
Lea tampak menekuk mukanya dengan penuh rasa kesal yang tak habisnya. Edward semakin berani menggodanya dan selalu menang apalagi ketika di RS tadi ia benar benar kalah jauh dari Edward yang penuh kemenangan sedangkan dia hanya bisa memendam rasa kesal.
Saat ini Lea tengah berbaring di kasurnya, bibirnya terus ia manyun kan tampak cemberut.
" Menyebalkan, masa ia aku harus terus bergantung padanya sebelum aku pilih sepenuhnya?mana Hansel yang sering mendukung dia. Huffff tidak bisa dibiarkan." Gerutu Lea berdecak kesal.
Pintu kamarnya terbuka, Hansel dan Edward masuk dengan membawa mapan berisi susu dan bubur panas.
" Mommy,,,," Hansel mendekat lalu masuk dalam dekapan Lea.
" Hans, suka banget ya peluk Mommy hehehe,,," Lea mencubit gemas pipi Hansel, seakan lupa akan kekesalannya pada Edward. Namun tatapannya kembali tertuju pada Edward yang kini berdiri dibelakang Hansel dengan senyum miring.
" Sayang, kamu makan ya." Suara seorang Edward yang sangat pandai dalam menggoda, merayu wanita namun tidak pada sembarang orang.
Udara disekelilingnya Lea terasa panas karena ucapan Edward yang membuatnya ingin muntah saja.
" Iya Mom, Mommy makan ya biar lebih fit lagi," timpal Hansel berbinar.
Tanpa menjawab lagi Lea langsung mengambil mangkuk bubur itu dan melahap kasar dengan menatap sinis kepada Edward.
" Mommy kenapa makannya berserakan begitu?" Tanya Hansel karena bubur ayam itu sampai belepotan di pipi Lea.
" Lain kali kalau makan itu pelan pelan sayang," Edward membersihkan sisa bubur itu dengan lembut.
Tubuh Lea bergetar hebat ketika mendapatkan sentuhan kembali dari Edward, pikirannya kembali tercembung kepada kejadian menyakitkan itu. Dengan kasar Lea mengibaskan tangan Edward menjauh darinya. Nafasnya seakan sulit untuk ia atur seperti semula, seakan sesak untuk mendapatkan ketenangan.
" Mommy, Mommy kenapa?" Hansel menatap dalam kepada Lea.
" No! Sorry, sorry ya nak. Emm apa boleh Mommy minta agar Hans dan Daddy keluar dari sini?" ucap Lea dengan halus supaya Hansel tidak berpikir negatif padanya.
" Jadi kalau nanti Mommy butuh bantuan, trus siapa yang bakal bantuin Mommy kalau Hans dan Daddy keluar barengan?" kata Hansel.
" Em,, tidak masalah! Mommy hanya ingin istirahat dan sendiri saja. Hans mau kan lihat Mommy senang?"
" Baiklah Mom, Hans akan nurut." Hansel tersenyum kemudian mengecup pipi Lea sekilas.
" Thank you Hans." Lea melempar senyum manis, Hansel pun langsung melangkah keluar.
Namun berbeda dengan Edward yang masih berdiri mematung menatap Lea sedari tadi.
'Anakku saja bisa nimbrung sebebas mungkin mencium Lea, padahal dia bukan suaminya atau kekasih Lea. Sedangkan aku yang nyaris akan menjadi suaminya saja tidak ada niat melakukan hal yang sama, akan lebih baik jika langsung di praktik.' Batin Edward.
Dengan sembrono Edward langsung mengecup bibir Lea tanpa izin, sontak Lea terkaget keheranan dengan ketakutan yang menjadi satu.
" Jika butuh sesuatu bisa panggilkan aku," Edward memicingkan sebelah matanya lalu melangkah keluar dengan senyum kemenangan.
" Aaaa! brengsek! gak tahu malu sekali seperti tidak ada etika, beraninya dia mencium ku tanpa izin. Benar benar buaya darat! aku membencimu." Lea mengepal tangan menahan amarah akan kelakuan Edward barusan padanya.
_______
Disisi Lain.....
" Gabuttt!!!!!!" Teriak Elena berdecak kesal dengan malas.
