Mafia And Me

Mafia And Me
MAFIA AND ME 2 (EPS 9)



Sembilan bulan kemudian.....


Lea semakin mudah lelah dalam setiap apa yang dia kerjakan dalam keadaan ia yang kini sudah hamil tua. Ia juga sudah mengambil cuti dari RM sampai dirinya melahirkan.


Jena dan Fina sering menghabiskan waktu bersama dengan Lea, terkadang mereka makan dan ngobrol bersama. Dapat dikatakan kehadiran Jena dan Fina seakan mengubah hidup Lea, namun satu hal yang membuat nya kadang minder yaitu gosipan para tetangga yang semakin menjadi jadi.


Seperti pagi ini, Lea hendak membeli sayuran dan ikan ke pasar namun ia malah mendengar gosip para tetangga di depan nya sendiri.


" Eh, Bu lihat deh setelah Ibunya meninggal ternyata dia jadi wanita murahan begitu. Lihat saja sekarang hamilnya makin kelihatan, gak tahu malu banget ya. Ish... najis deh kalau kita datang lihatin dia lahiran, Sudi Sudi,,,,," gosip para tetangga.


LeA mengelus dadanya dengan menghela nafas kasar. " Begitu bencinya Ibu Ibu disini kepada ku, bahkan untuk tersenyum kepadaku saja mereka seakan enggan."Lirih Lea.


" Permisi Bu, Ibu juga ingin ke pasar?" Tanya Lea basa basi.


" Cihh, ayo Bu kita pergi malas ladenin wanita seperti dia," ibu ibu itu langsung melangkah pergi meninggalkan Lea dalam keadaan hati yang tersayat sayat.


" Sudahlah, biarkan mereka berbicara tentang aku yang penting aku tidak membebani mereka," gumam Lea dengan penuh keyakinan ia pun melanjutkan langkahnya lagi.


****


" Fiuh,,, akhirnya sampai juga," gumam Lea yang kini sudah membeli beberapa kebutuhan makan dan minum untuk stok satu bulan.


" Semakin hari aku sangat mudah kelelahan, bahkan aku ingin terus bermalas-malasan mungkin karena faktor usia kandungan yang sudah menuju lahiran." Gumamnya.


" Drt.......drt...." Ponsel Lea bergetar di kantong baju dasternya.


" Halo,,,"


" Lea, gimana kabar kamu?" Suara Fina dari seberang sana.


" Baik, tumben telfon begini."


" Nngak sih cuma ada waktu aja mumpung pengunjung lagi sepi ya udah aku telfon kamu aja,"


" Ouh... Jena dimana?"


" Ini, dia lagi PMS makanya rada rada malas gitu. Badmood dia hehehe...."


" Astaga ada ada aja,"


" Lea, kamu gak ada rasa sakit gitu seperti tanda tanda mau lahiran?"


" Em.. gak, cuma ya sering penat aja."


" Ouh,,, ok deh, aku mau lanjut kerja lagi soalnya pengunjung dah datang lagi. Bye Lea,,,"


" Da,,,,"


" Tinggal menunggu waktu kapan bayi ini lahir, aku sudah berupaya untuk menerima bayi ini dalam rahim ku tetapi tetap saja perbuatan laknat Pria itu selalu terngiang dalam otak ku. Apa aku mampu menerima bayi ini kelak dia lahir nanti?" Lirih Lea, saat bersamaan tiba tiba ia merasakan sakit perutnya seakan mules begitu.


" Apa aku akan segera melahirkan?" Lea menyentuh perutnya.


Dengan gemetaran ia pun langsung menelpon nomor Fina kembali.


" Halo, Fin,,, Fina aku aku mau lahiran bisa gak kamu datang. Aku gak kuat lagi," ~Lea.


" Iya, Iya, aku dan Jena akan segera kesana ya. Kamu yang kuat, kamu terus tarik nafas dalam dalam ok,"


" Tutt...."


