Mafia And Me

Mafia And Me
Kamu Pahamkan!



“Siapa dia, Massimo?” kata Alea seraya memegang sebelah lengan pria tampan berhidung mancung


“Tolong beritahu aku siapa orang yang menyuruhmu menjagaku?” tanya Alea lagi.


Dia berharap besar seseorang mau menyelamatkannya dari neraka Evans Colliettie.


“Maafkan aku, Alea. Aku tidak bisa mengatakannya ini.”


Massimo berikan menatap Alea seolah memberi kode kalau anak buah Evans berlalu lalang dan juga menunjukkan ke atas langit ruangan Alea di mana Evans selalu mengawasi gerak gerik Alea dari cctv.


“Bahaya kalau aku memberitahukan. Ku mohon, tetaplah bersabar sebelum kami bisa membawamu keluar sekalipun aku menaruhkan nyawaku sendiri.”


Kedua mata Alea basah, dia berharap orang itu adalah Mike yang menolongnya untuk lepas dari mafia kejam seperti Evans.


Massimo mengusap lembut lengan Alea.


“Situasinya saat ini bahaya. Bukannya kita bisa menyelamatkanmu dari saudaraku. Tetapi, kita mau mati konyol. Kamu paham bukan?”


Alea mengangguk pelan. “Tersenyumlah. Jangan menangis, saudaraku melihatmu dari cctv di atas sana.”


Alea berikan anggukan pelan bahkan tidak terlihat mengangguk.


“Berekspresi biasalah.”


Sekali lagi Alea mengangguk. “Aku akan selalu mengabarkan padanya kalau kamu baik-baik saja, sekalipun dia tahu kamu adalah wanita kuat yang bisa jaga diri.”


Alea menggenggam tangan Massimo.


 “Terima kasih.”


“Sama-sama.”


Massimo menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan.


“Katakanlah padaku, sebenarnya apa yang sedang kamu pikirkan.”


Alea menghembuskan napas pelan. “Aku hanya memikirkan Lucas saja.


 “Dia menjauhiku mungkin karena perkataanku kemarin yang membuat pria itu marah dan benci padaku,” kata Alea akhirnya bercerita pada Massimo.


Meski entah siapa yang meminta Massimo untuk menjaganya, namun Alea yakin kalau orang itu adalah orang terdekat Alea.


“Ada apa dengan sad boy itu?”


“Sad Boy?”


Masimo berikan anggukan pelan. “Apa kamu sudah lama mengenal Lucas?”


“Hmmm…. Lumayan lama. Ada apa?”


“Kalau kamu kenal lama dengan Lucas, apa menurutmu pria itu tengah diancam oleh seseorang?


“Aku tahu kalau Lucas pasti tahu kalau ada orang yang curang di pabrik ini dan membuat pabrik ini bangkrut!”


Masimo mengangguk pelan. “Evans tidak mungkin bukan menunjuk Lucas menjadi orang kepercayaan kalau Lucas tidak punya kompetensi di sini?”


Alea memberikan dokumen lima tahun ke belakang di mana Lucas dulu tengah Berjaya mengendalikan pabrik tua ini hingga sukses.


“Tapi kenapa dia mendadak jadi lemah ketika ada orang yang ingin menjatuhkannya?”


Masimo menatap Alea, dia benar wanita ini aslinya memang cerdik dan juga punya feeling yang kuat.


“Kamu bisa menjelaskan kecurigaanmu padaku. Ya, meski aku memang bukan bukan orang bisnis, setidaknya aku paham.”


Dalam diam Massimo berpikir, sebenarnya kesalahan apa sehingga membuat wanita pandai ini di tahan oleh saudaranya sendiri.


Mendadak Massimo jadi takut sesuatu hal terjadi pada Alea, Massimo tahu kalau Evans sebenarnya sudah lebih dulu tahu.


Tetapi, kenapa pria itu mendiamkannya seolah Alea adalah umpan agar orang itu keluar dari persembunyiannya.


‘Maafkan aku Alea, kalau saudaraku memanfaatkanmu dan juga selalu menjadikan kamu umpan,’ kata Massimo dalam hati.


“Kamu sangat pandai Alea, sayang kalau kamu bukan tahan saudaraku aku pasti akan membawamu.”


“Jangan berlebihan memujiku, Massimo. Aku ini wanita bodoh saudaramu,” balas Alea.


“Astaga. Bodoh apanya? Bahkan aku tidak tahu kalau kamu sampai sejauh ini menyelidikinya, Alea. Ini sangat berbahaya.”


Alea menarik nafas pelan. “Aku tidak mau Lucas dibunuh Evans kalau tiga bulan dia tidak bisa kembali mengangkat pabrik tua ini.


“Maka dari itu aku mencari penyebabnya sendiri.”


“Tapi kamu harus hati-hati berada di pabrik ini. Aku yakin orang ini bukan lawanmu dia bisa melukaimu sekalipun kamu pandai bela diri.”


Alea mengangguk tahu akan hal itu. “Apa Evans sudah tahu masalah ini?”


Alea menggeleng pelan, dia belum menceritakannya pada tuannya itu yang kini banyak menghilang.


“Kenapa kamu tidak memberitahu dia? Kalau kamu tidak bisa memberitahukan masalah ini, sebaiknya kamu bicara dengan Mika.


“Aku yakin dia akan menolongmu,” kata Massimo memberikan solusi.


“Mika?” ulang Alea.


Massimo mengangguk. “Aku belum mendapatkan barang bukti yang kuat untuk diberikan pada Evans, kamu tahu bukan akhir-akhir ini saudaramu itu terlihat sibuk dengan urusannya.


Ya, Massimo paham itu dengan kesibukan Evans Colliettie yang melebihi jam terbang seorang pejabat pemerintah.


Pria itu tak peduli dengan pekerjaan illegalnya dari pada beberapa pabrik yang di milikinya.


“Oh. Ya, bolehkan kita berfoto bersama? Sebagai kenang-kenangan?”


Alea mengernyit dalam, baru pertama kali ini ada orang meminta berfoto bersama.


 Beginilah kalau sudah dalam mode lemotnya, padahal Massimo sudah mengatakannya tapi wanita itu malah menolak untuk di foto.


Entahlah kalau sudah membahas Evans mendadak otaknya tidak bisa berpikir cepat dan selalu lambat.


 “Aku tidak mau, Massimo. Untuk apaan?”


“Astaga, hanya untuk kenang-kenangan saja kok. Ayolah,” ujak Massimo seraya menarik pinggang Alea untuk mendekat.


Dia pun mengarahkan kameranya lalu jadilah sebuah foto dia dan Alea.


“Terima kasih cantik. Aku akan sering datang ke sini untuk menjengukmu.”


“Kamu tidak usah repot-repot, aku akan baik-baik saja.”


Alea kembali melanjutkan pekerjaanya sementara Massimo sibuk dengan ponselnya.


+65 987xxxx


‘Aku harap sebuah foto ini akan membuatmu tenang. Dia baik-baik saja’ send Massimo.


“Kau mengirim pesan pada siapa, hah?”