"Gabung bangetttttttt, hufff. Mau dolan, lah ngajak siapa coba? cowok aja gak punya." Gumam Elena dengan sendu. Dapat dikatakan bahwa Elena adalah seorang gadis yang paling malas untuk melirik lirik Pria Pria tampan yang ada di kampusnya, baginya hal itu hanya membuang buang waktu saja. Terlebih Elena yang paling menjaga jarak dengan Pria manapun baik di kampus atau di luar sekalipun kecuali kepada Edward dan Eder hanya mereka berdua saja. Baginya dua orang Pria saja yang menjaganya itu sudah lebih dari cukup, meskipun ia termasuk golongan gadis manja namun sikapnya dalam melakukan hal selalu menjadi yang terbaik.
" Gabut kegini gak tahu mau lakuin apa lagi. Dulu waktu SMA, Mommy selalu dirumah jadi aku bisa habiskan waktu dengan Mommy. Lah sekarang? aku jadi rindu Mommy,,,," Elena jadi sedih dan merasa rindu pada sosok sang Mommy yang tak lain adalah Anyer.
Elena memanglah sangat manja sekali, apalagi ketika ia masih SMA semuanya ini itu harus dituruti tanpa ada yang salah sedikitpun. Ia selalu dimanjakan oleh Evans, Elena Putri tercantik nya itu tidak akan ia biarkan bersedih apalagi soal sekolah. Namun saat waktunya tiba untuk melanjutkan Kuliah akhirnya Elena pun berusaha untuk mandiri itu pun karena paksaan dari Anyer. Kalau Evans? ia bahkan menginginkan Putrinya tetap melanjutkan pendidikan di Australia. Tetapi Anyer bersikeras supaya Elena lanjut di New York hingga pada akhirnya keputusan pun diambil makanya Elena lanjut di New York.
" Daddy, Mommy, Ele rindu deh." Lirih Elena yang masih meringkuk diatas ranjang.
" Telfon aja deh." Ia mengambil ponsel kemudian video call dengan Anyer.
" Mommy,,,," Elena melambaikan tangannya dengan rasa rindu.
" Hay sayang,,,," Tampak Anyer dan Edward bersamaan duduk di ruang utama.
" Mommy dan Daddy apa kabar?" Elena memperlihatkan muka cemberut.
"Baik, kenapa mukanya ditekuk begitu Putri Cinderella nya Daddy?" Tampak Evans sedikit sendu jika melihat Elena yang cemberut.
" Ele kesal Dad, Mom." Kata Elena.
" Kesal? kesal karena apa Ele?" Anyer penasaran.
" Ele gabut disini sendirian karena Dosen yang harusnya masuk hari ini gak bisa hadir karena ada halangan. Ya, Ele jadi bosen deh di kamar cuma rebahan doank, Dad, Mom." Sendunya.
" Dosen yang mana sayang? biar Daddy urus dia karena buat Putri kesayangan Daddy jadi bosen." Evans tampak serius.
" No no! bukan begitu Dad. Daddy jangan berlebihan, mungkin aja istrinya lahiran atau apalah. Lagian Ele memang sering kegini Mom, Dad keseringan bosen dirumah. Ingin ke Mall gak da temen lagian semua barang barang Ele baru baru dah banyak lagi. Makanya Ele bingung mau lakuin apa lagi Mom, Dad." Jelas Elena.
" Memangnya Ele gak ajak Kak Edward main gitu?" Anyer memberi solusi.
" Huff, jangankan di ajak main Mom, Kak Ed sama Kak Eder lebih focus ke ambisi pekerjaan. Makanya Ele malas ajakin mereka berdua, ya jadinya kegini deh." Elena memoyongkan bibirnya.
" Ya sudahlah Putri Daddy, memang begitu. Kakakmu dengan Eder memang harus lebih focus ke Perusahaan yang mereka urus. Jadi Ele harus lebih mandiri lagi ya sayang." Evans meyakinkan sang Putri.
" Baiklah Dad, Mom. Thank you,"
" Sama sama sayang, Ele jaga kesehatan ya disana."
" Pasti Dad, Mom,"
" Udah ya Mom, Dad! Byeee...."
" Byeee....."
_______
Like komen dan vote
Salam ^^