
Alea tercengan, kedua matanya terbelalak akan sebuah pilihan itu.
“Jawablah, kau ingin menjadi budakku atau wanita jalangku? Yang mana kau akan hidup senang dan mewah di mansionku ini, bagaimana?”
“A-aku…”
“Aku lebih baik menjadi budakmu, dari pada aku harus menjadi wanita jalangmu. Aku tidak sudi. Tetapi sampai kapan?” tanya Alea memberanikan diri menatap Evans lekat.
“Kau tak perlu tahu, sampai kapan berada di sini. Entah selamanya atau sampai kau mati sekali pun! Kau di sini hanya patuh akan semua perintahku. Apa kau mengerti?!”
Ale mendengus lirih, mencoba mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.
"Mika…” pekik Evans.
Wanita cantik bermata biru itu masuk ke dalam ruangan Tuannya dengan Alea yang masih di lantai dan sedang berusaha berdiri dan bergumam di dalam hatinya.
“Jadi wanita cantik ini namanya Mika.”
“Bawa wanita ini yang sudah aku jelaskan padamu.”
Miki membawa Alea keluar dari ruangan kerja Evans dan membawanya keluar akan sesuai perintah Tuannya yang sudah ia sampaikan. Alea berjalan di belakang wanita cantik dan sexy seperti namanya Mika.
"Kau di sini akan mendapatkan tugas dari Tuan Evans dan aku akan memberitahukan apa saja tugasmu itu.”
“Sampai kapan?”
Mika menghentikan langkahnya membalikan tubuhnya melihat wanita cantik namun bodoh. “Kenapa kau tidak bertanya langsung kepada Tuan Evans tadi?”
Alea terdiam, karena sebenarnya ia sudah tahu akan sampai kapan ia akan berada di sini, karena pria itu sudah menjelaskanya padanya. Ia tahu devil itu tidak akan melepaskanya sampai kapanpun hingga mati sekalipun.
“Aku akan mengingatkanmu. Jika kau berurusan dengan The Black Rose tidak akan bisa bebas dengan mudah, pilihannya hanya dua menjadi budaknya seumur hidup atau mati?”
Lagi-lagi kematian, kenapa pria tampan itu menyukai kematian.
Mereka kembali melanjutkan jalannya hingga tiba di pavilun sebelah timur. Mika mengajak Alea untuk bertemu dengan seseorang yang sudah di tugaskan oleh Evans.
“Selama kau di sini kau harus mengerjakan banyak pekerjaan, kau harus mematuhinya dan jangan membangkang.”
Alea terdiam dan mengangguk pasrah, entah apa yang akan menjadi pekerjaanya mudahkah atau sulitkah, ia harus bisa melawatinya.
“Romeo, kali ini kau ada teman untuk membantu pekerjaanmu, ajarkan dia akan tugas-tugasmu kepadanya dan antarkan kembali wanita ini ke dapur aku menunggunya di sana setelah kau selesai menjelaskan pekerjaanya,” ujar Mika.
Romeo mengangguk dan mengajak wanita cantik untuk masuk dan menjelaskan apa pekerjaan yang menanti dirinya.
Romeo membukakan pintu bercat merah berjalan terlebih dulu lalu yang hendak akan memberitahu tugasnya. Namun, langkahnya terhenti ketika Romeo menyadari tidak ada pergerakan di belakang sana dengan ia menoleh ke belakang menemukan wanita cantik itu berdiri di depan pintu besar dengan wajah yang terkejut.
“Lekaslah aku akan memberitahu apa pekerjaanmu,” pinta Romeo kepada wanita di depanya.
Alea langsung beranjak menuruni beberapa anak tangga di depanya untuk mengikuti Romeo yang akan menjelaskan pekerjaannya.
“Kedua binatang ini kesayangan Tuan Evans Colliettie yang setiap harinya harus kita rawat dan jika ada waktu senggang Tuan akan memeriksa ketiga binatang kesayanganya,” ujar Rome menujukan binatang buas di depannya.
“Tiga? Tetapi ini ada dua?” tanya Alea hanya melihat dua binatang yang di katakan binatang kesayanganya yang tidak lain buaya dan singa.
“Ada dua lagi di ruangan bawah tanah jadi kau jangan terkejut seperti tadi.”
