
“Dan kau tidak pernah akan merasakan, bagaimana kau dipeluk oleh kesakitan selama bertahun-tahun kau tumbuh!”
Evans menarik kembali wajahnya sekalipun cengkeram di leher Alea kini mengendur.
Alea tersenyum tipis, tanpa memutuskan kontak matanya pada pria menyedihkan itu. Tetapi, Evans pun tidak tahu bukan bagaimana hidupnya?
“Bila kamu beranggapan selama ini hidupku sempurna—”
Alea menjeda menarik napas sejenak. “Kamu salah!”
“Kamu salah menilaiku, Ev.” Tatapan keduanya saling melekat, selama Alea di sini dia tidak mencari tahu semua tentang wanita bodoh di depannya ini.
“Apa menurutmu hanya kamu saja di dunia ini yang terlihat menyedihkan? Dipeluk dengan kesakitan?
“Lalu bagaimana aku yang seorang anak yatim piatu. Bahkan aku tidak tahu bagaimana wajah kedua orang tuaku.
“Aku tidak pernah tahu bagaimana wajah ibu yang sudah melahirkanku.”
Bola mata Evans terlihat membulat sempurna sekalipun beberapa detik.
“Setidaknya hidupnya lebih beruntung karena kamu tahu dan kamu pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuamu.”
“Kamu pernah merasakan kebahagian di peluk oleh kedua orang tuamu sekalipun akhirnya kamu seperti ini.”
Evans terdiam seraya berpikir tak lepas manik mata indah itu menatap Alea.
“Apa kamu pikir hidupku sempurna seperti yang kamu bayangkan?
“Kamu pun tidak tahu aku, Evans. Bila menurutmu hidupku sempurna selama ini, jawabanya
“Kamu pun salah bila menilaiku seperti, Evans. Apa hanya kamu saja di dunia ini yang dipeluk dengan kesakitan, hmm?
“Apa kamu sebegitu yakin kalau hidupku sesempurna apa yang kamu tahu?” sela Alea terdengar pelan.
“Setidaknya kamu masih beruntung dari padaku. Kamu bisa tahu siapa kedua orang tuamu, kamu pun pernah merasakan kebahagian di peluk oleh kedua orang tuamu. Meski akhirnya kamu seperti ini, Ev.”
Evans terdiam menatap Alea lekat. “Kamu ingin tahu bagaimana hidupku yang kamu katakana sempurna bukan?”
“Sejak usiaku lima tahun aku sudah hidup keras di panti asuhan yang dibesarkan oleh pria tua yang gemar judi dan mabuk.
“Makian, pukulan, kelaparan, cambukan bahkan siksaan yang lebih menyakitkan selama ini telah ku telan dalam-dalam.
“Kamu tahu luka apa yang selama ini aku pendam hingga pada akhirnya aku berdamai dengan diriku sendiri?”
Evans semakin dalam menatap Alea. Wanita itu menarik napas dalam-dalam.
“Mereka menjualku pada salah satu orang kaya raya asal negeri ginseng.
“Pria tua itu mengiming-imingi aku akan mendapatkan keluarga baru, tapi ternyata itu semua palsu.
“Mereka memberikan aku kebahagiaan dan kemewahan yang semuanya hanya, semu dan—"
“PALSU!”
Alea tersenyum getir mengingat masa lalu yang menyakitkan.
“Mereka mengambil sumsum tulang belakang untuk di donorkan pada putranya yang mengidap penyakit leukemia dan setelah mereka mendapatkan. Mereka membuangku dan memfitnahku dengan kejam.”
“Mereka mengembalikan aku ke tanah air disaat kondisiku memburuk dengan tubuh sekujur penuh darah.
“Mereka akhirnya membuangku ke tempat sampah,” ungkap Alea, teringat kejadian enam tahun silang dimana genap usianya tujuh belas tahun.
“Sekalipun jalan hidupku selama tujuh belas tahun ini begitu berat. Tapi, aku tidak sama sekali mengubah hidupku lebih jauh lagi, apalagi sampai mematikan hati nurani. Tidak Ev.”
“Aku percaya, aku masih bisa mendapatkan kebahagian yang lebih baik sekalipun aku mempunyai luka yang begitu dalam. Jadi, apa kamu pikir hanya kamu dan Mika saja yang mempunyai pahitnya hidup?
Bola mata Evans mendelik. Tubuhnya membeku dengan mata yang menatap manik sapphire di hadapannya.
Yang jadi pertanyaan Evans kali ini, sejak kapan tangan kecil itu mengusap lembut pipinya dan menghapus air mata yang jatuh?
