
Kegiatan Alea sudah selesai, dari membersikan kandang, memberi makan para hewan kesayangan Evans pun sudah terlakasana.
Dan kini Romeo dan juga Alea menuruni anak tangga untuk membersihkan kandang keempat ular pyton kesayangan Evans Colliettie, dengan keduanya masih mengobrol dengan tema masih tentang pintu jalan keluar dari mansion Evans Colliettie.
Evans memang pandai memasang jebakan-jebakan untuk mengelabui para tahanan di rumahnya.
Bahkan dari mereka yang dijadikan pelayan, pesuruh, dan pembantu pun kebanyakan tahan yang sudah berani menentang The Black Rose atau pun mengusik kehidupan Devil.
"Pintu yang paling aman hanya di sana?” tunjuk Romeo pada kandangan Raja dan Ratu.
“Dan hanya itu jalan satu satunya yang aman.” Alea sudah mengetahui sebuah pintu di dekat kandang Raja dan Ratu pun langsung merinding ngeri.
“Melihatnya pun saya sudah tak nafsu untuk kabur paman! Biarkan saja saya menua menjadi pelayan di sini, Saya takut ular!"
Wajah Alea berubah pucat. Apa lagi ketika melihat Romeo membawa ular-ular itu keluar dari kandangnya untuk dibersihkan tampa bantuan Alea.
Karena sudah dipastikan wanita itu pasti sudah pucat pasi di belakang sana.
Romeo tertawa terbahak, melihat Alea yang sudah pucat pasi di sudut sana.
"Hahahha kamu ini. Mereka adalah ular yang ganas dan sensitive hanya Tuan Evanslah yang bisa menaklukan ular itu?" ujar Romeo mengangkat salah satu ular kuning untuk keluar agar ia mudah membersihkan kandang ular kesayangan Evans.
Alea menggedikan bahunya serasa geli. Namun Alea ingin sekali melawan rasa takut akan pobianya kepada ular. Apa Alea bisa?
Entahlah karena terlihat tidak yakin Alea bisa melawan pobianya pada ular. Hanya melihatnya saja sudah membuat wajah Alea pucat dan mual.
"Memang Tuan tidak takut di makan? Bukan ular itu mulutnya lebar dan bisa makan orang?” tanya Alea tak percaya.
Jika kedua ular yang dijuluki Raja dan Ratu itu jinak dengan Tuanya. Secara Devil, apa yang tidak bisa!
Dasar Alea lemot!
"Saya sudah dua puluh tahun di sini Alea dan Saya sudah pernah lihat Tuan memberikan makanan pada binatang kesayangan ini semenjak usia Tuan lima tahu hingga sekarang-sekarang.
"Yah, walau jarang itu pun karena kesibukan Tuan. Tetapi Tuan kadang suka melihat dan memastikan binatang kesayangannya saja. Raja dan Ratu jinak dengan Tuannya.”
Ya ya ya, Jelas jinak.
'Secara Evans adalah Raja, dari Raja Raja dan Ratu, mana mungkin mereka memakan Rajanya sendiri,' batin Alea berbicara kembali.
"Dia menjadi dingin dan kejam saat dia melihat ibunya di bunuh oleh seseorang pria kepercayaan Tuan Alberto, apa lagi saat mendengar jika Ibu tercintanya memiliki anak selain Tuan!"
Alea terkejut. “Maksud paman?”
"Tuan Evans mempunya adik?!"
“Sudah bagian itu saya tidak bisa menceritakan kepadamu Alea, dan seharusnya kau pun tidak usah banyak penasaran akan kehidupan Tuan Evans Colliettie!” tegas Romeo.
Karena ini bukan konsumsi orang baru seperti Alea, biarlah wanita itu mengetahuinya sendiri, jika penasaran dengan Tuannya.
Alea mengangguk. Benar perkataan Romeo seharusnya rasa penasaran Alea itu tidak sebesar itu akan kehidupan seorang Devil yang sudah beberapa kali akan menghabisi nyawanya, jika rasa penasaran itu muncul kembali.
“Apa kau percaya Ale? Jika ular itu suka dibawa tidur oleh Tuannya?” tanya Romeo mengalihkan topik akan kehidupan Evans.
"Dan ular itulah yang biasanya menemani Tuan sepanjang malam!" Romeo menujukan ular batik dan kuning kesayangan Evans.
