
“CK! Dasar sok kuat padahal kau itu lemah, Alea!”
“Di mana kamu menyimpan obatmu, hah?” seru Evans, lama-lama dengan Angel membuat darah tingginya naik.
“Ada di dalam tasku, Ev,” lirih Alea seraya menunjuk di mana letak tasnya.
“Dasar wanita bodoh!”
Alea pun bisa geram bila Evans terus menghinanya bodoh. Dia pun menepis tangan Evans yang berada di pundaknya menahan bobot tubuhnya.
“Sudahlah lepaskan. Aku tidak mau merepotkanmu. Aku bisa jalan sendiri.”
Alea menarik tangan Evans agar dilepaskan, dia pun mencoba berdiri tegak sebelum berjalan.
Alhasil baru saja melangkah, pandangan Alea kunang-kunang dan rasa nyeri di kepalanya pun terus menusuk-nusuk.
Alea pun kembali ambruk dengan tubuh yang hampir saja tersungkur ke aspal panas bila Evans tidak segera menopangnya kembali.
“Astaga,” decak Evans kesal.
“Kau ini benar-benar wanita bodoh yang selalu merepotkan, Alea!” seru Evans geram sendiri.
Tiba-tiba, tubuh kurus Alea terangkat begitu saja. Alea yang tengah dilanda nyeri di kepalanya pun tersentak kaget ketika dirinya tersadar kalau Evans menggendongnya.
Alea mengerjapkan kedua matanya lambat seraya menatap Evans tanpa berkedip sampai dia mengabaikan rasa sakit di tubuhnya.
‘Benar-benar aku terkena sihir The Devil, hingga aku masih belum percaya kalau Devil itu menggendongku,’ batin Alea tak lepas memandangi wajah Evans.
‘Ternyata wajahmu begitu tampan Evans, coba kalau kamu punya belas kasih dan berhati baik sepertinya ketampanan kamu akan semakin tak tertandingi,’ kata hati Alea lagi dan lagi.
“Apa kau mau aku lempar atau aku seret kau sampai ke pesawat, hmm?” pertanyaan yang baru saja dilontarkan itu sama sekali tanpa menoleh Alea yang berada di gendongannya ala bridal.
Evans tahu kalau diam-diam. Ah, bukan diam-diam melainkan terang-terangan wanita bodoh itu menatap dirinya tanpa berkedip.
“Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak suka!” tegasnya.
Alea langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain sekalipun tak bisa Alea pungkiri kalau matanya masih betah ingin menatap wajah rupawan sang devil dari Napoli.
Kedua mata Alea begitu berkhianat, hatinya yang tak ingin mengingatkan agar tidak berurusan lagi dengan Evans.
Tapi, dia malah diam-diam mencuri pandang pada The Devil yang diiringi senyuman.
“Apa aku tuli, hmm?”
Alea menggeleng tidak. “Apa itu caramu untuk menggodaku dengan terus menatapku?”
Alea menggeleng tidak, mana mungkin hanya menatap Evans sudah menyimpulkan dia akan menggodanya.
Evans mendesah lelah. “Ck! Tapi kamu masih saja menatapku seperti itu.
“Baiklah, nikmatilah selagi kamu bisa, aku tahu kalau wajahku itu tampan,” ucap Evans, dengan penuh percaya diri.
“Astaga, apa kamu tidak lelah terus mengajakku berdebat? Kenapa devil seperti kamu ini kini banyak bicara!” omel Alea dengan berani.
“Ck! Kata siapa?! Aku malas berdebat denganmu wanita bodoh kayak kamu, Alea.
“Aku hanya tidak ingin kau menatapku penuh minat seolah kamu tengah menggodaku.”
“Bila kamu ingin seperti ini, tunggulah ketika kita sudah sampai di Napoli dan di ranjangku kau bebas melakukan apapun itu untuk menggodaku dengan bahasa tubuhmu ini,” ungkap Evans menatap dengan seksama tubuh Alea yang digendongnya.
Bulu kuduk Alea meremang, dia takut hingga menundukan kembali pandangannya.
Bila sudah berurusan dengan ranjang dan wanita jallang, Alea takut. Dia belum siap untuk seperti kelima peliharaan Evans Colliettie di mansionnya.
Entah bagaimana nanti nasibnya setelah kembali pulang ke Napoli, akankan dia akan sama bernasib seperti Clara dan yang lainya yang hidup terkurung di sangkar emas.
‘Sebaiknya jangan berdebat lagi dengan Evans. Pria itu tidak bisa ditebak moodnya,’ batin Alea lagi.
Alea menghembuskan napas pelan dengan kedua lengannya yang mendadak terulur dan reflek melingkar di leher Evans.
Kepalanya yang berdenyut nyeri pun disandarkan pada bidang dada Evans. Alea memejamkan kedua matanya seraya menghirup aroma maskulin, aroma tubuh Evans yang membuatnya merasa nyaman.
“Mika!”
“Ya, Tuan.”
“Ambilkan tas wanita bodoh ini di mobil sana,” pinta Evans yang langsung dianggukan Mika.
Tanpa banyak bicara, Mika pun berjalan menuju mobil Abraham untuk mengambil tas Alea yang tertinggal.
Meski Mika terkejut dengan apa yang baru saja dia lihat. Sesuatu pemandangan yang sama sekali belum pernah dia lihat selama Mika mengabdi pada Evans Colliettie.
Entah ada apa dengan Tuannya yang kembali membawa Alea bersama ke mansion.
Lalu apa yang sudah Alea lakukan atau tukarkan hingga wanita itu berhasil mendapat keinginannya itu. Kepulangan Alea ke Napoli dengan banyaknya rentetan kejadian hari-hari ini membuat firasatnya tidak enak.
Evans menaiki anak tangga menuju ke dalam pesawat di mana Alea menatap sunset yang kini mulai terbenam.
“Terima kasih banyak Evans,” ucap Alea pelan, namun Alea yakin Evans akan mendengarkannya.
“Diamlah!”
"Kau sungguh merepotkan, Alea!”