Tatapan lembut itu seolah menumpahkan banyak hal dan juga emosi yang terpendam.
Sebuah luka yang sama nyakitin ini pun akhirnya terungkap seakan menarik separuh jiwanya.
Sekalipun pembawanya selalu santai dan terkesan seperti orang bodoh. Tetapi, dia pandai menyembunyikan luka.
Alea sudah berdamai dengan masa lalunya dan wanita itu tetap mempertahankan sisi yang serupa malaikat, miliknya.
“Jangan pernah salahkan takdir yang begitu kejam atas kehidupan kita yang menyakitkan ini yang tak pernah ada titik bahagia.”
“Semua ini sudah menjadi garis kehidupan kita yang gelap dan penuh luka.
“Percayalah dibalik ini semua ada titik di mana kita akan merasakan kebahagian yang sebenarnya.”
“Kembali menjadi lebih baik agar kamu tidak terus selalu terjebak dengan kegelapan yang selalu membelenggumu.”
Evans menatap dengan seringaian.
“Sekali lagi aku melihat kau mengasihiku seperti ini—"
Evans menarik tangan yang terkepal lalu melayangkan tepat di wajah Alea.
Dan algi, wanita itu tak gentar bagaimana bentuk ancaman dan perlakukan Evans yang hampir saja membunuhnya.
Sekali lagi, wanita itu bukanya tunduk dan takut namun Alea menggenggam tangan yang terkepal itu dengan kedua tangannya yang lembut.
Tatapan sendu itu menatap manik mata indah Evans dan itu sialnya selalu membuat Evans kembali terjebak.
“Kamu orang baik, Ev. Kamu masih punya hati yang baik.”
Entah kenapa kedua matanya malah menangkap dada Evans yang terbuka. Dibalik kemeja hitam itu, Alea bisa melihat bekas jahitan tepat di dada sebelah kirinya.
“Apa itu bekas tembakan oleh ibunya?” batin Alea.
Tangan Alea terulur begitu saja menyentuh bekas luka. Luka yang merubah Evans menjadi monster yang mengerikan.
Satu tangan lain Alea pun menggenggam tangan Evans. Alea menangis melihat bekas itu.
“Maafkan aku, tidak tahu dengan luka yang membuatmu seperti ini.”
Sentuhan lembut Alea membuat Evans memejamkan matanya, seolah luka itu begitu saja tersentuh.
“Aku mohon, jangan mematikan hati nuranimu, Ev. Aku percaya kamu bisa menjadi orang baik.”
“Alea….” Lirih Evans dengan kedua mata basah.
Detak jantung yang berdegup kencang. Alea merasakan itu sementara Evans di depannya berperang diri.
Pria itu menarik napas panjang lalu membuka kedua matanya. Evans kembali memberikan tatapan tajam, tapi tidak membuat wanita itu takut.
“Jangan pernah mengasihiku, Alea!”
Evans menghempaskan tangan kecil itu. “Atau kau akan menyesal nanti, camkan itu!”
Alea menatap pasrah. Wanita itu memejamkan mata, ketika kepalan itu mendarat tepat di depannya dan dihempaskan ke samping di mana kepala Alea berada.
Alea berlinang air mata. Dia tahu tidak mudah merubah seorang devil seperti seorang Evans Colliettie.
Detik berikutnya, hening.
Tidak ada lagi suara pria itu begitu pun juga Alea. Ketika Alea membuka kembali dua bola mata sapphire nya.
Evans sudah tidak ada, pria itu sudah pergi begitu saja meninggalkannya dengan isak tangis, sekalipun anak matanya menangkap punggung tegap Evans.
Di depan sana, pria itu mencoba meredam dan mengalihkan suara tangisan itu. Sialnya, kenapa dadanya malah terasa sakit dan sesak.
Apa lagi ketika wanita bodoh itu memegang bekas luka yang, Evans seolah terkendalikan oleh malaikat berhati baik seperti Alea.
Sepanjang jalan menuju ruangan pribadinya, Evans memegangi dadanya yang berdenyut nyeri.
Masa lalunya yang selama ini dia tutupi rapat-rapat akhirnya terbongkar sudah, dan itu dari mulutnya.
Sialnya, wanita bodoh itu sudah memaksa membuka siapa dirinya sebenarnya.
Evans menggeram marah pada dirinya sendiri bahkan sentuhan itu meninggalkan jejak.
“Arrgghh, sial!” umpatnya penuh emosi.
“Wanita itu harus pergi dari mansion ini. Alea harus disingkirkan!”
Yuk ah, coment. Menurut kalian luka mana yang lebih berat? Jangan lupa like dan hadiahnya yah sekebon. terimakasih.