
“Apa kamu tahu, Alea. Ini apa?”
Alea mendengus pelan seraya menatap sang pangeran.
“Itu cake.”
“Good! Kamu pinter.”
Alea menatap sang pangeran dengan helaan nafas lelah.
“Apa kamu tahu kenapa cake ini terlihat lezat?” tanya Marvio lagi.
Ingin hati menjitak sang perangan yang mendadak gila bila itu tidak dosa.
Pertanyaan pangeran kodok membuat Alea kesel lama-lama menanggapi guyonan recehnya.
“Apa kamu tahu kenapa orang begitu suka dengan cake ini?” tanya Marvio lagi.
Alea bersedekap seraya menatap Marvio. Dengusan nafas Alea menandakan wanita itu kesal dan bertanya-tanya ada apa dengan pangeran yang mendadak melontarkan pertanyaan konyol seperti itu yang sudah jelas-jelas semua orang bisa menjawabnya.
Bodohnya lagi, dia sendiri pun menanggapi semua pertanyaan konyol Marvio.
Konon, kata sang pangeran kodok. Dia selalu datang berkunjung setiap sore walaupun keadaanya waktu itu belum siuman dan kini, pria itu terlihat senang ketika datang berkunjung dan melihat keadaanya yang sudah siuman.
Dan tidak ketinggalan pria itu membawa sekotak cake yang begitu cantik dan juga lezat.
“Kamu pasti akan menganggap semua pertanyaanku itu gila?”
Alea tertawa kecil, memang itu benar adanya. “Sudahlah, makan dulu cake lezat ini. Bukan mulutmu…. Aaaa….”
Marvio memberikan sepotong cake coklat dari garpunya di depan mulut Alea.
Bibir sang pangeran yang mengerucut kode agar Alea lekas membuka mulutnya lebar-lebar dan menerima suapan cake nya.
“Aku bukan anak kecil, Mar. Tidak usah kamu suapin kayak gini.”
Alea protes. Tapi, dasarnya pangeran kodok ini selalu memaksa dan mau tidak mau dia pun mau membuka muka dan menerima suapan demi suapan dari sang pangeran.
“Sini biarkan aku memakannya sendiri. Aku tidak mau merepotkan yang mulia Marvio Robertus.”
Marvio mendengus pelan, namun detik berikutnya berikan tawa ringan.
“Tapi, aku tidak mau kamu memakan sendiri. Harus di suapin, kamu kan masih sakit,” ujar Marvio terdengar kalau pria itu memanjakannya.
“Apa kamu tidak tahu kalau di luaran sana banyak wanita yang berharap bisa dekat denganku?
“Apa lagi di perlakukan khusus seperti ini. Jarang-jarang lho ada wanita bisa dekat denganku, dimanjakan seperti ini. Tapi kamu—”
Marvio memandangi Alea, wanita cantik ini memang berbeda dan siapapun yang mendapatkan hati Alea betapa beruntungnya orang itu nantinya.
“Kamu malah menolakku.”
Pria itu menunjukan wajah sedihnya, tetapi Alea bukan menjawab dan membujuknya agar tidak sedih lagi melainkan berikan pelototan tajam.
“Aku kehabisan kata-kata menghadapimu pangeran sepertimu, Mar. Sungguh aslinya itu kamu menyebalkan dan juga pemaksa.”
“Hehehe…. Tapi kamu memang harus dipaksa, Alea. Ayo buka lagi mulutmu,” pinta Marvio.
Alea mendesah, pasrah. Dia pun membuka kembali mulutnya dan memakan cake coklat yang lezat itu.
“Terima kasih banyak cakenya yang mulia, anda begitu pandai sekali membuat wanita merasa senang dengan gombalanmu itu.”
Sang pangeran langsung menoleh dengan satu alisnya terangkat.
“Aku nggak menggombal, Alea. Yang aku lakukan ini real kok.”
“Ya dan aku berterima kasih karena anda begitu baik padaku,” ucap Alea seraya memandang wajah tampan Marvio yang mendadak menghela nafas panjang.
“Aku ingin kamu bisa terbebas dari Evans Colliettie, Al. Kamu berhak hidup layak dan normal pada orang-orang di luaran sana.”
Alea memalingkan wajahnya seraya membuang nafas pelan, wanita itu pun berkata pada sang pangeran.
