Mafia And Me

Mafia And Me
You Are Mine!



“Hmps…”


“Sshh…. Ev,” lirih Alea. Suara seksi itu akhirnya terdengar di telinga Evans.


Alea mendesah pelan ketika bibirnya bertemu dengan bibir Evans—membukamnya dengan lembut bergabung dengannya di bawah air shower.


Alea mengalungkan kedua lengannya di leher Evans, dan kembali memagut bibir seksi itu tanpa ampun.


“Ehmps… Ev…” desah Alea lagi, sentuhan lembut pria itu membuatnya semakin tak tahan. Alea menginginkan tubuh sang devil.


Dia ingin merasakan lebih dari apa yang pria itu lakukan pada tubuhnya, bibir sang devil tak henti menyesap setiap inci jenjang leher Alea yang diikuti dengan kedua tangan Evans yang sudah mendarat lebih dulu menangkup di dua buah melon besarnya.


Tidak hanya itu, sebelah paha Alea pun ditumpangkan pada satu pahanya seolah wanita itu duduk di atas pangkuannya dan satu hal lagi, tanpa Evans melepaskan pagutan pada bibir manis Alea.


Hati Alea kalang kabut menyambut dan membalas pagutan lembut Evans yang terus menuntutnya.


“Ssh… Ep hgss… Ev—”


Alea memejamkan kedua matanya menikmati kembali sentuhan tangan sang devil yang memabukan.


Evans tak henti membuat bibirnya terus meloloskan ******* seksi yang membuat jiwa kelelakian nya bangkit.


“Tolong jangan permainkan aku—”


Evans melepaskan bibirnya yang menyesap satu melon Alea. Ia pandangi wanita bodoh di depannya yang menatap penuh permohonan.


“Ev…”


“Aku sungguh tersiksa,” ucap Alea dengan bibir yang bergetar hebat.


Tubuhnya sudah menggigil namun tak mengurangi tubuhnya yang terus bergerak gelisah.


“Lakukanlan, Ev—” kata Alea pelana seraya menatap manik mata indah Evans.


Evans menyobek pakaian pelayan berwarna hitam yang dikenakan Alea hingga beberapa kancing pun terlepas.


Satu kata yang ingin Evans ucapkan ketika melihat tubuh bagian atas Alea polos ketika pria itu sudah melenyapkan lebih dulu bra hitam yang dikenakan wanita bodoh itu.


“Beautiful.” Itu hanya dalam hati, Evans memuji tubuh indah Alea.


Evans tak bisa memendam lagi gairah yang sudah menggebu. Evans sama, menginginkan Alea.


Namun, heranya Evans bukan lekas menggauli wanita bodoh itu yang sejak tadi terus meracau minta perlepasaan. Evans hanya diam dan sama sekali hanya melihat Alea yang terus memanggil namanya.


Anehnya lagi, ketika kesempatan itu datang. Evans tidak melakukanya pada hal sang adik di bawah sana sudah meronta ingin segera ikut merasakan hangatnya surga milik Alea.


Alea dengan agresif melummat bibir Evans, tubuhnya pun terus bergerak agresif.


Pria itu diam saja ketika Alea sudah membuka kaos navy yang dikenalkan dan memperlihatkan siluet tubuh kekar Evans.


Malam ini Alea benar-benar menyerupai wanita jallang yang mendambakan sentuhan sang devil.


Sekali lagi, pria itu hanya diam menatap Alea tanpa pergerakan sama sekali dan entah apa yang kini membuat pria itu hanya diam.


Apa Evans kini sudah damai dengan hatinya?


Apa dia tidak tertarik pada wanita yang terus bergerak frustasi yang terus memanggilnya dengan panggilan ‘Ev’


Hah—hanya panggilan itu membuat hatinya berdesir.


Bohong bukan bila Evans tidak tertarik pada Alea dan menginginkan bercinta dengan wanita bodoh itu?


Bahkan kini sang adik sudah berdiri dengan sempurna setiap melihat Alea berkeringat.


“Ev, lakukanlah. Tolong masuki ku. Aku tersiksa,” gumam Alea lirih.


Alea tidak tahu lagi harus bagaimana agar obat sialan itu cepat menghilang.


“Tolong, aku tersiksa, Ev—”


Evans membungkam bibir manis Alea. Ah—ya manis. Bibir itu bahkan seperti tak pernah tersentuh oleh pria mana pun.


“Aku yakin kamu bisa menahannya sampai obat itu benar-benar menghilang,” bisik Evans lembut seraya mengecup puncak kepala Alea.


