Mafia And Me

Mafia And Me
Black Dress



“Aku sudah kaya, uangku banyak. Kenapa aku harus menjualmu demi uang? Cih...sungguh memalukan jika seorang The Black Rose menjual wanita!"


“Lalu apa?”


“Bukanya aku sudah mengatakan kepadamu, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku sekalipun itu kau harus menjadi wanita jalang?!”


 


Alea tidak berkutik kembali dengan kedua matanya masih menatap Evans di depannya saat Evans mulai menyeretnya pergi dari ruangan bawah tanahnya.


 


‘Ya Tuhan, kapan semua ini akan berakhir? Aku benar-benar takut dijadikan wanita jalang oleh The Black Rose untuk tujuannya, yang entah apa yang sebenarnya Evans rencankan kepadaku?’ lirih Alea dengan padangan kosong menatap ke depan ketika cengkram tangan itu terasa erat.


 


Evans menghempaskan tubuh Alea untuk masuk ke dalam mobil bersama dengan Mika yang sudah duduk di samping kursi penumpang.


 


Seperti tidak saling mengenal kedua wanita itu diam tidak bersuara sepanjang perjalanan, meski dalam hati Alea masih bertanya-tanya kepada Mika akan kemana sebenarnya dirinya pergi dan apa yang harus dikerjakan oleh Alea kembali dari tugas Evans.


 


***


Evans Colliettie membawanya jauh hingga ke Spanyol, lebih tepatnya kota Madrid. Menempati salah satu kamar suite mewah di Eurostars Madrid Tower, hotel kelas atas yang terletak di gedung pencakar langit.


 


View yang disuguhkan dari kamar yang ditempatinya pun begitu indahnya dari atas sana dengan memperlihatkan tatan kota Madrid yang indah dan mempesona, meski sebenarnya dia belum pernah ke Madrid sebelumnya.


 


Rasanya ia ingin sekali mengungjungi tempat wisata yang tidak boleh di lewatkan untuk para wisatawan ketika berkunjung ke Madrid.


Namun kali ini tidak membuat Alea merasa senang sedikitpun karena dia tahu, keberadaanya di kota terbesar yang ada di Spanyol ini hanya untuk menggoda seseorang yang kemungkinan besar berbahaya.


 


Sepanjang perjalan dari Italia ke Spanyol, Evans tidak mengatakan apapaun hingga membuatnya begitu cemas akan tujuan Evans kali ini kepadanya.


 


“Sebenarnya seseorang siapa yang harus aku menggodanya hingga Evans mengajaknya sejauh ini?” lirih Alea masih menatap keindahan kota Madrid di malam hari, tepatnya ia baru sampai Madrid dan masuk tower ini pukul dua pagi.


 


Kedua mata Alea berbinar ketika sepintas ide melewat begitu saja di dalam pikiranya. Ia lekas berlari menuju pintu dan membuka perlahan dengan mengintip sedikit.


 


“Astaga…ternyata ideku itu tidak akan berhasi jika seperti ini, devil itu benar-benar…”


 


Alea mendengus kesal kembali menutup pintunya rapat-rapat dengan pelan.


 


Ide untuk melarikan diri dari kamar ini pun gagal terlaksana karena kamarnya di jaga oleh dua orang pria bertubuh besar dengan beberapa orang yang lalu lalang di lorong kamarnya, sungguh devil itu sudah membaca pikiranya untuk melarikan diri dari cengkramanya.


 


Alea kembali duduk di tepi jendela besar tatapam kosong memikirkan segala cara untuk bisa lepas dari devil seperti Evans.


 


“Aku membawakan makanan untukmu.”


 


“Ale…”


 


Mika masuk ke dalam kamar Alea dan melihat wanita bodoh itu tengah asik melamun di depan sana.


 


Mika menghampiri dan menempuk bahu Alea hingga wanita bodoh itu terkejut dan terbangun dari lamunannya.


 


“Mika! Kau mengejutkanku,” gumamn Alea memegang dadanya.


 


Mika menghela menatap Alea. “Sebaiknya kau makan, lalu istirahat karena jadwal kita padat di kota ini,” ujar Mika.


 


“Terima kasih Mika.”


 


“Jika ada apa-apa kau minta pada pengawal yang berjaga di depan kamarmu karena dia akan menyampaikannya kepadaku.


 


"Kamarku ada di sebelah kamarmu dan kamar Tuan ada di depanmu. Jadi jangan harap kau bisa kabur dari pengawasan kami!” ucap Mika berlalu pergi meninggalkan Alea yang tercengang di belakang sana.


 


‘Dari mana Mika tahu jika aku akan kabur dari sini? Apa dia cenayang tahu akan rencanaku? Haahh, sial sekali Mika.


 


'Kenapa wanita cantik dingin seperti Mika begitu setia sekali kepada devil seperti Evans Colliettiel?' lirih Alea menatap punggung wanita dingin itu yang sudah berada di ambang pintu.


 


Sepanjang harinya hingga malam tiba Alea tidak dizinikan sama sekali keluar ruangan, duduk dan berdiam diri di dalam kamar bahkan tidur siang sudah ia lakukan bahkan berguling-guling di ranjang empuk itu sudah ia lakukan hingga rasa bosan melanda.


 


Berpikir untuk kabur pun sudah Alea urungkan niatnya, meski percumah karena The Black Rose tidak akan bisa di kelabui.


 


Mika masuk ke dalam kamar Ale selepas makan malam membawa seorang lelaki setengah wanita itu ke dalam kamarnya.


