
“Aku tidak menyangka kalau pada akhirnya ternyata kamu menginginkannya.
“Kamu menginginkan pria itu. Kenapa kamu harus berdusta padaku Alea?”
Alea menghembuskan napas berat seraya memegang kepalanya yang berdenyut nyeri.
“Sudah ku katakan kalau kamu sudah mengambil pikiran dan juga hatinya.”—Ruby.
“Ya Tuhan kenapa aku jadi seperti ini?”
“Aku tidak berdusta dan aku tidak menginginkan pria itu, bertemu pun aku takut karena aku sudah kurang ajar bisa berada di atas ranjangnya dan—”
Alea menjeda kata-katanya, lalu menarik napas dalam seraya memejamkan matanya.
Perkataan Ruby tadi pagi yang meminta bertemu membuat pikirannya tersita pada perkataan wanita itu.
Alea sama sekali tidak berdusta dan sama sekali tidak menginginkan Evans.
Alea memijit pelipisnya yang mendadak berdenyut.
Dia pun jadi tidak fokus bekerja, apalagi bayangan semalam bersama dengan Evans, berciuman dan—membuat Alea lagi lagi mendesah pelan.
“Alea!” seru seseorang yang diiringi menggebrakan punggung Alea dengan kedua tangan.
Wanita itu sontak terkejut dengan nafas yang tercekat. Kebalikannya tubuhnya untuk bertemu dengan siapa si pelaku yang kurang kerjaan.
Ketika kedua matanya menangkap seorang pria yang cengengesan, Alea pun bangun dan memukul sip ria yang malam tertawa.
“Dasar menyebalkan kamu, yah.”
“Kamu sudah buat aku jantungan! Bagaimana kalau aku mati karena serangan jantung, hah?” omel Alea.
Wanita itu pun kembali duduk di kursi kerjanya seraya mengatur nafasnya yang memburu.
“Pasti melamun jorok yah?”
Alea mendelik, namun detik berikutnya memalingkan wajahnya menahan ekspresi terkejutnya.
Tebakan asal yang dilayangkan pria itu memang benar. Kejadian semalam membuat tubuh Alea panas dingin.
Bayangan Evans yang menyentuhnya menciumnya dengan lembut itu sudah membuat bagian bawah Alea mengedut.
Lidah dan bibir seksi itu menyesapnya membuat Alea ingin khilaf lagi dengan sang devil.
“Oh astaga. Ada apa dengan otakku ini? Kenapa sejak tadi selalu muncul bayangan sialan itu.
“Ini gara-gara obat sialan, nanti malam aku akan bertanya pada Berta dan Bryan.
“Diantara kedua orang itu siapa pemilik minuman dalam botol berwarna biru itu?” ungkap Alea panjang lebar, tetapi sayangnya hanya diungkapkan dalam hati.
Tidak mungkin bukan kalau dia berkata secara frontal di depan pria keturunan turki di depannya itu.
“Astaga. Kenapa kamu jadi melamun seperti itu, hmm?”
Pria yang tidak lain Massimo menarik kursi dan duduk di sebelah Alea.
“Apa kamu memikirkan saudaraku?” bisik Massimo yang langsung dijawab dengan dengusan sebal.
“Tidak bisakah kamu tidak terus bertanya hal yang sangat mustahil itu hah?
“Aku sama sekali tidak memikirkan saudaramu yang menyeramkan itu!” dusta Alea.
Padahal sejak berangkat di jemput Lucas, Alea tidak berhenti memikirkan sang devil yang seolah menyambutnya dengan hangat.
Kecupan di keningnya, pelukan hangat di tubuhnya dan juga ciuman yang memabukan itu membuat dia sejak tadi stress sendiri hanya memikirkannya.
Sumpah demi apa, Alea pun sampai malu bertemu dengan Evans dan tidak berani berhadapan secarang langsung dengan sang devil itu.
“Sudahlah nggak usah berkata yang aneh-aneh.”
Massimo tertawa pelan. Alea melirik sejenak pria di sampingnya.
“Apa kamu nggak punya kerjaan, Mas?”
“Kenapa kamu kini sering datang ke sini.
