Mafia And Me

Mafia And Me
Perintah Evans!



Evans menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan, ada rasa sesak ketika pria itu hanya menarik nafasnya.


Ini tidak seperti biasanya. Dipijitnya pelipis yang mendadak pusing, semua hal wanita bodoh itu menari-nari di otaknya.


 Alea Anjanie tidak lepas dari pikirannya.


“Ada apa ini?” batin Evans.


Entahlah Evans pun bingung dengan tubuhnya sendiri, tadi dia merasa sesak dan pusing dan sekarang jantungnya berdetak kencang.


 Evans mencoba melakukan Teknik relaksasi agar mengurang pikiran yang tidak-tidak dan menyangkal akan apa yang baru dia rasakan itu.


Kelima jarinya bergerak di atas meja, sambil mengetuk. Evans kembali berpikir akan hatinya yang kini semakin tak menentu.


Diambilnya ponsel genggamnya yang dia letakan di atas meja. Evans menghubungi seseorang yang sudah lebih dulu berada di suatu tempat.


“Apa kau sudah berada di pabrik?” tanya Evans seraya bangun dari duduknya dan lekas meninggalkan ruangan kerjanya.


“Ya. Tuan.”


Evans menarik napas panjang. “Mika. Kau bawa Alea menjauh dari acara Lucas sekarang. Jangan sampai dia ada di acara itu!” tegas Evans pada panggilan telepon nya.


Mika mengernyit kening, lalu menjawab. “Ya, Tuan.”


Mika bergerak langsung dan mencari keberadaan Alea setelah menutup panggilan dari tuannya.


Di seberang sana, Evans sudah berada di dalam mobil dengan salah satu anak buahnya.


Pria dingin itu bahkan meminta anak buahnya untuk lekas melaju dengan cepat.


“Lebih cepat lagi atau kepalamu akan berlubang!” tegas Evans yang dianggukan anak buahnya.


Sepanjang jalan menuju pabrik, Evans tidak bisa diam sekalipun raganya terlihat diam, tetapi tidak dengan hati dan pikiran yang saling beradu.


Sejenak pria itu memejamkan kedua matanya dengan tubuh yang bersandar di sandaran kursi penumpang.


“Semoga kamu paham akan apa yang aku lakukan ini, Lea,” batinnya.


“Oh ya, Mar. Bolehkah aku bertanya?”


“Silahkan my sweet heart,” jawab Marvio seraya mengusap punggung tangan Alea.


“Apa ini termasuk permainan kalian lagi?” tanya Alea penasaran.


Bisa jadi semua acara yang mendadak ini adalah ulah mereka lagi.


Marvio menarik sudut bibirnya ke samping. “Kamu sangat bercadas, Alea.”


Alea membuang nafas pelan dengan pikiran penuh. “Kemarin Leo dengar kalau Lucas akan mengadakan acara kecil untuk pabrik ini, tapi diadakannya nanti setelah dia menangkap dalangnya.


“Tapi, karena Lepoi masih penasaran. Jadi Leo meminta hari ini untuk diselenggarakan secara cepat.”


Alea berhenti melangkah, sebelah tangan yang berada di tangannya pun ditarik paksa.


“Kenapa kalian begitu penasaran sekali dengan Evans, Mar?”


“Aku sudah mengatakan kalau yang kalian harapkan dari aku dan Evans itu nggak ada sama sekali.


“Pria itu akan sama, tidak akan pernah membuka hatinya yang sudah lama mati karena luka dan kesakitan yang mendalam.”


Alea menarik napas sejenak untuk kembali berkata, “Lupakanlah rencana kalian ini karena aku yakin ini tidak akan pernah berhasil.


“Sangat mustahil seorang pelayan seperti ku menjadi Nyonya The Black Rose! Ck! impossible!” decak Alea.


Dia kesal kalau dua pria itu selalu mempermainkannya dan juga Evans untuk bersatu. Sudah jelas, tidak ada cinta diantara keduanya.


Evans masih tetap sama dengan Luka dan kesakitan sementara dia sendiri masih trauma dengan namanya cinta sekalipun hatinya masih ada nama pria itu.


