulkan keributan!"
“Siap Tuan.”
“Dia bukannya percaya diri?“ sela Alea, menarik perhatian Erick yang tadinya akan membuka pintu setelah anak buahnya berlalu pergi.
“Dia meremehkanmu!"
Alea mundur hingga punggungnya menabrak ke dinding saat Erick maju mendekat dengan tatapan mengintimidasi. Tapi, entah kenapa, mulutnya terus saja berbicara akan rasa ingin tahunya.
“Dia akan mengambil kalung itu sekalipun harus membunuhmu!"
Erick menarik sedikit sudut bibirnya ke samping. “Tidak akan semudah itu, honey. Dia belum tahu sedang berhadapan dengan siapa. Biarkan saja dia merasa menang saat ini tapi akan aku pastikan…“
Alea menelan salivanya saat ujung senjata Erick membelai pipi mulusnya.
“Saat keluar dari sini, dia hanya tinggal nama!” desis Erick.
“Kau yang akan menjadi saksi berakhirnya eksistensi seorang Evans Colliettie si penguasa Italia!"
“Apa tujuanmu sebenarnya?”
Bukanya menjawab, Erick menariknya masuk ke dalam ruangan dengan Alea yang mengedarkan pandanganya pada ruangan yang cukup luas yang hanya ada dua sofa panjang berwarna merah dan satu lagi berwarna hitam.
Serta di tengah-tengah itu terdapat meja bar dengan beberapa botol minuman berjejer di atasnya, seperti sebuah mini bar di dalam ruangan yang cukup besar ini.
Alea mengenyitkan keningnya seketika melihat seseorang yang sudah duduk di sana tengah asik bercumbu dengan wanita bergaun sexy berambut panjang yang tengah di pangkunya dengan bringas tidak peduli sekalipun ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan itu.
“Lebih baik kau diam dan jangan banyak bicara, jika kau ingin keluar dari sini hidup-hidup,” ucap Ercik penuh ancaman dengan melepaskan cekalanya begitu saja membuat Alea terhuyung ke belakang dan di tangkap oleh seseorang yang luput dari pandangan.
Alea menoleh ke belakang dan terbelalak mendapati seseorang yang ia kenal.
“Ryander.”
“Alea.”
Alea memeluk Ryander dengan perasaaan lega dan juga senang karena Ryander benar akan menolongnya. Setelah mengurai pelukannya, Ryander memperhatikan penampilannya Alea keseluruhanya.
“Kau tidak apa-apakan Alea? Apa Evans Colliettie menyakitimu?”
Alea menggeleng. “Aku senang bisa melihatmu lagi Ryander. Aku baik-baik saja. Ryander, Gina datang menemuiku di mansion The Black Rose dan dia…”
Alea menutup mulutnya dengan sebening air mata jatuh ke pipinya mengingat wanita itu yang sudah menjualnya kembali kepada The Black Rose dan menembaknya.
“Aku tahu Alea. Aku tahu wanita bodoh itu datang ke mansion The Black Rose. Apa wanita bodoh itu mati?”
Alea mengangguk pelan dengan Ryander membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukanya.
“Maafkan aku yang terlambat membaca pesan yang kau tinggalkan hingga aku baru bisa datang saat ini. Aku menjemputmu untuk kembali dan aku sendiri yang akan mengantarkanmu pulang,” gumam Ryander membelai rambut panjang Alea.
“Bagaiaman dengan Tiara? Apa Jessie menanyakanku? Apa mereka tahu keadaanku?”
Ryander menghela napas. “Tiara dan Jessie tahunya kau menghilang bersama dengan Mike Shander, kemungkin dua wanita itu mengira kau sedang pergi berlibur dengan Mike Shander karena kau tidak kunjung tiba di Singapore,” jelas Ryander yang mengetahui kedua wanita itu pada waktu itu, karena ia baru tersadar ketika mendepati pesan suara yang dikirim Alea kepadanya dan langsung mencarinya.
“Bagaimana dengan Mike, Ry? Apa benar dia meninggal seperti apa yang kata Gina?” tanya Alea masih teringat akan kekasihnya itu walau ia sudah di kecewakan oleh Mike.
“Kemungkinan begitu Alea. Karena aku tidak tahu pasti kabar Mike meninggal atau tidaknya, karena sebelum Willson meninggal di rumah sakit dia hanya memberitahuku jika Gina sudah mengetahui posisimu di tangan The Black Rose dan entah bagaimana dengan devil satu itu, dan mungkin benar Mike meninggal,” gumam Ryander.
Mata Alea langsung berkaca-kaca mendengar kabar akan Mike, yang mungkin benar kekasihnya itu meninggal.
"Sttt...jangan menangis aku akan melindungimu," ucap Ryander mengusap air matanya dengan ibu jari.
"Aku masih belum percaya jika Mike meninggal, Ry."
“Tolong kau kirim pesan kepada Jessie dan juga Tiara jika aku baik-baik saja bersama denganmu saat ini. Pasti mereka tengah mencemaskanku Rya," pinta Alea yang dianggukan Ryander dengan sebelah tanganya mengambil ponsel di saku celananya dan segera mengirim pesan seperti yang Alea katakan kepadanya.
Alea masih menatap penasaran dengan pria di depan sana yang masih asik bercumbu hingga wajah pria itu begitu membuatnya penasaran.
“Aku sudah mengabari Tiara, Alea sebaiknya kita pergi,” ajak Ryander namun Alea mengcekal lengan Ryander penuh rasa ingin tahunya.
“Tunggu, Ry. Apa ini semua rencanamu?”
Bersambung...