Seketika mendengar dan melihat ular yang ditunjukan oleh Romeo. Alea langsung muntah dengan tangan sebelah memegang perut dan tangan satunya lagi bepergangan pada tiang besi sel penjara, agar tubuhnya tidak terjatuh.
Pikiran Alea kini benar-benar heran kepada Evans. Otaknya sehari ini bekerja keras karena penasaran tentang The Black Rose yang kejam.
Belum selesai memikirkan akan kehidupan Devil dan keluarganya kini Alea disuguhkan kembali fakta lain dari seorang Devil.
Bagaiman bisa ular sebesar itu tidur dengan manusia?
Alea masih menerka-nerka hal yang tidak-tidak tentang ular dan devil itu, membuat reaksi mual kembali yang sudah tak terelakan lagi.
Romeo menghampiri Alea, memberikan tissue kepada Alea.
“Sudahlah kita naik ke atas lagi karena anak-anak Tuan sudah dibersihkan kandangnya dan sudah dikasih makan, nanti biar saya saja yang kasih makan pada ular.
"Jika kamu melihat ular saja sudah pucat begini. Belum ditambah tubuh manusia pula," ledek Romeo di depan Alea.
Alea ingin sekali melambaikan tanganya. Menyerah! Ia sudah tak kuat lagi. Tubuhnya sudah lemas tidak bisa menahan lagi, pandanganya yang sudah berkunang-kunang ditambah mual yang masih membuatnya lelah. Ia tak kuat dan tubuh Alea terjatuh pingsan di dekat sel.
“Ale….” panggil Romeo menghampiri Alea pingsan di depanya, menepuk pipi Alea untuk bangun.
Romeo hendak menggendong Alea yang pingsan di depanya, ketika baru saja Romeo memegang tangan Alea, ia dikejutkan dengan kedatang Evans yang terlihat menuruni anak tangga untuk melihat anak-anak kesayanganya, sebutan untuk keenam ular kesayanganya.
“Tu-tuan…”
"Kenapa dengannya?” tanya Evans yang diikuti oleh Mika di belakangnya.
“Alea pobia dengan ular tuan dan sejak kemari ia sudah muntah-muntah melihat potongan tubuh untuk makanan mereka dan apa lagi jika sudah melihat ular,” jelas Romeo.
Evans menyungingkan sudut bibirnya. Wanita lemah!
“Mika bawa dia ke kamarnya!" pinta Evans yang di anggukan oleh Mika.
“Bagaimana dengan anak-anakku mereka sehat-sehat saja bukan? Bagimana dengan Raja dan Ratuku?” tanya Evans melihat kedua anacondanya dari kaca tebalnya.
“Baik-baik saja Tuan mereka sudah saya beri makan babi hutan!"
"Baguslah, bawa Annabel nanti malam. Aku sudah lama tidak bermain dengan Annabelku,” ucapnya memegang dan mencium ular pyton berwarna kuning tampa jijik, karena Evans akan marah jika melihat binatang kesayanganya bila bau dan kotor.
“Baik Tuan,” jawab Mika.
Evans masih mengusap lembut ular kesayanganya dengan serangkai pertaanya kepada Mika akan kesehatan ular-ularnya yang selalu dipriksa oleh dokter pribadi yang khusus menangani hewan kesayanganya.
Bahkan Evans tak segan-segan menembak orang yang lalai mengurus dan menjaga semua binatang kesayanganya.
Setelah cukup puas Evans di bawah bersama dengan keempat ularnya akhirnya Evans keluar dari ruangan bawah tanah yang diikuti oleh Mika.
Sedangkan Romeo yang dibantu oleh anak pengawal tuanya untuk memasukan kembali ular-ular kesayangan Tuan ke kandangnya untuk persiapan nanti malam.
"Minumlah teh herbal ini agar kau baikan Alea," pinta Berta.
Wanita paru baya itu melihat para pengawal menggendong Alea yang jatuh pingsan dan Bertalah yang meminta agar Alae dibawa ke dapur saja. Pasti wanita malang itu pingsan karena di kandang seharian karena pobianya.
"Terima kasih Berta,” ucap Alea terdengar pelan dengan tenaga yang pas-pasan dan wajahnya yang masih pucat.
Alea sangat berterima kasih kepada Tuhan karena wanita paru baya itu terlihat perhatian kepadanya.
