
“Tuan—Alea menghilang!” sela Mika, tiba-tiba masuk ke dalam ruangan nya.
Evans terdiam sejenak menatap ketiga pria di hadapannya yang sama-sama mereka bersitatap.
“Jadi bukan kamu yang menyekap, Alea?” tanya Alea.
Evans berdiri seraya membuang napas pelan.
“Sudah puaskah kau menuduhku hmm?”
Leo bungkam, sementara Evans jelas punya alasan tersendiri kenapa dia mengurung Alea di dalam ruangannya dan tidak hilang seperti sekarang ini.
“Bahkan aku pikir ini semua permainanmu, Leo!”
“Permainanku. Mana mungkin aku berkata dusta padamu tentang Alea hilang. Kenapa juga aku harus berbuat sejauh ini, tidak.”
“Lalu kemana perginya pelayan pribadiku, hmm?”
“Jadi sekarang kamu menuduhku atas hilangnya Alea?” seru Leo, tidak terima.
Evans menajamkan pandangannya pada Leo, seharusnya siapa yang harus disalahkan kalau saudaranya selalu ikut campur masalahnya ini.
Tak ada obrolan lagi dan hanya keheningan di ruangan itu yang menyapa keempat orang di dalam ruangan Evans, akhirnya Leo dan Marvio keluar dari ruangan tersebut dan menyuruh anak buahnya berpencar mencari keberadaan Alea.
Tidak hanya Leo dan Marvio yang sibuk mencari Alea, tapi Lucas pun yang mendengarkan kabar Alea pun ikut terkejut dan ikut mencari.
Masalah pesta kecilnya itu, dia tinggalkan dan meminta Leo dan Marvio untuk mewakilinya.
“Apa sudah ada kabar?” tanya Evans melalui sambungan telepon.
“Kau sudah menemukannya?”
“Belum, Tuan. Saya dan yang lain masih mencari,” jawab Mika.
Bug!
Evans menghantamkan kepalan tangan tepat di atas meja kerjanya dan suara yang keras itu pun terdengar jelas oleh Mika di panggilan telephonenya.
“Selama ini kamu kemana saja, hah? Bukannya aku sudah memperingatkan kamu untuk terus mengawasi wanita bodoh itu?” seru Evans, terdengar murka.
“Maafkan saya, Tuan. Saya kehilangan pengawasaan pada Alea.
“Tapi, saya sudah menemukan dua orang itu! Kami akan membawanya pada anda,” ucap Mika seraya menutup panggil telepon tersebut.
Mika menyeret paksa satu orang pria paruh baya sementara satunya di bawa dengan paksa seperti yang Mika lakukan.
Brug!
Mika dan Lucas bersamaan melemparkan kedua orang tersebut, hingga tubuh dua orang pria itu pun tersungkur di lantai tepat di bawah meja kerja Evans yang tengah duduk dengan santai seraya mengelap senjata apinya dengan sehelai kain.
“Mereka yang membawa Alea,” kata Mika.
“Kau sudah tahu bukan konsekuensi telah berkhianat padaku, hah?”
“A-ampuni kami, Tuan. Kami menyesal, jangan bunuh kami,” kata si pria berdasi merah seraya berlutut di depan Evans.
“Menyesal, hah?”
Evans sama sekali tak melihat, kedua matanya sibuk dengan senjata api kesayangannya.
“Sudah berapa tahun kau menghianatiku dan aku masih diam tidak melakukan tindakan padamu, hmm? Bahkan pabrikku hampir bangkrut pun aku masih saja diam. Aku masih bermurah hati sampai aku masih memberikan mu nafas sampai detik ini!”
“Ampuni aku, Tuan.”
“Ck! Pengampunan hmm?”
Pria berdasi merah itu terus bersujud memohon ampun, lain halnya dengan satu pria berdasi kuning yang masih terlihat angkuh di depannya sekalipun wajahnya sudah tidak berbentuk lagi karena lebam dan juga darah.
“Bahkan kalian sudah tahu kalau aku tidak punya belas kasih pada orang-orang yang tak sayang dengan nyawanya sendiri.
“Siapapun orang yang sudah berhianat di sini pasti akan mati ditanganku!” decak Evans seraya menghunuskan tatapannya.
Pria itu bangkit dari duduknya seraya berjalan mendekat pada dua orang yang berlutut di depannya.
“Ampuni kami Tuan,” ucap salah pria berkepala botak berdasi kuning ikut bersimpuh di depan kaki Evans.
“Cih—lagi-lagi pengampunan. Aku bosan mendengar kata pengampunan!”
Evans mengayunkan kakinya di mana kedua orang itu memegangnya, sekali ayunan saja dua orang itu langsung terpental mencium lantai dingin.
“Katakan kepadaku, di mana kau menyembunyikan wanita itu!”
“Apa dia kekasihmu?” tanya si pria berdasi kuning yang tak lain Jody. Pria itu seolah tak takut bahkan sejak tadi tidak ada mimik penyesalan.
Evans mengacungkan senjata kesayangannya tepat di depannya.
“Tuan, tolong ampuni kami. Kami mohon,” itu Jony yang kembali bersuara ketika senjata api itu menghunus tepat di kepala Jody.
“Katakan padaku dimana wanita itu!”
Johnny melirik ke samping dan menyikut lengan saudaranya yang terikat tali. Dia ingin saudaranya itu mengatakan, semua ini demi nyawanya. Dia masih ingin hidup.
“Dy, beritahulah pada Tuan Evans di mana wanita itu kamu sembunyikan,” pintanya.
“Ck! Melepaskannya?” kata Jody keras.
“Setelah kau mengumpankan pada kami untuk memancing kami keluar, kini terlihat kau mencemaskan wanita itu?”
