Mafia And Me

Mafia And Me
Kenangan Buruk



Berada di penjara bawah tanah lebih baik dari pada di luar sana. Setidaknya Alea bisa menenangkan diri tampa diganggu oleh peliharaan Evans yang selalu manja dan menyiksanya.


 


Alea tentunya memiliki banyak waktu untuk memikirkan semua meski mereka hanya diberi makan dua hari sekali itupun hanya roti dan air putih oleh pengawalnya.


 


Penjagaan ketat di ruang bawah tanah itu tidak mengizinikan siapa saja masuk ke bawah sana tampa seizinnya, bahkan Romeo yang bertugas membersihkan dan memberikan makanan kepada anak-anak Tuannya pun harus di kawal ketat dan diikuti oleh pengawal Evans.


 


“Bryan…”


 


“Hmm.”


 


Alea dan Bryan duduk terpisah tempat namun bersebelahan. Mereka duduk menyadar di tiang sel bersisian tapi saling membelakangi.


 


Beberapa hari lalu Alea di pindahkan ke sel tahanan sebelah Bryan oleh pengawal Evans. Apa alasanya Alea di pindahkan, ia tidak tahu.


 


Yang terpenting Alea tidak dikurung kembali bersama dengan keempat anak-anak Tuannya.


 


“Apa kau dan keluargamu tidak ingin bebas dari tempat mengerikan seperti ini?”


 


Keadaan Alea saat ini sudah lebih baik dan mereka sudah terkurung dua minggu lebih. Evans maupun Mika sama sekali tidak muncul untuk sekedar melihat mereka.


 


Namun, Evans yakin kedua orang itu tidak akan mati di sel penjara karena setidaknya Evans masih murah hati masih mau memberikan kedua pelaku perusakan taman kesayanganya.


 


Tetapi Alea pun tidak mengharapkan kedatangan Evans sama sekali. Alea hanya ingin pelaku yang merusak taman mawar hitam Evans segera tertangkap.


 


“Tentu saja aku ingin Alea, aku ingin mengajak kedua orang tuaku untuk keluar dari sini menghirup udara bebas dari neraka ini, tetapi…”


 


Bryan menjeda perkataanya, menghela napas panjang sejenak. Bryan tahu dirinya dan keluarganya tidak bisa lari begitu saja.


 


“Tapi keluargaku memiliki perjanjian tertulis denganya.”


 


Alea menoleh kepalanya melihat Bryan yang memandang lurus ke depan. “Jadi keluargamu akan berada di sini mengabdi pada Tuan Evans sampai mati?”


 


“Entahlah. Sepertinya begitu. Karena kedua orang tuaku tidak bisa apa-apa Alea selain harus mengabdi sampai mati pada Tuan Evans. Melarikan diri dari mansion ini rasanya tidak mungkin Alea!”


 


Bryan menghela nafas berat di depan sana membuat Ale mengerti akan pria itu yang mempunyai sesuatu beban berat di masa lalunya.


 


Apa sebenarnya pejanjian tertulis itu dengan sang devil membuat keluarganya sampai mati mengabdi di neraka ini.


 


“Aku hanya bisa berharap ada sesuatu yang bisa membuatku dan keluargaku keluar dari sini.”


 


“Semoga saja bisa Bryan.”


 


Keduanya terdiam sesaat saling bertatapan. “Apa ada hal yang berat membuatmu berpikir seperti itu Bryan? Pasti ada sesuatu hal yang sedang mengusik pikiranmu saat ini?” tanyanya.


 


“Tentu saja Alea. Aku ingin sekali membawa mereka keluar dari nerakan ini, tetapi aku tidak yakin bisa mengajak kedua orang tuaku keluar dari mansion ini.


 


"Aku masih mempunyai kenangan buruk akan rencana bodoh keluar dari mansion ini dengan sia-sia.”


 


Alea menatap penasaran pada Bryan. “Kenangan buruk apa?”


 


Bryan menghirup napas dalam. “Kenangan saat kita mencoba kabur dari mansion ini, yang berakhir aku harus kehilangan Lussie.”


 


“Lussie?”


 


Bryan mengangguk dan mulai memutar kembali kenangan itu yang masih ia ingat. Kejadian dua puluh tahun yang lalu, Bryan masih ingat bagaimana kejadian mengerikan itu yang mengakibatkan salah satu anggota keluarganya mati dengan sia-sia.


 


“Ingin sekali aku membalas dendam kepada devil itu untuk Lussie. Tetapi aku hanya pria lemah yang tidak bisa berkelahi atau pun menembak dengan senjata dan aku tidak ingin mati konyol untuk membalas Devil seperti The Black Rose!”


 


Alea mendengar Bryan meceritakan kenangan buruknya, walau tidak tahu hal yang pastinya akan siapa Lussie yang Bryan maksud?


 


“Siapa Lussie?”


 


“Adik perempuanku yang meninggal karena ke egoisan Berta.”


 


“Maksudmu?”


 


“Dulu, Berta mengajak kami untuk pergi melarikan diri dari mansion ini, ia menemukan jalan keluar dari neraka ini.”


 


“Apa ada kaitanya Berta begitu sangat perhatian kepadaku?” sela Alea.


 


Bryan mengangguk. “Iyah. Jika Lussie masih hidup mungkin seusia denganmu. Bukannya umurmu dua puluh empat tahun Alea? Kau terlahir tangal satu Januari?"


