
“Evans akan membunuh kita.”
“Ya, itu pasti, Alea. Baginya, nyawa kita itu tidak berharga dan harus segera dimusnahkan!”
Alea mencengkram seat belt yang di kenaikan semakin erat, dengan mata yang tak lepas lurus ke depan.
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Bry?” Alea panik, lebih tepatnya lagi dia belum siap untuk mati.
“Merunduklah, Alea!” teriak Bryan.
Bom!
“Haaaah….”
Teriak Alea keras seraya memegang kepala dengan merunduk. Bryan lekas maju sekalipun tembakan demi tembakan dilayangkan ke arah mobilnya.
Beruntung tembakan Evans meleset dan tidak membuat mobilnya menjadi kumpulan asap hitam.
Dalam ketakutan, Alea mencoba melihat bagaimana pria itu menggantikan senjatanya terus membidikkan peluru hingga beberapa kaca spion mobil mereka pun pecat di dua sisi.
Tidak hanya itu kaca bagian mobil pun sudah retak akibat terkena banyak peluru.
Seolah terlihat target utamanya Evans adakah Bryan seorang sekalipun ada Alea di sampingnya akan ikut tertembak.
Evans bergerak maju sambari kedua tanganya tidak henti melepaskan tembakannya dengan Bryan bergerak mundur dan menjaga jarak.
Disaat, para anak buah Evans memasukan peluru ke dalam senjatanya dan tembakan itu terhenti beberapa detik. Bryan tak ingin membuang waktu yang berharga itu.
Pria itu lekas menginjal pedal gas dan melajukan mobilnya pada kecepatan tinggi dan mengarah ke depan di mana mobil Evans berada.
“Berpegangan erat, Alea.”
Bola mata Alea membulat. “Apa kamu akan menabraknya, Bry? Dia akan mati, Bry!” teriak Alea, ketika mobil yang dikemudikan Bryan melaju dengan kecepatan penuh.
“Lebih bagus kalau dia mati, Alea,” desis Bryan, emosi.
Wajahnya merah padam, dan mungkin kematian Evans Colliettie akan membuat hidupnya semakin damai.
“Sebelum iblis itu akan membunuh kita secara keji!” sambung Bryan.
Evans kembali menembak, sebelum pria itu berbalik badan dan berlari ke arah mobilnya.
Sayangnya, mobil yang dikendari Bryan cukup cepat hingga pria itu tidak berkesempatan masuk ke dalam mobil dan begitu saja—
Wushhh….
Jantung, baik-baik saja kan?
Itu yang Alea ingin ucapkan pada dirinya sendiri ketika kedua bola matanya menangkap dengan lebar saat Bryan hendak menabrak Evans.
Ah, sang iblis memang begitu lihai, dengan lincahnya pria itu naik ke atas body mobil dimana kini kedua matanya bertemu dengan manik mata indah hijau keemasan.
Evans semakin mendekat, tanpa terduga Bryan menabrak mobil didepannya, membuat Evans harus berpegangan lebih erat lagi.
Tetapi, itu hanya beberapa menit saja dengan gerak terlatihnya dia langsung mengambil ancang-ancang—melompat melewati atap mobil dan membiarkan mobilnya sendiri terdorong ke samping oleh pria itu.
“Dasar Iblis,” umpat Bryan.
Pria itu mengetahui, dengan sengaja dia menabrakan mobilnya membuat Alea tersentak ketika melihat Evans terjatuh berguling ke aspal dan terlentang.
“No! Bry!” teriak, Alea kencang.
Sayangnya, tidak didengar oleh Bryan yang sudah lebih dulu menginjak pedal gas sehingga mobil itu melaju kencang untuk menabrak Evans yang berada di aspal panas.
Alea hanya memejamkan kedua matanya, tak sanggup dia melihat aksi Bryan yang ingin membunuh sang devil.
Ketika suara umpatan Bryan yang sudah di tebak tidak akan berhasil, Alea pun membuka mata dan langsung melihat ke belakang.
Sosok Evans Colliettie si sang devil dari Napoli itu terlihat bangkit dari terjatuhnya tadi.
“Pria itu—”
Bibir Alea bergetar ketika masih melihat ke belakang di mana mobil Jeep Bryan sudah melanju dan meninggalkan Evans yang sudah jauh di belakang sana.
Alea memandangi sang devil yang berdiri dengan gagahnya setelah aksi extrimnya, tadi.
“Dia masih berdiri dengan tegak!”