Ya, masih ada Mike Shander di hatinya sekalipun pria itu sudah menghianati cintanya.


Marvio menarik lengan Alea dengan lembut, tidak seperti biasanya.


“Ya, aku tahu itu. tapi bisakah kita berjuang sekali ini saja? Melihat apa harapan itu kini menjadi nyata?”


“Ah, terserah kalian. Aku pusing harus menjelaskan bagaimana lagi padamu,” gerutu Alea kesal.


Marvio berikan senyuman terbaiknya seraya mengusap punggung tangan Alea.


“Kita ketinggalan jauh jadinya,” kata Marvio seraya menatap ke depan.


Massimo, Lucas dan Leo sudah tidak nampak lagi di depannya yang ada Lorong sepi yang tersisa hanya dia dan Alea.


“Sudahlah, kamu cukup diam, Alea. Jangan banyak bicara tapi banyaklah berdoa yang baik-baik karena Leo dan semua keluarga tentunya ingin agar harapan kecil itu jadi nyata,” katanya.


Sekalipun Marvio menyukai Alea dan ingin menjadikan wanita cantik di depannya ini sebagai istrinya.


Tapi, dia sadar menentang seorang Evans Colliettie yang ada hanya tinggal nama begitu juga nasib keluarganya yang lain akan ikut terancam.


Jalan satu-satunya mengikhlaskan wanita yang bukan jodohnya pada pria yang sudah di garis takdirnya sekalipun ya caranya seperti ini.


“Jalan Aula kemana? Apa masih jauh dari sini?” tanya Marvio menatap wajah Alea yang cemberut.


Duh, melihat wajah cantik dan dagu terbelah itu cemberut seperti ini membuat Marvio rasanya ingin khilaf nyosor kayak kemarin lagi.


“Sudahlah, nanti aku cium kamu kalau wajahmu mengenaskan kayak gitu.”


“Sungguh menyebalkan.” Marvio tertawa.


“Tunjukan jalannya atau kita mau di si—”


“Alea tunggu—” sela Mika cepat.


 Tidak hanya perkataan yang memotong pembicaraan Marvio yang cepat. Tetapi, langkahnya pun sama cepatnya untuk lekas menghampiri Alea.


“Mika.”


Alea menarik napas pelan, sekalipun kedua matanya pandangi Mika dengan tatapan aneh. Sejak kapan wanita dingin itu berlari mencarinya.


“Ada apa?” tanya Alea, penasaran.


Apa kedatangan Mika yang terburu-buru seperti ini karena Evans memanggilnya?


Bola mata Alea mendelik, benar saja bukan apa yang baru saja dia pikirkan. Evans memanggilnya.


Terus dia harus bagaimana kalau bertemu dengan Evans?


Apa Evans akan membahas masalah semalam tidur bersama dan—


“Ayo, Alea,” kata Mika seraya menyadarkan wanita bodoh itu yang nampak melamun.


Alea menarik nafas sedalam-dalamnya yang dia bisa, sembari mengumpulkan keberanian untuk bertemu dengan Evans di ruangannya.


Sejujurnya, Alea belum siap untuk bertemu dengan Evans.


Dia belum menyiapkan kesabaran extra mendengarkan makian dari pria itu akan tindakan bodohnya.


“Cepat, Alea.”


Alea manggut-manggut. “Ya,” jawab Alea pasarah.


Yang terpenting datang dulu menemui Evans sekalipun entah dia harus bagaimana nantinya.


Baru saja Alea mengayunkan langkahnya, Marvio mencengkram tangan Alea agar tidak ikut dengan wanita cantik berdarah dingin di depannya.


“Tunggu, Alea!”


Mika berbalik badan pandangi pria yang bersama dengan Alea begitu juga dengan Alea menatap Marvio sejenak.


“Ada apa, Mar?”


“Ada apa tuan mu memanggil dia, hm?”


“Itu bukan urusan anda pangeran,” jawab Mika, santai.


Satu alis Marvio terangkat dengan menatap sejenak wanita di depannya.


“Jangan bilang kalau tuan mu itu tidak mengizinkan Alea untuk datang ke aula. Benarkan?” desak Marvio lagi.