Alea mengangguk tak yakin ia akan terkejut atau tidak jika melihat binatang kesayangan mafia itu, benar-benar tak main-main binatang kesayangan mafia seperti Evans Colliettie yang berada di depan matanya.
“Berapa banyak singa yang berada di sana?” tanya Alea penasaran akan kandang yang terlihat luas dengan banyak singa yang berjalan ke sana kemari di kandangan tersebut.
“Ada lima betina dan ada lima belas jantan dan anak-anaknya sudah ada sekitar sepuluh,” jawab Romeo dengan santai memberikan makanan kepada singa kesayangan Tuannya dan tak mempedulikan wanita di belakanganya yang terperangah akan jawabanya yang terbilang gila, sudah seperti kebun binatang.
Mereka ke sebelah kandang yang jelas terlihat banyak ekor buaya di dalam kandangnya yang luas itu, Alea tidak akan menanyakan berapa banyak ekor buaya yang berada di dalam sana karena ia sudah yakin pasti puluhan ekor.
Alea mengamati kandang buaya di depan sana yang terdapat sebuah pintu di ujung sana yang Alea pikir itu adalah jalan keluar dari mansion megah mikin Evan Colliettie.
Tetapi, devil itu sungguh pintar memberi jalan untuk meloloskan dari mansionya yang mana akan menghadapi buaya itu terlebih dulu dan mati hidup-hidup di makan buaya buas itu. Sungguh pintar mafia itu memberikan jebakan yang jelas-jelas impossible untuk bisa lari dari mansionnya ini.
“Kau pasti memikirkan pintu itu bukan?”
“Meski itu pintu jalan keluar dari mansion seorang mafia seperti The Black Rose. Apa akan berhasil selamat melewati buaya yang begitu banyak ini?” jawabnya santai ia sudah lelah untuk mencoba kabur dari cengkraman seorang Evans Colliettie.
“Rupanya kau cerdas juga akan sebuah jebakan yang Tuan berikan memang tak akan bisa lolos dari mansion megah Tuan Evans dan sudah ada beberapa orang yang mencoba kabur ingin melewati pintu itu dan hasilnya mereka menjadi makanan bagi hewan kesayanganya!”
Romeo mengajak kembali ke sebuah bangunan di sampingnya tempat penyimpanan makanan bagi kedua binatang kesayangan Tuannya.
"Dan makanan buaya dan harimau kesayangan Tuan Evanas berada di sini!” ujar Romeo menujukan bangunan yang tinggi yang bisa di lihat dari luar.
Alea menoleh ke arah bangunan itu dan langsung mendadak muntah-muntah di samping tembok kandang buaya. Wajahnya berubah menjadi pucat ketika Alea melihat makanan binatang kesayangan Evans itu dengan mayat yang sudah di potong-potong.
“Kau tak usah khawatir. Jika kau takut, aku tidak akan memintamu untuk menyentuhnya dan hanya aku yang memberikan potongan itu kepada mereka.”
Alea mengangguk seraya mengucapakan terima kasih kepada Romeo.
“Siapa namamu?” tanya Romeo yang sejak tadi menjelaskan pekerjaan wanita cantik itu, namun ia belum mengetahui wanita cantik di depanya.
“Namaku Alea, paman.”
“Nama yang bagus, tetapi jangan kau panggil aku paman karena aku bukan pamanamu. Panggil dengan Romeo saja.”
“Tetapi serasa aku tak sopan memanggil nama pada yang lebih tua?!” hardik Alea melihat Romeo yang memberikan makanan kepada para buaya.
“Terserah kau mau panggil aku apa, jika kau ingin memanggil aku paman jangan di depan Mika apa lagi Tuan kau mengerti?” tanyanya. Alea mengangguk senang pria paru baya ini mengizinikan ia memanggil dengan sebutan paman.
“Kau ada masalah apa dengan Tuan sampai membawamu kemari bukan untuk menjadi peliharan Tuan tetapi membawamu untuk menjadi pembantunya?!”
'Peliharaan? Maksud pria di depanya apa,' lirih Ale.
