
“Mulai detik ini, aku akan memberikan tugas baru untuk Alea.”
Bukan Alea yang tersentak kaget atau menunjukan ekspresi keterkejutan yang lainnya di depan Evans.
Tetapi, yang lebih terkejut itu Carla. “
“Tugas baru? Apa itu Tuan?” sela Carla cepat.
“Ck! Kenapa kau yang pertama protes, hah?” seru Evans, menatap marah.
Dia sudah katakana dia tidak suka dibantah, wanita itu kini protes padahal si pelaku saja hanya diam dan menatap.
“Ah, maafkan saya, Tuan.” Carla menundukan kepalanya.
“Mulai detik ini kau—”
Degupan jantung Alea memompa cepat.
“Kau menjadi pelayan pribadiku menggantikan Berta. Posisi kalain bertukar, kau tidak apa posisimu di tukar dan melayani wanita jallangku, Berta?”
“Saya tidak apa, Tuan,” ucap Berta.
Mau dimanapun sama saja. “Dan kau—” tunjuk Evans pada Alea.
“Kamarmu akan pindah, Mika akan menunjukkan di mana kamarmu yang baru nanti setelah ini.”
Apakah Alea harus senang, menjadi pelayan pribadi Evans?
Bryan pandangi Alea di mana wanita itu hanya diam dengan mata yang menatap tuannya sementara si pelaku hanya bisa diam.
Jauh di lubuk hati Alea, dia tidak mau menjadi pelayan Evans, di mana dia kan sering bertemu dengan Evans, melayani pria itu bahkan semua kebutuhan pria itu akan diurus, belum lagi yang membuat Alea akan kesal nantinya.
Dia akan sering berkomunikasi dengan Evans dan itu tentunya Alea tidak setuju dengan keputusan Evans.
Tetapi, dia tidak berani mengeluarkan suaranya untuk menentang iblis itu yang mengerikan, suka tidak suka mau tidak mau dengan perintah devil itu tidak bisa dibantah lagi bukan?
‘Ya, Tuhan. Bolehkah aku memohon agar posisiku tetaplah sama semula sekalipun peliharaan Evans begitu menjengkelkan. Aku bisa menghadapinya. Tapi, bila yang satu ini… Aku tidak bisa,’ batin Alea.
“Tapi, Tuan… kenapa harus wanita itu yang harus menjadi pelayan anda?”
Carla protes kembali, tentunya wanita itu tidak setuju dengan keputusan Evans.
Tetapi, apa yang wanita itu dapatkan dari sang devil. Evans mengacungkan senjatanya dan menghaluskannya tepat pada Carla.
“Apa kau akan membantahku, hmm?”
Carla menutup erat mulutnya agar tidak bersuara lagi, sementara Evans di depan sana menekan senjatanya hingga terdengar bunyi klik membuat tubuh wanita itu tegang dengan gelengan kepala agar Evans tidak menembaknya.
Dor!
“Aaarghhh….” Jerit Carla kencang. Begitu juga semua wanita kecuali Mika ikut berteriak.
Tubuh Carla bergetar hebat, semua di dalam ruangan itu pun dibuat ketakutan. Meski entah siapa yang terkena peluru yang baru saja terlepas dari senjata kesayangannya itu.
Evans menyeringai, “Ahh—kau masih beruntung rupanya. Aku tidak tahu siapa yang akan mendapatkan satu peluru ini. Apa ada yang mau protes dengan keputusanku itu, hah?”
“Apa kalian--wanita jallangku tidak setuju Alea menjadi pelayan pribadiku, hmm?” tanya Evans seraya mengarahkan senjatanya ke arah keempat wanita yang menggeleng pelan.
“Tidak, Tuan,” jawab ketiganya serempak.
Evans tersenyum seringai iblis dan kini tatapannya beralih pada seseorang di depannya itu.
“Good. Lalu, bagaimana dengan sayangku, Ruby?”
“Terserah anda,” jawab Ruby.
Alea menatap sejenak wanita itu, lalu detik berikutnya Alae menundukan pandangannya dengan pikiran penuh pada dua orang itu.
“Lalu bagaimana denganmu, Alea? Apa kamu senang dengan tugas barumu atau kau akan protes seperti biasanya, hmm?”
Evans dengan senjata dan juga tatapannya kini berarah pada Alea. Wanita itu terlihat banyak diam akhir-akhir ini dan apa yang dia lihat, sepertinya di depan sana bukan Alea yang dia kenal.
