Mafia And Me

Mafia And Me
Tuduhan!



Sebelum masuk ke dalam ruangan kerja Evans, Alea menarik napas dalam-dalam setelah dirasa cukup tenang dia mendorong troli makanan ke dalam ruangan tersebut.


“Selamat malam, Tuan,” sapa Alea seraya menatap sejenak pria tersebut.


Evans tengah duduk di meja kerjanya dengan layar laptop yang tengah dipandanginya.


Sudah terbiasa sapaanya tidak dijawab, tetapi Alea tidak peduli.


“Saya sudah siapkan makan malam untuk anda, silahkan,” ucap Alea lagi.


Di letakannya satu persatu beberapa menu yang diminta Evans pada orang dapur, sementara pria itu masih saja duduk dan terfokus pada pandangannya tersebut.


‘Ada yang aneh nggak sih?’ batin Alea bertanya sendiri, seraya menatap pria yang masih betah duduk di kursi kebesarannya itu.


‘Sudah beberapa hari ini Evans tidak memanggil wanita jallangnya? Apa dia tengah berpuasa?’


Alea tertawa dalam hati melihat sikap aneh Evans yang tidak bisa itu.


“Kenapa kau menatapku seperti itu, hmm?”


Alea mengerjapkan kedua matanya lamban sejak kapan pria itu kini berada di depannya.


“Hm, tidak Tuan.”


Evans menatap curiga. “Katakan padaku, sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan dengan kekasihmu itu, hmm?”


Kening Alea mengernyit bingung dengan pertanyaan itu.


“Maaf, maksud anda rencana apa? Aku tidak punya rencana apa-apa.”


Evans berkacak pinggang dengan mata yang menghunus.


“Ck! Emangnya aku pertanya dengan perkataanmu itu hah? Aku tahu kau dan kekasihmu itu berencana mau membunuhku kan?Kamu memberikan racun pada makanan ini kan?” tuduh Evans.


Alea tergelak kaget. “Ra-racun?” seru Alea, kedua matanya turun menatap pada makanan yang disajikan di atas meja bundar tersebut. Konon, Evans selalu makan malam di ruangannya.


“Racun apaan, Tuan? Tidak ada,” hardik Alea.


 ‘Astaga menaruh racun? Kenapa iblis itu seyakin itu aku menuduhku menaruh racun di makanannya,’ batinnya.


“Anda takut saya racuni, Tuan?”


Evans diam dengan ekspresi dinginnya sementara Alea hela nafas panjang.


“Kalau saya ingin meracuni anda, nanggung banget sekarang. Kenapa saya nggak sejak awal saja meracuni anda.”


“Apa anda takut mati karena saya racuni?” tanya Alea, lagi.


Evans menarik sudut bibirnya ke samping. “Oke. Kalau kau tidak menaruh racun di makananku, sebaiknya kamu makan semua makan malam ini.”


 “Apaaah?”


“Kenapa? Apa kamu juga takut mati akan ulahmu sendiri hmm?” balik Evans bertanya.


Alea mendengus pelan. Dia malas berdebat dengan devil seperti Evans.


Akhirnya Alea pun menghempaskan pantattnya di kursi meja makan tersebut dan makan dengan santai di depan pria tersebut.


“See, saya memakan semua. Ini sungguh lezat sekali. Apa saya mati karena racun di makanan ini?”


Alea mengkendikan bahunya dengan bibir yang memberengut kesal.


“Tidak. Saya masih hidup dan tidak mati seperti dugaan saya yang meracuni anda.”


Evans berikan senyuman miring, seraya menopang sebelah tangannya. “Kau belum mencoba wine nya bukan?”


Bola mata Alea membulat.


“Maksud anda?”


Evans menunjukkan botol wine di depan Alea, terakhir wanita itu banyak diam di depan botol wine itu, bolehkan kalau dia curiga dengan wine tersebut?


“Minumlah wine itu agar aku yakin kamu tidak akan meracuniku.”


Alea menggeleng, pelan.


“Tidak.”


Alea meremas kedua tangan erat. “Maaf, saya tidak minum wine.


"Saya, bersumpah tidak menaruh racun pada makanan apa lagi minuman anda, Tuan. Tolong percayalah padaku,” mohon Alea.


“Ck! Tentu saja aku tidak percaya padamu, maka minumlah.”


“Tapi aku sudah membuktikan, Tuan.”


Alea menatap sendu pada botol minuman tersebut. “Jangan paksa aku meminum wine, Tuan.” Alea memalingkan wajahnya.