Kini, bayangan Evans terlihat begitu kecil yang bisa kedua matanya itu tanhkap.
Bryan menarik napas sejenak. “Karena pria itu sudah membekali dirinya dengan banyak hal untuk tetap menjadi orang yang ditakuti.”
Bryan menoleh ke samping memandangi Alea.
"Hampir semua bentuk pertahanan diri pria itu kuasai dengan sangat baik. Apa yang baru saja aku lakukan itu memang bisa dihindarinya dengan mudah.
“Beruntung kita bisa meloloskan diri dari The Black Rose dan entah kita akan aman atau tidak seketika The Black Rose sudah memburu kita saat ini. Aku harap kita bisa lolos dari kejaran The Black Rose.”
Alea bungkam, bayangan sosok devil seperti Evans masih terekam begitu jelas.
Sudah menjadi ketentuan pria itu kalau Evans Colliettie tentunya akan mengejarnya.
Pria itu tidak akan membiarkan dirinya terbebas di luar sana dengan tujuan Evans Colliettie tentunya ingin membunuhnya secara mengenaskan.
Alea tersadar selama hidup berdampingan dengan iblis, hidupnya akan selalu terancam dan tidak ada kata tenang dan juga damai.
Kedua matanya basah, wanita itu hanya menundukan wajahnya menangis dalam diam.
Dia tidak menyangka kalau Evans akan sampai sejauh ini memburunya untuk membunuhnya.
‘Pilihanku kini sudah jelas bukan, bersama dengan Bryan kali ini. Karena aku sudah tidak ingin bertemu lagi dengan kejamnya seorang Evans Colliettie,’ batinnya.
“Kita akan kemana, Bry?”
Melihat helikopter yang sudah berada di landasan pribadi tentunya membuat Alea bertanya bukan?
Apa lagi ketika dua bola matanya memandangi sekitarnya di mana dia berada.
“Kamu pastinya akan suka, Al. Naiklah, kita tidak punya waktu lagi untuk lekas pergi dari tempat ini.”
Bryan membantu wanita itu untuk masuk ke dalam helikopter dan tak lama di susul olehnya.
Helipkopter tersebut pun tak lama bergerak dan naik ke atas secara perlahan dan pergi dari tempat tersebut.
Jauh di bawah sana membuat Alea takjub, kota kecil di bawah sana begitu cantik di malam hari.
Bibir Alea mengulas senyum memandangi lampu-lampu rumah di bawah sana yang terlihat begitu indah di sepanjang dataran tinggi.
“Apa kamu suka, Al? Indah bukan?”
Alea mengangguk pelan. “Kita akan kemana Bry?”
“San Marino.”
“San Marino?” ulang Alea seraya menoleh dan menatap Bryan.
Bryan mengangguk pelan, membenarkan kalau kini mereka ada di San Marino.
‘Seandainya aku benar-benar bebas dari Evans dan bisa menikmati hidupku yang dulu tentunya akan bahagia,’ batin Alea seraya menatap keindahan lampu-lampu di bawah sana.
“Apa kamu sudah pernah ke San Marino?” tanya Bryan.
Alea menggeleng, tidak. “Tidak. Mana mungkin aku pergi sejauh itu sekalipun ya aku tahu kalau San Marino adalah salah satu tempat wisata di Italia.
“Negara terkecil kelima di dunia yang dikelilingi daratan Italia. Negara yang tidak punya tanah datar dan semua bangunannya berdiri di atas pegunungan.
“Pemukiman asli yang dibangun dari batu yang berasal dari abad pertengahan.
“San Marino bisa dikenal dengan negara kecil dengan keindahan yang terkenal tenang dan juga damai.”
Bryan tercengang mendengarkan penuturan Alea, bahkan dia sendiri yang warga asli sini pun tidak sedetail itu tahu tentang negara atau kota kecil di tempat dimana dia dilahirkan.
“Kamu tahu dari mana?”
Alea menoleh ke samping. “Aku banyak baca dari buku panduan wisata. Hehehe…”
Bryan mengusap lembut rambut panjang Alea dan menatap sejenak luka yang terdapat di kening Alea.
“Apa kamu tahu, Al? kenapa kita harus menggunakan helikopter untuk sampai lebih cepat di negara itu?”
Alea menggeleng tidak tahu. “Negara ini tidak punya bandara sendiri. Kabar baiknya, sebentar lagi kita akan sampai di landasan Borgo Maggiore.
"Kita akan sejenak berada di salah satu rumah teman lamaku, di Dagona.”
“Teman lama?”