Mafia And Me

Mafia And Me
Jaga Batasan mu!



“Sepertinya aku harus melakukan sesuatu. Istirahat pun tidak bisa.”


Cukup lama Alea berdiri di Lorong yang menghubung kamarnya. Akhirnya wanita itu memutuskan untuk ke suatu tempat. Pikiran Alea tidak tenang, setelah Mika mengatakan hal itu padanya.


Dia mencoba mem flashback ke belakang. Selama ini hidupnya baik-baik saja dan mendadak berubah menjadi gelap dan penuh ketakutan ketika Alea harus berurusan dengan Mafia Napoli itu.


Apalagi sikapnya yang menentang The Devil seperti Evans Colliettie tentunya membuatnya hidupnya ketar ketir. Di mana-mana selalu ada pertumpahan darah seperti yang sudah dilakukan oleh salah satu peliharaan Evans.


‘Ya Tuhan, entah berapa lama lagi aku berada di neraka ini, sehari pun rasanya sangat lama untukku?


'Apa engkau tidak langsung mencabut nyawaku saja, Tuhan?’ batin Alea bermonolog sendiri dengan tangan yang tak henti melakukan kegiatan kecilnya.


Di tengah putus asa akan hidupnya yang akan bagaimana ke depan. Alea mencoba menghibur diri untuk membuatkan sesuatu untuk Bryan. Ya, dia teringat akan hal itu.


“Tada, nggak kerasa juga setengah jam aku di sini. Jadi juga sesuatu untuk Bryan.” Alea tersenyum lebar dengan mata yang menatap senang.


Seporsi nasi goreng katsu sudah siap untuk Bryan. Alea berencana akan menyelinap diam-diam ke bawah dan memberikan nasi goreng buatanku ini karena di tahu di bawah sana, Bryan hanya di kasih roti dan juga minum saja.


“Aku yakin kamu pasti suka dan akan lahap memakan makanan yang aku buat ini,” ucap Alea lagi lagi tersenyum senang.


“Apa itu sesuatu untuk tersayang, hmm?”


Bola mata Alea mendelik, jantungnya berdegup kencang ketika mendengarkan suara tersebut.


“Bryan? Iya?” sambungnya seraya berjalan menuju tempat dimana penyimpanan wine.


“Kamu sedang apa di sini? Bukannya kamu sudah tidur?” tanya Alea tanpa rasa takut.


Evans duduk di kursi tinggi dengan senyuman semirik, dengan santai pria itu menuangkan wine pada gelasnya.


Jelas, kedatanganya ke sini karena dia terganggu dengan suara Alea di depan pintu mansion pribadinya.


“Kebetulan kamu di sini, Evans. Aku ingin bicara denganmu,” kata Alea tanpa embel-embel tuan.


Alea tersenyum menatap nasi yang berada di dalam kotak makan di samping Evans yang tengah menenggak wine dengan sekali teguk.


Pria itu diam, tanpa niat menjawab.


“Ev, tolong lepaskan Carla. Bila kamu ingin menghukumnya, bisakah jangan mengurung dia bersama dengan ular kesayanganmu di bawah sana?”


Evans menaikan satu alisnya dengan mata yang menyipit.


“Oh—jadi hal itu yang ingin kau katakan padaku saat mencariku tadi, hmm?”


Alea berikan anggukan pelan. Evans menarik sudut bibirnya ke samping menatap remeh pada wanita bodoh di sampingnya.


“Aku akan mengeluarkannya bila aku menginginkannya. Wanita murrahan itu harus diperingatkan agar dia bisa menjaga sikapnya.”


“Meski aku tidak merasa dirugikan di sini dengan kejadian itu, sekalipun aku tidak bisa lagi mendapatkan pelayanan yang cukup memuaskan dari Carla dibandingkan dengan yang lainnya.


"Tapi, aku hanya ingin memberikan dia pelajaran di sini,” kata Evans.


Alea diam, mendadak otaknya selalu lambat bila menyangkut perihal ranjang. Padahal tadi Ruby sudah menceritakan perihal percintaan Evans dengan wanita peliharaanya.


“Aku berharap kamu bermurah hati sudi melepaskan Carla dan juga Bryan. Aku tidak apa-apa, Ev.”


Brag!


Suara gebrakan keras itu membuat Alea tersentak kaget. Hidungnya kembang kempis dengan nafas yang mendadak memburu. Tidak hanya itu, tatapan Evans yang tajam membuat Alea bungkam.


“Apa aku harus terus mendengarkan semua permintaanmu hah?” seru Evans, murka.