“Sama saja anda mau membunuhku perlahan.”


Evans menarik sudut bibirnya ke samping. “Jadi kamu menaruh racun pada minuman itu, hmm?”


Alea menggeleng, tidak. Dia tidak selicik itu. “Lalu kenapa kamu takut, hmm?”


Evans menuangkan wine tersebut ke gelas tinggi lalu memberikannya pada Alea.


“Minumlah sampai habis kalau kamu tidak meracuniku,” kata Evans, tegas.


 “Anda boleh bertanya pada Berta dan orang dapur, semua makanan di dalam troli ini Bertalah yang menyiapkannya.


"Anda boleh chek sendiri di cctv yang sudah segede layar bisokop itu,” tunjuk Alea pada dinding tembok di mana semua terpasang dengan jelas cctv setiap sudut ruangan mansion Evans.


“Cek saja di sana. Apa aku menaruh racun di dalam makanan dan minuman itu?”


Ada alasan khusus kenapa dia tidak mau minum wine.


“Sebenarnya maksud anda apa menukar saya dengan Berta kalau anda curiga pada saya akan membunuh anda dengan racun?”


Evans terdiam di tempat seraya menatap Alea.


“Kenapa anda tidak membiarkan aku di tempatku semula saja dengan peliharaan anda yang lebih menakutkan?”


Alea juga bisa kesal kalau dituduh yang tidak-tidak di sini.


Sekalipun dia membenci Evans, tidak mungkin bukan kalau dia akan membunuh para iblis itu dengan racun?


“Kau memang pandai Alea,” jawab Evans dengan bersedekap.


“Kau sudah tau alasanku kenapa kau disini jadi pelayan pribadiku.”


Alea mendengus pelan. “Ya. Tetapi anda tidak harus mencurigaiku berlebihan seperti ini, Tuan.


"Sekalipun anda jahat padaku dan menyiksaku di neraka mu ini, tetapi tidak ada niat sedikitpun membunuhmu!”


Evans tertawa pelan nan meremehkan. “Minumalah. Aku tidak mau mendengarkan basa basimu yang sudah basi itu.”


Mata Evans melirik pada gelas tinggi itu.


“Ayo, cepat!”


Alea menarik napas sejenak, dengan terpaksa dia mengambil gelas tinggi itu lalu menegaknya dengan cepat hingga tandas.


“Puas!”


Evans tidak memberikan ekspresi apapun. “Apa perlu aku meminumnya dan memakannya dengan botolnya, hmm?”


Evans mengeryit dengan kalimat terakhir. Namun, tak memungkiri dia menuangkan kembali wine ke dalam gelas yang sama sebagai bukti.


“Minumlah.”


Meski ekspresi yang ditunjukan Alea terkejut karena Evans kembali memintanya untuk meminumnya. Dengan terpaksa, Alea kembali menegaknya dengan kedua mata yang basah.


“Apa anda mau aku minum lagi, hmm?” sebening air mata jatuh di pipi Alea dengan tangan memegang gelas tinggi itu.


“Tidak. Aku puas.”


Alea menghapus kasar air matanya. “Ternyata kau benar, tidak ada racun di makanan dan minumanku,” ucap Evans, dengan santai.


“Bereskan semua ini, aku sudah tidak bernafsu untuk makan malam!” lanjutnya seraya berlalu pergi meninggalkan Alea yang masih berdiri dan menatapnya.


Tubuh Alea mulai bereaksi, dia merasa terbakar.


“Aku harus segera membereskan ini. Ya, aku tidak tahan lagi.”


Alea dengan cepat membereskan semua bekas makanan malam yang sudah dia makan.


Dia meremas ujung pakaiannya menahan rasa panas di sekujur tubuhnya.


“Alea, ada apa?” tanya Berta.


Wanita senja itu terkejut melihat Alea yang terlihat tergesa-gesa menyimpan troli makanan.


Alea berikan senyuman tipis. “Aku tidak apa-apa, Berta. Aku duluan,” ucap Alea seraya menepuk pelan kedua tangan wanita senja itu yang terlihat cemas padanya.


Tak lama, dia berlari cepat menuju ke kamarnya. Satu hal yang Alea cari ketika sudah berada di dalam kamarnya. Dia berjongkok di kloset duduk untuk memuntahkan wine yang sudah dia minum.


Sayangnya, sama sekali tidak berhasil dan jalan satu-satunya dia mencari obat karena tubuhnya sudah tidak tahan dengan wine.


“Tolong aku, Tuhan.”