" Aaaaa,,, Tuhan tolong aku,,,,, aku tidak kuat lagi,"


" Aaaaaa,,,,,, ini semakin terasa sakit hiks... hikss,,,, Ibu,,, maafkan aku,,,,,"


" Aku harus berjuang demi benih Pria itu hikss,,, hiks,,, aku tidak kuat lagi ya Tuhan,,,"


****


" Bayi mu sudah selamat Lea, " Ucap Jena seraya memberikan bayi mungil yang ia gendong ke samping Lea.


" Apa aku sudah melahirkan?" Tanya Lea penuh kebingungan.


" Iya, kamu sudah melahirkan tetapi dengan cara operasi karena kamu sempat tidak sadarkan diri ketika kami sampai di rumah. Sebelum terlambat maka kami pun mengiyakan permintaan Dokter untuk segera melakukan tindak operasi agar bayimu selamat." Jelas Fina.


" Jadi,,, jadi a,, aku baru selesai operasi?"


" Iya, jadi kamu jangan banyak gerak karena bekas jahitan itu pasti sangat terasa sakit," ucap Jena, Lea mengangguk karena ia juga merasakan perih dibagian perutnya.


" Bayimu laki laki Lea," Kata Jena.


Lea melirik bayi yang kini tertidur disamping nya, betapa tampannya bayi itu. Tanpa dasar air mata Lea jatuh ketika melihat bayi itu.


" Dia adalah benih Pria brengsek itu, bawa saja dia!" Ucap Lea dengan meneteskan air mata, ia tidak ingin menatap wajah bayi itu lagi.


" Lea, kamu tidak boleh bicara seperti itu, bagaimana pun kamu sudah mengorbankan nyawa mu meski dengan operasi tetapi tetap saja kamu yang sudah mengandung dia. Jadi jangan bicara seperti itu, dia tidak bersalah dia hanya sebuah anugerah yang dititipkan oleh Tuhan. Mungkin Tuhan ada cara lain dengan memberikan bayi ini kepadamu, jadi jangan pernah mengungkapkan kebencian dirimu melalui bayi yang tidak bersalah ini," jelas Fina yang merasa kasihan pada bayi itu.


Lea terdiam membisu tidak menjawab bahkan tidak menoleh.


" Lea, benar yang dikatakan oleh Fina. Mungkin saja bayi ini adalah alat yang Tuhan berikan padamu untuk mendapatkan kebahagiaan. Ikuti saja alurnya, nikmati prosesnya, Tuhan tahu kapan waktunya bahagia." Ungkap Jena lagi.


Mendengar setiap kata motivasi yang diberikan oleh Jena dan Fina membuat hati Lea mampu tersentuh. " Maafkan aku, aku hanya teringat akan kejadian itu." Balas Lea meski masih dalam keadaan menangis.


" Sudahlah, jangan ungkit itu lagi Lea. Kamu sudah sampai di titik ini masa ia kamu mau menyerah begitu saja?" Kata Jena.


" Sekarang bayi ini sudah lahir dan jelas kamu adalah Ibu kandungnya, tolong beri nama kepadanya." Pinta Fina


Lea memejamkan matanya sesaat sebelum menjawab.


" Aku tidak ada memikirkan namanya," sahut Lea.


" Nama tidak harus disiapkan baru diungkapkan, intinya yang ada dalam hati kecilmu maka itu saja berikan menjadi nama bayimu," ucap Jena.


"Hansel! namanya adalah Hansel! seperti yang kalian bilang karena dia adalah hadiah dari Tuhan," ucap Lea langsung.


" Bagus! itu nama yang bagus," balas Jena.


" Iya, baiklah namanya adalah Hansel!" ucap Fina juga.


*****


LIKE KOMEN DAN VOTE


SALAM^^


haii, mampir juga ya dikarya author di apk sebelah N0v3lm3 judulnya OUR FATE OF LOVE dan menikahi Tuan muda lumpuhh🥰disana kalian bakal ketemu author, dukung author disana y sayangg🙏🥰