Dia sudah tidak tahan lagi dengan wanita bodoh itu yang terus merengek.


“Dengar wanita bodoh! Aku sudah mengikuti semua permintaanmu yang bodoh itu padaku. Dari keluarga Ryander aku sudah mengabulkannya dan kau tidak berhak memerintahku lagi, Alea Anjanie!”


“Apa kamu masih belum paham dengan perkataanku hah? Apa aku harus mengingatkannya berulang kali padamu, hah?” seru Evans, marah besar.


“Maafkan aku, Evans,” ucap Alea dengan kepala menunduk.


Dia akui di salah dan terlalu banyak meminta.


“Jaga batasanmu Alea. Kau bukan siapa-siapa Evans Colliettie di sini!”


“Kau tidak bisa seenak jidatmu mengaturku di dalam mansionku ini!” sambung Evans.


Alea hanya diam, dia tak berani mengangkat wajahnya walau hanya untuk menatap pria itu. Sudah bisa Alea bayangkan bagaimana wajah Evans bila marah itu. Pria yang serupa angel itu akan berubah devil yang menakutkan.


“Aku datang kesana hanya untuk memberitahukan kalau wanita yang dipenjara itu sudah bebas. Aku sudah memberikan pekerjaan padanya dan juga adiknya sudah mendapatkan donor jantung.


"Semua biaya operasi dan berikut juga pengobatan kekasih teman bodoh mu itu sudah aku bayarkan di sini. Dan kini kau masih berani berkata seperti itu padaku, hah?” serunya terdengar muak.


Padahal dia sudah mengabulkan keinginan Alea, di mana wanita itu sudah mukar tiket emasnya.


“Benarkan itu, Ev?” tanya Alea dengan ekspresi bahagia. Wanita bodoh itu melupakan dimana tadi dia begitu takut menatap Evans.


Evans menarik napas panjang. “Aku sudah mengikuti semua keinginanmu, setelah ini jaga sikapmu dan jangan besar kepala, Alea. Ingat itu!” tegas Evans seraya pelototan tajam pada wanita bodoh di depannya yang terlihat…


Tersenyum. Evans benci dengan senyuman itu.


“Maafkan aku, Ev. Terima kasih,” ucap Alea seraya membukukan tubuhnya memberi hormat pada Evans.


Pria itu masih sama, dengan ekspresi datar dan juga dingin.


Evans pandangi sejenak dengan kotak makan yang Alea buat tadi untuk Bryan. Entah makanan apa yang sudah wanita bodoh itu buat untuk anak pelayan itu.


“Apa ini sesuatu untuk tersayang mu itu hmm? Seyakin itu anak pelayan akan suka mendapatkan makanan aneh yang kamu buat dengan cin—”


Alea kembali berikan senyum sekalipun Evans menghina makanannya.


“Hm, yang penting perutnya kenyang. Apa kamu mau mencobanya, Ev?” tanya Alea.


Sayangnya, perkataan itu langsung dihadiahkan tatapan tajam oleh sang devil.


“Apa kau pikir aku sudi memakan sesuatu yang sudah dibuat untuk orang lain, hah?”


“Hah?” jawab Alea dengan menatap Evans.


“Kau terlupa Alea.”


Kening Alea semakin berkerut bingung. “Apa kamu tahu kalau Bryan itu sangat suka dengan wine?”


Evans berikan sebotol wine pada Alea.


“Kencan dengan makanan aneh seperti itu tidak akan terlihat romantic bukan bila tidak ada wine sebagai pendampingnya?”


Alea diam menatap Evans. “Aku sedang bermurah hati memberikan botol wine ini untuk kencang kalian dengan cuma-Cuma.”


Alea mendelik, botol yang dikatakan akan diberikannya secara Cuma-Cuma itu kembali di tegaknya, lalu detik berikutnya tatapan yang masih sama itu sekali lagi mengejutkan bola matanya dengan hati yang kesal.


Evans dengan sengaja menuangkan wine tersebut pada kotak makan yang akan diberikan pada Bryan yang sudah dia hiasan begitu cantiknya untuk pria di bawah sana.


Dan sekarang nasi goreng itu sudah rusak dan juga berkuah wine hingga tumpahan wine itu berceceran.


“Selamat berkencan dengan tersayang semoga tersayang mu itu suka dengan sesuatu yang spesial itu,” ucap Evans dengan seringaian iblis.


Prank!


Botol wine itu dengan sengaja Evans jatuhkan dan pecah berkeping-keping di bawah kakinya.


“Bereskan semuanya sampai bersih. Paham!”