 


Alea terbelalak menatap Bryan yang tahu akan tanggal lahirnya dan juga usianya.


 


“Kau tahu dari mana?”


 


 


“Ulang tahunmu sama dengan seseorang!”


 


“Siapa? Adikkmu Lussie?” Bryan menggeleng kembali.


 


“Terus kamu tahu dari mana akan semua itu?”


 


Bryan tersenyum lembut menatap wanita itu yang pasti sangat penasaran.


 


“Itu rahasia Alea.”


 


Alea mengerucutkan bibirnya menatap Bryan yang menyebalkan di depan sana.


 


“Bagaimana Lussie meninggal Bryan?” Benarkan wanita itu sangat penasaran. Bryan tertawa kecil di depan sana.


 


“Lussie meninggal ketika usai lima tahun, dia jatuh ke kandang buaya dan dimakan hidup-hidup disana oleh para binatang kesayangan The Black Rose.


 


'Orang-orang Tuan Evans memegang kami semua ketika adikku terjatuh dan dimakan oleh para buaya dan tidak mengizinkan kami menolongnya.


"Pria jelmaan iblis itu sama sekali tidak membantu apa lagi menolong adikku mereka hanya menyakisakan binatang kesayanganya itu yang sedang berebutan memakan adikku.”


 


Alea mengatupkan bibirnya rapat, tidak percaya dengan cerita Bryan. Seorang bocah berusia lima tahun dimakan oleh buaya dan semua orang di sana tidak di perbolehkan untuk menolong dan lagi lagi devil itu hanya menyaksiakan semua kejadian itu.


 


Pantas Bryan benci kepada Berta, dan tidak sopan kepada wanita yang sudah melahirkanya.


 


Sorotan tajam mata Bryan membuat Alea paham jika pria lemah itu mempunyai luka dalam kepada Evans akan kematian adik tercintanya.


 


“Maafkan aku Bryan aku tidak tahu, benar-benar kenangan buruk Bryan!”


 


“Tidak apa Alea.”


 


Bryan menceritkan semua kepada Alea tampa keberatan dan ragu. Karena sebelumnya Bryan lebih dulu banyak bertanya tentang kehidupan Alea sebelum bertemu dengan Evans.


 


Rasa penasaran Alea akan keluarga Bryan pun sudah terjawab, ia mengerti kenapa Bryan bersikap seperti itu kepada Berta juga Antony yang tidak lain akan kematian adik tercintanya, Lussie.


 


“Apa sikapmu seperti itu kepada Berta untuk menunjukan jika kamu dendam kepada wanita yang sudah melahirkanmu?”


Bryan mengangguk pelan. Ia membenci Berta karena meninggalnya Lussie, dan Evans? Devil itu tidak mengizinkan dirinya untuk menolong adiknya.


 


"Aku sangat menyayangi Lussie, adik satu-satunya yang aku miliki."


 


Alea paham maksud Bryan. "Berta pun sama mencintai adikmu, mencintai anak-anaknya tampa membedakanya. Dalam lubuk hatinya pun sama sakitnya kehilangan anak perempuanya, Bryan.


 


"Jika waktu bisa berputar kembali pasti ibumu memilih menukar posisinya dengan adikmu tidak akan merelakan anak perempuanya meninggal secara mengenaskan.


 


"Berta pun sama menderita Bryan, dan kaulah satu-satunya anaknya yang seharunya bisa mengerti dan menyayanginya. Tidak ada seorang ibu yang kejam menginginkan anaknya mati seperti itu.


 


"Jika tidak ada Evans mungkin ibumu sudah locat terlebih dulu dan menolong adikmu. Jadi kau tidak pantas membenci ibumu," ungkap Alea pada Bryan, sedikit memberi nasehat kepada pria di sampingnya itu.


 


"Belum terlambat Bryan, minta maaflah kepada ibumu, kau akan menyesal jika kehilangan seorang ibu Bryan," ungkap Alea dari lubuk hati yang paling dalam dengan sebening air mata yang tampa sadar menetes dipipinya.


 


Alea teringat akan ibunya. Ia amat menyesal atas kehilangan ibu yang sudah membesarkanya dengan kasih sayang.


 


Namun ketika detik ibunya meninggal Alea tidak ada di sana mendampingi untuk terakhir kalinya, bahkan memeluk jasad ibunya yang terakhir kali pun Alea tidak bisa.


 


Ia hanya bisa memeluk pusaran tanah yang sudah menutup jasad ibunya.


 


“Kau akan amat menyesalinya Bryan. Mintalah maaf karena kehilangan ibu sama seperti kehilangan separuh hidupmu.”


 


Bryan melihat air mata yan jatuh dipipi Alea, wanita itu menangis jika sudah menyangkut akan sosok ibu.


 


“Apa kau menangis karena kehilangan sosok ibu?” Alea mengangguk, menyusut air matanya.


 


“Aku akan mencoba mendengarkan nasehatmu Ale, meski semuanya butuh proses mengembalikan seperti dulu kala, aku akan mencoba untuk tidak egois.”


 


Alea mengangguk senang, setidaknya Bryan akan mencoba itu membuat Ale lega. Bryan sebenarnya anak penurut dan sayang kepada keluarganya, Alea yakin itu Bryan bisa.


 


Bersambung...


 


 


“Bryan, apa dulu Tuanmu pernah berpacaran?” tanya Alea.


“Kau menghinanya?”