“Apa lagi ke pabrik tua ini sepagi ini? Lucas nggak ada di ruangan. Kayaknya lagi di produksi,” ujar Alea.
“Aku sudah kaya, nggak kerja pun perusahaan terus naik pesat makanya aku datang ke sini sepagi ini cuman ingin bertemu denganmu, Alea.”
“Haish, sombong banget orang kaya!”
Massimo tertawa pelan. “Terus sudah ketemu aku kamu mau apa?”
“Hehehe… aku mau godain kamu doang!”
“Haish, kamu kurang kerjaan, Mas!”
Massimo menatap wanita malang sejenak, entah kenapa firasatnya begitu yakin kalau Alea dan Evans kedua orang itu ada sesuatu hal yang tak mereka sadari.
Dari cara Alea menatap Evans begitu juga saudaranya. Massimo yakin kalau dua nya sama-sama punya perasaan yang sama, hanya terlambat saja sadarnya.
“Lucas mengundangku.”
Alea langsung menoleh dan melirik sejenak.
“Mengundang? Acara apa? Makan siang bersama?”
“Hah?” seru Massimo menatap heran pada Alea.
“Apa kamu tidak tahu kalau siang ini Lucas mengadakan acara syukuran kecil atas keberhasilan kalian?”
Alea menggeleng pelan, sama sekali dia tidak tahu dengan rencana Lucas. Apa lagi syukuran kecil.
Untuk apa?
Bukannya masalah keuangannya masih sama hasilnya nihil sekalipun kini mereka punya banyak pesanan?
“Astaga, nggak habis pikir aku sama itu orang? Tikus gembrot pemakan uang saja belum ditangkap.
“Masa iyah langsung bikin acara syukuran kecil kayak gini? Masalah keuangan pun belum diatasi?” gerutu Alea dalam hati.
Wanita itu kesal setengah mati pada Lucas yang tidak berdiskusi lebih dulu dengan acara syukuran ini.
“Hai, morning Alea…”
Alea dan Massimo kompak mengangkat wajahnya dan pandangi dua orang di depannya.
“Hai, morning sweet heart.”
Dua orang itu berjalan mendekat.
“Leo?”
“Mar?”
Hh—kedatanganya bak hantu yang menyeramkan sampai ekspresi Alea dan Massimo membuat Leo kesal.
Marvio meraih tangan Alea, lalu mengecup punggung tangan wanita yang diam seraya memandangi dengan mulut yang terbuka kecil.
Pletak!”
“Aw… Leo.”
Marvio mengusap keningnya yang di sentil oleh Leo. “Kenapa kamu menjitakku sakit tahu.”
“Haish, masih beruntung aku menjitakmu dari pada kamu tinggal nama karena sudah berani asal mencium tangan wanita orang!”
Massimo tertawa pelan sementara Alea mendesah pelan melihat dua pria di depannya.
“Aku sudah peringatkan kalau dia sudah bukan lagi pasanganmu!”
Leo menekan kalimatnya sekaligus mengingatkan pada sahabatnya agar melupakan wanita cantik dengan dagu terbelah di depannya.
Sejak kemarin, Leo di buat kesal sekaligus pusing mendengarkan ocehan permohonan dari pangeran untuk membantunya membawa Alea. Marvio ingin menjadikan wanita cantik itu istrinya.
“Maaf.”
Baru saja kata Maaf, dua pria itu langsung menoleh pada sang pemilik suara merdu itu.
“Kenapa anda berdua ada di sini?” pertanyaan Alea ini sekaligus memisahkan perdebatan dua sahabat itu.
“Ah, aku terlupa. Aku baru saja mendengar kalau Lucas membuat acara pesta kecil-kecilan untuk kemajuan pabrik tua saudaraku.
“Jadi, sekalipun aku tamu tak di undang. Tapi, aku tetap akan datang untuk melihat kemajuan pabrik ini.
“Bisa jadi bukan aku kerjasama dengan Lucas untuk lebih memajukan pabrik tua ini?”
Alea kembali mendesah pelan seraya menatap lekat dua pria di depannya.