Wanita itu terlihat pasrah dengan kepala yang menunduk, Evans yakin kalau wanita bodoh itu tidak berani menatapnya lagi.
“Say it, Alea!”
Alea menarik napas sejenak, lalu mengangkat wajahnya.
Evans tertawa puas. “Good, Alea!”
“Sebenarnya apa yang anda rencakankan, Tuan?”
Berta, Antony dan juga Mika berikan gelengan pada Bryan agar tidak ikut campur urusan tuannya.
“Aaahhhh….” Jerit semua orang di dalam ruangan tersebut.
Satu peluru kembali keluar dari senjata yang dipegang Evans, dan peluru itu mampu membuat pria itu berdiri dengan kaku.
Beruntung, hanya telinga yang berdarah itu pun tembakan Evans menyerempet telinga Bryan dan berakhir sebuah guci besar di belakang pria tersebut pecah.
Alea dengan nafas yang tercekat hanya bisa menatap sendu pada Bryan dengan mulut yang sengaja dia bekap oleh tangannya sendiri.
“Aku tidak suka dibantah, sekarang kalian keluar semua!” seru Evans.
Bryan masih berdiri dan menatap penuh kebencian pada Evans, sementara yang lain sudah berjalan keluar.
“Kamu tidak apa, Bryan?” tanya Alea dengan bibir yang bergetar.
Bryan hanya diam dengan mata yang masih menatap lurus ke depan dengan satu tangannya memegangi telinganya yang terdapat darah.
“Aku tidak apa.” Bryan berikan senyuman untuk Alea.
“Jangan khawatirkan aku, Alea. Ayo, kita pergi juga dari sini,” ajak Bryan seraya menggenggam tangan Alea.
Wanita itu pun tersenyum yang diiringi anggukan pelan, tanpa kedua orang itu sadari ada sosok di belakangnya yang menatapnya tajam.
“Apa kau tuli, hah?”
Alea berhenti berjalan, lalu membalikan badannya untuk pandangi pria kema itu.
“Kecuali kau, Alea. Kau harus diam di tempatmu!”
Alea membuang nafas, entah apa lagi yang pria itu rencanakan. Alea menoleh pandangi Bryan sejank.
Bryan pun paham, dia cukup berikan anggukan yang dipahami oleh Alea dan berjalan menuju pintu keluar. Di sana, masih ada Carla, wanita itu pandangi Alea dengan tatapan permusuhan.
“Astaga,” ucap Alea, terkejut.
Evans kini sudah berdiri di depannya ketika Alea hanya sebentar menatap kepergian Bryan.
“Bereskan semua ini,” kata Evans pada pecahan guci di ruangan kerjanya.
Alea diam tak menjawab, pria itu kembali berbalik sebelum Evans benar-benar pergi lalu berkata.
“Mulai detik ini, kau jadi pelayan pribadiku, Alea!”
“Aku paham.”
Evans berikan anggukan, pelan seraya senyuman remeh pada wanita bodoh di depannya itu.
“Ah, satu lagi.”
Alea menatap Evans sejenak sebelum merapikan pecahan guci.
“Temukan dua peluru milikku!”
Alea membuang napas berat diiringi kedua matanya pandangi Evans dan juga Mika yang pergi meninggalkan ruangan kerja. Pandangan Alea turun pada kedua tangannya yang mendadak bergetar.
Dia duduk di atas lantai dingin dengan memeluk kedua lututnya sendiri, suara tembakan itu sudah hal yang tidak asing lagi selama dia berada di sini.
Tetapi, suara tembakan itu mengingatkan Alea, bagaimana waktu itu menembak Ryander.
Wajah temannya itu membuat Alea menangis. ‘Maafkan, aku Ryan. Maafkan aku, aku menyesal,’ lirih Alea seraya menghapus air mata yang berjatuhan.
Alea masih duduk, dia mencoba menenangkan diri, setelah cukup tenang. Alea akhirnya bangun dan merapikan pecahan yang dibuat oleh devil itu.
Alea menatap sejenak ruangan yang luas di depan matanya seraya mencari peluru yang diminta Evans tadi.
‘Tuhan, sampai kapan aku ada disini. Kenapa engkau kirim aku di tempat seperti neraka yang menakutkan ini. Tolong keluarkan aku, Tuhan. Aku mohon,’ gumam Alea dalam hati.
“Apa kau sudah menemukan peluruku, hmm?”
Bolehkan Alea melempar guci yang dia pegang ini pada pria kejam itu?