“Aku merindukan keluargaku, teman-temanku dan aku pun merindukan suasana dimana aku hidup begitu tentram dan damai,” ungkapnya.
Marvio bangun dan berpindah duduk di tepi ranjang Alea, sebelah tangannya menggenggam erat tangan Alea.
“Aku ingin mengajakmu melarikan diri dari Evans. Aku bisa membantumu, Al. Apa kamu mau?” bujuk Marvio.
Ya, sekalipun konsekuensinya besar harus berhadapan dengan Evans Colliettie, Marvio akan lakukan demi wanita malang di depannya itu.
Alea tersenyum tipis seraya melepaskan genggaman tangan sang pangeran.
“Aku serius, Al.”
“Ya, aku percaya, Mar. Tapi melarikan diri dari Evans itu mustahil, Mar.
“Pria itu sangat menakutkan dan aku yakin Evans Colliettie pasti aka—”
Suara pintu terbuka, membuat Alea menghentikan kalimatnya. Pandangan keduanya pun teralihkan pada sosok yang kini berdiri diambang pintu.
Sosok pria tinggi dengan coat berwarna coklat itu berdiri dengan gagahnya sekalipun tatapannya menghunus tajam.
Nafas Alea tercekat ketika seseorang itu berjalan masuk menghampirinya.
Evans Colliettie berdiri tidak jauh dimana ranjang yang Alea duduki berada.
Sang pangeran pun tak gentar, pria muda itu ikut berdiri dan saling melemparkan tatapan penuh dengan bersedekap.
Alea yang berada ada di antara kedua orang itu pun hanya bisa menelan ludah bahkan rasa cake rasa coklat yang baru saja masuk ke tenggorokannya pun terasa begitu pahit ketika Evans Colliettie datang.
“Anda begitu perhatian sekali dan juga peduli sekali pada pelayanku ini, Pengeran Marvio Robertus,” kata Evans dengan nada dingin.
Tak lepas tatapan penuh intimidasi itu memandang sekalipun nada suaranya terdengar mengejek.
Alea yang hanya diam, ia mencoba mengatur degupan jantung yang memompa lebih cepat dari biasanya.
Entah kenapa tubuhnya pun ikut tegang seiringi atmosfer di ruangan ber ac ini mendadak sangat dingin.
“Apa pengertian kerjaan sepertimu saat ini sudah berubah haluan, hmm? Menyukai wanita pelayan seperti dia—”
Evans menunjukan dengan dagunya.
Marvio berikan senyuman lebar untuk sang mafia penguasa negaranya.
“Ah—Tuan Evans Colliettie yang terhormat, itu benar adanya. Saya menyukai pelayan anda.”
Rahang Evans mengetat. “Tadinya saya pikir majikan seperti anda tidak ingat memiliki pelayan pribadi yang dibiarkan sekarat begitu saja.”
Marvio pun tak kalah dengan Evans, jelas ia pun tak ingin kalah dalam hal sindir menyindir.
Marvio menari napas pelan seraya sebelah tangannya mengusap dagunya dengan mata yang menatap Evans tak kalah tajam.
“Saya pikir, anda sudah melepaskan pelayan anda setelah dibiarkan begitu saja siang itu hampir meregang nyawa, ternyata anda datang ke sini, peduli toh.”
Sang lawan diam seraya menarik sudut bibirnya ke samping. Tatapannya yang menghunus pada Marvio pun kini beralih pada sumber masalahnya.
Evans menatap Evans dan membuat wanita itu membeku ketika menangkap manik mata yang berkobar api amarah.
Dengan cepat tangan kekar itu pun terulur menarik dagu Alea agar wanita bodoh itu mau menatapnya lebih dekat lagi dan sekian detiknya berpindah pada Marvio.
“CK! bukannya semua itu tanggung jawab Leo, hm? Selaku ide dan pencetus acara di pabrik tua ku?
Manik mata Evans tak lepas menatap pangeran itu lebih tajam lagi.
“Dan kau selalu pasangannya pun seharusnya bertanggung jawab bukan?”
“Kalianlah yang sudah melepaskan wanita bodoh ini dari dalam ruangan aku ketika aku sudah memperingatkan kalau dia tidak harus ada di acara itu.”
Evans dengan ekspresi tenang namu mematikan pun membuat Alea ketakutan.
“Jadi kenapa harus aku yang repot-repot untuk menyelamatkan dia, hmm?”