“Oh, ya.”
Leo selangkah maju untuk lebih dekat lagi dengan Alea.
“Apa kamu dimarahi oleh saudaraku sepulang dari pesta itu?”
“Tidak.”
Leo mengulas senyuman lega.
“Syukur kalau dia tidak memarahimu. Aku sudah khawatir kalau saudaraku itu akan bertindak hal yang tidak-tidak.
“Misalnya membunuh Lucas atau anak buah yang lainya.”
Alea menggeleng cepat, tentunya hal yang ditakutkan itu semua tidak terjadi.
Leo manggut-manggut pelan. Ia pun menoleh ke samping kanan dan kiri seolah mencari seseorang.
“Apa saudaraku sudah datang di pabrik ini?”
“Sudah.” Alea menjawab cepat.
“Hh, di mana dia sekarang. Aku ingin bertemu dengannya.”
Alea mengernyit kening, kedua matanya pandangi pria tampan serupa bangsawan dan juga pria tampan berkulit sawo matang dengan wajah seperti orang turki entah arab yang duduk di sampingnya.
Kedua pria itu seolah tidak mengenal, padahal mereka berdua itu saudara.
“Apa dia bukan saudaramu?” tunjuk Alea pada Massimo.
Dua pria itu melotot saling pandangan dan tak lama pandangannya tertuju pada Alea.
“Kita memang saudara Alea, karena Bibi ku menikah dengan Kakak dari orang tua Massimo. Tapi, yang aku tanyakan adalah Evans.”
“Oh, maaf. Kalau saudaramu yang satu itu aku belum melihatnya ada di pabrik ini.”
Ya, sejak Alea datang lebih pagi ke Pabrik sampai jam sepuluh kurang ini.
Dia belum bertemu dengan Evans, bahkan Alea berharap Evans tidak datang di acara yang terkesan mendadak ini.
Sumpah demi apa, Alea tidak punya muka bertemu dengan Evans setelah kejadian malam itu.
Alea malu dengan tindakan bodohnya yang telah meminum obat perangsaang.
“Hai…” sang empu menyapa tamu undangan dan juga tamu tak diundang datang ke pabriknya.
“Ternyata kalian berkumpul di sini. Kenapa tidak berkumpul di aula saja?”
Marvio dengan cepat menarik tangan Alea untuk bangun dan juga bersama-sama ke aula yang dikatakan Lucas.
“Luc…”
“Aku akan jelaskan nanti Alea,” ucap Lucas, paham.
Alea tak lepas menatap curiga pada Lucas. Entah apa yang ada di pikiran pria itu?
Apa pria itu tidak melihat lagi laporan keuangan yang kembali merosot?
“Aku yakin kalau Lucas sepertinya bekerja sama dengan si tikus gembrot itu,” gumam Alea dalam hati.
Dua orang yang dicurigai Alea bertubuh gendut dan juga berkepala botak.
“Astaga, calon istriku kalau melamun kayak gini tambah cantik yah.
“Gimana kalau sudah tersenyum, pastinya membuat orang di dekatmu kehilangan nafasnya,” goda Marvio dengan kekehan.
“Nggak lucu, Mar.”
“Ayo…” Marvio menarik kembali.
“Astaga, aku sudah bukan anak kambing yang selalu kamu main tarik saja dan aku juga sudah bukan jadi pasanganku.
“Tolonglah jangan tarik aku begini,” kata Alea tak suka.
Marvio terkekeh, tetap menarik tangan Alea agar tangan lembutnya itu mengapit tangannya.
“Oh, kambingku yang cantik. Maafkanlah pangeran.
“Sungguh aku terpesona melihat kecantikanmu, hingga aku meminta sahabatku untuk menculikmu karena aku ingin menahanmu di kastil ku.”
“Sudahlah, aku sedang tidak mood mendengarkan gombalan recehmu, Mar,” gerutu Alea kesal.
Alea berjalan bersamaan dengan Marvio seraya mengikuti ketiga orang di depannya.
“Oh ya, Mar. Bolehkah aku bertanya?”
“Mika, kau bawa Alea menjauh dari acara Lucas sekarang!”