Mafia And Me

Mafia And Me
Milyaran Dolar



“Sayang sekali jika begitu. Wanita cantik ini harus menjadi korban hanya untuk sebuah kalung,”


Erwin sama sekali menghiraukan celotehan Ryander seolah mengejek pria itu dengan di sampingnya dan Erick tertawa yang lebih tahu tabiat Erwin.


Alea perlahan meraba senjata di pahanya dengan tangan bergetar. Bagaimana dia tidak ketakutan berada di posisi seperti ini dengan darah segar menetes.


“Keberadaanya sudah tidak dibutuhkan lagi.”


Alea melirik Evans yang bergeming di tempatnya dengan seringai devil. Bagaimapun caranya ia harus menyelamatkan dirinya, meski devil itu sama sekali tidak peduli kepadanya,


“Shit!!” umpat Ryander, tidak bisa berbuat apa-apa.


“Buang senjatamu sekarang atau dia akan mati,” desis Erwin, mengancam.


Evans lagi lagi santai dan tidak peduli dengan ancaman yang dilontarkan oleh Erwin, mengeryit nyeri dengan bersiap ia akan menyelamatkan dirinya.


Alea mulai memegang senjata yang berada di pahanya, saat Alea hendak menariknya namun terhenti seketika mendengar suara itu.


“Apa motif kalian sebenarnya?” tanya Evans.


Alea mengangkat kembali wajahnya menatap Evans kembali. Kata-kata Evans, Alea seraya paham kalau Evans tengah mengulur waktu, ia pun melepaskan tangannya tidak jadi untuk menarik senjata bersamaan Erwin yang mengendurkan pisaunya.


“Kau penasaran rupanya. Selama ini aku mendengar desas desus akan eksistensi The Black Rose di dunia hitam yang terkenal itu dan kali ini aku ingin memastikanya sendiri!"


Evans menyunggingkan bibirnya ke samping. “Jadi hanya karena itu?”


“Tentu tidak!”


Lima pria berbadan besar masuk ke dalam ruangan itu mengelilingi Evans yang masih nampak santai. Aura gelapnya memancar membuktikan kalau dia seorang bos mafia yang tidak takut melawan mereka semua meski di keroyok sekali pun.


Erwin tersenyum miring. “Apa kau tidak berpikir jika tidak akan ada orang yang akan datang kepadamu setelah kau menghabisi seseorang begitu saja?” desisnya.


“Kau salah besar, The Black Rose. Karena kami datang ke sini untuk membuat perhitungan. Kau tahu betapa mahalnya kepalamu? Bahkan kepalamu itu dihadiahi puluhan millyar dollar di luar sana?”


Evans berdecak. “Ternyata dugaanku benar. Kalian orang-orang yang berdiri di belakang punggung Santhos Brigton. Membalas dendam pria tua bangka itu dan mendapatkan kepalaku yang akan dihadiahi puluhan millyar dollar? Cih! Kau sungguh berani sekali!"


“Kalian akan bernasib sama seperti orang-orang yang tidak bisa mendapatkan kepalaku. Mati mengenaskan!” desisnya penuh kesombongan.


Erwin menarik tengkuk Alea membuat Alea di depanya pun terkesiap, menekan lagi pisaunya lebih dalam dengan rasa nyeri tak bisa dielakan.


“Buang senjatamu!!”


“Cihh…kenapa harus aku menyelamatkan wanita bodoh sepertinya? Biarkan saja di mati akan kebodohanmu itu!” balas Evans tanpa beban menatap Ryander panik.


“Kau benar-benar ingin dia mati? Lakukanlah apa maunya The Black Rose!” pekik Ryander.


Lagi lagi Evans tersenyum miring menatap dua orang bodoh didepanya itu.


“Itu bukan urusanku."


Evans menggedikan bahu dengan membuang muka setelah menatap Alea dengan kedua matanya yang sudah basah, memohon saat pisau itu kembali menyayat leher Alea semakin dalam dengan darah yang sudah keluar perlahan-lahan.


“Kau harus melihat sendiri dia mati kehabisan darah,” desis Erwin tanpa balas kasihan.


Alea tidak bisa tinggal diam jika harus meminta bantuan kepada Evans untuk menolongnya karena Devil sepertinya memang tidak mempunyai hati dan menginginkan mati perlahan-lahan.


Ale memposisikan tubuhnya sebaik mungkin, menarik napas panjang untuk memberanikan diri melawan.


Diayunkan kaki kanannya hingga melambung ke udara dan tepat menerpa kepala Erwin yang berada di belakangnya, lalu menyikut kuat perut Erwin dan menghantam keras dada sebelah kirinyanya cukup keras hingga pria itu tersungkur dan jatuh ke lantai dingin.


Evans yang mengetahui itu pun lalu bergegas melepaskan peluru dari senjatanya yang ia pegang pada anak buah Erwin yang mengelilingi, meski sedikit terkejut akan aksi wanita bodoh yang cukup berani tengah berkelahi di samping sana dengan Erwin.


 


Dorr!!!


Dorr!!!


“Arrgghh,” rintih Alea.


 


Ia merundukan kepalanya setelah berhasil tererai berekelahi dengan Erwin dan akan tembakan itu membuat keduanya saling melindungi diri masing-masing dan berjauhan. Alea menatap benda yang menyilaukan matanya dan langsung mengambilnya dari para peluru yang berada di depan sana, dua kubu tengah saling menyerang.