"Kau istrihatalah di sini hingga kau sudah merasa baikkan. Biar saya saja yang membawa makan siang untuk para wanita Tuan,” ucap Berta iba melihat keadaan Alea.
“Tidak usah Berta biar saya saja karena saya sudah baikkan kok saat ini,” hardik Alea tak enak akan kebaikan Berta kepadanya.
“Tidak apa Ale, biar Berta yang akan mengantarkan makan siang untuk para wanita itu dan kau sebaiknya istirahatlah dan makan siang juga!” tegas Mika.
***
Hari sudah menjelang malam, Alea yang sudah terbiasa pun kini sudah berada di dapur untuk menyiapkan makan malam untuk para wanita jalang Tuannya, membawa troli yang penuh dengan makanan untuk dibawa ke ruangannya.
Perjalanan Alea ke ruangannya pun terhenti sejenak ketika Alea melihat keempat pria itu berjalan dengan tergesa-gesa membopong ular pyton yang entah mau dibawa kemana.
Baru melihat ular saja Alea sudah mulai mual kembali dan tidak bisa melawan pobia ularnya itu.
Diulur nya tangan kecil itu untuk berpegangan pada tembok. Karena perutnya sudah kembali ingin memuntahkan semua makan malamnya.
Sungguh amat tersiksa Alea saat ini harus muntah hanya melihat ular besar itu.
Mika perpapasan dengan Alea yang sedang perpegangan ketiang besi, dan terlihat sedang memuntahkan kembali. Mika sudah tahu cerita akan wanita itu yang pobia akan ular.
“Kau tidak apa Ale?” tanya Mika.
Alea melambaikan tanganya ke udara tanda ia tidak apah.
“Minumlah.” Mika memberikan air mineral kepada Alea.
"Cepatlah kau bawa Annabeell,” pinta Mika.
"Berat Mik, kau bantulah,” gerutu salah satu anak buahnya.
Mika lalu membantu untuk mengangkat ular itu menuju ruangan paling ujung sana, entah kenapa Mika yang dingin pun kini perlahan-lahan mencair akan kehadiran Alea di mansion ini.
Melihat tingkah Alea di depan sana pun membuat sosok di atas sana sejak tadi memperhatikan Alea.
Seseorang yang sejak tadi memperhatikan wanita lemah itu dari kejauhan yang sedang menunduk dengan memegang perutnya selepas ia memuntah tadi.
“Sungguh merepotkan, wanita lemah namun…” seseorang itu terhenti membayangkan sesuatu yang manis yang belum pernah ia rasa kan selama hidupnya, membuat dirinya mengingankan kembali.
Siall!!! umpatnya dengan tatapan bengis masih menatap wanita lemah itu yang sudah beranjak berjalan kembali.
Setelah makan malam, Mika membuka pintu ruangan itu masuk ke dalam menemui para wanita yang sudah berdandan cantik untuk menyambut malam yang panjang ini bersama dengan Tuannya.
Mereka terlihat bersemangat untuk melayani Tuannya.
“Lekaslah bantu aku memasangkan jubah tidurku,” pinta Carla pada Alea yang berdiri tak jauh darinya. Alea menurut dan memasangkanya.
"Apa Tuan memanggilku?" tanya Ariana tersenyum senang.
"Tidak Tuan hanya memanggil Carla untuk malam ini,” kata Mika melihat para wanita itu yang sudah tak sabar ingin melayani Tuan.
"Kenapa selalu Calra? Aku juga sudah tak tahan ingin segera melayani Tuan, Mika?!” ucap Juliana yang terlihat kecewa dan ketiga wanita di depanya pun mengangguk setuju dengan apa yang diucapakan oleh Juliana.
"Jika kalian ingin protes, bilang saja sendiri pada Tuanmu aku hanya disuruh oleh Tuan untuk memanggil salah satu dari kalian.”
Alea hanya terdiam dan tak mempedulikan mereka yang saling menginginkan melayani Tuannya. Benar kata Mika lambat laun pasti semua ocehan para wanitanya Tuan akan terdengar biasa walau sesungguhnya begitu menjijikan.
“Kenapa tanganmu? Apa ulah mereka?” tanya Mika melihat dua jari Alea yang terluka.
“Tidak apah Mika.
Bersambung...