“Kenapa?” tanya Alea dengan bibir bergetar, air matanya jatuh bersamaan dengan air shower yang menerpa wajahnya.


Evans tidak menjawab, yang dia lakukan kembali membungkam bibir manis Alea yang sudah bengkak olehnya.


Sejam lamanya keduanya di bawah guyuran air dingin, Alea terus memberontak lebih kuat.


Pria itu tahu bagaimana Alea tersiksa tak bisa melihat Alea yang terus seperti ini, Evans pun membantu melepaskan sesuatu yang ingin meledak tersebut.


“Ev…” Alea terengah, dia tergeletak lemas di dalam pelukan Evans.


Pria itu menggendong tubuh Alea yang ringan setelah mengguyur tubuh keduanya dengan air hangat.


Evans membawanya ke atas tempat tidurnya. Pria itu membaringkan tubuh kurus Alea yang terlelah karena kelelahan setelah Evans telah memakaikan pakaian pada tubuh Alea agar wanita itu tidak kedinginan setelah berlama-lama di bawah guyuran air dingin,


Di saat Evans hendak merapikan kemeja miliknya yang dikenaikan Alea yang kebesaran di tubuh wanita itu.


Tak sengaja dia melihat bekas jahitan operasi di pinggangnya yang tidak rapi sama sekal, asal-asalan. Bekas jahitan itu terlihat asal dan juga terlihat seperti terbuka yang dibiarkan kering.


“Sebenarnya bagaimana hidupmu dulu, Lea?” kata Evans seraya mengusap bekas jahitan yang melintang panjang di punggung Alea.


“Kenapa tubuhmu begitu banyak bekas jahitan seperti ini?”


Tanpa sadar satu tangan Evans terkepal erat dan satunya menyentuh bekas jahitan panjang di punggung Alea yang entah bekas apa.


Bila dipinggang adalah bekas orang tua angkat palsu itu yang mengambil secara paksa sumsum tulang belakangnya. Lalu, kalau yang satu ini…


“Apa benar, setelah mengambilnya kamu benar-benar dibuang?” batin Evans, geram.


Hatinya seakan ikut sakit melihat bekas luka di tubuh Alea.  Ya, Evans akui dia seakan tidak rela melihat tubuh mulus nan indah ini tak menyangka kalau punggungnya begitu banyak bekas jahitan.


Tak dipungkiri kalau selama wanita bodoh itu ada, Evans merasakan kehangatan yang tak pernah datang menyelusup hatinya, dan itu ketika Alea datang pada hidupnya.


Evans membelai lembut rambut panjang Alea yang kini kering, Evans lebih dulu mengeringkan rambut basah Alea.


“Kamu tahu, Lea. Kenapa selama ini aku tidak menyentuhmu dan juga tidak menagih janjiku ini padamu?”


Ada jeda di antara kalimatnya. Evans menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan.


“Karena bagiku, kamu bukanlah wanita jallangku seperti mereka, Lea,” ucap Evans seraya mengecup kening Alea di mana dia melihat kedamaian di wajah cantik Alea yang terlelap.


“Dan aku tidak bisa menyamakanmu dengan para peliharaanku di mansion ini.”


Dibelainya lembut pipi Alea, pria itu tersenyum menatap wanita bodoh yang terlelap.


“Bolehkah aku jujur padamu, Lea?”


Mau berkata panjang lebar pun, Alea tidak akan bisa mendengarkan perkataan Evans, Alea sudah berada di alam mimpi yang indah.


Dia tidak akan mendengarkan perkataan manis Evans.


“Hatiku menghangat ketika kamu datang ke dalam hidupku.”


 Evans mencondongkan tubuhnya, dan kembali mengecup kening Alea.


“Aku menginginkanmu Lea, lebih dari malam ini.”


Evans naik ke atas tempat tidurnya dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Alea dan bergabung di atas tempat tidur yang sama.


Evans melingkarkan lengannya memeluk tubuh Alea yang begitu dingin.


Kini sang devil itu mengakui kehangatan yang menyelimuti hari-harinya. Sekaras mungkin pria itu selalu menolak bahkan selalu mengabaikan perasaan aneh di dalam hatinya, mengabaikan degupan jantung yang menggila ketika berada di dekatnya.


Ketahuilah, Evans Colliettie sang devil dari Napoli mengakui kalau dirinya merasa nyaman bila dekat dengan sosok malaikat berhati baik yang dia peluk saat ini.


“Aku tidak akan pernah melepaskan kamu, Lea. You are mine.”