 


“Dia akan merias wajahmu,” ujar Mika berlalu pergi dari kamar Alea meninggalkan pria setengah wanita yang gemulai menarik tangannya untuk duduk dengan siap pria itu memegang beberapa alat mike upnya untuk membuat Alea secantik mungkin.


 


“Seharusnya kau duduk di depan meja riasmu kenapa kau malah membelakanginya?!” tanyanya, heran.


 


 


Berdebat dengan wanita menyebalkan di depanya sangat membuang waktu, karena sulit di atur.


 


Pria gemulai itu beberapakali menghela napas dan mendengus kesal karena baru pertama kali ini dia mendapatkan pekerjaan yang begitu menguras emosinya. Jika bukan karena uang yang besar sudah ia tolak pekerjaan ini.


 


Pria gemulai itu menghel napas, “Huffft akhirnya selesai juga pekerjaanku. Apa kau tidak ingin melihat wajah cantikmu, darling?” tanya Pria gemulai di depanya.


 


Alea bergeming. Ia enggan untuk melihat wajahnya di cermin, karena dari dia melihat lipstick merah menggoda yang di poles di bibirnya dan juga cat kuku dengan blink-blink serupa yang melekat di setiap ruas jarinya membuat Alea bergidik ngeri mungkin penampilanya saat ini menyerupai bicth.


 


Alea menghela napas panjang, “Kenapa Evans tidak membawa Carla atau Ariana saja yang lebih menghayati perannya sebagi wanita jalang yang pandai menggoda pria?” lirih Alea, bingung.


 


“Kau sungguh cantik dan kau memiliki aura yang berbeda darling, meski jujur kau begitu amat menyebalkan, karena kau banyak membangkang kepadaku,” gerutu Pria gemulai dengan cemberut menatap Alea.


 


Alea tersenyum. “Maafkan aku dan terima kasih. Aku tidak ingin melihat wajahku yang mungkin sangat menakutkan,” ujar Alea terdiam dengan Pria gemulai itu membereskan alat-alat make upnya.


 


Pria gemulai itu terkekeh dengan jawaban Alea. “Aku maafkan kamu darling. Kau akan terkejut nanti jika kau sudah melihat wajah cantikmu di depan cermin, kau sungguh berbeda.”


 


Mika masuk ke dalam membawa gaun hitam berkilau dan sexy yang berada di tangan kanannya. Pria gemulai itu mengangguk akan kedatangan Mika, tersenyum untuknya sebagai isyarat berpamitan dan berlalu pergi.


 


Alea terpaku menatap gaun itu yang berada di tangan Mika dengan Mika yang berdiri tidak jauh di depanya memperhatikan wajah Alea dengan seksama.


 


“Kau harus melihat dirimu sendiri di cermin, kau terlihat berbeda?"


 


“Tidak, terima kasih.”


 


Alea menaikan alis. “Apa itu gaun untukku?” tunjuknya dengan ragu. Karena di lihat dari depan pun gaun itu tampak kekurang bahan dan semoga saja bukan untuknya.


 


“Tentu saja. Kau pikir, aku yang akan memakainya?” tanya Mika.


 


“Kau lebih cocok memakai gaun kurang bahan itu,” ujarnya.


 


Mika mengulurkan gaun hitam itu, “Ini akan sangat sempurna di tubuhmu.”


 


Alea terdiam sesaat, mendengus kesal menatap gaun hitam itu dengan sedikit memalingkan wajah ke samping seraya melipat lenganya di dada.


 


“Aku tidak akan memakainya sampai seseorang akan menjelaskan untuk apa aku harus melakukan semua ini dan sejauh ini?"


 


“Tuan Evans sendiri yang akan menjelaskanya nanti.”


 


Alea kembali menoleh menatap wajah Mika yang tersenyum miring.


 


“Dia akan tiba sebentar lagi. Apa kau mau memakai gaun ini sekarang di saat Tuan belum datang atau nanti saat Tuan datang dan melihatmu memakainya?”


Jelas Alea tidak mau keduanya. Apa lagi pilihan terakhir.


 


“Sebaiknya kau bergegas, buang pengait itu karena akan menghalangi pemandangan,” tunjuk Mika melihat kaitan bra hitam yang masih menempel di tubuh Alea.


 


Padahal Alea belum sama sekali menyentuh gaun hitam itu, kenapa Mika sudah bisa membaca pikiranya.


 


“Aku tidak biasa memakai gaun kurang bahan itu, apa lagi jika aku tidak mengenakan sesuatu di dalamnya yang akan tercetak jelas di dadaku” ujar Alea.


 


“Untuk semalam ini saja, toh tidak akan ada orang yang akan mengenalmu di sana, lepaskanlah biarkan seperti itu,” ujar Mika santai.


 


“What?” Aku jadi aneh kepadamu. Sekilas kau baik, sekilas kau menakutkan, sekilas kau perhatian kepadaku, sekilas kau galak dan jutek dan sekilas kau sangat jahat.”


 


Alea mengungkapkan apa yang ada di dalam hatinya kepada Mika.


 


Mika tersenyum simpul, dia tidak ingin terbawa suasana karena benar yang Alea ucapakan kepadanya, dan ia pun sama bingungnya akan dirinya saat ini.


 


“Kau harus tahu sifatku memang seperti itu. Aku harus bisa bersikap professional Ale dan aku tidak ingin terlihat lemah seperti itu di depanmu lagi. Aku wanita jahat yang tidak bisa luluh akan kepolosanmu,” ujar Mika menatap Alea dengan tatapan tidak biasa.


 


“Aku harap bisa segera lepas dari cengkraman Tuanmu yang menakutkan itu dan aku pun tidak ingin berurusan kembali dengan Tuanmu dan juga kau!”


 


Bersambung...