Evans masih tetap sama berekspresi dingin. “Jika wanita itu bukan siapa-siapa kau kenapa sepanik itu, hah?”
Dor!
Jony menjerit keras ketika Evans menembak satu kaki saudaranya.
Jantung pria itu berdegup tiga kali lipat lebih kencang dengan deru nafas yang memburu.
“Katakan padaku, di mana wanita itu!”
Evans bertanya kembali pada dua pria tua di depannya, sementara Jody hanya meringis menahan sakit di kakinya.
“Ck! Sekalipun aku mati ditanganmu aku tidak akan pernah memberitahukan di mana wanita itu berada.”
Pria tua itu menatap penuh kebencian dan pada iblis di depannya.
“Bila aku tidak cepat menemukan wanita itu maka kau akan menyesal ketika mendapatkan wanita itu dalam keadaan mat—"
“Dor!”
Satu peluru pun akhirnya keluar menembus jantung pria yang sudah berani membangunkan iblis di dalam tubuhnya.
Tergeletaknya pria itu tak bernyawa membuat pria yang berdiri di sampingnya pun ikut berteriak memanggil saudaranya yang kini sudah mati di tangan Evans.
Beginilah bila orang meremehkan dan senang-senang bermain dengan iblis seperti Evans Colliettie.
Tidak ada kata ampun dan bila sudah berhianat tidak ada lagi kata maaf selain kematian yang akan menjemputnya.
“Apa kau masih diam hmm?”
Jony menatap Evans penuh permohonan. Semoga hari ini dia masih diizinkan untuk hidup tidak dibunuh secara kejam oleh Evans Colliettie di hadapannya.
“Tolong maafkan aku. Aku bersumpah akan setia mengabdi padamu, tolong izinkanlah aku hidup kalau aku mati bagaimana nasib istri dan anak-anakku,” mohon Jony.
Semoga Evans bermurah hati memaafkan semua kesalahannya yang telah diperbuat.
“Ck! Kau masih ingat keluargamu, tapi kamu berani berkhianat padaku!”
Evans menarik napas sejenak seraya dua tangannya mengusap senjata api kesayangannya.
“Katakan padaku, di mana kalian menyembunyikan wanita itu.
“Bila kau masih tidak mau memberikan keberadaan wanita itu. Kau pun akan menyusul saudaramu.
“Maka katakan padaku, sebelum aku membunuhmu!”
“Aku bersumpah, Tuan. Aku tidak tahu di mana Jody menyekap wanita itu.
“Dialah yang membawa wanita itu, Tuan. Aku mohon ampuni aku dan jangan bunuh a—”
Dor!
Evans Colliettie tidak suka berbasa-basi dan tidak mau mengulur-ngulur waktu lagi, dia lebih baik mencari dari pada terus bertanya yang membuatnya kesal.
Sudah tiga peluru hari ini keluar dari senjata api kesayangannya itu tepat di jantung, kaki dan juga kepala.
Sekali lagi, tidak ada ampun bagi orang yang berkhianat. Tidak ingin menumbuhkan dendam nantinya, Evans lebih suka membungnya tanpa meninggalkan jejak agar semua keluarganya berpikir pria itu hilang.
“Tidak ada yang berani menentangku apa lagi melawan seperti kalian tikus bedebah!”
Kedua matanya pandangi dua orang yang berdiri di depannya.
“Bawa mayat mereka ke mansion. Berikan pada Romeo untuk makanan para binatang kesayanganku,” perintah Evans yang langsung di anggukan siap oleh Mika.
Wanita itu langsung menoleh pada anak buahnya dan memerintahkan seperti yang mereka dengar perintah tuannya.
“Satu hal lagi.”
Pandangan Mika kembali tertuju pada Evans yang masih nampak santai seperti biasa pria itu lakukan.
“Cari wanita bodoh itu di setiap sudut pabrik tua ini!”
“Baik Tuan!” ucap Mika bersamaan dengan Lucas.
Mika dan Lucas ikut keluar bersama dengan anak buah Mika yang membawa mayat tersebut, namun di depan sana, Massimo yang baru saja tiba di ruangan pun terkejut di mana dia menemukan dua mayat yang dibawa oleh anak buah Mika.
“Astaga, apa kamu membunuhnya, Evans?” seharusnya Massimo tidak harus heran dan juga terkejut melihat hal itu, bukannya saudaranya adalah seorang Mafia kejam?
Siapapun yang berurusan dengannya dan pengkhianatan yang dilakukan bukannya konsekuensinya adalah kematian?”
“Seharusnya sejak dulu aku mengeksekusi dua tikus itu sejak dulu dan mengakhiri permainan ini!”
Massimo menarik nafas pelan. Ya, itu benar. Kenapa pria itu tidak lebih dulu mengeksekusinya?
Kenapa setelah Alea menjadi umpan untuk mereka keluar dan menghilang seperti ini dia baru sadar?”
“Ya, seharusnya dan kenapa kamu terlambat untuk melakukannya, Van? Kenapa di saat wanita itu menghilang kamu baru sadar?” tanya Massimo.
Evans membalikan tubuhnya seraya menatap keluar jendela besarnya. Pria itu hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Massimo lagi.
Yang dikatakan memang benar. Kenapa di saat wanita itu hilang dia baru tersadar.
“Aku datang ke sini hanya ingin memberitahukan padamu, Van.”
Evans masih berdiri tanpa menoleh sedikitpun. “Alea sudah berada di aula,” kata Massimo.
Apa Evans akan peduli ketika Alea kini sudah ditemukan?
Tetapi kenapa pria itu sama sekali tidak beranjak dari tempatnya dan masih enggan melangkah untuk mencari tahu kebenaran yang Massimo katakan padanya?