Gerak gerik wanita dingin sekaligus orang kepercayaan Evans Colliettie di depannya itu seolah sudah tercium bila Alea tidak diizinkan ada di aula itu.


“Pangeran seperti anda seharusnya tidak ikut campur masalah orang lain!


“Bila anda tidak percaya, anda boleh bertanya sendiri pada Tuan Evans, pangeran Marvio, saya hanya menjalankan amanah dari tuan saya,” kata Mika dengan tegas.


Manik mata Mika menatap Alea sejenak wanita itu membuat nafas pelan.


“Sudahlah. Tidak nggak usah punya pikiran jelek dulu, Mar.


“Sebaiknya kamu ke aula lebih dulu aku akan menemui tuan di ruangannya bila selesai aku akan mencarimu di sana,” kata Alea membujuk Marvio.


“Tidak. Aku akan ikut denganmu menghadap tuan mu itu.”


Mika menghembuskan napas kesal, betapa menyebalkannya sang pangeran kodok di hadapannya itu yang menghalangi tugasnya.


Bila pria itu bukan sahabat dari saudara tuan nya sudah Mika bayangkan bagaimana senangnya dia menguliti hidup-hidup pria itu.


“Yang ada aku akan menambah dimarahi kalau kamu sampai ikut segala.


 “Sudah, pengeran tampan lebih baik menungguku saja di Aula, aku janji akan menyusulmu ke sana,” bujuk Alea lembut pada Marvio.


Dia tidak ingin ada satu orang lagi yang menjadi amukan Evans.


Tak lama Alea ikut bersama dengan Mika menuju ruangan Evans sementara pria itu masih berdiri menatap kepergian Alea bersama dengan Mika.


“Masuklah.”


Mika membuka ruangan Evans dan meminta Alea untuk masuk di mana Evans sama sekali tidak ada di dalam ruangannya.


“Tunggulah di sini dan jangan kemana-mana Alea sampai tuan datang. Beliau sedang ada di jalan menuju pabrik.”


Alea manggut-manggut paham. “Jangan buat tuan murka lagi, Alea.”


“Kamu tidak menipuku kan, Mika?” tanya Alea seraya menatap wanita cantik di depannya.


Mika mendengus pelan.


“Tidak. Aku tidak menipumu, aku hanya ingin menyampaikan kalau tuan melarangmu untuk tidak datang ke pesta kecil Lucas.


“Tuan Evans tidak mengizinkanmu ada di sana, Alea.”


“Loh, kok gitu? Aku kan sama, kerja di sini. Kenapa aku nggak diizinkan untuk ada di sana, Mika?” tanya Alea, menatap bingung.


Ada apa lagi pria itu sampai melarangnya seperti ini.


Mika mengkendikan bahunya tidak tahu sama sekali. “Aku nggak tahu pastinya,


“nanti kamu bisa tanyakan saja sendiri ketika tuan sudah sampai,” ujar Mika yang berlalu pergi dari dalam ruangan tuannya.


Di dalam sana Alea mendelik ketika mendengarkan suara pintu yang sengaja dikunci.


Wanita itu buru-buru bangun dari duduknya dan berlari menuju pintu.


Alea mengetuk pintu sekeras mungkin agar Mika membuka nya tidak mengurungnya seperti ini.


“Mika…. Aku mohon bukanlah…” teriak Alea di dalam sana.


“Katanya kamu tidak akan menipuku, tapi ini kamu sudah menjebakku Mika…


“Please bukalah. Kenapa kamu mengunciku di ruangan tuan?


“Kenapa aku tidak diperbolehkan untuk menghadiri acara itu?” teriak Alea sekeras-kerasanya.


Alea tahu kalau Mika masih ada di balik pintu hitam itu dan dia pun yakin kalau Mika pasti mendengarkan perkataan ini.


“Tolong Mika, bukan pintunya…” terika Alea lagi dan lagi.


Mika menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan.


“Maafkan aku, Alea. Aku hanya menjalankan perintahkan tuan untuk mengurungmu di dalam ruangannya,” batin Mika.