“Hanya masalah kecil yang di besarkan karena aku tak tahu sedang berurusan dengan salah satu Mafia berbahaya di Italia ini dan entah sampai kapan aku akan terpenjara di mansion semegah ini.”
“Kenapa kau tak memilih menjadi peliharaan Tuan saja dan kenapa juga kau memilih menjadi budaknya?”
“Maksud paman, Peliharaan?”
Romeo tersenyum, jadi wanita secantik ini belum tahu siapa Tuannya yang mempunyai lima peliharan yang jauh mengerikan dibanding dengan ketiga binatang kesayanganya itu.
“Kau akan mengetahuinya,” kata Romeo dengan senyuman simpulnya mengajak Alea kembali ke binatang kesayangan selanjutnya yang harus ia urus.
“Paman apa kau sendirian mengerjakan ini?” tanyanya mengikuti langkah kaki Romeo.
Pria paru baya itu menghela napas panjang dengan menuruni anak tangga. “Jika ada pun hanya kamu saja selama aku mengabdi kepada Tuan Evans Colliettie.”
Keduanya sudah berada di ruangan bawah tanah Ale melihat ke penjuru ruangan yang di mana ada beberapa sel tahanan seperti di dalam penjara namun tunggu.
Alea berhenti di sebuah kaca besar yang di mana kaca besar itu terletak di tengah-tengah sel tahanan.
“Ini peliharaan kesayangan Tuan,” ujar Romeo menujukan ke sebuah kaca besar.
Alea mendekati kaca besar itu dan sekali lagi ia terperangah dengan tubuhnya yang terlihat lemas melihat hewan kesayangan Tuannya.
Empat buah ekor ular berjenis pyton, dua bercorak batik satu berwana kuning dan satu lagi berwarna putih berada di satu kandang yang luas dengan kandang yang terlihat bersih.
“Yang kuning putih itu kesayangan Tuan Evans bakan Tuan sering mengajaknya tidur,” jelas Romeo sedikit bercerita.
“Uwek…uwekk…”
Ale memuntahkan lagi isi perutnya yang kini hanya air yang terlihat bening saja, tubuhnya lemas dengan wajahnya yang sudah terlihat pucat bercampur dengan keringat dingin di wajahnya.
“Kau kenapa?”
“A-aku…” ucap Alea berhenti ia mencoba mengkuatkan dirinya untuk tak bercerita.
“Lanjutkan paman,” ucapnya pelan.
Romeo kini kembali kepada sisi kanannya di mana ada dua sel tahanan dengan kaca yang tebal yang Alea percaya kemungkinan itu ular kembali.
“Dan ini hewan paling di sayangi Tuan Evans.”
Alea langsung berjongkok lemas, tubuhnya mendadak bergemetar setelah melihat dua ekor ular berjenis anaconda. Ia sudah tidak kuat berada di ruangan bawah tanah ini yang mempunyai ketakutan yang amat nyata lebih dari bertemu dengan devil dari Italia Evans Colliettie.
Sebuah pintu lagi yang berada di dalam kandang ular anacondanya, sebuah jebakan yang mana ia tahu konsekunesinya berani kabur dari mansion Evans Colliettie.
"Ingat kedua ular itu aku tidak akan menyeruhmu memberikan makan, karena sangat berbahaya Raja dan Ratu nama mereka yang mana kau bisa di makan hidup-hidup oleh mereka jauh berbeda dengan ke empat pyton milik Tuan yang sudah jinak,” ucap Romeo menjelaskannya.
Alea auto lemas dan merinding.
Romeo memapah Ale yang terlihat Shock dengan wajahnya yang masih pucat dengan keringat dingin.
“Kau kenapa sampai seperti ini? Katakanlah aku tidak mau kau pingsan di bawah sana jika nanti aku menyuruhmu untuk memberikan makanan kepada keempat anak-anak Tuan.”
“A-aku pobia pada mereka, melihatnya saja aku sudah mual-mual dan ingin muntah. Aku takut…” lirih Alea jujur kepadaRomeo.
Ia pun mengerti setelah melihat eksperesi Alea yang seperti tadi. Romeo membawanya ke dapur keluarga Colliettie dan Romeo memberikan segelas air teh hangat untuk menengkan Alea.
“Kau sudah berada di sini? Kau kenapa?”
Besambung...