"Ini kan?" gumam Alea menatap bingung, ia pun lekas pandangi Erwin di depan sana yang tengah menghunuskan tembakannya pada Evans.


“Kenapa ada dua?” guman Ale kembali.


Ia kembali menatap dengan teliti dengan ukiran nama yang tertera di benda itu. Ia pun lekas mencari tempat berlindung dari baku tembak di depanya dan Erwin seketika mengabaikan wanita yang ia anggap remeh itu dan bangkit meraih senjatanya dengan melepaskan tembakannya ke arah Evans yang sialnya meleset pada dinding tembok.


“Shitt!!!” umpat Ewin di belakangnya bersamaan dengan Evans yang menembakan pelurunya kearahnya, walau berhasil tidak mengenai tubuhnya.


Dorr!!


Dorrr!


Dorr!!


“Aleaaa...”


Ryander menarik tubuh Alea untuk berlindung di belakang meja bartender dan terkejut saat seseorang menembaki botol-botol minuman keras yang berada di atasnya.


Semuanya berlangsung dalam gerakan cepat, ternyata Erick di belakang sana sedang berkelahi dengan wanita yang dicumbunya.


 


Ternyata Erick salah besar jika Alea yang menjadi umpannya namun ternyata Raiderlah yang menjadi umpanya.


Baku tempat di depanya pun tidak terhindarkan di ruangan yang luas itu dengan Evans yang selalu bisa berhasil menghindar, dan berhasil menumbangkan keempat anak buah Erick di lantai setelah pertarungan mereka yang di akhirinya dengan menembak tepat di jantungnya tanpa belas kasihan.


 


 


“Ya Tuhan, lindungilah Aku,” doanya.


 


Erick mendorong Mika hingga wanita itu terdesak di sofa dan mencekik lehernya dengan kedua tangan hingga kepalanya terdorong ke belakang.


Erwin menoleh ke arah depan tepat saudaranya yang membutuhkan bantuanya, namun Evans kembali menembak dan Erwin pun akhrinya menghindar.


Mika tidak ingin kalah dengan lelaki manapun, diraihnya sebisa mungkin sesuatu yang keras dan menghantamkan botol minuman tersebut tepat di kepala Erick dan menendang punggung pria itu hingga terhempas ke lantai.


 


Dengan gerak luwesnya, Mika cepat berdiri tegak mengacungkan senjata milik Erick yang tergeletak begitu saja di lantai dan mengarahkanya ke kepalanya, Erick terdiam tidak bisa berkutik dengan wajah penuh amarah.


 


“Brengsek!’ desinya.


Erick tatapan nekat maju hingga ke arahya, hingga Mika meloloskan satu tembakan tepat mengenai lengan kanannya.


“Arrgghh, sial kau Raider!!” umpatnya.


“Kalau kau bergerak, kepalamu yang akan jadi sasaran selanjutnya,” gertak Mika yang tidak main-main.


 


Mika manarik kerah baju Erick dan menjadikan sandera.


“Berikan kalung itu!!!” ucap Erick kepada Erwin yang siaga tapi tidak bisa bergerak karena mementingkan keselamatan saudarnya.


“Cepat berikan pada Tuan Evans!!”


Erwin tertawa seraya melihat kalung itu dan menariknya. “Aku benar-benar tidak menduga kalau kau adalah Raider!”


"Berikan kalungku!!!” decak Evans.


”Sebelum aku yang akan mengambilnya sendiri dari tubuhmu yang terbujur kaku nantinya!”


Alea dan Ryander masih di tempatnya menunggu kesempatan untuk lari ke pintu keluar dari ruangan pembantian sadis ini.


 


Erwin dengan dengusan penuh amarah pada akhirnya pun melepar kalung tersebut tapat mengarah ke Evans.


Diliriknya kalung yang begitu sama persis dengan miliknya, namun ini bukan kalung miliknya, membuat devil itu kembali murka.


“Kau menipuku hah?” tanya Evans marah seperti kobaran api yang menyala di depanya karena telah dibohongi.


“Itu kalungmu,” desis Erick di depanya.


“Cih…aku tahu mana yang menjadi milikku, dan ini sama sekali kau tengah membohongiku,” decaknya.


Dengan gerak cepat Erick manarik tangan Mika yang sedikit lengah, menyikut perutnya dan membantingnya ke lantai dengan mudah meski satu tanganya luka dan berdarah.


Erick berkelahi dengan Mika untuk menghabisi Raider yang sudah berani menipunya.


Dorr!


Erwin dan Evans saling melemparkan tembakan memberikan Ryander dan Alea kesempatan untuk belari ke arah pintu.


Meski itu kesempatan untuk kedua tikus yang tidak berguna seperti mereka pun. Namun mata elang Evans  tetap bisa mengetahui kedua manusia itu melarikan diri.


Ditatapnya wajah wanita bodoh itu dengan kilatan tajam dan tersentak saat melihat sebuah kalung yang sudah pasti itu adalah miliknya yang di genggam oleh wanita bodoh, Alea.


Evans sangat yakin jika kalung itu kalung yang asli miliknya.


Keduanya berlari saling bergandengan tangan menyelusuri lorong yang gelap dengan keduanya yang menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya.


 


Namun seketika...


 


Brugg!!!


 


“Arrrggghhh,” pekik Alea tubuhnya terlepar akan pukulan yang menerpanya dengan keras dan keduanya yang terhempas berjauhan.


 


“Aleaaaaa—“


 


“Ryander..."


 


Bersembung...